Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbelanja
Leo masih fokus dengan laptop nya sambil memeriksa beberapa berkas-berkas yang bertumpuk disebelahnya, bayangan kerutan terlihat jelas didahinya, menandakan ia sedang kebingungan dalam memahami setiap berkas yang ia pegang dan ia liat satu persatu tersebut.
"Kemana pergi angkanya ini?" tanya nya pada dirinya sendiri.
Leo menghela nafas, lalu memutuskan mengambil ponselnya kembali dan menghubungi seseorang yang bertanggung jawab atas semua itu.
Setelah mencari nomor orang yang akan ia hubungi, leo langsung menekan tombol panggilan, sampai orang itu menjawab diujung sana.
"Ada kesalahan dilaporan keuangan, langsung keruangan saya sekarang."
"Emm....ba....baik tu-
Tutt
Leo kembali meletakkan ponselnya diatas meja samping laptopnya.
Beberapa saat kemudian terdengar ketukan dari balik pintu ruangannya. Seketika ia langsung menoleh ke arah sumber suara dan menghentikan aktivitasnya.
"Masuk." perintah leo dengan nada tegas.
Pintu ruangannya terbuka, orang yang baru saja ia telepon masuk dengan wajah yang sedikit was-was.
"Tu....tua-
Leo menunjuk layar laptopnya tanpa mengangkat kepala, lalu ia menyodorkan beberapa berkas tadi kepada pria di hadapannya.
"Liat ini! banyak sekali kesalahan yang kamu perbuat, cek lagi semua datanya dan pastikan angkanya sudah benar." perintah leo dengan nada yang lugas dan tegas.
"Tapi, sejak tadi sudah saya periksa berulang kali, dan saya tidak menemukan ada kesalahan disana." jawab pria dewasa tersebut dengan berani.
"Periksa lagi dari awal sampai akhir! saya nggak mungkin salah liat! atau kamu mau saya pecat?" ujar leo dengan santai.
"Ja....jangan tuan! saya akan periksa kembali, sekarang juga!" kata pria dewasa tersebut dengan gelagapan.
"Bagus! tunjukkan kemampuan kamu sebagai manager disini, jangan buat saya kecewa dengan kinerja kamu disini." ujar leo.
"Baik tuan muda, saya tidak akan mengecewakan anda."
"Saya tunggu hasilnya dan jangan buat saya nunggu terlalu lama."
"Iya tuan."
Pria itu membungkuk sedikit sebagai tanda hormat sebelum berbalik dan berjalan menuju pintu.
"Saya akan menyerahkan hasilnya! tuan muda." kata pria itu, sambil membuka pintu dan keluar dari ruangan.
Langit diluar jendela sudah mulai berubah warna, dari biru menjadi orange kemerahan, pertanda matahari akan segera terbenam. Leo menatap keluar jendela matanya mengikuti pergerakan matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat.
Suara dering ponselnya kembali terdengar, kali ini leo menatap layar ponselnya dengan tersenyum dan langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Halo ma." kata leo dengan nada yang lembut.
"Halo sayang, kamu pulangnya jam berapa?"
"Bentar lagi leo pulang ma."
"Yaudah kalo gitu mama tunggu ya! oh iya, tolong sekalian pulang nanti kamu beli sayur dipasar ya!"
"Sayur ma?"
"Iya, mama mau pesen kubis, kentang, wortel, dan seledri. Oh dan juga ayam 2 kilo ya!"
"Mama......sekalian aja tuh daging sapi buat ngerendang." ujar leo sedikit kesal, lantaran dirinya tidak pernah berbelanja sayur sendirian.
"Hmm, ide bagus! kalo kamu mau direpotin, sekalian juga daging sapinya ya 1 kilo!"
"Mamaaa...." hampir saja leo berteriak
"Kenapa?"
"Nggak kok, mama mau apa lagi?" leo mencoba menenangkan diri.
"Itu aja sayang, mama cuma minta kamu hati-hati di jalan! jangan ngebut!"
"Iya ma, yaudah leo tutup dulu ya."
"Iya sayang."
Tutt
****
Di ruang tamu, zea duduk nangkring di sofa sambil mengunyah cemilan favoritnya, matanya terpaku pada layar TV yang menampilkan film kartun kesukaannya.
Dari pada uring-uringan tidak jelas dikasur gara-gara menggalauin leo, sih cowok kutub yang tidak berperasaan itu, lebih baik dia nonton TV sambil menikmati usus crispy kesukaannya yang pedesnya tidak ketolong tingkat dewa.
Mamanya masuk ke ruang tamu, melihat zea yang sedang asik menonton film, ia tersenyum dan duduk disebelah zea.
"Ze, temenin mama yuk!" kata mama nya dengan nada bersemangat.
Zea tidak menjawab matanya masih terpaku pada layar TV.
"Ze, kamu dengar mama nggak sih?" tanya mamanya yang sedikit kesal lantaran tidak ada tanggapan dari putrinya tersebut.
Zea masih tidak menjawab, ia terlalu fokus menonton film dengan mulut yang menganga terbuka.
Dengan gerakkan cepat, mama zea mengambil remot dan mematikan TV tersebut, zea langsung menoleh ke arah mama nya.
"Mama.... Kok dimatiin sih? zea kan lagi nonton." kata zea dengan nada yang sedikit kesal.
"Makanya kalo orang tua lagi ngomong itu didengerin bukan di diamin kayak patung."
"Tapi kan zea lagi fokus nonton ma."
"Jadi tontonan kamu itu lebih penting dari mama?" tanya mama zea sedikit kesal.
"Ih bukan gitu ma, zea cum-
"Kalo gitu temenin mama keluar sebentar." potong mama nya.
"Keluar? emang mau kemana sih ma?" tanya zea dengan sedikit penasaran.
"Udah temenin aja, nanti kalo udah sampai tujuan kamu bakalan tau."
Zea menyipitkan matanya. "Tapi kalo mama mau ditemenin beli patung lee min ho lagi atau semacam itu, zea nggak mau! udah cukup waktu itu aja."
"Nggak sayang, mama nggak akan beli patung lee min ho lagi, mama janji!"
Zea masih terlihat sedikit tidak percaya, tapi akhirnya ia mengangguk. "Yaudah deh, zea temenin."
"Baiklah, kamu siap-siap ya, mama kekamar dulu ngambil tas." setelah mengatakan itu mama zea langsung berjalan menuju ke arah kamarnya.
****
Leo berjalan dipasar setelah ia memarkirkan motornya, matanya memindai sekeliling mencari sayur yang dimaksud oleh mama nya. Ia sudah sampai dibeberapa penjual tapi masih belum menemukan apa yang di cari.
"Hm....kubis, kentang, wortel, dan juga seledri....dimana ya?" leo berbisik pelan.
Ia melihat ke sekeliling, mencoba mengingat dimana letak penjual sayur yang biasa mama nya kunjungi. Setelah beberapa saat ia melihat seorang penjual sayur yang terlihat familiar.
"Kayaknya itu." leo berjalan kearah penjual sayur tersebut.
Ia berhenti didepan penjual sayur, memandang sayur-sayuran yang tersusun rapi. "Kubis, kentang, wortel, seledri....ada semua!" leo bergumam lagi.
"Apa yang di cari nak?" tanya penjual sayur.
"Kubis, kentang, wortel, dan juga seledri bu!"
Penjual sayur tersebut tersenyum.
"Saya ambilkan ya! semuanya minta berapa ribu nak?"
"Astaga! mama nggak bilang beli berapa." gumam leo.
"Bentar ya bu, saya telpon mama saya sebentar."
"Iya nak."
Leo mengeluarkan ponselnya, ia langsung mencari nomor sang ibu dan menelpon nya.
"Halo ma."
"Kenapa le?"
"Tadi mama nggak bilang beli berapa ribu sayurnya."
"Astaga! mama lupa sayang, yaudah mama minta kubis, kentang, wortel 15 ribu ya, kalo seledri 5 ribu saja."
"Iya ma, leo tutup dulu."
Tutt
Dengan cepat leo menutup panggilan tersebut sebelum sang penguasa rumah itu meminta ia membeli sayuran lebih banyak lagi.
"Minta kubis, kentang, wortel nya 15 ribu bu, seledri nya 5 ribu saja." pinta leo sopan.
"Baik nak."
Penjual tersebut mulai memasukkan sayur yang leo minta ke dalam plastik.
Setelah selesai belanja sayur, leo berjalan menuju ke bagian daging untuk membeli ayam dan juga sapi yang kebetulan terletak di sebelah penjual sayur tadi.
Bersambung