“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05. Dianggap Gila
Sampai pertanyaan Dorian membuat senyuman tersebut luntur seketika. “Yang mulia, apakah anda yakin bahwa wanita tadi adalah reinkarnasi Ratu Ivory yang sebenarnya. Bukankah kita harus memastikan lebih dulu dengan tanda khusus yang pernah peri Holly katakan?”
“Benar, Yang Mulia! Anda harus memastikannya lebih dulu, takutnya—”
“Mmm, aku mengerti maksud kalian berdua. Kita memang perlu memastikan apakah dia memiliki tanda itu ditubuhnya atau tidak,” potong Ragnar, lalu termenung memikirkan cara terbaik untuk memastikan tentang tanda itu.
Tak berselang lama kemudian, Denzel kembali bersama dengan Ivory sesuai apa yang diperintahkan. Ruangan itu terlalu sunyi untuk ukuran kantor seorang CEO. Ivory duduk di sofa kulit berwarna hitam, punggungnya tegak dan tangan terlipat di pangkuan. Di seberangnya, Ragnar berdiri di depan jendela kaca besar, punggungnya menghadap kota yang berkilau oleh cahaya mentari pagi itu.
“Jadi,” Ivory membuka suara lebih dulu, datar namun waspada, “Anda ingin menjelaskan kenapa anda tiba-tiba memeluk dan menyebut saya ratu vampir di depan seluruh karyawan?”
Ragnar menoleh. Wajahnya serius. Terlalu serius. “Tidak! Lebih tepatnya aku ingin menjelaskan tentang siapa dirimu yang sebenarnya.”
Spontan Dorian, Denzel dan Theron melotot tak percaya. Sebab identitas mereka seharusnya sangat dirahasiakan. Jika Ragnar memberitahu tentang siapa Ivory di masa lalu, maka identitas mereka sebagai bangsa vampire dan manusia yang memiliki kekuatan sihir akan terungkap begitu saja. Denzel berniat menghentikannya, tetapi Dorian melarang. Ia menunjuk pada ekspresi Ivory yang seolah menganggap Ragnar sudah bermasalah pada otaknya.
Ivory menghela napas panjang. “Oke. Ini dia. Omong kosong yang aneh itu lagi.”
“Kau bukan sekadar Ivory Asteria dari bangsa manusia,” kata Ragnar pelan. “Jiwamu adalah reinkarnasi dari Ivory Esmeralda. Ratuku. Istriku. Perempuan yang memerintah Kerajaan Agharon bersamaku sebelum tragedi itu terjadi.”
“Benar sudah dugaanku, otaknya bermasalah! Dia gila!”
Ivory berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu tertawa kecil, “… ini sungguh tidak lucu.” Gumamnya.
“…Anda sebenarnya habis nonton film apa ‘sih?”
Ragnar sama sekali tidak tersinggung. Ia melangkah mendekat, berlutut di depan Ivory sehingga posisi mereka sejajar. Matanya bersinar merah samar, penuh keyakinan yang justru membuat Ivory merinding. Jelas ia merasa tidak nyaman saat ini.
Pertama, pria itu telah memeluknya. Kemudian, menciumnya tanpa ijin. Lalu sekarang mau apalagi dengan jarak sedekat ini?
“Kau mati tepat di depan mataku saat itu. Jiwa dan tubuhmu menghilang dalam tiupan angin,” lanjutnya, seolah Ivory tidak baru saja mengejeknya. “Istana terbakar. Darah memenuhi lantai marmer istana. Kau memintaku untuk hidup… untuk tidak melupakanmu dan mencarimu lagi di kehidupan berikutnya.”
“Oke. Cukup.” Ivory berdiri mendadak. “Ini sudah keterlaluan.”
Ia menunjuk Ragnar dengan wajah memerah. “Tuan Ceo, saya tidak tahu apakah ini krisis paruh baya versi vampir atau stres kerja yang parah, tapi ini—” ia menggerakkan tangannya di udara “…ini jelas dongeng. Reinkarnasi. Raja vampir. Ratu. Tragedi berdarah. Apa lagi? Naga? Peri?”
Ragnar ikut berdiri. “Aku benar-benar Raja vampir, Ivory.”
“Dan saya peri gigi,” sahut Ivory cepat.
“Apa itu? Aku tidak pernah mendengar ada peri seperti itu?” tanya Ragnar polos.
Sunyi. Ivory hanya menatap Ragnar dengan ekspresi datar, lalu mengangguk pelan seolah membuat keputusan penting dalam hidupnya.“Fiks! bosku sudah gila. Pertama kali mendapat pekerjaan, malah mendapat bos gila seperti ini. Sayang sekali dengan wajah tampannya, ternyata otaknya bermasalah.”
“Tuan, saya akan anggap pembicaraan ini tidak pernah terjadi,” katanya tegas. “Dan saya harap anda juga bersikap profesional mulai sekarang.”
Ivory berbalik hendak pergi ketika pintu ruangan itu terbuka dengan keras.
BRAKK....
“IVORY!”
Seorang perempuan masuk secara paksa dengan napas terengah. Wajahnya pucat, matanya membesar saat melihat Ragnar. Ya, Elena pikir Ivory sedang berusaha beradaptasi dengan rekan kerja lainnya mengingat Ragnar telah meninggalkan aula pesta.
Namun, ketika Elena mencoba mencari keberadaan Ivory salah satu temannya malah mengatakan bahwa Ragnar telah memanggilnya ke ruangan khusus Ceo.
Elena seketika panik, ingatan dalam mimpinya kembali berputar dengan jelas. Ia segera melangkahkan kakinya menuju ruangan Ceo … takut terjadi sesuatu pada adiknya. Tidak, kini Elena sudah berlari sekuat tenaga agar bisa sampai di ruangan itu lebih cepat. Ia membuka paksa pintunya, hingga akhirnya pintu terbuka memperlihat keberadaan Ivory… bersama Ragnar dan ketiga anak buahnya.
“Kak?” Ivory sedikit terkejut dengan kedatangan Kakaknya. “Kak Elena? Kenapa ke sini?”
Elena masih tak bergeming ditempatnya, pandangannya masih tertuju pada sosok Ragnar yang kini berdiri tak jauh dihadapannya. Takut… itulah yang Elena rasakan ketika matanya bertemu dengan mata milik Ragnar. Langkahnya kembali ia paksakan untuk menghampiri sang adik.
“Menjauh darinya, Ivory” kata Elena tegas sambil menarik tangan sang adik ke belakang tubuhnya.
Ragnar terdiam. Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah. Dorian, Denzel dan Theron pun ikut memperlihatkan ekspresi yang sama dengan Tuannya. Seakan mereka bisa menebak bahwa Elena mengingat dengan jelas kehidupan masa lalu mereka.
“Kau…” gumamnya. “Kau mengingatnya, bukan?”
Elena menelan ludah. Kilatan mimpi itu kembali menghantam kepalanya… istana malam yang runtuh, jeritan, darah di tangan adiknya, dan pria bermata merah yang menangis sambil berteriak putus asa. Semakin Elena menatap mata Ragnar, semakin nyata kejadian dalam mimpinya. Seperti bukan mimpi… melainkan sebuah ingatan masa lalu yang menyesakkan dada.
“Kita pergi. Sekarang.”
“Eh—tunggu!” Ivory bahkan hampir tersandung.
“Kak, ini kantor CEO!”
“Justru itu!” Elena menoleh cepat ke arah Ragnar dan ketiga orang dibelakangnya, tatapannya penuh peringatan, hampir seperti kebencian yang tertahan. “Kau tidak boleh sendirian dengannya. Tidak! Kau bahkan tidak boleh dekat-dekat dengannya.”
Ruangan mendadak menegang. Ragnar masih berdiri diam di balik meja kerjanya. Wajahnya tetap tenang, namun matanya, mata merah yang jarang memperlihatkan emosi mulai menyempit perlahan.
“Sepertinya kau memang benar-benar mengingat semuanya,” katanya rendah, berwibawa. “Namun, kali ini aku tidak akan membiarkanmu memisahkan kami berdua lagi… seperti sebelumnya.”
Ivory terperanjat. “Kak! Apa maksudnya?!”
Elena kembali menelan ludah. Tangannya sedikit gemetar. “Ivory, dengarkan aku. Aku tidak bisa menjelaskan sekarang, tapi—” suaranya merendah, nyaris berbisik putus asa, “… kalau kau terlalu dekat dengannya, kau akan berada dalam bahaya.”
Kata itu membuat udara membeku. Namun, Ivory memilih tertawa kecil, gugup. “Kakak kenapa ‘sih? Ini bukan film—”
“Jangan banyak bicara! Kita pergi sekarang dari sini.”
Elena tidak menunggu dua kali. Ia menarik Ivory keluar dari ruangan itu, langkahnya cepat, hampir lari. Ivory terus menoleh ke belakang, bingung, panik, dan penuh tanda tanya.
Hari ini semua orang terasa aneh, bosnya gila dan kini kakaknya juga bersikap sangat mencurigakan. Tetapi, Ivory tetap mengikuti kepergian sang kakak sampai pintu akhirnya menutup.
“Dia memang mengetahui yang terjadi di kehidupan sebelumnya”
Bersambung ….
Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..
Iya ngga sih... 😩
Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋
Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔