Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Ular
Shaneen melangkah masuk ke galeri seni milik keluarga Tante Linda dengan gaun hitam minimalis yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Ia datang sendiri, tanpa Michael yang katanya ada urusan mendadak. Begitu kakinya menginjak lantai marmer, ia bisa merasakan belasan pasang mata menatapnya—terutama segerombolan wanita sosialita di pojok ruangan yang dipimpin oleh Clara.
Clara menghampirinya dengan senyum kemenangan, memegang segelas sampanye dengan gaya yang sangat dipaksakan elegan.
"Oh, Shaneen! Kamu datang? Aku pikir kamu tidak akan berani muncul tanpa ... pelindungmu," Clara memulai, suaranya cukup keras untuk memancing perhatian tamu lain. "Tapi lihatlah, sendirian saja? Michael sedang sibuk bekerja di SM Corporation, ya? Kasihan, sepertinya dia lebih tertarik pada angka-angka di kantor daripada menemanimu melihat seni yang—yah, mungkin kamu pun tidak paham artinya."
Shaneen berhenti di depan sebuah lukisan abstrak seharga ratusan juta. Ia menoleh perlahan, menatap Clara dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan bosan.
"Seni?" Shaneen tertawa renyah, suara yang terdengar merdu namun menusuk. "Clara, sayang... Kamu memajang lukisan 'The Void' ini di sini, tapi kamu sendiri tidak sadar kalau otakmu adalah definisi void yang sebenarnya. Kosong melompong."
Wajah Clara memerah seketika. "Jaga bicaramu! Kamu itu cuma anak manja yang beruntung dijodohkan dengan Michael karena belas kasihan!"
Shaneen melangkah mendekat, memperkecil jarak hingga Clara refleks mundur selangkah. "Belas kasihan? Michael itu pria yang cerdas, Clara. Dia butuh hiburan di rumah, bukan asisten kantor tambahan yang wajahnya selalu terlihat seperti kurang tidur karena ambisi yang tidak sampai. Pakai concealer yang lebih tebal, Clara. Kerutan di matamu mulai menunjukkan betapa kerasnya kamu mencoba menjadi... apa itu? Wanita karier yang sukses? Tapi yang kulihat cuma wanita kesepian yang sedang mengemis perhatian tunangan orang lain."
"Kamu—!" Clara mengangkat tangannya, hampir kehilangan kendali.
"Jangan coba-coba," bisik Shaneen, suaranya tiba-tiba rendah dan sangat dingin, membuat Clara membeku di tempat. Insting mafia Shaneen keluar sekejap sebelum kembali ia tutupi dengan senyum miring. "Gaun yang kamu pakai itu bagus, tapi sayangnya, kepribadianmu membuatnya terlihat seperti barang diskon di pasar loak."
Clara gemetar karena marah dan malu. "Tunggu saja, Michael akan sadar kalau kamu itu cuma beban!"
"Oh, benarkah?" Shaneen mengangkat bahu. "Setidaknya aku beban yang dia pilih untuk dibawa pulang. Sedangkan kamu? Kamu bahkan tidak masuk dalam daftar tamunya."
Clara melangkah maju, mempersempit jarak hingga aroma parfum woody yang berat menyengat indra penciuman Shaneen. Ia tersenyum miring, menatap Shaneen dengan tatapan merendahkan yang sudah ia latih di depan cermin. Tidak sampai disitu, Clara benar-benar tidak mau kalah dari Shaneen.
"Kasihan sekali ya, Shaneen. Lima tahun sejak tragedi itu, dan kamu masih begini saja," Clara memulai, suaranya pelan namun tajam, sengaja agar orang-orang di sekitar mereka menoleh. "Aku baru saja menutup kontrak kerja sama dengan SM Corporation untuk pengadaan interior kantor pusat mereka. Dan kamu? Apa. Pencapaian terbesarmu bulan ini? Berhasil mencocokkan warna lipstik dengan warna tas?"
Shaneen menyesap minumannya dengan tenang, membiarkan keheningan menggantung sejenak untuk memancing emosi Clara. "Kontrak interior, Clara? Oh, selamat. Setidaknya sekarang aku tahu siapa yang bertanggung jawab kalau Michael mengeluh karena pilihan gorden yang norak di kantornya."
Wajah Clara menegang. "Setidaknya aku bekerja, Shaneen! Aku menggunakan otakku untuk membangun relasi dengan Michael di dunia profesional. Sedangkan kamu? Kamu itu cuma pajangan hidup. Pajangan yang dibeli Michael karena rasa hormat ayahnya pada mendiang ayahmu. Kamu itu... beban yang cantik. Tak lebih."
Shaneen tertawa kecil. Ia meletakkan gelasnya di meja dengan bunyi tik yang pelan namun penuh penekanan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, memaksa Clara sedikit mendongak.
"Bekerja, katamu?" Shaneen menatap mata Clara dengan tatapan yang tiba-tiba berubah dingin, sebeku es di kutub. "Clara, sayang... kamu pikir Michael itu bodoh? Kamu pikir dia tidak tahu kalau proposal SM Corporation-mu itu lolos hanya karena asistenku—yang kamu sebut 'wanita karir sesungguhnya' itu—malas berdebat dengan ibumu yang terus menelepon kantor kami?"
Clara tertegun. "Apa maksudmu asistenmu? Jangan halusinasi, Shaneen!"
"Kamu selalu merasa paling jenius karena kamu 'tampil' di depan, Clara. Tapi di dunia yang sebenarnya, orang-orang yang benar-benar memegang kendali tidak akan pernah membiarkan wajahnya dikenal publik," bisik Shaneen, suaranya kini sehalus beludru namun menyayat. "Selagi kamu sibuk memamerkan galerimu yang penuh barang rongsokan ini, aku sedang menandatangani akuisisi lahan di samping gedung SM Corporation. Lahan yang sangat diinginkan perusahaanmu, tapi tidak akan pernah kamu dapatkan."
"Kamu bohong! Kamu cuma anak manja yang kerjanya cuma duduk diam!" Teriak Clara, mulai kehilangan kendali karena egonya tersentil.
"Tentu saja aku duduk diam," Shaneen tersenyum simpul, jemarinya merapikan kerah gaun Clara yang sedikit miring. "Karena saat aku duduk diam pun, uang dan informasi datang kepadaku. Sedangkan kamu? Kamu harus berlari ke sana kemari, menjilat sana-sini, hanya untuk mendapatkan perhatian Michael yang bahkan tidak pernah melirikmu lebih dari tiga detik."
Shaneen memiringkan kepalanya, menatap dahi Clara yang berkeringat. "Dan soal 'beban'? Michael mungkin menganggapku beban. Tapi setidaknya aku adalah beban yang dia genggam erat agar tidak jatuh. Sementara kamu? Kamu hanyalah kerikil di sepatunya—mengganggu, tidak berguna, dan tinggal menunggu waktu untuk dibuang ke tempat sampah."
"Kamu wanita ular!" Desis Clara, tangannya gemetar, hampir saja ingin menyiramkan sampanye ke wajah Shaneen.
"Ular?" Shaneen menaikkan sebelah alisnya, senyumnya kini terlihat sangat 'mafia'. "Terima kasih atas pujiannya. Ular memang lebih cerdik daripada ayam yang hanya bisa berisik di kandangnya sendiri seperti kamu."
Tanpa disadari, seseorang telah memperhatikan perdebatan mereka sejak tadi dari kejauhan. Ya, itu Michael. Michael pikir, dia harus menemani Shaneen disana—takut wanita itu nangis disana karena ejekan dari beberapa orang sosialita yang hadir. Namun sayangnya, ternyata dia mendapatkan tontonan menarik. Benar, sesuai dugaan Michael. Shaneen itu bukanlah wanita lemah seperti yang orang perkirakan. Menatap lurus kedepan, Michael berjalan seolah-olah baru tiba—tepat saat suasana semakin panas, suara ketukan sepatu pantofelnya terdengar keras dilantai marmer membuat semua orang menoleh. Michael melangkah masuk dengan aura yang begitu mendominasi hingga ruangan itu terasa mendadak sempit. Ia tidak menyapa siapa pun, matanya langsung tertuju pada satu titik: Shaneen.
Michael berjalan mendekat, mengabaikan Clara yang sudah bersiap memasang wajah paling manisnya.
"Urusanku selesai lebih cepat," ucap Michael datar begitu sampai di depan Shaneen.
"Michael! Kamu datang!" Shaneen langsung berubah 180 derajat. Ia memasang wajah manja dan langsung memeluk lengan Michael. "Michael, lihat! Clara baik sekali, dia baru saja mengajariku cara memakai concealer supaya tidak terlihat tua seperti dia!"
Michael melirik Clara dingin, lalu kembali menatap Shaneen. Ia melihat dahi Shaneen yang sedikit berkeringat karena udara galeri yang ramai. Tanpa mempedulikan Clara yang berdiri mematung karena diabaikan, Michael mengangkat tangannya dan—Plak!—ia menjentik dahi Shaneen dengan gerakan yang sudah jadi kebiasaannya.
"Aduh! Michael! Sakit tau!" Rengek Shaneen sambil memanyunkan bibirnya.
"Bicaramu terlalu banyak," ucap Michael, namun tangannya tetap berada di dahi Shaneen sejenak, mengusapnya pelan sebelum menariknya kembali. "Ayo pulang. Aku tidak suka tempat ini. Terlalu banyak orang yang berpura-pura tahu seni."
Michael menarik Shaneen pergi, meninggalkan Clara yang hanya bisa meremas gelas sampanyenya dengan wajah penuh dendam.
Di dalam mobil, Shaneen tertawa kecil sambil menyandarkan kepalanya di bahu Michael. "Michael, jentikanmu tadi keren banget di depan Clara. Tapi sebagai gantinya, besok belikan aku es krim ya?"
Michael hanya mendengus, meraba-raba kunci mobilnya sambil menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul. "Hanya kalau kau berhenti mengejek orang di depan umum, Shaneen."
"Ih, karena dia duluan yang mulai!"