Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.
Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.
Atau begitulah yang ia kira.
Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KESALAHAN PERTAMA
CHAPTER 9
Debut selalu terdengar indah di kepala orang-orang.
Bagi Julian, debut terasa… sempit.
Pit lane Moto3 jauh lebih ramai dari yang ia bayangkan. Suaranya lebih keras, waktunya lebih ketat, dan jarak antara satu pembalap dengan yang lain terasa nyaris tidak ada. Semua bergerak cepat. Semua tampak tahu apa yang mereka lakukan.
Dan semua ingin terlihat.
Julian berdiri di samping motornya, helm sudah terpasang, napasnya pelan. Ia tidak gugup—tapi ia sadar, satu kesalahan kecil di sini tidak lagi dimaafkan seperti di level amatir.
“Ini bukan tentang menang,” katanya pada dirinya sendiri.
“Ini tentang bertahan.”
Di grid start, ia berada di barisan tengah.
Bukan posisi ideal. Tapi bukan masalah.
Di kiri dan kanannya, pembalap muda berbicara cepat—ada yang bercanda, ada yang memaki mekanik, ada yang memukul-mukul tangki motornya seolah itu bisa mengusir tegang.
Julian diam.
Di dalam helm, dunia menyempit.
Ia mendengar detak jantungnya.
Ia merasakan aspal di bawah ban.
Lampu merah menyala.
Satu.
Dua.
Tiga.
Padam.
Start-nya bersih.
Julian melesat tanpa drama, menjaga motor tetap stabil di tikungan pertama yang padat. Ada sedikit kontak—siku menyenggol fairing, ban bersuara—tapi ia tidak panik.
Ia keluar tikungan di posisi yang sama.
Bagus, pikirnya.
Lap pertama dilewati dengan aman. Lap kedua, ia mulai membaca pola. Siapa agresif. Siapa ragu. Siapa yang suka menutup jalur terlalu cepat.
Lap ketiga, ia menyalip satu pembalap di tikungan kiri dengan switchback sederhana—masuk sedikit lebih lambat, keluar lebih cepat.
Tidak mencolok.
Tapi efektif.
Di pit wall, Clara mengangguk kecil.
“Dia tenang,” katanya. “Mungkin terlalu tenang.”
Marco tidak menjawab. Matanya menatap layar waktu.
“Ketenangan itu bagus,” katanya akhirnya. “Sampai dia lupa… ini balapan pertamanya.”
Tekanan datang tanpa suara.
Bukan dari lawan.
Bukan dari penonton.
Dari dirinya sendiri.
Julian mulai menyadari satu hal: ritmenya terlalu aman.
Ia tidak tertinggal, tapi juga tidak naik. Setiap lap terasa seperti berjalan di garis tipis antara kontrol dan stagnasi.
Kalau aku terus begini, pikirnya, aku akan selesai… tapi dilupakan.
Itu pikiran berbahaya.
Di lap keenam, ia memutuskan menaikkan ritme.
Sedikit saja.
Masuk tikungan kanan cepat, Julian menekan rem sepersekian detik lebih lambat dari biasanya.
Bukan terlambat.
Hanya… terlalu percaya diri.
Ban depan kehilangan grip sesaat.
Cukup untuk membuat garisnya melebar.
Julian masih menyelamatkan motor—pengalaman bertahun-tahun menolongnya—tapi momentumnya hilang. Dua pembalap lewat.
Tidak ada jatuh.
Tidak ada drama.
Tapi kesalahan itu tercatat.
Julian menggertakkan gigi di balik helm.
Bodoh.
Dari tribun, penonton mungkin tidak sadar.
Tapi bagi yang paham, momen itu jelas.
“Dia kepancing,” kata seorang komentator. “Rookie mistake.”
Kata rookie menusuk.
Julian kembali ke ritme aman, tapi balapan sudah berubah. Jarak terbuka. Fokusnya terpecah—sedikit menyesal, sedikit kesal.
Ia menyelesaikan balapan di posisi tengah.
Tidak buruk.
Tidak istimewa.
Di parc fermé, Julian duduk di kursi plastik, helm masih terpasang. Ia tidak langsung melepasnya. Ia butuh beberapa detik untuk bernapas tanpa tatapan.
Di dalam helm, suaranya sendiri terdengar lebih keras.
Kau tahu lebih baik dari ini.
Ia akhirnya melepas helm. Keringat mengalir. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang berat.
Marco mendekat.
“Kau tahu di mana kau salah,” katanya, bukan bertanya.
Julian mengangguk. “Aku mencoba mengejar sesuatu yang tidak perlu.”
Marco menepuk bahunya pelan. “Bagus. Yang berbahaya itu bukan salah. Yang berbahaya itu tidak sadar.”
Malam itu, Julian duduk sendirian di kamar hotel.
Tidak ada telepon dari media. Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada kritik keras.
Justru itu yang membuatnya berpikir lebih dalam.
Sebagai Michael, ia pernah melakukan kesalahan seperti ini. Bedanya, dulu ia terlalu miskin untuk belajar dengan aman. Setiap kesalahan bisa mengakhiri segalanya.
Di sini… ia diberi ruang.
Dan ia tidak ingin menyia-nyiakannya.
Ia membuka catatan kecil, menulis satu kalimat:
“Aku tidak perlu membuktikan apa pun hari ini.”
Ia menutup buku itu, lalu memejamkan mata.
Besok, ia akan kembali ke lintasan.
Lebih sabar.
Lebih jujur.
Di rumah, Richard menerima laporan hasil debut.
Ia membaca pelan, lalu tersenyum kecil.
“Tidak sempurna,” gumamnya. “Bagus.”
Eleanor menoleh. “Kenapa bagus?”
“Karena sekarang,” jawab Richard, “dia belajar sebagai Julian… bukan sebagai bayangan siapa pun.”
Julian berdiri di balkon hotel, menatap lampu-lampu sirkuit yang mulai padam.
Lintasan itu tidak lagi terlihat ramah.
Tapi juga tidak menakutkan.
Ia tahu satu hal sekarang:
Di dunia ini, yang bertahan bukan yang tercepat.
Tapi yang belajar paling jujur dari kesalahannya.
Dan Julian Ashford…
baru saja memulai pelajaran terpentingnya.
.
.
.
CHAPTER 10
Kesalahan di debut tidak menghantui Julian.
Ia tidak terbangun dengan keringat dingin. Tidak mengulang momen itu berulang-ulang di kepalanya. Justru sebaliknya—ia bangun dengan perasaan yang lebih ringan, seperti seseorang yang akhirnya menurunkan beban yang tidak perlu ia pikul.
Pagi itu, ia kembali ke lintasan lebih awal dari jadwal.
Bukan untuk latihan fisik.
Hanya berjalan.
Aspal masih dingin. Udara pagi tipis dan bersih. Julian melangkah pelan, menyusuri tikungan yang kemarin “menghukumnya”.
Ia berhenti di titik pengereman.
“Bukan salahnya,” gumamnya pelan. “Aku saja yang tidak sabar.”
Mengakui itu… terasa lega.
Clara melihatnya dari kejauhan.
Ia tidak menghampiri langsung. Ia menunggu sampai Julian selesai, sampai ekspresinya berubah dari fokus ke tenang.
“Kau tidak marah?” tanyanya akhirnya.
Julian menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum kecil. “Dulu iya. Sekarang tidak.”
“Kenapa?”
Julian berpikir sejenak. “Karena aku tahu… aku masih di jalur yang benar.”
Clara mengangguk. Ia sudah lama bekerja di paddock, tapi jarang melihat pembalap muda bicara seperti itu—tanpa defensif, tanpa pembenaran.
“Kau sadar,” katanya, “kebanyakan rookie mencoba membalas kesalahan dengan ngebut di balapan berikutnya.”
Julian terkekeh pelan. “Aku pernah jadi pembalap seperti itu.”
Clara menatapnya. “Kau bicara seperti orang yang pernah hidup lama.”
Julian tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum.
Balapan berikutnya datang dengan tekanan yang berbeda.
Bukan tekanan untuk membuktikan diri.
Tapi tekanan ekspektasi.
Nama Julian Ashford kini muncul di catatan pra-balapan. Tidak besar. Tidak disorot. Tapi disebut.
Pembalap yang konsisten.
Tenang di bawah tekanan.
Perlu diperhatikan.
Julian membaca semua itu tanpa emosi berlebih.
Ia sudah belajar: suara luar hanya penting sejauh ia mengizinkannya.
Di grid start, posisinya sedikit lebih depan.
Ia memasang helm, menarik napas dalam-dalam.
Kali ini, ia tidak berkata apa-apa pada dirinya sendiri.
Ia hanya hadir.
Lampu padam.
Balapan dimulai.
Julian tidak menyerang di awal.
Ia menjaga ritme, membiarkan balapan membentuk dirinya sendiri. Tapi berbeda dari debutnya, kali ini ia tidak ragu ketika momen datang.
Lap keempat, ia melihat celah.
Bukan celah besar—hanya setengah meter di tikungan kiri. Tapi cukup.
Ia masuk dengan percaya diri, menjaga sudut, keluar dengan traksi bersih.
Satu posisi naik.
Lap ketujuh, ia membaca gerak pembalap di depannya—cara ia selalu membuka gas terlalu awal.
Julian menunggu satu lap penuh.
Di lap berikutnya, ia masuk sedikit lebih lambat, memotong jalur keluar, dan lewat.
Tidak agresif.
Tidak kasar.
Tepat.
Di pit wall, Clara mencondongkan tubuh ke depan.
“Dia beda hari ini,” katanya.
Marco mengangguk. “Dia tidak melawan balapan. Dia menyatu dengannya.”
Balapan berjalan panjang.
Ban mulai turun performanya. Beberapa pembalap mulai goyah. Julian justru terasa semakin stabil—tekniknya bekerja seperti yang seharusnya.
Masuk lima lap terakhir, ia berada di posisi tiga.
Podium.
Bukan mimpi besar.
Tapi cukup untuk membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Kau tidak perlu mengejarnya, katanya pada diri sendiri.
Biarkan saja.
Lap terakhir.
Pembalap di depannya membuat kesalahan kecil—terlalu lebar di tikungan cepat.
Julian melihatnya.
Dan kali ini…
ia tidak ragu.
Ia masuk, menjaga garis, keluar lebih cepat.
Posisi dua.
Di tikungan terakhir, ia tidak memaksakan apa pun. Ia hanya memastikan motor tetap tegak, gas bersih, dan keluar dengan aman.
Finish line.
Julian melintasinya di posisi kedua.
Podium pertamanya di Moto3.
Di parc fermé, ia turun dari motor dan… terdiam.
Bukan karena tidak percaya.
Karena perasaan itu datang begitu pelan.
Bukan euforia.
Bukan ledakan.
Lebih seperti kepuasan yang dalam—tenang, hangat, dan utuh.
Clara menghampirinya.
“Kau tersenyum,” katanya.
Julian baru sadar. “Oh.”
Ia tertawa kecil. “Iya.”
Di podium, Julian berdiri, mendengarkan lagu kebangsaan negara pemenang.
Ia tidak iri.
Ia tidak menunduk.
Ia berdiri sebagai seseorang yang tahu: ini baru awal.
Dari tribun, kamera menangkap ekspresinya—tenang, dewasa, tidak berlebihan.
Beberapa orang mencatat itu.
Malamnya, Julian menelepon rumah.
“Aku di podium,” katanya singkat.
Di seberang, Eleanor menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. Richard hanya berkata satu hal:
“Kami bangga padamu.”
Julian menutup telepon dan duduk sendirian di kamar.
Ia memandang helmnya.
Dulu, Michael membalap untuk keluar dari kemiskinan.
Sekarang, Julian membalap untuk menjadi dirinya sendiri.
Dua kehidupan.
Satu lintasan.
Dan akhirnya…
ia mulai menyatu sepenuhnya.