NovelToon NovelToon
Gus, I'Am In Love

Gus, I'Am In Love

Status: tamat
Genre:Obsesi / Beda Usia / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Libur

Hari libur di pesantren biasanya menjadi momen yang paling ditunggu. Di depan gerbang asrama putri, beberapa penjual jajanan tradisional sudah berjejer rapi. Bau aroma serabi hangat, cilok, dan kue pukis menyeruak di udara, menciptakan suasana yang sangat kontras dengan kafe-kafe mewah di New York yang biasa Abigail kunjungi.

Abigail keluar dengan kaus lengan panjang longgar dan kerudung instan yang sedikit miring. Matanya berbinar melihat kerumunan santriwati yang sedang mengantre.

"Abby! Kamu harus coba kue rangi ini, enak banget!" seru Sarah sambil membawa bungkusan kertas minyak.

Abigail mendekat ke seorang kakek penjual kue rangi. "I'll take one, please..eh, maksud saya, beli satu ya, Kek."

Saat sedang menunggu kuenya matang, Abigail tidak sengaja melihat sebuah mobil double cabin hitam berhenti tak jauh dari sana. Itu mobil yang sering digunakan Gus Zayn untuk mengantar logistik pesantren.

Pintu mobil terbuka. Zayn turun dengan kaus polo hitam dan celana kain, tanpa peci. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin sore, membuatnya terlihat sangat casual dan... sangat tampan. Namun, teringat sikap dingin Zayn beberapa hari terakhir, Abigail langsung membuang muka dan pura-pura sibuk dengan dompetnya.

Zayn berjalan melewati kerumunan penjual jajanan. Langkahnya melambat saat melihat Abigail. Ia melihat gadis itu sedang berusaha menghitung uang receh rupiah yang masih membuatnya bingung.

"Harganya lima ribu, Abigail. Bukan lima puluh ribu," suara rendah Zayn tiba-tiba terdengar tepat di belakang telinganya.

Abigail tersentak dan hampir menjatuhkan uangnya. Ia menoleh ketus. "Aku tahu! Aku cuma lagi... mencari uang kecil."

Zayn menghela napas. Tanpa diduga, ia mengeluarkan selembar uang lima ribuan dari sakunya dan memberikannya kepada si penjual. "Ini, Kek. Sekalian buat saya satu."

"Gus! Aku bisa bayar sendiri!" protes Abigail, harga dirinya sebagai anak duda kaya terusik.

Zayn tidak membalas protes itu. Ia justru memperhatikan wajah Abigail dari samping. Ada sisa guratan kelelahan dan kesedihan di matanya. "Jangan terlalu banyak makan jajan pinggir jalan. Kamu punya maag, kan?"

Abigail tertegun. "Kok tahu?"

Zayn sempat terdiam, seolah menyesali perhatian yang baru saja lepas dari mulutnya. "Umi yang bilang," jawabnya cepat, kembali ke nada dinginnya.

Zayn menerima bungkus jajanannya, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi. Namun, Abigail sempat melihat kilasan sesuatu yang berkilau di telinga kanan Zayn lubang bekas tindik itu tetap terlihat meski Zayn berusaha tampil se-formal mungkin.

Abigail menggigit kue ranginya yang hangat. Rasanya manis dan gurih, tapi hatinya terasa perih. Dia peduli, tapi kenapa dia bersikap seolah aku ini beban?

Tiba-tiba, suara cempreng Najwa terdengar dari arah gerbang. "Gus Zayn! Kok jajannya nggak di ndalem aja? Najwa tadi sudah buatkan nagasari kesukaan Gus."

Abigail melihat Zayn hanya mengangguk sopan pada Najwa tanpa berhenti melangkah. Entah kenapa, melihat Zayn yang juga dingin pada Najwa, perasaan Abigail sedikit membaik.

"Seenggaknya, dia nggak cuma jahat ke aku," gumam Abigail sambil mengunyah jajanannya.

Abigail menyadari bahwa Zayn bukan membencinya, tapi sedang menjaga sesuatu.

.

.

Abigail Yang sudah diambang Kecintaan, Nekat ingin Mengirim surat untuk Gus Zayn.

sadar bahwa jika ia bicara langsung, Zayn akan terus menghindar. Dan jika ia bicara dalam bahasa Indonesia, ustadzah lain seperti Najwa atau Aisyah mungkin akan curiga.

Sore itu, saat suasana perpustakaan sepi, Abigail melihat kitab Fathul Mu'in milik Zayn tergeletak di meja khusus ustadz. Dengan jantung berdebar kencang, ia menyelipkan secarik kertas wangi yang ia bawa dari New York.

Malam harinya, Zayn kembali ke perpustakaan untuk melanjutkan muthala'ah (belajar). Saat ia membuka kitabnya, sebuah kertas berwarna cream jatuh ke pangkuannya. Zayn mengernyit, tangannya yang memegang tasbih berhenti bergerak.

Ia membuka lipatan kertas itu. Tulisan tangan Abigail, rapi namun berkarakter kuat, terukir di sana dalam bahasa Inggris:

"To the man with a hidden star in his ear,

I know why you're doing this. I know about the cold wall you’ve built between us. You think by being a 'shadow', you’re protecting my reputation. But Gus, in my world, we don't run away from the storm, we dance in it.

I don't care if they call me 'dust'. Even dust reflects the light when the sun hits it. And you... you are my sun. Thank you for the 'too sweet' syrup and the safety pin. I’m not going anywhere, even if you keep acting like the North Pole.

P.S. The earring hole looks cool on you. It’s a reminder that even saints have a history. See you at Fajr, if you dare to look at me.

— Abigail H."

Zayn membaca surat itu berulang kali. Dadanya terasa sesak. Di pesantren ini, tidak ada yang berani memanggilnya "sun" (matahari). Tidak ada yang berani menyinggung soal bekas tindiknya seolah itu adalah sebuah seni, bukan aib.

Abigail tidak melihat Zayn sebagai "Gus" yang suci dan tak bercela. Abigail melihatnya sebagai manusia.

Zayn menyandarkan punggungnya ke rak buku kayu. Ia tidak bisa menahan senyum tipis yang muncul di bibirnya. Gadis ini benar-benar gila. Berani, lancang, tapi jujur.

"Kamu benar-benar ingin menari di tengah badai, Abby?" bisik Zayn pada keheningan perpustakaan.

Tiba-tiba, pintu perpustakaan terbuka. Ustadzah Aisyah masuk dengan wajah curiga. "Zayn? Kenapa belum istirahat? Dan itu... kertas apa yang kamu pegang?"

Zayn dengan tenang melipat kertas itu dan menyembunyikannya di dalam saku kokonya yang paling dalam. "Hanya catatan santri tentang pelajaran tajwid, Mbak. Zayn mau kembali ke kamar."

Aisyah memperhatikan gerak-gerik adiknya. "Zayn, jangan coba-coba membohongi Mbak. Bau kertas itu... itu bau parfum luar negeri. Jangan bilang Abigail lagi?"

Zayn menatap kakaknya dengan tenang, namun ada kilatan ketegasan yang baru. "Mbak, Abi bilang jika saya serius, saya harus menjaganya. Dan cara saya menjaganya bukan dengan membiarkan orang lain merendahkannya. Biarkan Zayn yang mengatur batasan saya sendiri."

Zayn melangkah pergi meninggalkan Aisyah yang mematung. Untuk pertama kalinya, Zayn melawan secara halus demi membela sesuatu yang ia anggap berharga.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

happy reading😍😍😍

1
ros 🍂
😍😍
kalea rizuky
suka deh endingnya
kalea rizuky
hot ya gus/Curse/
kalea rizuky
bagus deh q baru baca novel mu yg andrian ke anak cucunya skg nemu ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!