Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ponsel Hilang
#20
Flashback malam sebelumnya.
“Apa, Om?! Kan, aku sudah bilang jangan beritahu Mama dan Papa dulu!” pekik Rayyan, kesal karena Agung tak mengindahkan peringatannya.
“Tapi Om memikirkan hal yang berbeda, lebih baik mereka tahu di awal, daripada tahu hari kemudian. Aku cuma memikirkan kesehatan mereka, Ray,” kata Agung, karena tak memiliki alasan yang lain selain khawatir pada dua orang yang sudah ia jaga selayaknya orang tua sendiri karena amanah dari almarhum Zidan.
🥺
Tubuh Rayyan lemas, “Lalu apa kata Mama dan Papa?”
“Kata mereka? Ya jelas mereka marah, tapi tak sampai membuat shock berlebihan.”
Walau merasa lega, tapi Rayyan tetap tak nyaman setelah mendengar bahwa kedua orang tuanya marah. “Baiklah, aku akan menelepon mereka secepatnya.”
“Oh, iya. Besok ada sopir yang akan menjemputmu, sekalian Rosa ingin bertemu istrimu.”
“Hmm, baiklah, terserah kalian saja. Tapi—”
“Tapi, apa?”
Rayyan diam sejenak, gamang juga menceritakan seperti apa kelakuan mertua dan adik iparnya. “Tidak, Om. Tidak jadi.
Flashback End
•••
“Hoaaaam!”
Pukul 6 lebih, Arimbi baru keluar dari kamarnya. Padahal ia harus berangkat ke sekolah, yang tinggal beberapa minggu lagi ia menikmati bangku sekolah. Tapi ia sudah terlalu malas, inginnya cepat kerja mencari agensi yang bersedia menerimanya sebagai model.
Gadis itu melirik meja makan yang masih kosong, karena Rayyan larangan memasak untuk Arimbi dan Bu Saodah sudah mulai berlaku. “Bu, kok tidak ada sarapan? Kan aku mau ke sekolah.”
Bu Saodah mendengus kesal, ia masih dongkol karena tadi terpaksa menggoreng telur dan memetik cabai rawit sebagai teman makan telur bersama nasi.
“Benar-benar sialan suami si Lilis itu,” geram Bu Saodah tanpa mengalihkan tatapannya ke arah kebun belakang ruman. Dimana saat ini Rayyan tengah membantu Lilis mencabut singkong yang sudah saatnya dipanen.
“Memang kenapa lagi dia?”
“Sepertinya dia baru gajian, jadi sengaja mengiming-imingi ibu dengan uang yang hanya diberikan pada Lilis. Sombong sekali, sementara untuk mengganti uang tanda jadi itu, ia tak mau mengeluarkan satu rupiah pun.” Bu Saodah mengeluarkan uneg-unegnya.
Arimbi meringis, “Yaa— terus aku gimana, Bu? Uang yang kemarin sudah habis. Apa Ibu tak punya uang lagi? Aku belum beli bensin motor,” adunya memelas.
Alih-alih memberi uang, Bu Saodah yang sudah nyaman jadi pengangguran, justru menjewer telinga Arimbi. “Makanya jangan boros! Begitu punya uang langsung dihamburkan!” omel Bu Saodah.
“Ya, kan, itu ajaran Ibu juga,” ringis Arimbi sambil mengusap telinganya yang merah.
“Jawab terus! Kalo dikasih tahu orang tua bisanya cuma membantah.”
•••
Kita tinggalkan dua orang yang setiap hari hanya ribut soal makanan dan uang.
Karena hari ini warung tutup, maka Lilis bisa berkebun, “Wah, tak kusangka singkongnya sebesar ini,” kata Lilis, puas melihat singkong yang besarnya seukuran betisnya. “Terima kasih, Mas.”
Rayyan mengangguk, sebenarnya ia cukup kepayahan karena seumur hidup tak pernah melakoni profesi sebagai tukang cabut singkong. Keringatnya bercucuran, tapi bibirnya tersenyum lega karena melihat raut bahagia di wajah istrinya.
“Emang, biasanya siapa yang membantumu mencabut singkong?”
“Ya, Bapak lah, tapi setelah Bapak meninggal tiga tahun lalu, ini kali pertama cabut singkong lagi.”
Rayyan melihat ke sekitar, untungnya hanya tiga pohon singkong yang mereka panen hari ini, bayangkan jika sekebon dipanen semua, bisa-bisa encok punggungnya.
“Singkong sebanyak ini mau kamu apakan?”
“Diolah sebagian, sebagian lagi di bagi-bagikan ke tetangga, daripada rusak. Mas mau singkong goreng melepuh?”
“Bukan ide buruk, sama kopi hitam, ya?” pinta Rayyan. Senangnya punya istri, terutama yang terampil mengolah bahan makanan, ia bisa meminta dibuatkan makanan apa saja.
Lilis menyalakan pompa hingga keran di pinggir sumur itu mengeluarkan air, yang bisa dipergunakan untuk membersihkan singkong dari sisa-sisa tanah.
Rayyan pun ikut mengulurkan tangan ke bawah keran, bermaksud membersihkan tanah basah yang melapisi seluruh permukaan tangannya. Tanpa sengaja kedua matanya menatap lengan Lilis yang biasanya tertutup kaos lengan panjang.
Berdesir lagi, setelah semalam ia kewalahan memadamkan hasratnya, kini permukaan kulit lengan Lilis kembali membuat tubuhnya semakin gerah, serta berhasil menggelitik insting kelelakiannya. Rayyan buru-buru menyudahi cuci tangannya, daripada ia tak bisa lagi mengendalikan diri, berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
“Lho, Mas. Itu tangannya masih kotor,” cetus Lilis yang belum memahami perasaan suaminya.
“Di dalam saja, sekalian mandi.”
Tiba di kamar, Rayyan mengomel pada diri sendiri, “Huft! Sabar, Ray. Belum saatnya.”
“Assalamualaikum.”
Suara salam yang amat Rayyan kenal, membuat pria itu keluar dari kamar. Dan ternyata, Bu Saodah yang membukakan pintu.
“Cari siapa?” tanyanya ketus.
Karena wanita yang katanya istri pak bos itu, berpakaian sederhana, tidak mencolok, tapi datang dengan diantar mobil mewah.
“Tante,” sapa Rayyan.
“Ray, Tante telepon kamu, loh. Kenapa ponselmu mati?”
Rayyan mengerutkan keningnya, “Mati? Nggak, ah, tadi menyala tapi aku tinggal ke belakang.”
“Masuk, Tante. Aku bersih-bersih dulu, ya?”
Rayyan bergegas kembali ke kamar, untuk mengambil pakaian ganti, serta hendak memeriksa ponsel yang katanya mati. “Ada tamu, Mas?”
“Iya. Itu Nyonya Bos sudah datang.” Rayyan masih fokus mencari, dan beberapa saat kemudian ia baru menyadari benda tersebut, tidak ada dimanapun.
“Lis, kamu melihat ponselku?”
“Hah?! Aku malah belum melihat ponsel Mas seperti apa,” jawab Lilis.
“Kupikir aku lupa dimana, tapi ternyata di saku celanaku tak ada, di atas meja makan juga tak ada.”
“Mungkin masih tertinggal di rumah Mas Nanang?”
“Tidak, aku ingat sekali tadi aku sudah membawanya.”
Dua orang itu terlihat sedang mencari-cari, “Bu, aku pergi ke sekolah dulu,” pamit Arimbi, yang sudah rapi dengan baju seragam dan tas sekolah di punggung.
Sebenarnya Rayyan tak ingin berprasangka, tapi melihat gelagat Arimbi yang seolah pergi dengan buru-buru, ditambah wajahnya masih polos seperti orang belum mandi, membuat Rayyan jadi curiga.
“Jangan-jangan—”
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭