NovelToon NovelToon
SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Trauma masa lalu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.

Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA DIBALIK 50 PERSEN

Udara malam Bandung yang dingin menyambut mereka saat melangkah keluar dari tenda pecel lele. Aroma sambal masih tertinggal samar, namun suasana mendadak berubah menjadi lebih puitis saat seorang anak kecil dengan jaket lusuh mendekati mereka sambil menyodorkan seikat mawar putih yang masih segar.

"Mawar putihnya, Kak? Buat pacarnya," ucap anak itu dengan polos.

Arka tertegun sejenak. Tanpa ragu, ia merogoh sakunya, membeli setangkai yang paling cantik, lalu memutarnya di antara jemarinya sebelum menyodorkannya tepat di depan wajah Arunika.

"Ini buat kamu," ucap Arka. Matanya menatap langsung ke dalam manik mata Arunika, tidak ada lagi keraguan atau kabut amnesia di sana. "Aku mau buru-buru jadiin kamu pacarku."

Arunika tersentak. Tangannya yang hendak menerima mawar itu membeku di udara. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena terkejut oleh bunganya, tapi karena pernyataan Arka yang begitu tiba-tiba dan menghunjam langsung ke hatinya.

"Arka... kamu..." Arunika kehilangan kata-kata.

Melihat reaksi Arunika yang kaget, Arka tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tenang namun penuh perlindungan. Ia meletakkan mawar itu di tangan Arunika dengan lembut.

"Jawab nanti aja," sambung Arka cepat sebelum Arunika sempat protes. "Aku tahu kita baru kenal—maksudku, secara nyata kita baru ketemu kemarin dan itu karena nggak sengaja di halte. Aku nggak mau maksa kamu buat kasih jawaban sekarang."

Mereka kembali berjalan menyusuri trotoar menuju halte bis. Arunika menunduk, menatap mawar putih di tangannya dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bahagia yang meledak-ledak, namun juga rasa tidak percaya bahwa pria yang baru saja bangun dari masa lalunya kini menawarkan masa depan padanya.

"Kenapa buru-buru?" bisik Arunika pelan sambil terus berjalan.

"Karena aku sudah kehilangan tiga tahun, Nika," jawab Arka tanpa menoleh, namun suaranya terdengar sangat mantap. "Aku nggak mau kehilangan satu detik pun lagi cuma buat nunggu sim card bener atau nunggu ingatan balik. Aku mau mencintai kamu sebagai Arka yang sekarang, tanpa bayang-bayang siapa pun."

Arunika menggenggam tangkai mawar itu lebih erat. Mawar putih itu menjadi saksi bahwa meski pertemuan mereka "nggak sengaja", namun perasaan yang tumbuh adalah sebuah ketidaksengajaan yang paling indah yang pernah mereka alami.

Langkah Arka terhenti tepat di depan gerbang kost yang sudah mulai sepi. Ia baru saja hendak berpamitan dengan lambaian tangan seperti biasa, namun tiba-tiba ia merasakan tarikan kuat di lengan jaketnya.

Arunika menariknya, memaksa Arka berbalik hingga mereka berdiri sangat dekat. Mawar putih itu didekapnya erat di dada. Di bawah temaram lampu jalan, Arka bisa melihat mata Arunika yang berkaca-kaca, namun ada binar ketegasan di sana.

"Kamu bilang jawab nanti saja, kan?" suara Arunika sedikit bergetar, namun tidak ragu. "Tapi aku nggak mau nunggu nanti. Aku sudah cukup tahu rasanya menunggu tanpa kepastian selama tiga tahun."

Arka terdiam, napasnya tertahan.

"Aku terima, Arka," ucap Arunika lantang. "Aku mau jadi pacar kamu. Bukan karena kamu mungkin adalah 'Senja' yang aku cari, tapi karena kamu adalah pria yang membelikanku bando kucing, yang mau naik bis malam-malam buat antar aku pulang, dan yang membuat dadaku nggak sesak lagi."

Arka terpaku. Ia tidak menyangka jawaban itu akan datang secepat ini, di saat ia sendiri baru saja memberikan ruang untuk bernapas. Senyum perlahan terukir di wajahnya, sebuah perasaan lega yang luar biasa membuncah di dadanya.

"Nika... kamu serius? Kita bahkan belum tahu apa isi sim card itu," bisik Arka seolah tak percaya.

Arunika menggeleng mantap, lalu ia melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas, membuka slot kartu di sampingnya, dan mengeluarkan sim card miliknya sendiri yang sudah usang—kartu yang ia gunakan untuk menunggu pesan dari "A" selama bertahun-tahun.

"Aku nggak butuh bukti digital itu lagi buat mencintai kamu," ucap Arunika sambil menggenggam kartu itu. "Kalau besok sim card kamu berhasil diperbaiki dan isinya ternyata bukan tentang aku, itu nggak akan mengubah kenyataan kalau hari ini aku memilih Arka yang ada di depanku."

Arka menarik napas panjang, lalu ia meraih tangan Arunika yang memegang mawar. Ia menggenggamnya erat. "Terima kasih, Nika. Terima kasih sudah berhenti mencari dan memilih untuk menetap di sini."

Malam itu, di depan gerbang kost yang sederhana, sebuah janji baru telah terukir. Bukan janji yang diketik lewat aplikasi, melainkan janji yang diucapkan langsung dengan tatapan mata yang saling mengunci. Masa lalu mungkin masih menyisakan misteri, tapi bagi mereka, masa depan baru saja dimulai.

Pagi itu di kantor, suasana terasa jauh lebih cerah bagi Arka. Ia duduk di meja kerjanya sambil sesekali melirik layar ponsel, tersenyum sendiri melihat pesan singkat dari Arunika yang mengucapkan selamat bekerja. Baginya, dunia sudah terasa lengkap.

Namun, ketenangan itu mendadak buyar saat Rio datang setengah berlari ke arah kubikelnya. Wajah Rio tampak tegang, napasnya sedikit memburu, dan ia langsung menyandarkan kedua tangannya di meja Arka dengan ekspresi panik.

"Ka! Sim card lo!" seru Rio tertahan, mencoba mengecilkan suara agar tidak ditegur atasan.

Arka mendongak dengan santai, wajahnya tetap tenang. "Kenapa lagi? Masih belum bisa, kan?"

"Iya, masih belum bisa kebuka total... tapi loading-nya udah naik drastis! Tadi malam Doni kabari gue, sekarang udah nembus 50%. Barisan kontaknya sudah mulai kebaca, meski isi pesannya masih terenkripsi," ucap Rio dengan nada bicara yang cepat.

Arka menutup dokumen di monitornya, lalu menatap Rio dengan tatapan yang sangat damai, tipe tatapan orang yang sudah selesai dengan urusan masa lalu.

"Yo, dengerin gue. Udah nggak perlu lagi. Gue udah punya pacar," ucap Arka mantap. "Semalam gue udah nembak Arunika, dan dia terima gue apa adanya. Dia bahkan bilang nggak butuh bukti digital apa pun lagi. Jadi, mau itu loading sampai seratus persen atau meledak sekalipun, itu nggak akan mengubah posisi Arunika di hidup gue sekarang."

Rio terdiam sejenak, tampak kaget dengan berita status baru sahabatnya itu. Namun, bukannya ikut lega, raut wajah Rio justru makin terlihat serius. Ia menarik kursi, duduk di samping Arka, dan merendahkan suaranya sampai ke level bisikan.

"Gue seneng buat lo sama Arunika, jujur. Tapi ini perlu buat gue, Ka. Gue pengen tahu," ucap Rio tegas. "Selama tiga tahun lo koma, gue selalu merasa ada yang janggal sama kecelakaan itu. Gue pengen tahu apa yang sebenernya lo lakuin di jalan malam itu. Gue nggak mau lo hidup dalam ketenangan yang ternyata dibangun di atas rahasia yang belum selesai."

Arka mengerutkan kening. "Rahasia apa lagi sih, Yo? Kecelakaan ya kecelakaan aja, takdir."

"Nggak sesederhana itu," potong Rio. "Doni sempat lihat satu log panggilan terakhir sebelum sistemnya hang lagi. Ada nomor yang menelepon lo berkali-kali tepat sepuluh menit sebelum lo jatuh. Dan nomor itu... bukan nomor Arunika."

Arka terdiam. Senyum yang tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa penasaran yang kembali terusik.

"Jadi, biarin Doni lanjutin kerjanya. Lo fokus aja sama pacar baru lo, tapi biarin gue yang urus sisanya. Gue cuma mau pastiin kalau lo bener-bener aman," tambah Rio sambil menepuk bahu Arka, lalu pergi meninggalkan Arka yang kini kembali termenung menatap layar ponselnya.

1
Ira Indrayani
/Rose//Heart/
Dinaneka
Ceritanya bagus..
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍
Dinna Wullan: terimakasih dukungannya kak dina, siap meluncur
total 1 replies
Ros Ani
mampir lagi Thor karya barumu,semangat berkarya & sukses 💪
Dinna Wullan: terimakasih kak semoga suka, itunggu kritik dan sarannya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!