SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT
SINOPSIS SEASON 2
Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.
Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: KONFRONTASI DI STASIUN TUGU
Malam itu, kota tampak sibuk seperti biasa, namun bagi Putri, udara terasa berat dan penuh ketegangan yang tak terlihat. Stasiun Kereta Tugu dipenuhi orang-orang—pekerja yang pulang lembur, wisatawan yang berjalan berdesakan, dan anak-anak yang tertawa riang. Di tengah keramaian itu, Putri berdiri sendirian di dekat gerbang timur, tepat sesuai instruksi Pak Darmawan.
Putri mengenakan jaket tebal berwarna gelap dan syal yang menutupi sebagian wajahnya. Di tangannya, dia memegang sebuah tas tangan berwarna cokelat tua. Di dalam tas itu terdapat dokumen palsu yang dibuat dengan sangat teliti oleh tim kepolisian, terbungkus rapi dalam amplop cokelat tebal. Di saku jaketnya, terselip mikrofon kecil yang terhubung dengan tim pemantau.
Jantung Putri berdegup kencang, bukan hanya karena takut, tapi karena adrenalin yang memuncak. Dia tahu bahwa di sudut-sudut stasiun yang tidak terlihat mata, puluhan petugas polisi penyamaran sedang memantau setiap gerak-geriknya. Di sebuah mobil van yang diparkir tidak jauh dari sana, Rizky, Nina, dan Detektif Rian sedang mendengarkan dan melihat segala sesuatu melalui perangkat pemantau.
"Putri, tenang. Kami memantau dari semua arah. Jangan panik, lakukan sesuai rencana," suara Detektif Rian terdengar pelan di earpiece kecil yang terselip di telinga Putri.
Putri mengangguk pelan, memberi tanda dia mengerti. Dia melirik jam tangannya. Pukul 19.45. Masih ada lima belas menit sebelum waktu yang ditentukan.
Tiba-tiba, ponsel Putri bergetar. Pesan masuk.
[Lihat ke arah papan pengumuman di sebelah kananmu. Berjalanlah ke sana. Jangan menoleh ke belakang. - D]
Putri menurut. Dia berjalan perlahan menuju papan pengumuman jadwal kereta yang besar dan ramai orang. Matanya mencari-cari di antara kerumunan. Tiba-tiba, seseorang berjalan mendekatinya dari samping. Itu bukan Pak Darmawan, melainkan seorang pria bertubuh kekar dengan jaket kulit hitam.
"Ikuti saya," bisik pria itu dingin tanpa menatap Putri.
Putri tidak punya pilihan. Dia mengikuti pria itu menjauh dari keramaian utama, menuju koridor samping yang lebih sepi dan agak gelap, tempat perawatan stasiun biasanya menyimpan peralatan. Di sana, di bawah lampu yang berkedip-kedip, Pak Darmawan sudah berdiri menunggu, bersandar di dinding dengan senyum miring yang menjengkelkan. Dua orang pengawal lain berdiri di dekatnya, memblokir jalan keluar.
"Selamat malam, Putri. Kau tepat waktu," ucap Pak Darmawan, suaranya terdengar tenang namun mengintimidasi.
"Di mana Rara? Apa yang Bapak lakukan padanya?" tanya Putri langsung, suaranya berusaha tegas meski di dalam hatinya ketakutan.
Pak Darmawan tertawa kecil. "Rara aman. Dia tidur nyenyak di rumah sakit dengan pengawalan ketat... dari orang-orangku. Jadi, jangan coba-coba main-main. Kalau aku tidak kembali dengan selamat dan membawa apa yang aku mau, adikmu akan menyusul orang tuamu. Paham?"
Putri mengepalkan tangannya di dalam saku. "Aku di sini. Aku membawa apa yang Bapak minta. Sekarang, lepaskan Rara."
"Dulu baru nanti," jawab Pak Darmawan sinis. "Berikan amplopnya."
Putri mengulurkan tas tangan itu. Salah satu pengawal maju, mengambil tas itu, dan menyerahkannya pada Pak Darmawan. Pak Darmawan membuka tas itu dan mengeluarkan amplop cokelat. Dia memeriksanya dengan teliti, melihat segelnya, tanda tangannya, dan kertasnya yang terlihat tua dan asli. Dia bahkan membuka beberapa halaman untuk memastikan isinya.
Putri menahan napas. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Apakah dokumen palsu ini akan lolos? Apakah Pak Darmawan akan menyadarinya?
"Hmm... bagus," ucap Pak Darmawan akhirnya, menutup kembali amplop itu dengan senyum puas. "Kau memang gadis pintar, Putri. Lebih pintar dari ayahmu yang bodoh itu."
"Dokumen sudah ada di tanganmu. Sekarang, tolong jaga janjimu," desis Putri.
"Tentu, tentu," kata Pak Darmawan santai, lalu tiba-tiba wajahnya berubah dingin dan kejam. "Tapi sayangnya, Putri... saksi mata terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup. Kau tahu terlalu banyak. Dan Hidayat pasti akan marah besar kalau tahu kau yang mengkhianatinya. Jadi, maaf saja, tapi kau harus mati di sini. Kecelakaan kecil di stasiun sepi, siapa yang akan curiga?"
Putri mundur selangkah, matanya membelalak. "Bapak... Bapak berkhianat! Bapak janji!"
"Di dunia ini, janji hanya untuk orang bodoh, Putri," ucap Pak Darmawan sambil memberi isyarat pada pengawalnya. "Selesaikan."
Salah satu pengawal maju sambil mengeluarkan pisau lipat panjang yang berkilauan di bawah lampu yang remang. Putri mundur sampai punggungnya menabrak dinding dingin. Dia terperangkap.
"Putri, mundur! Kami akan masuk sekarang!" teriak Detektif Rian di earpiece.
Tapi sebelum pengawal itu sempat menyerang, tiba-tiba terdengar suara teriakan.
"STOP!"
Seseorang berlari kencang dari arah koridor dan menubruk pengawal yang memegang pisau itu. Tubuh mereka berguling di lantai beton. Putri terkejut melihat siapa itu.
"Rizky?!" seru Putri tidak percaya.
Rizky, yang seharusnya berada di dalam mobil van pemantau, ternyata nekat masuk sendiri. Dia tidak bisa diam saja mendengar ancaman nyawa terhadap istrinya. Dengan kemampuan bela diri yang dia pelajari selama ini, Rizky berhasil melumpuhkan satu pengawal, tapi dua pengawal lainnya segera menyerangnya.
"Rizky, lari! Kenapa kamu ke sini?" teriak Putri, air matanya mulai menetes.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, Putri!" teriak Rizky sambil menangkis pukulan pengawal lainnya. Namun, jumlah lawan terlalu banyak. Rizky mulai terdesak dan menerima beberapa pukulan di perut dan lengan.
Pak Darmawan tertawa puas melihat adegan itu. "Bagus! Habis mereka berdua!"
Tiba-tiba, suara sirine polisi menderu keras dari kejauhan, semakin dekat. Lampu-lampu sorot menyala terang, menerangi koridor itu.
"POLISI! JANGAN BERGERAK!" teriak suara lantang dari arah pintu masuk koridor. Puluhan petugas polisi bersenjata lengkap mengepung tempat itu.
Wajah Pak Darmawan seketika berubah pucat pasi. "Sialan! Kau membawa polisi?!" dia menatap Putri dengan mata membelalak marah.
Pak Darmawan panik. Dia meraih pistol dari pinggangnya dan menodongkannya ke arah Putri. "Kalau aku harus mati, aku akan bawa kau bersamaku, Putri Aulia!"
"JANGAN!" teriak Rizky yang baru saja berhasil bangkit, meski wajahnya memar.
Saat Pak Darmawan hendak menarik pelatuknya, sebuah tembakan terdengar—bukan dari pistol Pak Darmawan, melainkan dari arah pintu. Tepat di bahu tangan yang memegang pistol. Pak Darmawan menjerit kesakitan dan pistolnya jatuh ke lantai.
Itu adalah tembakan peringatan dari Detektif Rian.
"Tangkap mereka semua!" perintah Detektif Rian.
Petugas polisi segera melompat masuk, memborgol pengawal-pengawal Pak Darmawan yang sudah kewalahan, dan mengamankan Pak Darmawan yang tergeletak menahan sakit di bahunya.
Putri langsung berlari menghampiri Rizky yang berdiri dengan susah payah. "Rizky! Kamu tidak apa-apa?"
Rizky tersenyum lemah, menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. "Aku... aku baik-baik saja, Sayang. Kamu aman?"
Putri memeluk suaminya erat-erat, menangis tersedu-sedu. "Aku aman. Kita aman. Terima kasih, Rizky. Terima kasih."
Detektif Rian mendekati mereka, wajahnya tampak lega namun juga sedikit menegur. "Kalian berdua nekat sekali. Rizky, kamu seharusnya tidak masuk tanpa perintah. Itu sangat berbahaya."
"Maaf, Detektif. Aku tidak bisa diam saja saat nyawa istriku terancam," jawab Rizky jujur.
Detektif Rian menghela napas, lalu tersenyum tipis. "Tapi berkat nekatmu, kita bisa menangkap mereka lebih cepat. Bagus kerja kalian."
Petugas membawa Pak Darmawan yang meraung marah dan kesakitan melewati mereka. "INI BELUM SELESAI! HIDAYAT AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA!" teriaknya sebelum hilang dibawa masuk ke dalam mobil polisi.
Putri dan Rizky saling bertatapan, menyadari bahwa satu musuh sudah tertangkap, tapi perang belum berakhir. Masih ada Pak Hidayat. Dan saat ini, Pak Hidayat mungkin sudah tahu bahwa Pak Darmawan tertangkap.
"Kita harus segera kembali ke rumah," kata Rizky serius. "Ayah harus tahu sekarang. Dan kita harus memastikan Rara aman."
"Tim kami sudah bergerak menuju kediaman Hidayat dan rumah sakit untuk mengamankan adikmu," kata Detektif Rian meyakinkan. "Pergilah. Kami akan mengurus proses hukum di sini."
Putri dan Rizky segera menaiki mobil yang disiapkan Nina. Sepanjang perjalanan, suasana hening. Putri memegang tangan Rizky yang memar dan bengkak, hatinya sakit melihat suaminya terluka demi melindunginya.
"Kenapa kamu melakukan itu, Rizky?" tanya Putri pelan. "Kamu bisa mati."
"Karena aku mencintaimu, Putri," jawab Rizky lembut, menatap mata istrinya. "Dulu, aku pengecut. Aku diam melihat kejahatan ayahku karena takut. Tapi sekarang, aku punya alasan untuk berani. Aku punya kamu, aku punya Rara. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian. Tidak peduli seberapa besar musuhnya."
Air mata Putri jatuh lagi, kali ini air mata bahagia dan haru. Dia tahu, dia telah memilih orang yang tepat untuk berdiri di sisinya menghadapi badai ini.
Sesampainya di rumah Adinata, suasana di sana sudah terlihat kacau. Beberapa mobil polisi sudah terparkir di halaman, dan petugas sedang mengamankan area. Putri dan Rizky berlari masuk. Di ruang tamu, mereka melihat Pak Hidayat sedang duduk di sofa, tampak tenang meski dikelilingi oleh petugas polisi. Bang Rio berdiri di sampingnya, wajahnya tampak sedih namun tegas.
"Pak Hidayat, silakan ikut kami untuk diperiksa. Kami memiliki surat perintah penangkapan dan bukti kuat atas keterlibatan Anda dalam berbagai kejahatan," ucap seorang petugas polisi.
Pak Hidayat tidak melawan. Dia perlahan berdiri, lalu menatap Putri dan Rizky yang baru saja masuk. Tatapannya tidak marah, tapi penuh dengan emosi yang sulit diartikan—kekecewaan, kesedihan, dan mungkin sedikit penerimaan.
"Jadi, ini benar adanya..." ucap Pak Hidayat pelan, matanya menatap Putri lekat-lekat. "Kau... kau anak dari pasangan Aulia itu, kan? Yang bisnis kayunya aku ambil alih."
Putri mengangguk tegas. "Benar. Dan aku tahu Ayah-lah yang membunuh orang tuaku."
Pak Hidayat menghela napas panjang, tampak lelah seumur hidup. "Aku tidak menyangkalnya. Aku sudah hidup dalam dosa dan darah selama bertahun-tahun. Aku pikir kekuasaan dan uang adalah segalanya. Tapi melihat kalian... melihat bagaimana kalian berani melawan kebencian dan bahaya demi kebenaran... aku sadar, aku sudah kalah. Aku kalah telak."
Dia menoleh ke arah Rizky. "Maafkan Ayah, Nak. Ayah sudah menjadi contoh yang buruk. Ayah harap kau bisa menjadi orang yang jauh lebih baik daripada Ayah."
Rizky menelan ludah, matanya berkaca-kaca. "Ayah..."
"Bawa saya," kata Pak Hidayat pada petugas polisi, lalu dia mengulurkan tangannya untuk diborgol. "Tapi tolong... jangan kasari anak dan menantu saya. Mereka tidak bersalah. Semua kesalahan ini ada di pundak saya."
Petugas polisi memborgol tangan Pak Hidayat dan membawanya keluar. Putri, Rizky, dan Bang Rio berdiri diam di ruang tamu yang megah namun kini terasa kosong itu. Misi mereka hampir selesai. Musuh utama sudah tertangkap. Keadilan sepertinya sudah di depan mata.
Namun, saat Putri hendak menghela napas lega, ponsel Bang Rio berdering keras. Bang Rio mengangkatnya, dan wajahnya seketika berubah pucat.
"Ada apa, Bang Rio?" tanya Rizky cemas.
"Pak Rizky... Bu Putri..." suara Bang Rio terdengar gemetar. "Panggilan dari rumah sakit. Rara... Rara hilang dari kamarnya."
[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Pak Darmawan sudah tertangkap dan Pak Hidayat menyerah tanpa perlawanan, seolah keadilan sudah tercapai. Namun, kabar mengejutkan datang: Rara hilang dari rumah sakit! Mengingat Pak Darmawan sudah ditangkap, siapa yang mungkin mengambil Rara? Dan apa yang harus Putri dan Rizky lakukan sekarang untuk menyelamatkan Rara yang satu-satunya keluarga yang tersisa?