NovelToon NovelToon
Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pernikahan Kilat / Romansa / Konflik etika
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.

Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.

Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.

Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.

Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Antara Bakti dan Cinta

Malam itu Reza tak pernah tahu bahwa hidupnya akan diputuskan tanpa persetujuannya.

Rahman, Siti, dan Reza duduk berhadapan di ruang keluarga. Tak ada suara televisi menyala. Hanya suara jangkrik dan lalu lalang kendaraan di luar rumah.

“Reza," ucap Rahman akhirnya. Suaranya terdengar pelan, namun menekan. “Kami sudah bicara dengan keluarga Ayza.”

Reza yang sejak tadi bersandar di kursi langsung menegakkan punggung. Alisnya mengerut. “Bicara soal apa, Yah?”

Ibunya meletakkan cangkir teh di meja. Jemarinya sedikit bergetar, seolah ragu. “Kami ingin kamu menikah. Dengan Ayza.”

Kalimat itu membuat mata Reza melebar. Ia terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil. Kering, tanpa humor.

“Ayza?” ulang Reza, suaranya meninggi tanpa sadar.

Ia menggeleng mencoba menepis bayangan gadis gembul itu. Pipinya lengket keringat dengan gigi grepes yang terlihat saat tersenyum lebar di sudut rumah.

"Putri Bu Aini yang suka duduk diam di pojokan ngelihatin aku dulu?" lanjutnya.

"Benar." sahut ayahnya mantap.

Ingatan lain menyusul, membuat dadanya nyeri. Dua tahun lalu, ayahnya pulang dengan wajah pucat membawa kabar kecelakaan. Ayza kehilangan kaki kirinya.

Bayangan gadis gembul itu kini berganti menjadi siluet gelap seorang perempuan bercadar yang pincang. Seseorang yang hanya bisa berjalan jika ditopang oleh potongan besi dan plastik mahal yang dibelikan ayahnya.

“Yah, Bun,” Reza menarik napas dalam seolah udara di ruangan itu tiba-tiba menipis. “Aku tidak sedang mengelola panti sosial. Aku ingin membangun hidup. Dengan pendamping yang benar-benar selaras denganku.”

“Rez...?” suara Siti pecah.

Reza berdiri. Ia memejamkan matanya sejenak. “Ayza itu… bukan duniaku.”

Bukan duniaku. Itu kata paling halus untuk menggambarkan jurang yang ia bayangkan antara ia dan Ayza. Dalam benaknya, Ayza adalah simbol kemalangan. Dia adalah gadis sederhana, jauh dari gemerlap dunia dan pincang yang menyedihkan.

Sangat kontras dengan Zahra yang dikelilingi cahaya lampu flash kamera, aroma parfum mahal, dan langkah kaki yang mantap di atas runway. Zahra adalah kesempurnaan fisik yang ia butuhkan untuk melengkapi citranya. Yang ia anggap sebanding dengannya.

"Dunia apa yang kau maksud?" tanya Rahman menatap putranya lurus.

“Ayza itu cuma guru ngaji di desanya,” lanjut Reza, suaranya datar. “Dan secara visual… dia tak serasi denganku. Dia tidak akan pernah berdiri sejajar dengan Zahra. Tidak dengan kondisi fisiknya, tidak juga dengan dunianya.”

Siti menatap Reza lama. Tidak marah. Hanya ada rasa sesuatu menusuk dadanya.

“Visual seperti apa yang kau maksud?”

“Kau bahkan belum melihat wajahnya,” sela Rahman tenang, meski rahangnya mengeras samar.

Reza menghembuskan napas kasar. “Aku hanya realistis.”

Siti menarik napas. “Rez, kami tidak memaksamu jatuh cinta.”

“Rez,” sambung Rahman, “dalam rumah tangga, yang dicari bukan rupa atau pangkat. Tapi pasangan yang membuatmu merasa tenang. Merasa pulang.”

Reza menggeleng pelan. “Ayza hidup dengan terlalu banyak keterbatasan, Yah. Latar keluarganya pun tidak utuh.” Ia terdiam sesaat, lalu menambahkan datar, “Dan itu bukan hal kecil.”

Ia mengangkat wajahnya.

“Saat seseorang menikah, banyak ha yang perlu dipertimbangkan,” lanjutnya cepat. “Harta. Latar keluarga. Penampilan—”

“Dan agamanya,” potong Rahman.

Siti bicara lebih lembut. “Kami tahu kamu memilih Zahra. Tapi...perempuan itu dari dunia yang berbeda. Cara berpakaian, cara hidup. Bahkan auratnya sebagai seorang muslim—”

"Bunda gak boleh menilai orang dari pakaiannya,” potong Reza cepat. “Banyak orang menutup aurat, tapi kelakuan mereka tak mencerminkan pakaian mereka.”

Rahman mengangguk. “Benar. Tapi menjalankan perintah-Nya adalah pilihan sadar. Dan itu tercermin dari cara hidup, bukan dari pencitraan.”

Reza memalingkan wajah. Dadanya sesak, bukan karena ragu, melainkan karena keyakinannya sendiri.

Ia yakin, Ayza tak akan pernah menjadi tempat pulangnya.

Dan ia belum tahu, keyakinan itulah yang kelak akan menghancurkannya.

“Rez,” ucap Rahman pelan. “Ayah dan Bunda benar-benar ingin kamu segera menikah.”

“Kenapa harus sekarang, Yah? Dan kenapa harus dengan dia?” tanya Reza tertahan, tangannya mencengkeram sandaran kursi hingga buku jarinya memutih. "Ayah dan Bunda mendesakku seolah tak ada waktu lagi."

Hening sejenak. Siti tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. Senyum yang biasa diberikan seseorang yang sudah menerima kekalahannya sendiri.

Reza menatapnya. Ia baru menyadari sesuatu. Di bawah lampu ruang tamu yang benderang, wajah ibunya tampak lebih tirus dari bulan lalu. Gamisnya yang berwarna pastel membuat kulitnya terlihat makin pucat, hampir abu-abu.

“Nak,” Siti bicara, namun suara lebih terdengar seperti berbisik. “Bunda tidak tahu berapa lama lagi tubuh ini bisa bertahan. Bunda tidak tahu apakah pengobatan ini akan membawa Bunda pulang ke rumah... atau pulang ke tempat lain.”

Reza membeku. Ia tahu kata 'pulang' itu memiliki dua makna yang berbeda.

Rahman menggenggam tangan istrinya lebih erat, seolah jika ia melepasnya sedetik saja, Siti akan menguap hilang. “Kami memang tidak punya banyak waktu, Rez,”

"A-apa maksud Ayah dan Bunda?" tanya Reza akhirnya. Bibirnya bergetar tanpa sadar.

“Selama kamu di luar negeri, kami bolak-balik ke rumah sakit tanpa mengabarimu," jawab Rahman. "Bunda tidak mau mengganggumu karena kamu sedang ada proyek penting."

Rahman menunduk, suaranya lebih pelan. "Tapi dokter bilang, kankernya sudah mulai menyebar ke jaringan lain. Stadium awal yang agresif.”

Reza terduduk di kursi, tangan berpegangan di sandaran tangan. “Ka-kanker? Stadium awal... tapi agresif?” ulangnya, kata-katanya tersendat seperti tersangkut di tenggorokan.

“Kami tak ingin meninggalkanmu sendirian,” suara Rahman kini bergetar. “Kami ingin kau bersama perempuan yang selalu menemani dan mendukungmu. Bukan dengan perempuan yang mungkin tidak punya waktu untuk sekadar duduk menemanimu sarapan.”

Reza menunduk, menatap lantai yang terasa bergoyang. “Aku yakin Zahra bisa menemani dan mendukungku,” ucapnya lirih.

Siti meraih lengan Reza. Kulit Reza seperti bersentuhan dengan es.

“Bunda tahu, Nak. Bunda menghormati pilihanmu pada Zahra. Tapi pernikahan bukan sekadar tentang siapa yang paling cantik di foto profilmu. Bunda butuh seseorang yang bisa menjagamu saat kami sudah tidak ada."

Suara Siti makin pelan. "Seseorang yang tahu caranya bertahan saat badai datang, bukan yang sibuk berlari mengejar mimpi.”

“Kenapa Ayah dan Bunda begitu yakin aku tak akan bahagia bersama Zahra,” tanya Reza akhirnya, suaranya tertahan, “dan begitu percaya aku akan bahagia bersama Ayza?”

Siti terdiam. Ia menunduk sejenak, lalu kembali menatap putranya. “Karena Bunda melihat bagaimana cara Zahra dan Ayza hidup, Rez,” ujarnya lirih. “Zahra hidup dalam sorotan yang mengharuskan terlihat sempurna. Sedang Ayza... sejak kecil dia terbiasa hidup apa adanya. Tidak banyak bicara, tidak suka mengeluh, apalagi menuntut."

Rahman menimpali dengan suara rendah, lebih rasional. “Kamu sibuk dengan perusahaan. Zahra sibuk dengan panggungnya,” ujar Rahman pelan.

“Kalian sama-sama berlari. Tapi rumah tangga butuh seseorang yang mau tinggal.”

Siti menarik napas pelan. “Feeling orang tua jarang keliru, Nak.”

Ia menatap Reza dengan mata yang berembun. “Apalagi adikmu sebentar lagi keluar dari pondok. Kau tahu sendiri, bahkan selama di sana pun, dia tak berhenti membuat masalah.”

Reza terdiam.

“Kalau nanti kami tidak ada,” lanjut Rahman, suaranya mengeras samar, “siapa yang akan mengurus kalian? Apakah Zahra akan siap dengan semua itu? Dengan kamu yang lelah, dengan adikmu yang butuh perhatian?”

Siti menunduk. “Ayza tahu caranya bertahan, Rez. Dia tetap tegar meski hidupnya sulit.”

Rahman menatap putranya lurus. "Sekarang kau pilih, tetap pada pendirianmu dengan Zahra atau berbakti pada orang tua, terutama ibumu yang umurnya mungkin tak panjang lagi."

Reza memejamkan matanya erat. Di kepalanya, kata pergi dan kehilangan bercampur menjadi satu.

Dan untuk pertama kalinya, pernikahan itu terasa bukan sekadar paksaan, melainkan keputusan yang diburu waktu.

"Kami tunggu jawabanmu besok, sebelum kami berangkat," tutup Rahman.

...🔸🔸🔸...

..."Ketika bakti dipertemukan dengan cinta,...

...selalu ada satu hati yang harus dikorbankan."...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
phity
tentu sja zahra tdk akan mau merawatmu krn kerjaannya lbh penting drpd mo merawat orng sakit nanti tangan nya jd kasar kuku cantiknya jadi rusak...
asih
cantik Karna visual akan rapuh saat bertambahnya usia
LibraGirls
Oh my god gk sangup sampai ayza tau wlpn dia gk ada perasaan sm rezza tp dia udah bertangung jwb sebagai istri sirih nya reza
LibraGirls
Km percaya dia tertidur pules bisa² dia clubbing ma teman² nya dunia model begitu kenapa elo bego banget si za gk suruh org ngikutin si Zahra 😤
Dew666
💎🌹
Dek Sri
lanjut
Anitha Ramto
tentu saja si Zahra menghindar buru² karena tidak mau merawatmu dan kamu akan menjadi beban buat si Zahra.

Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍
Mundri Astuti
emang y love is blind, jadi bikin org ilang ke warasannya macam si Reza
Hanima
lama amat Thor sadarrrr nya 🤭
Diana Dwiari
dr situ dah keliatan kan bahwA wanita yg kamu kejar hanya mau senangnya saja.....makan tuh jalangmu
Felycia R. Fernandez: tapi sayangnya Reza kuat nafsu kk,bukan cari yang beneran tulus 😆😆😆
total 1 replies
Jumi Saddah
nah kapan semua akan terungkap,,,pasti kita bilang wow gitu😄
Sugiharti Rusli
karena sekali lagi apa yang diucapkan oleh Fahri menemukan kebenaran, dia hanya berperan sebagai art bagi Reza,,,
Sugiharti Rusli
entah bagaimana nanti kali Ayza lebih memilih lepas dari si Reza setelah dia sembuh,,,
Sugiharti Rusli
dan Ayza tahu ini bukan awal akan tumbuhnya perasaannya terhadap suaminya itu sih,,,
Sugiharti Rusli
sedang Ayza istri yang dipilihkan oleh kedua ortu kamu yang tidak pernah kamu anggap, dia tetap hadir ke rumah sakit meski sudah tengah malam
Sugiharti Rusli
kita lihat nanti tanggapan perempuan pilihan kamu sendiri Reza yang katanya sangat kamu cintai sampai mau berzinah
Puji Hastuti
Ayza kenapa kamu masih mau peduli sih!
Puji Hastuti
Siapa yang nelpon reza? Zahra kah?
Sugiharti Rusli
entah apa nanti yang akan Ayza tanggapi dengan kejadian yang menimpa 'suami' nya itu, bahkan si Zahra yang sudah pernah Reza sentuh belum tentu mau merawatnya
Sugiharti Rusli
ternyata Allah memiliki takdirnya sendiri dengan apa yang menimpa si Reza sekarang yah,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!