NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Rahasia di Balik Kasur

​Bab 6: Rahasia di Balik Kasur

​Suara kicauan burung gereja di dahan pohon mangga biasanya menjadi pertanda kebahagiaan bagi Anindya, namun di rumah Tuan Wijaya, suara itu hanyalah penanda bahwa jam istirahat singkatnya telah berakhir. Pagi ini, punggung Anindya terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Efek dari mencuci tumpukan baju kemarin dan tidur hanya empat jam mulai menyerang tubuh mungilnya.

Namun, ada sesuatu yang berbeda di matanya pagi ini—sebuah binar kecil yang tersembunyi di balik kelopak mata yang sembab.

​Di bawah kasur tipisnya, buku matematika biru itu masih tersimpan rapi. Keberadaan buku itu memberinya kekuatan aneh, sebuah rahasia kecil yang membuatnya merasa sedikit lebih kuat dari biasanya.

​"Anindya! Cepat siapkan sarapan Satria! Dia ada kelas pagi hari ini!" Teriak Nyonya Lastri dari ruang tengah, suaranya yang melengking merobek kesunyian pagi.

​Anindya segera merapikan kasurnya, memastikan tidak ada sudut buku yang mengintip keluar. Dengan langkah tergesa, ia menuju dapur. Di sana, Mbok Sum sedang kewalahan menggoreng nasi sementara air di teko sudah mendidih. Anindya langsung mengambil alih tugas menyeduh teh dan menyiapkan piring-piring porselen mahal di meja makan.

​Tak lama kemudian, Satria muncul dengan seragam yang sangat rapi. Ia duduk di kursinya dengan gaya angkuh, sementara Anindya berdiri di sudut ruangan, siap melayani jika ada yang kurang. Tuan Wijaya pun menyusul, duduk di kepala meja sambil menyesap kopi hitamnya.

​"Satria, bagaimana tugas matematikamu yang kemarin? Ayah lihat bukumu tidak ada di meja belajar," tanya Tuan Wijaya dengan nada tegas namun tenang.

​Anindya menahan napas. Jantungnya berdegup kencang hingga ia takut suaranya terdengar sampai ke telinga majikannya. Ia menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk merapikan serbet di tangannya.

​Satria mendengus, mulutnya penuh dengan nasi goreng. "Ah, buku itu sudah penuh dan jelek, Yah. Aku membuangnya kemarin. Lagipula, aku sudah minta Ibu membelikan yang baru yang lebih keren. Buku yang lama itu membosankan."

​Nyonya Lastri menyahut sambil mengoleskan selai ke rotinya, "Benar, Wijaya. Lagipula Satria butuh semangat baru. Buku bekas itu sudah tidak layak. Aku sudah membelikannya yang baru semalam."

​Tuan Wijaya hanya mengangguk pelan. "Pastikan kau mengerjakannya. Jangan sampai nilaimu jatuh seperti semester lalu."

​Anindya merasa lega, namun sekaligus merasa miris. Sesuatu yang sangat berharga baginya ternyata dianggap sampah yang tidak layak oleh orang lain. Ia teringat bagaimana Ayahnya dulu harus menyisihkan uang makan dua hari hanya untuk membelikannya satu pak buku tulis isi sepuluh. Di sini, buku dibuang seolah-olah kertas tidak memiliki harga.

​Setelah mereka selesai makan dan berangkat, Anindya mulai membereskan meja. Namun, nasib sial sepertinya sedang ingin mengujinya. Saat ia hendak membawa piring kotor ke dapur, Nyonya Lastri menghentikannya.

​"Anindya, setelah ini, bersihkan kamarmu sendiri. Aku tidak mau gudang bawah tangga itu jadi sarang kecoa karena kau malas merapikannya. Aku akan memeriksa semua sudut rumah hari ini, termasuk lubang tikus tempatmu tidur itu!"

​Darah Anindya seolah berhenti mengalir. Memeriksa kamar?

​Jika Nyonya Lastri masuk ke kamarnya, dia pasti akan mengangkat kasur itu untuk memastikan kebersihan lantai. Dan jika kasur itu diangkat, buku matematika Satria pasti akan ditemukan. Anindya tahu benar konsekuensinya. Nyonya Lastri pernah mengancam akan membakar apa pun yang berhubungan dengan "sekolah" jika Anindya berani mencobanya.

​"Baik, Bu... Nin akan bersihkan sekarang," jawab Anindya dengan suara gemetar.

​Ia segera berlari menuju kamarnya di bawah tangga. Pikirannya berputar cepat. Di mana aku harus menyembunyikannya? Di bawah lemari? Tidak, Nyonya Lastri pasti akan menyuruhnya menggeser lemari. Di atas plafon? Terlalu tinggi, ia tidak bisa mencapainya.

​Anindya melihat ke sekeliling ruangan sempit itu dengan panik. Air mata mulai menggenang di matanya. Buku itu adalah satu-satunya harapannya untuk tetap merasa seperti manusia, bukan hanya mesin pencuci baju. Ia tidak boleh membiarkannya terbakar.

​Tiba-tiba, ia melihat sebuah lubang kecil di dinding kayu yang membatasi kamarnya dengan gudang peralatan. Lubang itu tertutup oleh tumpukan kain pel tua. Dengan cepat, Anindya mengambil buku itu, membungkusnya dengan kantong plastik agar tidak lembap, lalu menyelipkannya ke dalam lubang tersebut. Ia menumpuk kembali kain pel dan ember pecah di depannya agar tidak terlihat.

​Baru saja ia selesai, pintu kamarnya ditendang terbuka. Nyonya Lastri berdiri di sana dengan wajah masam, memegang sapu lidi seolah-olah itu adalah tongkat kekuasaan.

​"Minggir!" Nyonya Lastri mendorong pundak Anindya hingga gadis itu terjerembap ke dinding.

​Nyonya Lastri mulai memeriksa. Ia menendang kasur tipis Anindya hingga terlipat. Ia melihat lantai semen yang dingin itu dengan teliti. Ia mencari-cari celah, berharap menemukan sesuatu yang bisa ia jadikan alasan untuk menghukum Anindya.

​"Apa ini?" Nyonya Lastri memungut sepotong lidi kecil yang ujungnya hitam terkena arang—lidi yang digunakan Anindya untuk menulis semalam.

​Anindya membeku. Lidahnya terasa kelu. "Itu... itu hanya lidi untuk mengusir nyamuk, Bu," jawabnya asal, suaranya hampir hilang.

​Nyonya Lastri menatap lidi itu dengan curiga, lalu mematahkannya menjadi dua dan membuangnya ke lantai. "Jangan macam-macam di rumah ini. Tugasmu bekerja, bukan bermain-main dengan sampah."

​Nyonya Lastri kemudian beralih ke tumpukan kain pel di sudut ruangan. Jantung Anindya seolah berhenti berdetak. Tangan Nyonya Lastri sudah menyentuh salah satu kain pel itu. Jika dia mengangkat satu lapis lagi, plastik pembungkus buku itu akan terlihat.

​"Ibu! Mobil jemputan Satria tertinggal bekalnya!" Teriak Mbok Sum dari arah dapur, sebuah kebohongan penyelamat yang sengaja dibuat oleh wanita tua itu karena ia tahu Anindya sedang dalam bahaya.

​Nyonya Lastri mendecit kesal. "Ck! Selalu saja merepotkan!" Ia berbalik dan meninggalkan kamar Anindya tanpa menyelesaikan pemeriksaannya.

​Anindya jatuh terduduk di lantai. Tubuhnya lemas, seluruh pakaiannya basah oleh keringat dingin. Ia bernapas terengah-engah, merasakan detak jantungnya yang mulai melambat. Ia menatap ke arah lubang di dinding itu. Bukunya aman. Untuk saat ini.

​Beberapa menit kemudian, Mbok Sum mengintip dari balik pintu. "Sudah aman, Nak?" bisiknya.

​Anindya mengangguk lemah. "Terima kasih, Mbok. Terima kasih banyak."

​Mbok Sum mendekat dan mengusap rambut Anindya yang berantakan. "Mbok tahu kau menyembunyikan sesuatu. Mbok tidak akan tanya apa itu, tapi simpanlah baik-baik. Di rumah ini, dinding pun punya telinga."

​Anindya memeluk Mbok Sum erat. Di tengah badai kebencian yang ia terima dari keluarga Wijaya, pelukan Mbok Sum adalah dermaga kecil tempatnya bersandar. Namun, kejadian hari ini menyadarkannya pada satu kenyataan pahit: ia tidak bisa selamanya bersembunyi. Jika ia ingin benar-benar belajar, ia harus menemukan cara yang lebih cerdas. Ia harus menjadi lebih kuat, lebih berani, dan lebih licin dari siapa pun di rumah ini.

​Malam itu, setelah semua pekerjaan selesai, Anindya tidak mengeluarkan bukunya. Ia hanya duduk diam di kegelapan, memandangi lubang di dinding. Ia menyadari bahwa perjalanannya untuk menjadi pintar tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Ada harga yang harus dibayar, ada risiko yang harus dihadapi.

​Namun, alih-alih menyerah, tekadnya justru semakin membatu. Jika mereka tidak memberiku buku, aku akan mencuri ilmu dari sisa-sisa mereka. Jika mereka tidak memberiku lampu, aku akan belajar dari cahaya bulan. Aku bukan lagi Anindya yang penakut. Aku adalah Anindya yang akan membuat mereka menyesal suatu hari nanti.

​Dengan tangan yang masih gemetar, ia mulai merencanakan langkah selanjutnya. Ia akan mulai mendengarkan saat Satria belajar dengan guru lesnya di ruang tengah. Ia akan mencuri dengar setiap kata, setiap rumus, dan setiap penjelasan. Ia akan menjadikan telinganya sebagai mata bagi pengetahuannya yang terbelenggu.

​Bab baru dalam hidup Anindya telah dimulai. Bukan lagi tentang bertahan hidup, tapi tentang bertahan untuk menang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!