Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17Malam Penyerahan Seutuhnya
Gus Azkar tak lagi memberi ruang untuk Rina menghindar. Dengan satu gerakan sigap, ia mengangkat tubuh mungil istrinya itu ke dalam gendongan bridal style. Rina refleks mengalungkan tangannya ke leher Gus Azkar, merasakan otot lengan suaminya yang keras dan kokoh. Begitu punggung Rina menyentuh empuknya kasur, Gus Azkar langsung berada di atasnya.
Napas Gus Azkar memburu hebat. Dengan gerakan cepat yang menunjukkan betapa ia sudah berada di ujung kesabaran, ia membuka kancing kemeja kokonya satu per satu hingga terlepas sepenuhnya. Di bawah lampu kamar yang temaram, terpampang jelas bentuk tubuh Gus Azkar yang atletis—dada yang bidang dan perut sixpack yang terbentuk sempurna hasil dari kedisiplinannya selama ini.
"Mas..." panggil Rina sangat pelan, hampir tak terdengar. Suaranya tenggelam oleh suara detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang. Namun, Gus Azkar seolah sudah menutup pendengarannya. Fokusnya hanya satu: wanita di bawahnya yang malam ini tampak begitu mempesona dengan baju tidur tipisnya.
Gus Azkar mulai menjelajahi setiap inci kulit Rina dengan sentuhan yang membara. Sebagai laki-laki normal yang baru pertama kali merasakan sentuhan lawan jenis yang halal, gairahnya benar-benar meluap.
Saat momen puncak itu tiba, Gus Azkar mencoba memulai penyatuan mereka. Namun, karena ini adalah pengalaman pertama bagi keduanya, Gus Azkar sempat merasa kesulitan. Ia sempat mendengus kesal karena rasa sesak dan tegang yang luar biasa, namun begitu melihat wajah Rina yang meringis kecil, rasa cintanya seketika mengambil alih.
Gus Azkar menahan diri. Ia tidak ingin egois. Ia mengatur napasnya, mencoba bersikap selembut mungkin agar tidak menyakiti milik sang istri yang masih sangat sempit dan sensitif.
"Sstt... tenang, Sayang. Maafkan Mas ya," bisik Gus Azkar sambil mengecup kening Rina yang mulai berkeringat dingin, mencoba menenangkan kegelisahan istrinya. "Mas akan pelan-pelan. Kita lakukan ini bersama-sama."
Rina memejamkan matanya rapat-rapat, tangannya meremas seprai kasur dengan kuat. Rasa takut yang tadi ia rasakan perlahan mulai terkikis oleh kelembutan sikap Gus Azkar. Meskipun suaminya itu memiliki tubuh yang besar dan kuat, namun sentuhannya penuh dengan kehati-hatian.
Di kamar yang hanya saksi bisu akan perjuangan cinta mereka, malam itu menjadi sejarah baru. Gus Azkar bukan lagi sekadar ustadz yang mengajar di kelas, dan Rina bukan lagi santriwati yang suka mengantuk.
Mereka adalah sepasang suami istri yang sedang merajut janji suci dalam dekapan yang paling intim.
Malam itu, di tengah debur ombak pantai yang menjadi latar belakang, Rina akhirnya menyadari bahwa semua video yang ia tonton selama ini tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehangatan dan rasa aman yang diberikan oleh pelukan nyata dari suaminya sendiri.
Gus Azkar terus bergerak dengan ritme yang sangat hati-hati namun pasti. Kehangatan yang menyatu di antara mereka membuat suasana semakin intim. Rina, yang awalnya tegang, kini mulai terbawa suasana hingga desahan pelan lolos dari bibirnya.
"Ah... Mas..." rintih Rina lirih.
Mendengar suara itu, Gus Azkar tersenyum tipis. Ia merasa menang karena berhasil membuat istrinya merasa nyaman. Matanya menatap kagum ke arah tubuh Rina yang kini sudah polos tanpa sehelai benang pun.
Dengan penuh rasa sayang, ia membenamkan wajahnya, mencium dan menyesap milik istrinya itu dengan sangat manja, persis seperti anak kecil yang sedang mencari kenyamanan pada ibunya. Setelah puas, ia kembali naik, melumut bibir Rina dengan ciuman yang dalam dan penuh perasaan.