Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Bertemu Sahabat
.
Almira melenggang meninggalkan Lila yang masih berdiri mematung di ruang tengah. Ia tersenyum sinis dalam hati, merasa puas telah berhasil mempermainkan Lila.
“Mari bersenang-senang, Madu," gumam Almira pelan, lalu melangkah menuju garasi.
Setibanya di garasi, Almira membuka pintu mobilnya dan segera masuk ke dalam. Ia menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan rumah yang penuh dengan drama dan kepalsuan. Ia merasa lega bisa keluar dari sana, meski hanya untuk sementara waktu.
Almira mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah kafe yang terletak di dekat kampusnya dulu. Kafe itu adalah tempat favoritnya dan Sifa saat masih kuliah. Mereka sering menghabiskan waktu berjam-jam di kafe itu, mengerjakan tugas, bergosip, dan berbagi cerita.
*
Di rumah, Lila tersenyum licik setelah kepergian Almira. “Ini kesempatanku," gumamnya, lalu mengusap air mata palsu dan bergegas menaiki tangga menuju kamar Almira.
"Kakak maduku itu pasti memiliki banyak benda berharga. Perhiasan yang dia pakai saja begitu mewah.” Wanita itu terus bicara sendirian sepanjang jalan menuju lantai atas.
“Tas yang dia bawa tadi juga merk mahal. Nanti aku harus minta mas Gilang untuk membelikan tas yang sama seperti itu. Enak saja dia membelikan aku tas yang harganya cuma dua jutaan.”
Dan tanpa terasa wanita itu sudah sampai di depan kamar Almira. Senyum lebar menghiasi bibirnya manakala tangannya sudah memegang handel pintu.
“Kakak madu, mulai sekarang apa yang jadi milikmu akan jadi milikku, seperti suamimu!”
Tapi…
Ceklak ceklak ceklak!
Berulang kali ia mencoba membuka pintu ternyata tidak bisa. Pintu terkunci.
“Aargh…!” Lila berteriak geram. Dua tangannya terkepal memukul pintu hingga sakitt sendiri. "Sial! Dasar kakak madu laknat!” makinya. Menghentakkan kaki kasar. Langkah yang keras penuh amarah. Akhirnya sampai kembali ke lantai bawah setelah puas memakai.
*
Sementara itu, setelah beberapa menit berkendara, Almira tiba di kafe yang dituju. Ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang tersedia dan keluar dari mobil. Ia menatap kafe itu dengan tatapan penuh nostalgia. Kafe itu tampak sama seperti dulu, tidak banyak berubah. Hanya saja, suasana di dalamnya terasa lebih ramai dan modern.
Almira melangkah masuk ke dalam kafe dan mencari sosok Sifa. Tidak butuh waktu lama, ia melihat Sifa duduk di salah satu meja di pojok ruangan, melambaikan tangannya dengan bersemangat.
Almira tersenyum dan menghampiri Sifa. Mereka berpelukan erat, melepaskan rindu yang sudah lama terpendam.
"Ya ampun, Mir! Aku kangen banget sama kamu!" seru Sifa dengan begitu gembira.
"Aku juga kangen banget sama kamu, Sif!" balas Almira dengan senyum bahagia. Saking bahagia hingga matanya berkaca-kaca.
Mereka kemudian duduk berhadapan di meja itu. “Kamu mau pesan apa??" tanya Sifa.
"Yang biasanya aja deh,” jawab Almira terdengar pasrah.
Sifa menatap sahabatnya dengan sedih. Walaupun tidak tahu apa yang terjadi entah kenapa dia merasa sahabat ya sedang tidak baik-baik saja. Ia pun segera memesan minuman dan cemilan favorit mereka berdua.
“Sekarang, bilang padaku, Mir. Apa yang sedang terjadi?” tanya Sifa setela pelayan yang melayani telah menjadi hadapan mereka. "Kenapa suara kamu tadi kedengaran sedih banget? Dan aku lihat juga sekarang tubuh kamu terlihat kurus banget? Kamu sakit?"
Almira menghela napas panjang. ia tidak bisa menyembunyikan masalahnya dari Sifa. Sejak dulu, Sifa adalah sahabat yang peka, Sifa selalu bisa merasakan apa yang sedang ia rasakan.
Almira menunduk menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. Air matanya kembali tumpah di hadapan sahabatnya.
"Mira?" Sifa terkejut melihat sahabatnya menangis. “Mir, jangan kayak gini dong," ucapnya. “Ayo bilang! Kamu kenapa, Mir? Apa yang sebenarnya terjadi? Cerita dong sama aku," desak Sifa dengan raut cemas.
"Fa… Mas Gilang… dia selingkuh.
“Apa?!" Sifa benar-benar terkejut mendengar ucapan Almira. “Kamu nggak salah ngomong?”
Almira menggelengkan kepala. “Dia sudah menikah lagi dengan wanita lain. Bahkan saat ini istrinya itu sedang hamil."
Dengan suara bergetar, Almira mulai menceritakan semua yang telah terjadi dalam rumah tangganya kemarin. Air mata wanita itu mengalir deras membasahi pipinya.
Sifa mendengarkan cerita Almira dengan hati geram. Tanpa sadar kedua tangannya terkepal. Wajahnya semakin lama semakin memerah karena marah. Ia tidak menyangka bahwa Gilang, pria yang dulu selalu mengejar-ngejar Almira, bisa melakukan hal sekeji itu.
"Aku benar-benar gak percaya Gilang bisa melakukan ini sama kamu!" seru Sifa marah. "Brengsek banget tuh cowok! Dulu aja ngejar-ngejar kamu kayak orang gila, sekarang malah selingkuh dan nikah lagi! Benar-benar gak tahu diri!"
“Padahal, kemarin aku ingin memberikan dia kejutan”
“Kejutan?" Sifa menatap wajah Almira dengan kening berkerut.
Almira mengangguk. "Setelah menunggu selama tiga tahun, akhirnya aku hamil.”
"Alhamdulillah…" Sifa terlihat begitu bahagia saat mendengar kabar kehamilan sahabatnya.
Almira tersenyum getir. “Tapi sayangnya, saat aku ingin memberikan kejutan, justru dia yang memberikan aku kejutan lebih dulu.” Almira kembali menangis, tidak mampu berkata apa-apa.
Sifa menggenggam erat tangan sahabatnya. "Aku tahu kamu pasti sakit hati banget, Mir," ucap Sifa. "Tapi kamu gak boleh terus-terusan sedih kayak gini. Apalagi kamu sudah hamil sekarang. Jangan sampai itu berpengaruh pada kandungan kamu."
"Aku benar-benar merasa hancur dan tidak berdaya."
"No! Kamu wanita kuat! Kamu adalah wanita yang hebat dan mandiri. Kamu pasti bisa melewati semua ini. Sudah cukup kamu menangis. Sekarang saatnya kamu bangkit. Berikan pelajaran pada mereka yang ingin menyakitimu!" ucap Sifa menyemangati.
Almira mengangguk, dan menyeka air matanya. “Aku tahu. Aku pasti akan membuat mereka merasakan apa yang aku rasakan."
"Itu baru Almira sahabatku," ucap Syifa. " “Lalu, apa rencanamu selanjutnya?"
Almira menghela napas panjang dan menceritakan tentang rencananya untuk mengamankan aset-asetnya.
“Aku sudah membawa dokumen-dokumen penting yang perlu diselamatkan. Aku berencana untuk menyimpan semua aset ini di bank," ucap Almira dengan nada serius. "Aku tidak ingin Gilang dan Lila menyentuh sepeserpun dari hartaku."
Sifa mengangguk-angguk setuju mendengar rencana Almira. "Itu ide yang bagus, Mir," ucap Sifa mendukung. "Apa kamu akan menceraikan Gilang?"
Almira terdiam sejenak. Ia memang berencana untuk menceraikan Gilang, namun ia belum tahu kapan waktu yang tepat untuk melakukannya.
"Tentu saja aku akan menceraikannya," jawab Almira dengan nada tegas. "Tapi tidak sekarang."
"Kenapa tidak sekarang? Apa kamu mau hidup satu atap dengan madu?"
"Perceraian itu pasti akan terjadi. Tapi sebelum itu, aku harus mengembalikan Gilang pada kehidupannya semula. Atau bahkan lebih buruk kalau bisa. Dari nol harus kembali menjadi nol."
Sifa bergidik melihat perubahan wajah Almira. mata wanita itu berkilat merah. Inilah sisi lain Almira yang tak pernah diketahui oleh siapapun. Begitu kejam dan tanpa ampun terutama pada pengkhianat.
semangat thor