NovelToon NovelToon
LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Kehidupan Alam Sunyi

Lauren menarik kakinya secepat kilat, berguling ke sisi lain tempat tidur hingga terjatuh ke lantai yang dingin. Napasnya tersengal. Matanya tidak lepas dari celah lemari yang kini hanya menyisakan kegelapan pekat. Tangan kuku hitam itu telah lenyap, seolah-olah ditarik kembali oleh bayangan yang lebih dalam.

"Lauren! Buka pintunya!" teriak Bram dari luar, suaranya dibarengi dengan gedoran keras yang membuat daun pintu bergetar.

"Jangan, Mas! Kamu malah membuatnya makin takut!" Maria memprotes di sela isak tangisnya.

Lauren bangkit dengan kaki gemetar. Ia tidak membuka pintu. Ia justru berjalan mundur ke arah jendela, menatap pintu lemari dengan penuh kebencian. Di dalam hatinya, rasa takut yang selama ini mencekik mulai berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang panas dan tajam.

Kenapa kalian tidak membiarkanku tenang? teriaknya dalam hati.

Malam itu berakhir dengan kelelahan yang luar biasa. Bram akhirnya berhenti menggedor setelah Maria berhasil membujuk Lauren membuka pintu. Tidak ada pembicaraan panjang. Bram hanya menatap Lauren dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara marah, lelah, dan rasa tidak berdaya—sebelum akhirnya pergi ke kamar tamu. Maria memeluk Lauren hingga gadis kecil itu tertidur, meski sang ibu sendiri tidak berani memejamkan mata sampai fajar menyingsing.

Beberapa hari kemudian, dunia Lauren menjadi jauh lebih sunyi. Ia tidak lagi mencoba berbicara dengan teman-temannya di sekolah. Ia juga berhenti menangis setiap kali melihat penampakan di koridor. Ia memilih untuk menepi, mencari tempat-tempat yang jauh dari keramaian manusia.

Taman belakang rumah mereka yang luas dan sedikit terbengkalai menjadi tempat pelariannya. Di bawah pohon mangga besar yang rimbun, Lauren duduk bersila di atas rumput. Di sini, ia merasa lebih aman, atau setidaknya, lebih bebas untuk mengamati tanpa dihakimi.

"Kamu sedih ya?" bisik Lauren pelan.

Di hadapannya, dekat rumpun bunga sepatu yang layu, berdiri seorang wanita dengan gaun putih yang kusam. Wanita itu tidak memiliki wajah yang menyeramkan. Ia hanya menunduk, bahunya terguncang pelan seolah sedang menangis tanpa suara. Dari tubuhnya memancar aura biru redup yang terasa sangat dingin, namun sekaligus penuh dengan kepedihan.

Lauren tidak lari. Ia memperhatikan bagaimana jari-jari transparan wanita itu mencoba menyentuh kuntum bunga, namun selalu menembusnya. Ada rasa sesak yang merayap ke dada Lauren saat melihatnya.

"Kenapa kamu terus di sini? Kenapa tidak pergi ke tempat yang lebih terang?" tanya Lauren lagi.

Wanita itu mendongak. Matanya yang sayu bertemu dengan mata Lauren. Untuk pertama kalinya, Lauren melihat emosi yang sangat manusiawi pada sosok gaib. Bukan kebencian, bukan amarah, melainkan kerinduan yang amat dalam. Wanita itu menunjuk ke arah jendela lantai dua, ke kamar yang dulu mungkin miliknya, lalu perlahan-lahan memudar menjadi kabut tipis.

Lauren tertegun. Mereka punya perasaan, pikirnya. Mereka tidak selalu ingin menyakiti.

Rasa ingin tahu mulai tumbuh di benak Lauren, sebuah perasaan yang berbahaya bagi anak seusianya yang sudah menjadi incaran kegelapan. Ia mulai mengamati detail-detail yang dulu ia abaikan karena rasa takut. Ia memperhatikan sosok kakek di sudut taman yang selalu tampak marah, mondar-mandir sambil menggerutu tentang tanah yang dicuri. Ia melihat anak kecil yang berlari di antara pohon-pohon, tertawa tanpa suara namun matanya memancarkan kesepian yang akut.

Namun, di antara semua entitas itu, ada satu yang berbeda.

Sesosok bayangan tinggi dengan jubah hitam yang compang-camping mulai muncul setiap kali Lauren berada di taman. Sosok ini tidak menangis, tidak juga marah. Ia hanya berdiri di bawah bayang-bayang tembok, memperhatikan Lauren dengan intensitas yang membuat kulit Lauren meremang. Setiap kali Lauren mencoba mendekat, sosok itu akan bergeser, selalu menjaga jarak namun tidak pernah benar-benar pergi.

"Siapa kamu?" Lauren bertanya pada suatu sore yang mendung.

Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya yang panjang, menunjuk ke arah Lauren. Lauren merasakan denyutan aneh di dadanya, seolah-olah ada tali tak kasatmata yang menghubungkan mereka. Sosok ini memiliki energi yang jauh lebih berat dan kuat daripada hantu-hantu lain di taman itu.

"Apa kamu yang bicara padaku di dalam kamar waktu itu?"

Bayangan itu sedikit condong ke depan. Lauren bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa mulai menyelimuti area di sekitarnya. Alih-alih lari, Lauren justru berdiri. Ia ingin tahu lebih banyak. Ia ingin mengerti mengapa makhluk-makhluk ini begitu terobsesi padanya.

"Lauren! Masuk! Sudah mau hujan!" suara Maria memecah keheningan dari arah teras.

Lauren menoleh sejenak ke arah ibunya, dan saat ia kembali menatap ke bawah tembok, bayangan itu sudah lenyap. Hanya ada dedaunan kering yang berputar tertiup angin dingin.

Malam harinya, Lauren duduk di meja belajarnya. Ia sedang mencoba mengerjakan tugas menulis yang diberikan Bu Sri. Lampu belajarnya berpijar kuning, menciptakan lingkaran cahaya di atas buku tulisnya. Kamar itu terasa sangat sepi, namun Lauren tahu ia tidak sendirian.

Dia ada di sini, batin Lauren.

Ia merasakan kehadiran sosok jubah hitam itu di sudut kamarnya, tepat di dekat lemari yang kini sudah dikunci rapat oleh Bram dengan gembok tambahan. Lauren mencoba fokus pada tulisannya. Ia mengabaikan hawa dingin yang mulai merayap di bawah kakinya.

Brak.

Suara itu kecil namun tajam. Lauren membeku. Ia melirik ke arah tumpukan buku di pinggir mejanya. Sebuah buku matematika—buku yang sama yang menjadi saksi bisu histerianya di kelas—bergetar pelan.

Lauren menahan napas. Matanya membelalak saat melihat buku itu perlahan-lahan tergeser. Bukan karena tertiup angin, karena jendela tertutup rapat. Buku itu bergerak seolah-olah ada tangan tak kasatmata yang mendorongnya perlahan menuju tepi meja.

"Jangan main-main," bisik Lauren, suaranya bergetar antara takut dan takjub.

Buku itu berhenti tepat di ujung meja. Lauren mengulurkan tangan, berniat mengambilnya kembali. Namun, sebelum jemarinya menyentuh sampul buku, sebuah kekuatan besar mendorong buku itu hingga jatuh ke lantai.

Gubrak!

Suara jatuhnya buku itu bergema di dalam kamar yang sunyi. Namun, bukan jatuhnya buku yang membuat jantung Lauren hampir berhenti berdetak.

Di atas meja belajarnya yang kosong, tepat di bawah cahaya lampu, mulai muncul guratan-guratan basah. Cairan itu berwarna hitam kepelatihan, seperti tinta yang merembes dari bawah permukaan meja kayu. Guratan itu membentuk simbol-simbol aneh yang belum pernah Lauren lihat sebelumnya.

Lalu, buku yang baru saja jatuh di lantai itu mulai bergerak kembali. Buku itu terbuka sendiri, lembaran-lembarannya terbolak-balik dengan sangat cepat seolah ditiup badai. Suara kertas yang beradu menciptakan kebisingan yang menyakitkan telinga.

"Hentikan!" perintah Lauren.

Buku itu berhenti seketika pada sebuah halaman kosong. Di sana, secara perlahan, muncul tulisan tangan yang kasar dan besar. Tulisannya tidak menggunakan bolpoin, melainkan seperti dicakar langsung ke atas kertas.

KAMI MEMBUTUHKANMU, LAUREN.

Lauren mundur hingga punggungnya menabrak sandaran kursi. Ia menatap tulisan itu dengan mata tak berkedip. Tiba-tiba, lampu belajarnya meledak, menyisakan kegelapan total dan bau gosong yang menyengat.

Dalam kegelapan itu, Lauren mendengar suara langkah kaki berat di atas lantai kayu. Langkah itu tidak datang dari arah pintu, melainkan dari arah lemari yang digembok. Suara kayu yang berderit semakin mendekat ke arah tempat duduknya.

Lauren mencoba berteriak, namun suaranya seolah tercekik di kerongkongan. Ia merasakan sebuah tangan yang sangat dingin dan kasar mulai menyentuh tengkuknya, memberikan sensasi es yang menusuk hingga ke tulang belakang.

Ceklek.

Suara gembok lemari yang terbuka secara paksa terdengar sangat keras di tengah kesunyian malam. Pintu lemari itu mengayun terbuka, menabrak dinding dengan dentuman yang menggelegar.

"Ma! Papa!" Lauren akhirnya berhasil mengeluarkan suaranya.

Ia melompat dari kursi dan berlari ke arah pintu kamar, namun pintu itu terasa sangat berat, seolah-olah ada beban ribuan ton yang menahannya dari luar. Lauren memutar gagang pintu dengan panik, sementara suara napas berat dan parau mulai terdengar tepat di belakang telinganya.

"Lauren... kau tidak bisa lari dari rumahmu sendiri..." bisik suara itu, sangat dekat, hingga Lauren bisa merasakan hawa busuk yang keluar dari mulut yang tak terlihat.

1
`|aley|`
Semangat kak
Laila ANT: tunggu kak lagi nulis ini 🙂‍↕️🙂‍↕️
total 2 replies
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
cerai aja laki bloon gt ajarin lah anak mu arahin ke yg paham soal indigo oon bgt ibunya
Laila ANT: hi kak sabar kak sabar ini masih permulaan 💪💪
total 1 replies
falea sezi
q suka neh horor gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!