When Gods Grow Bored berlatar di sebuah benua kuno "Nirenva" yang dilanda perang tanpa akhir, tempat kerajaan-kerajaan saling membantai atas nama para dewa yang pernah turun dan meminjamkan kekuatan mereka kepada umat manusia. Di dunia di mana nilai hidup diukur dari restu ilahi, Kai Jhoven: seorang anak tanpa berkah dan tanpa asal-usul tumbuh sebagai sosok terbuang, dipaksa bertahan di tengah kekacauan yang tidak pernah ia pilih. Ketika sebuah kekuatan asing akhirnya menjamah dirinya, Kai Jhoven terseret ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih besar dari perang antar manusia: intrik ilahi, kekuasaan yang dipinjam, dan kebenaran kelam di balik mukjizat yang disembah dunia. Dalam perjalanan dari medan perang hingga jantung kekuasaan, takdir, kepercayaan, dan kemanusiaan diuji; sementara langit yang selama ini dipuja perlahan mulai retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jhoven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vs Jörmungandr (11)
Hari terakhir mereka singgah di Desa.
Pagi-pagi sekali Kai terbangun setelah tidur panjangnya. Ia mendengar suara dentuman kecil dari halaman belakang penginapan.
*tap tap..
Dengan penuh kesiagaan, Kai berjalan menuju sumber suara.
*JBOOM!!
Batu besar hancur sekali serang.
"Ohh, Kai! Kau sudah bangun? Tepat waktu, sejak kemarin aku ingin mengajakmu berlatih bersama, kemarilah."
Ternyata suara itu berasal dari Given yang sedang berlatih.
"Rajin sekali pagi-pagi buta sudah berlatih ven.."
"Yah.. Aku merasa sangat lemah Kai. Bahkan saat melawan Typhon, aku tidak bisa menghentikan pergerakannya dengan benar.. Rantaiku berhasil dia hancurkan dan ia jadi bisa bebas."
"Sudahlah jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri ven.. Aku juga belum cukup kuat untuk bisa menghancurkan inti Typhon dalam sekali serang."
"Kita semua memang tidak siap menghadapinya waktu itu, haha! Ayo kita berlatih tanding, kai."
Given bersiap dengan pedang cahaya ditangannya.
"Curang sekali bisa bikin pedang dengan berkahmu.."
*C'TASSS!
Tanpa aba-aba, pedang itu berubah menjadi cambuk cahaya yang melesat dengan kecepatan tinggi.
"Oi.. Setidaknya beri tanda menyerang dong.. untung saja aku selalu mengaktifkan Zeno Distance."
Kai selamat berkat perisai distorsi ruangnya itu.
Given tersenyum, "Kamu lah yang curang disini Kai. Kekuatanmu itu sungguh luarbiasa. Aku mungkin sedikit iri.."
"Hehe.. Berhentilah merengek dan mulai menyerang Given."
*C'TASS!!! 100x
Dengan kecepatan yang luarbiasa, Given langsung melayangkan 100x cambukan pada Kai.
*BOOMMMM!!
*tes...
Darah keluar dari pipi Kai.
"Hoo.. Bisa terluka juga ya.." ucap Given.
"Sialan Given.. Ternyata ZD milikku punya kelemahan ya! ZD ku tidak akan aktif pada serangan yang tidak bisa ku lihat dengan jelas. Jadi musuh terbesarku adalah lawan dengan kecepatan tinggi yang bisa melampaui penglihatan dan reaksiku." Balas Kai.
"AHAHA! Akhirnya ada celah untukku bisa mengunggulimu Kai! Aku akan berfokus melatih kecepatan seranganku.. Lebih cepat dari sekarang!"
"Yah.. Berlatih kecepatan itu bagus sih ven, tapi ingat lawanmu bukan cuma aku.. Fokus pada kecepatan serangan berarti pertahananmu akan terabaikan, seperti.. -"
"Ini."
Entah apa yang terjadi, belum sedetik yang lalu Kai berdiri dihadapan Given. Tepat saat Given mengedipkan matanya, Kai sudah berada dibelakangnya dan menghunuskan pedang disebelah leher Given.
"A-APA??! Apa yang kau lakukan Kai? Kenapa bisa disini?"
"WKAKKA!! Lihat benar kan? Hueekkk!!"
Kai terjatuh memuntahkan darah.
"Oi Kai!! Ada apa?" Tanya Given panik.
"Eh.. Sebenarnya itu jurus baruku.. Tapi belum sepenuhnya ku kuasai. Aku melipat ruang antara aku dan kamu, sehingga terlihat seperti 'teleportasi'. Dalam pergeseran ruang itu aku harus melintasi kehampaan sepersekian detik sebelum keluar dititik yang ku inginkan. Sepertinya aku harus memperkuat fisikku terlebih dahulu sebelum bisa menggunakannya dengan bebas." Balas Kai menjelaskan.
"Kau gila?! Melipat ruang? Apaan itu.. Sudah cukup, beristirahatlah. Jangan gunakan jurus itu sampai kau benar-benar menguasainya oke?"
"Siap Boss!" Balas Kai tersenyum.
Waktu cepat berlalu, matahari kini tepat diatas kepala mereka. Saatnya makan siang sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kota Hallenmark.
"Woah seafood yaa, enaknyoo!" ucap Kai kegirangan melihat menu makanan yang disediakan pelayan penginapan.
"Selamat makan!"
Mereka pun menyantap makan siang itu dengan penuh sukacita sembari bercakap-cakap.
"Oi, Bella! Kau gamau ikannya? Aku ambil ya!"
*Set!
Bella dengan cepat mengambil piringnya dan menyembunyikan lauknya.
"ERRRRGH"
"eh.. Kau terlihat seperti binatang kelaparan Bella.." Ucap Kai.
"BIARIN, INI PUNYAKUU! AKU MAU JUGAA."
"Yauda kalo gitu punya Ingrid aja deh!
*Hap!
"Nyam,nyam.."
Kai mengambil ikan milik ingrid dan memakannya dengan lahap.
Ingrid menundukkan kepalanya, tangannya mulai mengepal karena kesal.
*PLAK PLAK!!
"M-maaf.." Ucap Kai lirih setelah ditampar 2x oleh Ingrid.
"HAHA! Kai kamu ini selalu saja menggoda Ingrid, sudah tau dia suka marah." Lanjut Raamez.
"HUH?!" Ingrid melirik Raamez dengan memancarkan aura kemarahan.
"Bercanda-bercanda..."
"AHAHA! Bahkan bang raamez takut sama Ingrid!" ucap Bella.
"Sudah-sudah, ayo cepat makan dan kita pergi dari sini.. Ingat tujuan kita adalah.." (Given)
"MENGALAHKAN Jörmungandr !" (Kai)
"Benar. Kali ini kita pasti bisa mengalahkan monster sihir kuno itu!"
"YOOSSHHAAAA!!" (Kai)
"BERISIIIKK!!" (Ingrid)
Mereka pun melanjutkan santapannya dan bergegas mempersiapkan diri untuk perjalanan terakhir menuju Hallenmark.
"Terima kasih atas kebaikanmu selama kami singgah di Desa ini Pak Harun.." ucap Raamez menundukkan kepala.
"Tidak masalah nak, Tolong kalahkan Jörmungandr itu demi kami ya.. Semoga para Dewa menyertai kalian. Terpujilah Dewa." Balas Harun, Ketua Desa.
"Terpujilah Dewa. Kami pamit."
Dan perjalanan menuju Kota Pesisir mencapai akhirnya.