NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:29.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Distrik 13

Sky Tower, Lobi Utama. Pukul 08:00 Pagi.

Jay menghentikan SUV hitam mewah itu tepat di depan pintu putar. Angeline keluar dengan senyum cerah, mengenakan setelan kerja baru yang elegan. Ia tampak seperti wanita yang terlahir kembali percaya diri dan penuh energi.

"Nanti malam jangan jemput aku, Jay," kata Angeline sambil membungkuk ke jendela mobil. "Aku akan lembur sebentar untuk mempelajari data pasar. Leon sudah menyiapkan sopir khusus dari perusahaan untuk mengantarku pulang."

"Baiklah. Hati-hati. Ingat syarat kontraknya: jangan bekerja terlalu keras," ingatkan Jay sambil tersenyum tipis.

"Siap, Kapten." Angeline melambaikan tangan, lalu berbalik dan melangkah masuk ke gedung pencakar langit itu.

Jay menatap punggung istrinya hingga menghilang di balik pintu kaca. Detik itu juga, senyum hangat di wajahnya lenyap. Postur tubuhnya yang santai berubah tegak dan kaku.

Ia melirik jam tangan digital murah di pergelangan tangannya.

"Delapan jam," gumamnya pelan. "Aku punya waktu delapan jam sebelum dia pulang."

Jay memutar kemudi, membawa mobil menjauh dari distrik bisnis yang berkilauan. Ia tidak pulang ke apartemen. Sebaliknya, ia mengarahkan kendaraan itu menuju sisi selatan kota wilayah yang tidak pernah disentuh oleh brosur pariwisata Negara Arvanta.

Distrik 13.

Distrik 13 adalah "tumor" dari Kota Langit Biru. Di sini, gedung-gedung pencakar langit digantikan oleh rumah susun kumuh yang berhimpitan, gang-gang sempit yang becek, dan neon-neon toko yang berkedip sekarat. Ini adalah tempat di mana hukum negara tidak berlaku, digantikan oleh hukum rimba.

Mobil SUV mewah Jay terlalu mencolok di sini. Ia memarkirkannya di sebuah gedung parkir tua yang ditinggalkan, lalu melanjutkannya dengan berjalan kaki. Ia mengenakan topi baseball hitam rendah dan jaket hoodie abu-abu, membaur dengan para pekerja kasar dan preman jalanan.

Langkah kaki Jay membawanya ke sebuah toko jam antik kecil di sudut jalan yang suram. Papan namanya sudah pudar: "Vanko's Timepiece".

Lonceng pintu berdenting pelan saat Jay masuk.

Aroma oli mesin, tembakau tua, dan debu menyambutnya. Ratusan jam dinding berdetak tidak serempak, menciptakan simfoni kekacauan yang aneh.

Di balik etalase kaca yang kusam, seorang pria tua kurus dengan kacamata hitam tebal sedang membongkar sebuah arloji saku.

"Kami tutup," kata pria tua itu serak, tanpa mendongak. "Tidak ada jam yang dijual hari ini."

Jay tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, lalu mengetuk etalase kaca dengan pola irama tertentu menggunakan cincin kawinnya.

Tap. Tap-jeda-Tap. Tap.

Tangan pria tua itu berhenti bergerak. Ia perlahan mengangkat kepalanya. Meski matanya tertutup kacamata hitam, Jay tahu pria itu buta. Namun, telinganya lebih tajam dari radar militer.

"Langkah kaki yang sunyi..." gumam pria tua itu, suaranya bergetar. "Detak jantung yang lambat seperti reptil... Dan ketukan Sandi Omega."

Pria tua itu meletakkan obengnya. "Sudah lama sekali, 'Zero'. Atau haruskah aku memanggilmu hantu?"

"Cukup Jay saja, Vanko," jawab Jay datar. "Aku butuh mata dan telingamu."

Vanko, sang broker informasi dunia bawah tanah, tertawa kering. "Kudengar kau sudah mati tiga tahun lalu di perbatasan utara. Apa neraka terlalu penuh sampai kau dimuntahkan kembali?"

"Aku sedang cuti," jawab Jay singkat. "Langsung ke intinya, Vanko. Black Sun. Kenapa mereka mengaktifkan sel tidur di kota ini? Apa yang mereka cari?"

Vanko menghela napas panjang. Ia meraba-raba laci meja, mengambil sebatang cerutu, dan menyalakannya.

"Mereka mencari seseorang. Atau lebih tepatnya... mereka mencari legenda."

"Siapa?"

"Kau," jawab Vanko, mengembuskan asap rokok ke udara. "Rumor beredar bahwa Panglima Zero masih hidup dan bersembunyi di Kota Langit Biru. Black Sun menawarkan hadiah seratus juta dolar bagi siapa saja yang bisa membawa kepalamu @atau setidaknya informasi tentang keberadaanmu."

Mata Jay menyipit. Identitasnya bocor? Tidak mungkin. Dia sudah menghapus jejaknya dengan sempurna. Kecuali... ada pengkhianat di level tertinggi militer.

"Mereka tidak tahu wajahku," kata Jay yakin. "Hanya segelintir jenderal bintang lima yang pernah melihat wajah asliku tanpa masker taktis."

"Betul. Karena itu mereka menggunakan metode 'jaring ikan'," jelas Vanko. "Mereka mengadakan turnamen pertarungan bawah tanah di The Cage malam ini. Hadiahnya besar. Tujuannya adalah memancing para petarung hebat keluar. Mereka percaya, seorang 'Dewa Perang' tidak akan bisa menahan diri jika melihat darah tertumpah."

Jay terdiam. Turnamen. Cara klasik untuk merekrut pembunuh atau memancing musuh.

"Di mana lokasinya?" tanya Jay.

Vanko mengambil secarik kartu hitam dari saku rompinya dan meletakkannya di atas meja. Kartu itu hanya bergambar simbol matahari hitam.

"Gudang Pelabuhan Sektor 7. Tengah malam. Masuklah sebagai penonton, atau sebagai petarung. Tapi hati-hati, Jay. Kali ini, anjing-anjing yang mereka bawa bukan preman jalanan. Mereka membawa 'The Reapers'."

The Reapers. Pasukan pembunuh elit yang dilatih tanpa rasa sakit.

Jay mengambil kartu itu. "Terima kasih, Vanko. Simpan kembaliannya."

Jay meletakkan segepok uang tunai di atas meja, lalu berbalik menuju pintu.

"Jay," panggil Vanko saat tangan Jay menyentuh gagang pintu.

Jay berhenti.

"Dunia sudah berubah sejak kau pergi. Di luar sana... bukan lagi soal kehormatan prajurit. Sekarang hanya soal siapa yang paling kejam. Jangan ragu, atau kau akan mati."

"Aku tidak pernah ragu," jawab Jay dingin.

Gang Sempit di Belakang Toko.

Jay keluar dari toko Vanko. Hujan mulai turun lagi, membasahi sampah-sampah yang berserakan di jalan.

Baru lima langkah ia berjalan, instingnya menjerit.

Seseorang mengawasinya.

Bukan dari belakang, tapi dari atas.

Tanpa peringatan, Jay melompat mundur dua meter.

SWOSH!

Sebuah pisau belati hitam menancap di aspal, tepat di tempat Jay berdiri sepersekian detik sebelumnya. Jika ia terlambat bergerak, pisau itu akan menembus tengkoraknya.

Jay mendongak. Di atas tangga kebakaran gedung tua, sesosok bayangan hitam bertopeng melompat turun dengan gerakan akrobatik, mendarat tanpa suara di hadapan Jay.

Sosok itu mengenakan setelan tempur ketat berwarna hitam, wajahnya tertutup masker full-face dengan simbol matahari merah di kening.

Satu orang lagi muncul dari balik tong sampah di belakang Jay. Dan satu lagi dari arah depan.

Tiga orang. Pembunuh profesional.

"Refleks yang bagus untuk warga sipil," kata pembunuh di depan, suaranya disamarkan oleh modulator elektronik. "Serahkan apa yang kau ambil dari Vanko. Dan kami akan membunuhmu dengan cepat."

Jay berdiri santai, kedua tangannya masuk ke saku jaket hoodie.

"Kalian menghalangi jalan," kata Jay pelan. "Aku harus belanja sayur untuk istriku sebelum sore."

"Sombong," desis pembunuh itu. "Habisi dia."

Ketiga pembunuh itu menyerang serentak. Kecepatan mereka jauh di atas bodyguard Victor Han. Pisau-pisau mereka berkilauan di bawah cahaya neon yang redup, mengincar titik-titik vital: leher, jantung, arteri paha.

Jay tidak mengeluarkan tangannya dari saku.

Ia hanya menggeser tubuhnya sedikit ke kiri, membiarkan pisau pertama lewat satu inci dari lehernya. Lalu dengan gerakan bahu yang eksplosif, ia menabrak dada pembunuh pertama hingga terpental ke dinding bata.

KRAK!

Pembunuh kedua menyerang dari belakang. Jay berputar, mengeluarkan satu tangan, menangkap pergelangan tangan penyerang itu, dan memutarnya hingga terdengar bunyi patahan yang mengerikan.

"AAARGH!"

Pembunuh ketiga sang pemimpin ragu sejenak melihat dua rekannya tumbang dalam hitungan detik.

"Kau... kau bukan warga sipil," gagapnya.

Jay berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tapi aura membunuhnya begitu pekat hingga membuat udara terasa sesak.

"Kau benar," bisik Jay. "Aku suami yang sedang buru-buru."

Jay mencengkeram leher pembunuh ketiga, mengangkatnya, dan membenturkan kepalanya ke dinding bata. Pembunuh itu pingsan seketika.

Jay menggeledah tubuh mereka dengan cepat. Tidak ada identitas. Hanya ada tato kecil di pergelangan tangan mereka: simbol matahari hitam dengan kode batang.

Black Sun. Unit Pengintai.

Mereka pasti mengawasi tempat Vanko untuk melihat siapa saja yang bertanya tentang organisasi mereka.

Jay merapikan jaketnya yang sedikit kusut. Ia mengambil kembali pisau yang menancap di aspal, mengamatinya sejenak. Baja Damaskus kualitas tinggi.

"Menarik," gumam Jay.

Ia berjalan meninggalkan gang itu, membiarkan tiga tubuh pembunuh elit itu tergeletak di tengah hujan sampah Distrik 13.

1
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
Mamat Stone
🔥☯️🔥
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
😈💥
Mamat Stone
/Cleaver/💥
Mamat Stone
👊💥
Hendra Saja
s makin menarik Thor 🔥🔥🔥🔥🔥🌹🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!