Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELANGI SETELAH HUJAN BERHENTI
Malam itu, suasana di ruang tengah terasa sangat ceria. Arsen menyandarkan ponselnya di tumpukan buku agar kamera bisa menangkap gambaran utuh keluarga kecil mereka. Rosa duduk di sampingnya sambil memangku Arlo yang sedang asyik memainkan jemari Rosa.
Begitu panggilan grup tersambung, wajah Ayah, Ibu, dan Salsa langsung muncul di layar dengan ekspresi penuh antusias.
"Halo! Ada apa ini? Tumben panggil malam-malam, kangen sama cucu Ayah?" seru Ayah Arsen dari seberang layar.
Arsen tersenyum lebar, lalu ia dan Rosa serempak mengangkat tangan ke depan kamera, memamerkan cincin emas putih yang melingkar indah di jari manis mereka. "Lihat, Yah, Bu... kami baru saja beli ini. Sebagai pengingat kalau niat kami sudah bulat."
"Aduh, cakep banget!" jerit Salsa di layar ponsel. "Sederhana tapi kelihatan mewah. Cocok banget di tangan Kak Rosa!"
Ibu Arsen tampak mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca. "Alhamdulillah... Ibu senang sekali kalian serius. Semoga ini jadi awal yang baik buat kalian bertiga."
Namun, Arsen belum selesai memberikan kejutan. Ia melirik Rosa, memberi kode agar Rosa mendekatkan Arlo ke arah mikrofon ponsel. "Ada kejutan lagi. Arlo, bilang apa tadi sayang? Coba panggil Mama."
Arlo, yang melihat wajah-wajah familiar di layar, mendadak bersemangat. Ia menepuk-nepuk layar ponsel dengan tangan mungilnya dan berteriak riang, "Ma... Maaa! Mamama!"
Seketika, panggilan grup itu heboh. Ibu Arsen menjerit kegirangan, sementara Ayah Arsen tertawa terbahak-bahak sampai harus melepas kacamatanya.
"Duh, pinter banget cucu Oma!" seru Ibunya. "Sudah bisa panggil Mama ya sekarang?"
Arsen kemudian menatap layar dengan nada sedikit sombong yang jenaka. "Arlo bilang 'Mama', Opa, Oma... Semuanya mau tahu kan siapa orang paling hebat hari ini? Arlo pelakunya. Dia yang sudah kasih restu paling sah buat kami, bahkan sebelum kita sampai ke meja akad."
"Iya, Yah, Bu," tambah Rosa dengan suara lembut, "panggilan Arlo tadi sore rasanya seperti melengkapi semua keraguan kami. Kami merasa benar-benar sudah menjadi orang tua."
"Bagus, bagus!" sahut Ayah Arsen dengan nada bangga. "Kalau Arlo sudah panggil Mama, berarti tugas Arsen tinggal satu: buru-buru ajarin Arlo panggil 'Opa'. Jangan mau kalah kamu sama Rosa, Sen!"
Gelak tawa pun pecah memenuhi ruang tengah. Di tengah percakapan hangat itu, Arsen merangkul pinggang Rosa, sementara Rosa menyandarkan kepalanya di bahu Arsen. Malam itu, di bawah pendar lampu rumah mereka sendiri, kata "keluarga" bukan lagi sekadar status di atas kertas akta, melainkan sebuah kenyataan yang sangat indah.
Hari yang dinanti itu akhirnya tiba. Rumah orang tua Arsen tidak disulap menjadi gedung mewah, melainkan dihiasi dengan dekorasi bunga melati segar dan kain putih yang menjuntai anggun di setiap sudut ruang tamu. Suasananya begitu khidmat, hanya dihadiri oleh keluarga inti dan beberapa sahabat dekat, termasuk Rendy yang datang bukan sebagai pengacara, melainkan sebagai saksi perjalanan mereka.
Arsen tampak gagah dengan beskap putih modern, sementara Rosa terlihat sangat cantik dan bersahaja dalam balutan kebaya senada dengan polesan riasan tipis yang justru menonjolkan aura keibuannya.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Rosa Amalia binti..."
Suara Arsen bergema tegas di seluruh ruangan. Dalam satu tarikan napas, ia mengucapkan janji suci itu di depan Ayahnya yang bertindak sebagai wali (atas izin wali hakim). Saat kata "SAH" terdengar dari para saksi, Arsen memejamkan mata sejenak, merasakan sebuah beban sekaligus kebahagiaan yang meluap.
Namun, momen yang paling menguras air mata adalah saat Arlo—yang juga memakai setelan tuksedo bayi mini—digendong oleh Salsa mendekat ke arah kedua mempelai. Begitu sampai di depan Arsen dan Rosa, Arlo seolah mengerti suasana. Ia tidak rewel, malah menggapai-gapai ujung kebaya Rosa.
"Arlo, ini Mama dan Papa sekarang sudah sah," bisik Ibu Arsen sambil terisak haru di barisan depan.
Arsen meraih tangan Rosa, lalu mereka berdua bersama-sama menyentuh pipi Arlo. Di depan penghulu dan para saksi, Arsen mencium kening Rosa cukup lama, kemudian beralih mencium kening Arlo.
"Terima kasih sudah memilihku, Ros. Terima kasih sudah datang, Arlo," bisik Arsen lirih.
Ayah Arsen berdiri, mendekat dan merangkul mereka bertiga sekaligus. "Hari ini, akta kelahiran itu bukan lagi sekadar dokumen hukum bagi Ayah. Tapi bukti kalau cinta bisa datang dengan cara yang paling tidak terduga. Jaga anak dan istrimu, Sen. Jangan biarkan hujan merusak rumah kalian lagi."
Rosa menangis bahagia di pelukan Arsen. Pernikahan ini mungkin sederhana, tanpa pesta pora ribuan orang, tapi di rumah ini, setiap doa yang terucap terasa begitu nyata. Mereka bukan lagi dua orang sahabat yang terikat keadaan, melainkan sebuah kesatuan utuh yang siap menghadapi dunia demi masa depan bayi kecil di tengah mereka.
Malam pertama setelah hiruk-pukuk acara pernikahan biasanya identik dengan momen romantis berdua, namun bagi Arsen dan Rosa, romansa mereka memiliki bentuk yang berbeda. Di kamar lama Arsen yang kini terasa jauh lebih hangat, mereka berbaring bersisian dengan satu "penghalang" kecil yang paling mereka cintai: Arlo.
Bayi itu tidur melintang di tengah mereka, mengenakan piyama bermotif jerapah, dengan kedua tangan yang terangkat ke atas kepala—posisi tidur paling nyenyak yang pernah Arsen lihat.
"Capek ya, Ros?" bisik Arsen sambil memiringkan tubuh, menopang kepala dengan tangan agar bisa menatap istrinya.
Rosa mengangguk pelan, wajahnya masih menyisakan rona bahagia meski gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan. "Capek banget, Sen. Tapi rasanya... lega. Tadi pas tanda tangan buku nikah, tanganku gemetar. Aku terus-terusan mikir, 'Ini beneran ya? Kita benar-benar sudah jadi satu keluarga?'"
Arsen meraih tangan Rosa yang bebas, melewati tubuh mungil Arlo, dan menggenggamnya erat. "Beneran, Ros. Sekarang nggak ada lagi 'aku' atau 'kamu'. Yang ada cuma kita. Dan si kecil ini."
Rosa menatap Arlo, lalu beralih menatap Arsen. "Sen, lihat deh. Arlo tenang banget tidurnya. Sepertinya dia tahu kalau hari ini adalah hari paling aman dalam hidupnya. Dia nggak perlu takut kehilangan kita lagi."
Arsen tersenyum, ia mengelus puncak kepala Arlo dengan ibu jarinya. "Dulu aku pikir aku bakal sendirian terus di rumah itu, terjebak dalam memori yang buruk. Tapi lihat sekarang... aku tidur di antara dua orang yang paling berarti buat aku. Kamu dan Arlo benar-benar pelangi setelah hujan buatku."
Hening sejenak menyelimuti kamar itu, hanya terdengar suara napas teratur Arlo yang lembut.
"Selamat malam, Istriku," bisik Arsen pelan, ia memajukan wajahnya sedikit untuk mengecup dahi Rosa melewati Arlo.
Rosa tersenyum manis, membalas genggaman tangan Arsen. "Selamat malam, Suamiku. Tidur yang nyenyak ya, Papa Arlo."
Malam itu, tidak ada kembang api atau pesta mewah, hanya ada tiga detak jantung yang saling menyambung dalam satu ikatan yang sah. Di bawah atap rumah orang tua Arsen, mereka memulai lembaran baru—bukan lagi sebagai sahabat yang terjepit keadaan, tapi sebagai sepasang kekasih yang dipersatukan oleh takdir melalui langkah kecil seorang bayi bernama Arlo.