***++++++++
" Brengsek, benar benar Bajingan kalian ." teriak seorang gadis cantik saat memergoki suaminya sedang bergulat panas dengan pelayan di rumah nya.
Mari nantikan kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenvyy27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga
Rea terdiam, dia tidak tau dengan siapa suaminya berbicara, tapi dari nada suara nya yang meninggi sesekali, jelas ada sesuatu yang membuatnya marah, hati nya diliputi rasa cemas.
" Dengan siapa dia berbicara." batin nya bergumam.
" Mas Dean." panggil Rea pelan sambil melangkah mendekat. " Ibu memanggil kamu mas, kamu lagi teleponan dengan siapa ?? Kenapa marah marah seperti itu ?? ." tanya nya hati hati mencoba membaca raut wajah suaminya.
Dean sontak terkejut mendengar suara Rea, dia segera mematikan sambungan telepon, lalu berbalik menghadap istrinya, ekspresi nya masih tegang, tapi kemudian dia menarik nafas dalam dalam dan mencoba tersenyum agar tidak menimbulkan kecurigaan.
" Bukan siapa siapa dek." ucap nya dengan lembut ." cuma rekan kerja, ada sedikit kerjaan kantor yang belum terselesaikan."
Dia berusaha menormalkan emosinya meski Rea melihat ada sedikit ketegangan dan mencurigainya.
" Semua sudah siap." tanya Dean kemudian, mengubah topik dengan senyum palsu yang di paksakan.
" Sudah mas." Rea mengangguk ragu.
" Ya sudah aku temui ibu dulu, kamu ganti baju dulu ya, setelah ini kita pulang ke rumah kita sendiri." Dean kembali tersenyum, kali ini sedikit lebih tenang, lalu meninggalkan Rea di halaman rumah.
Rea hanya menatap punggung suaminya yang menjauh, ada sesuatu sikap Dean yang janggal, namun dia memilih diam, dan menyimpan rasa penasarannya sendiri.
Untuk menghindari pertanyaan dari sang istri, Dean segera melangkah menuju kamar ibunya, dia mengetuk pintu dengan pelan, lalu membukanya setelah ada jawaban.
" Ibu ." Panggil Dean dengan hati hati.
Ibu Dea menatap Dean dengan sangat tajam " jangan bilang kamu masih berhubungan dengan wanita itu Dean." suara nya rendah namun penuh tekanan. " jangan sampai kamu menyesal karena bermain api di belakang istrimu dan juga ibu."
Tubuh Dean seketika menegang, dia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap langsung ibunya.
" Ibu, tau tadi kamu sedang bertelepon dengan siapa." lanjut Bu Dea dengan nada dingin " Ibu hanya ingin bilang, hentikan semua kegilaan itu, sebelum semua nya terlambat."
Dean mengepalkan tangannya di sisi tubuh, mencoba menahan gejolak emosi yang mulai membara " Ibu tidak perlu khawatir." ucapnya pelan namun tegas. " Dean bisa mengatasinya, Dean janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya, sebelum Rea mengetahui nya ."
Bu Dea menghela nafas panjang, mata menatap putranya dengan kekecewaan dan khawatir.
" Jangan sampai ibu mendengar hal seperti ini lagi, kamu sudah di beri istri yang baik dan tulus, jangan rusak itu semua hanya karena masa lalu."
Dean hanya diam, dada nya merasa sesak, dia tau ibunya benar, tetapi sesuatu dalam diri nya membuatnya merasa sulit memutuskan apa yang harus dia lakukan.
Saat Dean kembali ke kamar, senyum perlahan di wajahnya mulai terbit, seketika rasa Gundah yang sempat menguasai pikiran nya tadi lenyap begitu saja ketika mata nya menangkap sosok sang istri.
Rea sudah berganti pakaian menggunakan dress selutut berwarna purple tanpa lengan sederhana namun manis, rambutnya yang di biarkan tergerai menambah kesan lembut ,polos dan cantik di wajahnya, pemandangan itu cukup membuat Dean lupa akan beban yang tadi menekan dadanya.
" Aku sudah siap Mas." ucap Rea sambil tersenyum kecil. " semua nya sudah beres tidak ada yang tertinggal, ayok kita pamit sama ibu."
Dean menatap istrinya dengan tatapan penuh kagum, senyum lebar menguasai wajahnya. " Ya dek, Mas juga sudah tidak sabar ingin cepat cepat sampai rumah." balasnya dengan hangat.
Dean lalu menyeret koper mereka, sementara tangan sebelah nya menggenggam tangan Rea dengan lembut, bersama mereka keluar dari kamar.
" Bu, Rea pamit ya." ucap Rea dengan lembut sambil memeluk tubuh ibu mertua nya. " Jaga diri ibu baik baik ya, insyallah Rea akan sering sering ke sini menjenguk ibu, do'a kan rumah tangga Rea dan Mas Dean selalu di ridhoi Allah ya Bu."
Bu Dea membalas pelukan itu dengan penuh kasih . " iya sayang, ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua, jangan sungkan untuk menghubungi ibu kalo terjadi apa apa ya nak."
Beliau lalu mengecup kening Rea dengan lembut sebelum beralih menatap putranya.
Dean menunduk hormat, lalu mengecup tangan ibu nya. " Do'akan kami Bu ." ucap nya singkat namun hangat.
Bu Dea tersenyum, meski senyum itu menyimpan ke khawatiran yang tak bisa dia sembunyikan sepenuhnya , dia menatap anak dan menantunya menuju mobil lalu masuk dan bersiap meninggalkan rumah.
Saat mobil itu perlahan melaju keluar dari halaman, Bu Dea masih berdiri di depan pintu, tatapannya mengikuti kendaraan yang kini semakin melaju.
Helaan nafas keluar dari bibirnya.
" Semoga saja Dean menepati janji nya itu." ucapnya dengan lirih. " Dan semoga dia bisa lepas dari wanita murahan itu sebelum semua nya terlambat."
Bu Dea menatap kosong ke arah gerbang yang kini sudah tertutup kembali, berharap doa dan peringatannya bisa benar benar menyelamatkan rumah tangga sang putra.