NovelToon NovelToon
Setelah 100 Hari

Setelah 100 Hari

Status: tamat
Genre:Pelakor jahat / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:8.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Itha Sulfiana

"Setelah aku pulang dari dinas di luar kota, kita akan langsung bercerai."

Aryan mengucapkan kata-kata itu dengan nada datar cenderung tegas. Ia meraih kopernya. Berjalan dengan langkah mantap keluar dari rumah.

"Baik, Mas," angguk Anjani dengan suara serak.

Kali ini, dia tak akan menahan langkah Aryan lagi. Kali ini, Anjani memutuskan untuk berhenti bertahan.

Jika kebahagiaan suaminya terletak pada saudari tirinya, maka Anjani akan menyerah. Demi kebahagiaan dua orang itu, dan juga demi kebahagiaan dirinya sendiri, Anjani memutuskan untuk meninggalkan segalanya.

Ya, walaupun dia tahu bahwa konsekuensi yang akan dia hadapi sangatlah berat. Terutama, dari sang Ibu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan drastis

Sudah beberapa hari berlalu. Kondisi Aryan perlahan semakin membaik. Untungnya, Doni adalah asisten yang sangat bisa diandalkan. Dia benar-benar menjaga pola makan Aryan juga memastikan Aryan minum obat tepat waktu sehingga penyakit perut Aryan tidak kambuh lagi.

Pagi ini, sebelum berangkat untuk meninjau lokasi proyek, Aryan menyempatkan diri untuk sarapan. Sesekali, dia mengintip ponselnya. Berharap, layar datar itu akan menyala sendiri dan menampilkan pesan dari Anjani.

Sayangnya, hal itu tidak terjadi. Pagi ini, masih sama dengan pagi yang kemarin. Sepi. Dingin. Tanpa ada kabar sedikit pun dari Anjani.

"Tuan!" tegur Doni.

Aryan tersentak. Tatapan matanya langsung lepas dari ponsel yang teronggok disamping kirinya.

"Ya, kenapa?" tanya Aryan.

"Apa Tuan ingin sarapan bersama Nona Luna?"

"Dimana dia?"

"Sepertinya, masih tidur."

Mendengar jawaban Doni, Aryan diam sejenak. Luna masih tidur. Dan, hal itu sedikit menganggu dalam benak Aryan.

Luna selalu mengatakan bahwa dia sangat mencintai Aryan. Tapi, kenapa jika memang benar cinta, Luna tidak pernah mau mempersiapkan segala perlengkapan Aryan sebelum berangkat kerja? Padahal, selama puluhan hari ini, mereka sudah tinggal di apartemen yang sama meski masih berbeda kamar.

Luna bahkan tidak pernah mengingatkan dia untuk minum obat tepat waktu. Bahkan, saat Aryan lelah pun, Luna selalu menuntut untuk ditemani berbelanja sepuasnya. Gadis pujaannya itu hanya terus memikirkan kebahagiaan sendiri dan seolah abai pada perasaan Aryan.

"Kalau begitu, tidak usah bangunkan dia. Kau saja yang temani aku untuk sarapan."

Doni mengangkat kedua alisnya dengan heran. Baru kali ini, dia melihat Aryan tidak khawatir terhadap Luna. Padahal, biasanya Aryan selalu khawatir jika Luna tidak sarapan tepat waktu.

"Anda tidak takut jika Nona Luna sakit karena melewatkan sarapan?"

"Kalau sakit, tinggal periksa ke dokter. Beres, kan?"

Doni tampak nyengir. Ya, terserah saja! Doni tak mau terlalu ikut campur dalam urusan asmara sang atasan.

"Ngomong-ngomong... apa Anjani pernah menanyakan kabarku kepadamu?"

Sambil mengunyah makanannya, Doni menjawab, "tidak pernah."

Ah, hati Aryan mendadak jadi tak enak lagi. Rasanya benar-benar seperti ada ruang kosong yang tercipta dalam hatinya. Dia belum terbiasa dengan dunia dimana tak ada Anjani yang mengisinya. Dia belum terbiasa hidup tanpa tingkah laku Anjani yang penuh cinta dan perhatian.

Hari itu, Aryan sangat sibuk. Pun dengan hari-hari berikutnya. Dia bahkan harus bekerja lembur demi memeriksa banyak dokumen yang terkait dengan proyek yang tengah mereka kerjakan sekarang.

Hingga tanpa terasa, waktu kepulangan pun sebentar lagi akan tiba.

*

*

*

"Sudah delapan puluh hari," gumam Anjani sambil menyilang tanggal pada kalender.

Hari ini, sudah hari ke-80. Yang artinya, perceraian sudah semakin dekat.

Perempuan itu tampak sedang sibuk mengikat pinggang celananya dengan tali sepatu. Hari ini, dia akan keluar bersama Anushka. Dan, celana itu satu-satunya celana yang masih bisa dia pakai.

Celana-celana yang lain sudah tak memungkinkan untuk dipakai lagi. Pinggangnya benar-benar sangat longgar. Jika dipaksa dipakai, maka akan kedodoran.

"Anjani, hari ini kamu berjanji akan menimbang berat badan dan bercermin lagi. kamu nggak akan ingkar janji, kan?" tanya Anushka dengan mata menyipit tajam.

Awas saja jika Anjani berani membohonginya. Dia akan membuat perhitungan dengan sahabat baiknya itu.

"Tapi, Anushka... Aku..."

"Tidak ada tapi-tapian. Cepat buka semua koran-koran itu!" titah Anushka dengan tegas.

Dia sangat benci ketika hendak bercermin dan hanya melihat lembaran koran yang ditempel asal-asalan untuk menutupi cermin itu. Padahal, dalam hidup Anushka, cermin adalah segalanya.

Bagaimana bisa dia mengagumi kecantikannya tanpa bercermin?

Anjani menghela napas dalam-dalam. Dia terpaksa menuruti permintaan Anushka. Janji tetap janji, kan?

Tangan Anjani terulur ke depan dengan sedikit gemetar. Perasaan takut mulai menghantuinya. Bagaimana, jika dirinya ternyata masih tetap sama dengan dia yang 80 puluh hari lalu? Itu sama saja, dengan membantai harga diri sendiri hingga benar-benar mati.

"Ish, lama! Biar aku saja!"

Karena Anjani dirasa terlalu lelet, maka Anushka yang maju dan langsung menarik koran-koran itu hingga lepas. Anjani reflek menutup mata. Terlalu takut melihat makhluk buruk rupa yang akan terlihat lewat pantulan cermin.

"Buka matamu, Anjani! Kamu harus lihat, betapa cantik dan indahnya kamu saat ini. Kamu bahkan jauh lebih cantik dibanding gadis remaja yang dulu sering sekali ikut dihukum bersamaku."

Anjani menggeleng takut. Dia reflek berbalik badan dengan gugup.

"Ayolah, Anjani! Masa' kamu nggak percaya padaku, sih? Memangnya, sejak kapan aku berani berbohong padamu?"

Pertahanan Anjani mulai goyah. Pelan-pelan, dia berusaha mengusir ketakutan yang sejatinya dia tahu hanya berada didalam kepalanya saja.

Ketakutan itu bisa saja tidak terbukti. Pasalnya, Anjani juga merasakan jika tubuhnya kini terasa jauh lebih ringan dibanding yang dulu. Lengan dan pahanya juga serasa mengecil. Dan, perubahannya Anjani rasa cukup drastis.

"Baiklah," angguk Anjani. "Aku akan lihat."

Keringat dingin mulai membasahi dahi Anjani. Dengan kaki yang terasa sangat berat, dia memaksakan diri untuk berbalik menghadap ke arah cermin.

Tinjunya terkepal dengan erat. Bulu matanya sedikit bergetar seiring Saliva yang semakin sulit untuk ditelan.

"Anushka... i-itu aku?"

Suara Anjani bergetar. Matanya yang mulai memerah langsung bersirobok dengan mata yang juga balas menatapnya melalui pantulan cermin. Dia memegang wajahnya yang perlahan menghangat. Tersenyum dengan takjub melihat penampakan dirinya yang sekarang.

"Bagaimana?" tanya Anushka. Dia memegang kedua pundak Anjani dari belakang. "Aku nggak bohong, kan? Sekarang, kamu bahkan jauh lebih cantik dibanding Anjani yang dulu aku kenal. Dan, lihatlah bentuk tubuhmu! Dengan bentuk tubuh seperti ini, kamu bisa mendapatkan lelaki manapun dengan mudah setelah bercerai nanti."

Tubuh dengan tinggi 172 cm itu terlihat sangat indah. Pinggangnya sangat tipis. Namun, pada beberapa bagian tubuh tertentu, justru terlihat cukup berisi.

Terutama, pada bagian bokong dan dada.

Kulit seputih susu yang tampak sangat mulus juga tak kalah indah. Belum lagi, wajah yang sudah secerah masa depan itu, benar-benar tampak menghipnotis. Dihiasi dengan bibir tipis, hidung bangir, mata bulat, dan alis yang sedikit tebal, membuat wajah itu terlihat sangat sempurna.

"Anushka... Aku berhasil," lirih Anjani yang kini sudah mulai menangis.

"Ya, kamu berhasil. Kerja bagus, Anjani ku, Sayang!" puji Anushka yang juga ikut menangis. "Sekarang, kamu sudah siap untuk benar-benar bekerja di perusahaan keluargaku, kan?"

Anjani mengangguk. Tentu saja dia sudah siap. Mulai sekarang, dia harus mencari pijakan dan pegangannya sendiri.

"Anjani!!"

Teriakan dari lantai bawah tiba-tiba terdengar. Dua sahabat baik itu pun reflek saling tatap dalam kebingungan.

"Itu siapa, Anjani?" tanya Anushka.

"Sepertinya, itu Ayahku," jawab Anjani dengan perasaan campur aduk.

1
Sulis Tyawati
kocak.. Enzooooo...
kalo q blg skt artinya msh skt
emg koplak modusnya pak bos
Sulis Tyawati
begitu tau kalo teman kcl nya adalah Anjani baru nangis darah
Sulis Tyawati
Enzo kah
Sulis Tyawati
wkwkwkwkwk...
Enzoooo..
ummy Saadah
kakek promosi terselubung 🤣🤭
Sulis Tyawati
hahahaahhahaaaaa.....
aq suka bgt Anjany yg sekarang
Sulis Tyawati
hellooooo.....
jgn mau Anjani
Widia Aldiev
kaget nggak ya kaget laaah masa enggak 🤣🤣🤣
Sulis Tyawati
kapok kau Aryan
bedarah2 lah kau karena mwnyesal
Widia Aldiev
eh nyonya Bella tunggu aja karma berat yg akan menimpa keluarga besarmu yg terhormat itu 🤣🤣🤣
Sulis Tyawati
keknya Enzo dah lama ada hati sama kamu Anjani,,,
Widia Aldiev
ada ya sepasang siluman babi seperti Aryan dan Luna 🤣🤣🤣 sama" menjijikkan
Widia Aldiev
kamu yg buat acara kenapa kamu mau batalkan dasar lelaki g jelas 🤣🤣🤣
Widia Aldiev
eh eh ada yg otaknya ke geser gegara 100 hari g ketemu 🤣🤣🤣 kamu kira Anjani bakal nurut ya enggaklah mana adaaaa BODOH 🤣🤣🤣
Sulis Tyawati
good job Anjani
maju trs pantang mundur
buang tu Aryan, buat dia menangis karena menyesal sdh menyia nyiakanmu
Widia Aldiev
kemana Anjani...MINGGAT DIA MINGGAT NGGAK BETAH HIDUP SAMA ORANG YG PERNAH ANGGAP DIA ADA..🔥🔥🔥 MAMPUS kamu Aryan
Widia Aldiev
kalo kamu masih belum sadar juga berarti kamu g waras Aryan 🤣🤣🤣
Widia Aldiev
emang Aryan tolol mudah di bohongi rebut saja Anjani dari si pria bego g berguna itu enzo
Sulis Tyawati
tau rasa kau Aryan,,,
jgn sampai luluh Anjani.
kamu hrs kembali smart
Nisa Nisa
nah ini bagus, lumayan utk membayar kebodohan selama ini mau maunya diinjak papa durjana dan suami brensek itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!