Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.
Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!
Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 : Datang
Sisa malam itu dihabiskan dalam diam yang menusuk. Di atas punggung kuda yang sama, Wan Long memacu tunggangannya menembus gerbang istana. Meski tubuh mereka bersentuhan, ada dinding es yang tebal di antara keduanya. Bagi Bai Hua, Wang Yu adalah representasi hukum yang menghancurkan kariernya.
Begitu sampai di Paviliun Pangeran Pertama, Wan Long menurunkan Bai Hua dengan kasar ke atas ranjang, seolah-olah ia baru saja membuang barang sitaan.
"Lain kali, jangan menyandarkan kepalamu di bahuku. Itu menjijikkan," desis Wan Long sambil menghapus jejak debu di jubahnya.
Bai Hua mendengus, matanya menatap tajam dari balik bantal. "Aku melakukannya agar tidak jatuh dan mati konyol sebelum sempat melihatmu membusuk di dunia ini, Jenderal Sialan. Sikapmu cepat sekali berubah, seperti bunglon saja."
Wan Long mendengus. Dasar! Walau tubuh nya tidak sekuat dulu, Wan Long tetaplah seorang lelaki. Ia bisa kehilangan kendali jika Bai Hua terus menyandar.
***
Keesokan paginya, suasana Paviliun yang biasanya sepi mendadak riuh. Empat orang pengawal dari kediaman Menteri Bai datang membawa sebuah benda besar yang ditutupi kain beludru hitam. Menteri Bai benar-benar mengirimkan pesanan Bai Hua---mungkin karena rasa takut yang mendalam akan ancaman skandal Bai Rui.
"Nona Muda, kiriman dari kediaman Menteri sudah tiba," lapor Bibi Pong dengan wajah berseri-seri.
Bai Hua memberikan isyarat agar kain itu dibuka. Begitu kain tersingkap, sebuah kursi roda yang luar biasa megah tampak berkilau di bawah sinar matahari pagi. Rangkanya terbuat dari kayu jati hitam pekat yang dipoles hingga mengilap seperti kaca. Ukiran perak berbentuk sulur mawar melilit di setiap sisinya, dan bagian rodanya dilapisi logam tipis agar lebih kokoh.
"Wah! Kereta kecil baru! Istri punya mainan baru!" Wan Long muncul dari balik pintu, kembali ke mode idiotnya karena ia menyadari ada beberapa mata-mata Permaisuri yang sedang mengintip dari balik tembok paviliun.
Wan Long berlari mendekat, tangannya meraba-raba ukiran perak itu dengan gerakan kikuk, namun matanya yang tajam sedang memindai setiap inci kursi itu. Ia menemukan sesuatu yang janggal pada bagian sandaran tangan.
"Bibi Pong, Choi, keluar sebentar. Aku ingin mencoba 'mainan' baruku ini dengan suamiku," perintah Bai Hua dengan nada datar.
Setelah pintu tertutup rapat, Wan Long langsung berhenti bertingkah gila. Ia menekan sebuah ukiran mawar kecil di bawah sandaran tangan kanan kursi roda itu.
Klik.
Sebuah laci tersembunyi berukuran kecil terbuka di bagian samping. Di dalamnya terdapat sebuah surat kecil dan botol porselen biru. Wan Long mengambilnya, membacanya sekilas, lalu melemparkannya ke pangkuan Bai Hua.
"Ayahmu memang licik. Dia tidak hanya mengirimkan kursi roda, tapi juga 'hadiah' tambahan," ujar Wan Long sinis.
Bai Hua membaca surat itu. Isinya singkat: "Gunakan ini untuk melunakkan hati Permaisuri jika kau ingin tetap hidup." Botol itu berisi bubuk Xiang-Fei, wewangian langka yang konon bisa membuat siapa pun yang menghirupnya merasa tenang, namun jika dicampur dengan teh tertentu, akan menjadi racun penekan saraf yang halus.
"Dia ingin aku menyuap Permaisuri dengan racun? Atau dia ingin aku menjebak diriku sendiri?" gumam Bai Hua sambil meremas surat itu.
"Dia ingin kau bermain di kedua sisi," sahut Wan Long. Ia kemudian mulai memeriksa roda kursi tersebut. Dengan gerakan cepat, ia membongkar bagian poros roda. "Dan lihat ini... ayahmu memberikan 'asuransi' bagiku."
Di dalam poros roda yang berongga, terdapat dua buah belati tipis yang terbuat dari baja hitam, tersembunyi sempurna.
"Dia tahu kita sedang dikepung. Dia memberikan senjata ini bukan karena sayang padamu, tapi karena dia tidak ingin nyawamu hilang sebelum harta ibumu terkumpul semua," lanjut Wan Long.
Bai Hua mencoba duduk di kursi roda barunya. Rasanya jauh lebih nyaman dan stabil. Ia memutar rodanya dengan lincah, mendekati Wan Long yang sedang berdiri di dekat jendela.
"Jangan berpikir karena kita punya senjata dan harta, aku akan mulai menyukaimu, Wang Yu," ucap Bai Hua dingin. "Kita tetap musuh. Begitu aku bisa berjalan kembali, aku akan menemukan cara untuk pulang tanpa dirimu."
Wan Long menyeringai, sebuah seringai yang membuat bulu kuduk berdiri. "Pulang? Ke mana? Ke ruang interogasi tempat aku akan memborgolmu lagi? Jangan bermimpi, Mei Lin. Di sini atau di sana, aku adalah pengurungmu."
Tiba-tiba, pintu paviliun diketuk dengan keras. Suara seorang kasim tinggi melengking memecah ketegangan di antara mereka.
"Pangeran Pertama! Pangeran Pertama Wan Long dan Putri Bai Hua! Permaisuri telah menyelesaikan masa penyucian dirinya. Beliau mengundang kalian untuk perjamuan sarapan di Paviliun Teratai Pusat... SEKARANG JUGA!"
Wan Long dan Bai Hua saling berpandangan. Perjamuan pagi yang mendadak biasanya berarti satu hal di istana ini: sebuah eksekusi halus atau jebakan terbuka.
"Ganti jubahmu, Idiot," perintah Bai Hua sambil merapikan letak belati di laci kursi rodanya. "Ibumu yang agung ingin melihat apakah kita sudah mati atau belum."
Wan Long kembali memasang wajah kosongnya, mengambil kincir anginnya yang rusak, dan mulai merengek. "Makan! Mau makan bubur sama Ibu Ratu! Hihihi!"
Mereka pun berangkat. Bai Hua di atas singgasana perak barunya yang menyimpan belati dan racun, dan Wan Long yang berjalan pincang sambil memegang baju istrinya.
Manusia sialan ini lagi-lagi memegang bajuku. Ketus Bai Hua dalam hati.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
jadi bayangin visual merekanya bertarung
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa