Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Suasana di lobi kantor masih berdengung oleh sisa-sisa ketegangan. Ardan dan rombongannya baru saja melangkah keluar dengan kemarahan yang tertahan, meninggalkan keheningan yang canggung di antara para karyawan yang berpura-pura sibuk dengan ponsel mereka. mereka tidak berani menatap atau melihat atasan mereka..., karena satu kesalahan saja bisa membuat mereka hengkang dari perusahaan.
Aditya masih berdiri tegak di depan Nadine, napasnya perlahan mulai teratur setelah ledakan emosinya tadi. Ia membalikkan badan, menatap Nadine yang masih menunduk dalam, bahunya sedikit bergetar.
Aditya mengabaikan bisik-bisik staf administrasi di meja resepsionis. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga Nadine bisa merasakan deru napas suaminya.
"Angkat kepalamu, Mona," ucap Aditya, suaranya kini melunak, jauh dari nada otoriter yang ia gunakan pada ayahnya tadi.
Nadine perlahan mendongak. Di balik kacamata tebalnya, matanya nampak berkaca-kaca. "Tuan Muda... Anda seharusnya tidak melakukan itu. Tuan Besar sangat marah. Posisimu di perusahaan..."
"Posisiku tidak ada artinya jika aku membiarkan orang yang bekerja dengan tulus diperlakukan seperti binatang di depanku," potong Aditya tegas. Ia melihat ujung jilbab Nadine yang sedikit berantakan akibat ketegangan tadi, dan tanpa sadar, tangan Aditya terangkat untuk merapikannya.
Sentuhan itu singkat, namun sanggup membuat jantung Nadine serasa berhenti berdetak. Sentuhan yang begitu akrab, begitu protektif.
Di dalam kontrakan, Noah mengagetkan Nadine yang sedang terkesima" cie cie... ibu..., sepertinya Ayah sudah mulai perhatian sama ibu"ucap Noah pada earphone yang hanya bisa didengar oleh Nadine saja membuat Nadine seketika itu juga terkesiap.
"ehmmm "Nadine berdehem untuk menetralkan debaran jantungnya yang siap meledak... wajahnya merona karena digoda oleh putranya. untungnya Nadine memakai masker jadi tidak terlihat oleh Aditya.
Aditya menoleh ke arah sekretarisnya yang berdiri mematung tak jauh dari sana. "Batalkan semua rapat siang ini. Aku akan keluar."
"Tapi Tuan Muda, ada janji temu dengan investor dari Singapura jam satu nanti—"sahut sekretarisnya terpotong karena Aditya langsung menyela.
"Batalkan," ulang Aditya tanpa bantahan. Ia kembali menatap Nadine. "Ikut aku. Kita makan siang di luar." ucap Aditya dengan lembut namun tegas.
Nadine tersentak, matanya membelalak. "Makan siang? Tapi... saya hanya pelayan, Tuan. Maksud saya, asisten Anda. Saya bisa makan di kantin karyawan saja. Jika kita keluar bersama, berita ini akan semakin liar." tolak Nadine dengan lembut, ia tidak menyangka, kalau respon suaminya akan cepat berubah walaupun suaminya itu belum bisa mengingat dirinya.
Aditya justru menyunggingkan senyum tipis, jenis senyum yang menantang bahaya. "Biarkan saja liar. Aku ingin tahu seberapa jauh mereka bisa bergosip. Dan jangan sebut dirimu pelayan lagi di depanku. Hari ini, kamu adalah tamuku.".
tanpa bantahan apapun, Nadine mengangguk setuju , toh suaminya yang mengajak,
Aditya meraih pergelangan tangan Nadine, menuntunnya menuju lift eksekutif. Saat pintu lift terbuka, Aurel tiba-tiba muncul di sana, wajahnya sembap karena tangis namun matanya memancarkan kebencian murni.
"Adit! Kamu mau ke mana membawa dia?!" pekik Aurel, mencoba menghalangi jalan.
Aditya bahkan tidak menghentikan langkahnya. Ia merangkul bahu Nadine, menariknya masuk ke dalam lift dan memaksa Aurel untuk mundur. "Aku mau makan siang dengan asistenku. Jangan ganggu kami, Aurel. Dan ingat, jika aku mendengar kamu menyentuh atau menghina dia lagi, aku tidak akan segan-segan mencabut semua fasilitas yang Papa berikan padamu."
Ting!
Pintu lift tertutup, menyisakan Aurel yang berteriak histeris di luar. Di dalam lift yang bergerak turun, hanya ada mereka berdua. Keheningan menyelimuti, namun entah mengapa, udara di dalam sana terasa sangat hangat bagi Nadine.
Aditya melepaskan rangkulannya, tapi ia tetap berdiri sangat dekat. "Mona... kenapa setiap kali aku melihatmu sedih, aku merasa gagal sebagai laki-laki? Padahal aku baru mengenalmu beberapa hari."
Nadine meremas tali tasnya, bibirnya di balik masker tersenyum getir namun penuh cinta. "Karena jiwamu tidak pernah lupa padaku, Mas," batinnya lirih.
___
Aditya sengaja memilih sebuah restoran mewah di pusat kota yang biasa dikunjungi oleh kalangan kelas atas. Ia ingin menunjukkan pada dunia dan pada ayahnya bahwa ia tidak peduli dengan standar sosial yang mereka agungkan.
Saat pintu kaca restoran terbuka, suasana yang tadinya riuh dengan denting sendok dan obrolan elegan mendadak hening. Aditya Pratama, sang CEO tampan yang menjadi incaran banyak wanita, berjalan masuk dengan langkah mantap. Namun, pemandangan di sampingnya membuat semua orang terkesiap.
Ia menggandeng lengan seorang wanita yang mengenakan masker hitam, kacamata tebal, dan pakaian kantor yang sangat tertutup. Nadine membuka maskernya, karena merasa engap, sudah beberapa jam Ia memakai masker, Kalau boleh jujur, Nadine lebih nyaman memakai cadar daripada masker.
Penampilan Nadine yang sengaja dibuat kusam terlihat sangat kontras dengan kemewahan interior restoran tersebut.
"Lihat itu... bukankah itu Aditya Pratama?" bisik seorang sosialita di meja pojok, menatap Nadine dengan jijik. "Siapa wanita di sampingnya? Selera Aditya jatuh seburuk itu? Dia terlihat seperti pelayan yang baru saja dipakaikan baju bagus."
Para pelayan restoran yang berdiri di koridor pun tak kalah sinis. Saat mereka berjalan menuju meja yang telah dipesan, seorang pelayan pria berbisik pada rekannya, "Mungkin itu asisten yang membawa tasnya, tidak mungkin itu teman kencannya. Benar-benar merusak pemandangan di sini."
Nadine menunduk, tangannya yang memegang tas terasa dingin. Ia bisa merasakan ratusan pasang mata sedang mengulitinya, menghakiminya dengan tatapan yang mengatakan, 'Kamu tidak pantas di sini.'
Melihat bahu Nadine yang sedikit menyusut, Aditya justru menarik kursi untuk Nadine dengan gerak-gerik yang sangat gentleman. Ia duduk tepat di hadapan Nadine, lalu menatap sekeliling ruangan dengan pandangan dingin yang mematikan. Seketika, orang-orang yang berbisik langsung membuang muka, takut pada tatapan tajam Aditya.
"Jangan dengarkan mereka," ucap Aditya, suaranya lembut namun tegas. "Mereka hanya bisa melihat apa yang tampak di kulit. Mereka tidak tahu bahwa di depanku ini duduk orang yang lebih cerdas dari seluruh isi ruangan ini."
Aditya meraih tangan Nadine di atas meja, sebuah tindakan yang membuat para pelayan restoran terbelalak kaget.
"Tuan Muda... orang-orang melihat kita," bisik Nadine , suaranya bergetar. "Saya rasa... lebih baik saya makan di dapur belakang saja. Saya hanya merusak reputasi Anda."
"Reputasiku tidak ditentukan oleh siapa yang duduk bersamaku, Mona," balas Aditya. Ia menggenggam tangan Nadine lebih erat. "Justru aku merasa terhormat bisa duduk denganmu. Aneh sekali... di tempat semewah ini, biasanya aku merasa kesepian. Tapi bersamamu, meskipun kamu diam, aku merasa... utuh."
Nadine hanya mengangguk tanpa bisa menjawab, kata-katanya tertahan oleh tatapan lembut suaminya.
Aditya memesan makanan terbaik tanpa melihat menu. Sepanjang makan siang, ia tidak melepaskan pandangannya dari mata Nadine di balik kacamata tebal itu. Ia seolah sedang mencari sesuatu yang sangat ia rindukan.
"Kenapa kamu tidak membuka kacamata mu, sepertinya kacamata yang kamu pakai bukan kacamata minus ataupun silinder?" tanya Aditya tiba-tiba.
"Mata saya... tidak seindah wanita-wanita di sini, Tuan Muda. Saya tidak ingin membuat Anda malu," jawab Nadine jujur, menyembunyikan identitas aslinya yang cantik.
Aditya tersenyum tipis, sebuah senyum tulus yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. "Aku sudah melihat separuh wajahmu tadi pagi, dan bagiku... kamu adalah pemandangan paling menenangkan yang pernah aku lihat sejak aku bangun dari koma. Aku tidak butuh wajah cantik yang penuh kepalsuan seperti Aurel. Aku butuh ketulusan ini."
tadi pagi saat Aditya akan menyerahkan paper bag berisi pakaian kepada Nadine, ia tidak sengaja melihat Nadine tanpa memakai kacamata tebalnya, ia bisa melihat, keindahan mata jernih Nadine yang ia kira Mona.
Di telinga Nadine, suara Noah terdengar serak, seolah anak kecil itu sedang menahan tangis bahagia. "Ibu... Ayah benar-benar sudah jatuh cinta lagi. Dia tidak jatuh cinta pada wajah Ibu, tapi dia jatuh cinta pada jiwa Ibu. Rencana kita berhasil, Bu."
Nadine tersedak pelan, air matanya jatuh di balik masker. Inilah yang ia cari. Ia ingin dicintai bukan karena ia cantik, bukan karena ia ibu dari anaknya, tapi karena dirinya apa adanya.
Saat mereka hendak beranjak, seorang pelayan wanita dengan sengaja meletakkan tagihan dengan kasar di meja sambil bergumam, "Sayang sekali, pria setampan ini disihir oleh wanita udik."
Aditya berhenti melangkah. Ia menatap pelayan itu dengan mata menyala. "Panggil manajermu sekarang juga. Dan sampaikan padanya, mulai hari ini, restoran ini tidak akan lagi menerima kontrak katering dari perusahaan Pratama Group karena karyawannya tidak memiliki sopan santun terhadap tamuku."
Pelayan itu pucat pasi, namun Aditya sudah menarik tangan Nadine pelan, melindunginya dari tatapan sinis dunia, seolah Nadine adalah harta paling berharga yang tidak boleh disentuh siapa pun.