NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Misteri / Spiritual / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 14: Balas dendam tidak bermoral [4]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Malam itu, rumah keluarga Liorlikoza tidak pernah benar-benar tidur.

Lampu-lampu taman menyala redup, menyoroti batu-batu kerikil yang disusun rapi seperti alur sungai kering. Angin dini hari menggesek daun bambu di sisi rumah, menimbulkan suara berdesir yang ritmis—tenang di telinga orang biasa, tapi terdengar seperti hitungan mundur bagi siapa pun yang tahu bahwa mereka sedang diburu.

Saka duduk di ruang tamu dengan punggung sedikit membungkuk. Tangannya terkatup di antara lutut, jemarinya dingin. Di hadapannya, secangkir teh yang sudah dingin sejak lima belas menit lalu tak pernah ia sentuh. Pikirannya terlalu penuh untuk sekadar menelan cairan hangat.

Lencana emas itu tiba-tiba jatuh sendiri dari meja.

TING.

Semua orang di ruang tamu refleks nengok.

Saka kaku, “…itu barusan jatuh sendiri, kan?”

Kale yang lagi duduk sambil ngetik langsung menoleh, ekspresinya datar tapi matanya waspada. “Kalau meja jati umur 80 tahun bisa getar sendiri, berarti kita udah masuk fase horor murah.”

Tuan Besar Liorlikoza menghela napas panjang. Dengan tenang beliau berdiri, mengambil lencana itu, lalu memasukkannya ke dalam kotak kayu kecil berukir kanji.

“Tenang,” kata sang Hakim Agung. “Itu bukan aktif. Itu cuma… ‘dipanggil’.”

"Dipanggil?” Saka menelan ludah. “Kek… ini lencana apa Wi-Fi?”

Kakeknya melirik. “Kalau Wi-Fi, jangkauannya lintas generasi.”

Kale menahan tawa. Gagal.

Belum ada sepuluh menit sejak lencana disimpan, alarm perimeter rumah menyala pelan—bukan sirene keras, tapi bunyi klik berulang, tanda sensor luar aktif.

Kale langsung berdiri.

“Ada pergerakan. Tiga… Enggak— empat sumber panas di pagar timur. Mereka rapi. Terlalu rapi buat maling.”

Saka refleks berdiri juga, padahal jelas-jelas nggak punya kemampuan tempur apa pun selain panic mode.

“Ini… orang yayasan?”

“Bukan yayasan,” jawab kakeknya sambil merapikan lengan kimono rumahnya.

“Ini penagih.”

Di saat yang sama, telepon Saka bergetar. Nama di layar ponsel miliknya, itu Rakes yang menelpon dan Saka langsung mengangkat telpon nya.

“Rak—”

“SAK.” Suara Rakes berbisik tapi heboh. “Lo duduk yang manis ya. Gua di atap rumah kakek lo.”

“…APA?”

“Tenang. Bukan sendirian. Gue sama Zack. Sama—”

BRUK

“—anjir, hampir jatuh. Si Kale bilang rumah ini bakal dikuntit. Jadi kita nyampe duluan.”

Saka menutup mata, helaan napas nya terasa kasar. “Gue pengen hidup normal, Rak.”

“Normal itu overrated,” sahut Rakes. “Lagipula, gua bawa snack.”

Di halaman rumah keluarga Liorlikoza terdapat empat orang berpakaian hitam berdiri terlalu rapi. Tidak ada senjata terlihat, tapi gerakan mereka sinkron, seperti… dijahit dalam satu pola. Mencari mangsa yang akan dibawa, ataupun langsung membakar kediaman itu.

Salah satu dari mereka mengangkat tangan, menyentuh telinganya.

“Target dikonfirmasi. Lencana berada di dalam rumah.”

Dan saat itu juga—

DUAGH!!.

Lemparan botol minum stainless dari arah atap, “STOP DULU GUA MAU BUNGKUS MAKAN,” teriak Rakes dari atas tembok sambil bungkusin makanan makanannya.

“Ini rumah orang tua. Kalau mau ribut, isi buku tamu dulu.” lanjut Rakes sambil menunjuk satu per satu dari mereka.

Keempat orang itu mendongak bersamaan.

“…Siapa dia?” salah satu dari mereka mengernyit.

“Subjek tidak tercatat.”

“Kudet bet anjir,” Rakes nyengir.

Zack mendarat di samping Rakes dengan gerakan bersih.

“Kalian salah alamat. Target kalian di bawah perlindungan hukum negara.”

Salah satu penyerang tersenyum tipis.

“Hukum bisa dijahit ulang.”

“Gue dokter,” Zack balas dingin. “Dan gue benci operasi tanpa izin.

......................

Saka mondar-mandir, ia panik sekarang karena teman-teman nya sudah berjaga di atas atap bahkan beberapa bodyguard juga sudah dikerahkan untuk menjaga halaman rumah agar tidak kecolongan.

“Mereka beneran dateng, Kek… ini semua gara-gara Saka—”

“Bukan,” potong kakeknya.

“Ini gara-gara darah.”

Kale mendongak. “…maksud Kakek?”

Tuan Besar Liorlikoza membuka laci meja, mengeluarkan map tua berstempel rahasia.

“Kay Arkozia adalah nama keluarga lama. Nama yang sengaja dikubur.”

Saka menegang.

“Kay… Arkozia?”

“Nama ibu buyutmu,” kata kakeknya pelan.

“Dan nama pendiri pertama Yayasan Mutiara.”

Sunyi.

“…HAH?” Saka nyaris keselek napas.

“JADI INI STARTUP KELUARGA?!”

Kale menutup wajah. “Oh ini parah...”

Di atas meja, kotak kayu tempat lencana emas disimpan tergeletak seperti jantung asing—diam, tapi terasa hidup.

Saka masih belum bisa mencerna satu fakta sederhana namun kejam, bahwa nama keluarganya bukan sekadar garis silsilah yang diwariskan dengan rapi.

Saka mengangkat pandangannya ke arah kakeknya.

Tuan Besar Liorlikoza duduk dengan punggung tegak di kursi kayu tua. Wajahnya diterangi lampu meja, memperjelas kerutan yang bukan hanya akibat usia, tetapi juga hasil dari puluhan tahun memikul keputusan yang tidak pernah hitam-putih. Tangannya memegang cangkir teh sendiri, namun berbeda dengan Saka, cangkir itu kosong seolah-olah ia tidak pernah berniat meminumnya.

“Kek…” suara Saka serak.

“Kalau keluarga kita yang memulai semua ini… kenapa Saka ngga pernah tau?”

Kakeknya tidak langsung menjawab. Ia memandang ke arah dinding, ke rak penuh buku hukum dan arsip lama, lalu menghela napas panjang—napas orang yang tahu bahwa setiap kata setelah ini akan mengubah hidup seseorang.

“Karena dosa yang diwariskan,” katanya akhirnya, pelan namun tegas, “Tidak boleh dibungkus sebagai kebanggaan.”

Di sudut ruangan, Kale masih berdiri dengan laptop di tangan. Cahaya layar memantul di kacamatanya, membuat matanya tampak seperti dua titik tajam yang terus bergerak. Tangannya tak pernah benar-benar berhenti scroll, mengetik, berhenti, menghapus, lalu mengetik lagi. Seperti seseorang yang merasa aman hanya saat dunia berada di balik lapisan kode.

“Data yang gue dapetin dari Hamu…” Kale menyela tanpa menoleh, semakin gue cocokkan dengan arsip publik, semakin jelas satu hal.”

Ia berhenti, menoleh ke arah Saka.

“Yayasan ini bukan sekadar organisasi. Mereka itu narasi yang direkayasa. Dari awal, mereka selalu butuh ‘wajah baik’ buat nutupin mesin di belakangnya.”

Saka menelan ludah.

“…dan sekarang wajah itu gue?”

“Sekarang,” Kale mengangguk,

“lo target yang paling bernilai.”

Dari arah dapur terdengar suara bungkus plastik dibuka dengan brutal.

“Target paling bernilai, tapi masih manusia ya,” celetuk Rakes sambil keluar membawa cokelat batangan dan minuman energi.

“Jangan sampe lupa makan. Mati karena kurang gula itu memalukan.”

Zack mengikutinya, lebih diam dari biasanya. Ia berdiri dekat jendela, matanya menyapu halaman luar seperti kebiasaan jam terbang dokter koas yang tak bisa ia matikan. Bahunya sedikit tegang postur seseorang yang siap bergerak kapan saja.

“Saka,” kata Zack akhirnya, suaranya rendah dan mantap.

“Yang datang tadi itu bukan eksekutor. Mereka pengintai.”

“Bedanya?” tanya Saka lirih.

“Kalau eksekutor, lo nggak sempet mikir sejauh ini.”

Rakes mengangguk setuju sambil mengunyah.

“Dan mereka nggak bakal sopan ngetuk pagar.”

Kakek Saka membuka map tua itu lagi. Kertas-kertas di dalamnya menguning, beberapa tulisan tangan hampir pudar, tapi segelnya masih utuh.

“Tiga puluh tahun lalu,” ia mulai,

“Yayasan Mutiara punya nama lain. Proyek Arkozia.”

Nama itu menggantung di udara, berat.

“Mereka percaya dunia bisa distabilkan dengan mengganti individu-individu ‘cacat’—cacat moral, cacat sosial—dengan replika yang lebih patuh. Ide itu lahir dari rasa takut elit pada kekacauan.”

Saka memejamkan mata.

Ia teringat Aris. Tawa kecilnya di asrama. Cara Aris selalu bilang, ‘Nanti kalau gue sukses, gue traktir lo semua.’

“Dan gue…,” suara Saka bergetar,

“gue bagian dari seleksi itu?”

Kakeknya menatapnya lama. Tatapan itu bukan tatapan seorang hakim, tapi seorang kakek yang tahu ia gagal melindungi cucunya dari masa lalu.

“Darahmu,” katanya,

“membuat mereka ingin menagih. Tapi pilihanmu… itu yang membuat mereka takut.”

Hening menyelimuti ruangan lagi.

Di luar, suara motor melintas jauh, dunia tetap berjalan seolah-olah tidak ada konspirasi yang baru saja terkuak di balik dinding kayu jati ini.

Saka berdiri perlahan. Tubuhnya masih gemetar, tapi ada sesuatu yang mengeras di dadanya—bukan keberanian penuh, melainkan keputusan.

“Gue capek lari,” katanya pelan.

“Kalau mereka mau jahit ulang dunia pakai darah orang nggak bersalah, gue mau tau caranya ngerobek pola itu dari dalam.”

Rakes berhenti makan.

“…anjir, Sak. Lo baru ngomong kayak protagonis.”

Zack menghela napas, setengah pasrah. “Berarti kita butuh rencana jangka panjang.”

Kale menutup laptopnya, kali ini dengan senyum tipis yang berbahaya.

“Bagus. Karena gue baru nemu daftar butik satelit Yayasan Mutiara.”

Ia memutar layar.

Puluhan lokasi muncul.

Tokyo. Milan. Paris. Seoul.

Dan satu yang dilingkari merah.

Yogyakarta.

“Yang ini,” kata Kale,

“masih aktif. Dan belum sadar bahwa Mutiara Center sudah jatuh.”

Saka menatap peta itu.

Kota-kota mode. Kota seni. Kota yang penuh manusia—dan calon korban.

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Oke,” katanya.

“Kita mulai dari sana.”

Rakes mengangkat tangan.

“Boleh satu usulan?”

“Apaan?”

“Abis ini kita tidur. Revolusi dalam keadaan ngantuk itu rawan typo.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Saka tersenyum kecil.

Di luar rumah, fajar benar-benar mulai naik.

Dan di bawah cahaya pagi yang pucat, benang-benang tak terlihat kembali ditarik—lebih kencang dari sebelumnya.

Pagi datang tanpa permisi.

Cahaya matahari menembus kisi-kisi shoji di kamar tamu rumah Liorlikoza, jatuh miring ke lantai kayu seperti garis-garis tipis yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Saka terbangun dengan mata berat dan kepala penuh mimpi aneh—tentang benang, tentang jarum raksasa, tentang gedung-gedung yang bernapas pelan.

Ia duduk di tepi futon yang sedikit kempes, menekan pelipisnya dengan ibu jari. Kepalanya terasa seperti disesaki suara statis televisi yang tak kunjung jernih.

“Kurang tidur,” gumamnya pada diri sendiri, mencoba mencari logika yang paling masuk akal. “Atau trauma.”

Saka berdiri dengan tungkai yang terasa berat, berjalan menuju kamar mandi. Air mengalir dingin, membasuh wajahnya yang tampak asing di cermin. Mata yang sama, hidung yang sama, tapi ada sesuatu yang tidak sinkron—seolah-olah fokus penglihatannya bergeser setengah derajat ke arah yang tidak ia pahami. Saat ia hendak meraih handuk, gerakannya terhenti.

Ubin kamar mandi. Garis-garis natnya. Semuanya mendadak tampak bertemu di satu titik kecil yang janggal di sudut bawah wastafel. Secara geometris, itu tidak mungkin, namun matanya bersikeras bahwa semua jalur itu berpusat di sana. Saka mengerjap sekali, dua kali, dan garis-garis itu pun buyar.

“...hah? Oke. Otak gue rusak,” ia tertawa kecil, suara kering yang memantul di dinding porselen.

Ia melangkah ke dapur, di mana pemandangan rutin sudah menanti. Rakes duduk di meja sambil membongkar rice cooker dengan penuh gairah mekanik. Zack berdiri bersandar di dinding, tangan terlipat, mengawasi setiap sudut dengan paranoia profesional yang sudah mendarah daging. Sementara itu, Kale meringkuk di lantai di tengah kepungan kabel, laptop, dan secangkir kopi yang warnanya sudah menyerupai limbah industri.

“Kopi lo kenapa warnanya kayak oli?” tanya Saka, berusaha mencairkan suasana yang terasa terlalu nyata baginya.

Kale menyesap cairan pekat itu tanpa ekspresi, seolah jiwanya sudah menyatu dengan sirkuit di hadapannya. “Adaptasi.”

Saka mengambil roti, tapi saat pisaunya menyentuh permukaan kerak, ia membeku. Remah-remah yang jatuh, serat roti yang terkoyak, hingga sudut pisaunya—semuanya membentuk alur spiral yang identik dengan benang di Mutiara Center. Jantungnya berdebum keras di rongga dada.

“Sak?” Zack langsung waspada, langkahnya maju satu inci. “Lo kenapa?”

“Enggak... nggak apa-apa,” Saka menggeleng cepat, memaksakan diri untuk duduk meski tangannya gemetar.

Rakes melirik dengan mulut penuh nasi. “Lo pucat. Jangan bilang lo alergi gluten pas revolusi.”

“Bukan itu,” jawab Saka pelan. Ia menatap permukaan meja kayu di depannya. Tiba-tiba, meja itu bukan lagi sekadar furnitur. Serat kayunya menjadi jalur energi; retakan halusnya tampak seperti bekas tekanan purba; bahkan noda kopi Kale tampak seperti titik stres struktural yang berdenyut. Dan di tengah semuanya, ada satu simpul.

Saka berdiri terlalu cepat hingga kursinya terjungkal. “Di sini,” katanya spontan sambil menunjuk sebuah titik di permukaan kayu. “Kalau meja ini dipatahkan... di sini dulu.”

Hening menyelimuti dapur. Rakes berhenti mengunyah, matanya memicing. “...lo baru bangun tidur terus ngomong gitu?”

Tanpa sepatah kata pun, Kale bangkit dari lantai. Ia mengambil sebuah obeng, lalu dengan gerakan presisi, ia menekan titik yang ditunjuk Saka.

KREK.

Meja kayu solid itu retak tepat di sepanjang garis yang Saka bayangkan. Semua mata tertuju padanya.

“...oh,” kata Rakes pelan, “ini jelas bukan alergi gluten.”

Saka mundur setengah langkah, napasnya memburu. “Gue nggak ngelakuin apa-apa. Gue cuma... tau.”

Zack mendekat, suaranya lembut namun mengandung ketegasan yang tak terbantahkan. “Tau dari mana, Sak?”

Saka memejamkan mata, mencoba mengusir garis-garis yang terus menari di kelopaknya. “Kayak... kalau lo lihat baju jelek, tapi lo nggak bisa jelasin kenapa. Cuma tau jahitannya salah. Gue cuma liat jahitannya.”

Kale perlahan tersenyum—sebuah senyuman yang lebih mirip dengan kekaguman seorang peretas saat menemukan celah sistem yang mustahil. “Lo nggak melihat benda, Sak. Lo melihat tegangan.”

“ANJIR. Saka jadi mata elang fashion!” seru Rakes, mencoba memecah ketegangan meski ia sendiri tampak sedikit ngeri.

“Ini nggak lucu!” Saka memotong tajam. “Ini kejadian tanpa izin.”

Untuk menenangkan diri, mereka memutuskan keluar ke taman kecil dekat rumah. Namun, udara segar ternyata tidak membawa kedamaian. Pohon-pohon tampak terhubung oleh garis bayangan daun yang berulang di tanah. Bangku taman yang mereka tuju memiliki titik rapuh yang berdenyut halus dalam pandangan Saka.

Ia berhenti mendadak sebelum ada yang sempat duduk. “Kalau bangku itu didudukin tiga orang dewasa, kaki kirinya bakal patah.”

Rakes, dengan jiwa detektif yang ceroboh, langsung menjatuhkan dirinya ke bangku itu. “RAKES—” teriak Zack, tapi terlambat.

KRAK.

Bangku kayu itu ambruk seketika. Rakes jatuh terduduk di rumput, terdiam seribu bahasa. “...oke. Gue percaya.”

Saka memalingkan muka, rasa mual mengaduk perutnya. Malamnya, ia mengurung diri di kamar yang hanya diterangi lampu redup. Kotak kayu berisi lencana emas itu tergeletak di lantai, tertutup rapat. Ia tidak berani menyentuhnya, tapi ia tidak perlu menyentuhnya untuk tahu apa yang terjadi.

Benang-benang halus tetap terlihat di kegelapan. Mereka mengalir dari kotak itu, menyusup ke sela-sela dinding, menjalar keluar rumah, melintasi kota, hingga ke orang-orang dan tempat-tempat yang belum pernah ia temui. Air mata menggenang di matanya—bukan karena takut, melainkan karena sebuah kepastian yang mengerikan.

“Ini bukan kemampuan,” bisiknya pada bayangan di dinding. “Ini... undangan.”

Di luar kamar, ketiga temannya berdiri membisu. Kale mendengar gumaman itu tanpa perlu menguping. Zack bersandar di dinding dengan rahang mengeras, sementara Rakes duduk di lantai, membuka bungkus cokelat yang akhirnya lupa ia makan.

Mereka semua menyadari realita baru yang mengerikan: Saka tidak lagi hanya sedang diburu. Ia mulai dipanggil oleh pola dunia itu sendiri—dan pola itu, dengan segala rahasianya, mulai terbuka menyambutnya dengan senang hati.

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!