NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

#

Kontainer akhirnya berhenti jam setengah dua pagi. Pintu dibuka, cahaya bulan masuk yang bikin mata mereka perih setelah delapan jam di gelap total.

"Turun cepat," sopir truk itu berbisik. "Kita ada di pelabuhan kecil sektor lima. Jauhi pelabuhan utama. Terlalu banyak mata-mata Adrian di sana."

Mereka turun dengan kaki yang kram dan badan yang sakit semua, Arjuna hampir jatuh tapi Sari tangkap. Pixel keluar terakhir sambil peluk laptopnya kayak bayi.

"Terima kasih Pak," kata Arjuna ke sopir.

Pria itu cuma ngangguk. "Bu Lastri minta aku sampaiin, dia doain kalian selamat. Dan bilang... bilang dia bangga kenal kalian."

Truk pergi sebelum mereka sempet jawab, meninggalkan mereka bertiga di pelabuhan sepi yang cuma diterangi lampu redup.

"Sekarang kita cari Profesor Ratna gimana?" tanya Pixel sambil ngeliat sekelilingnya yang cuma ada gudang kosong dan kapal nelayan yang tua. "Kita bahkan gak tau dimana dia tinggal persis."

"Daerah nelayan," kata Sari sambil buka ponsel yang dia matiin selama perjalanan. "Rumah tanpa nomor. Tapi di kota sekecil ini, orang pasti kenal kalau ada pendatang baru."

"Berarti kita tanya orang lokal," Arjuna mulai jalan ke arah pemukiman yang terlihat dari kejauhan. Rumah-rumah kayu sederhana di tepi pantai.

Mereka jalan hampir sejam sebelum nemu warung kecil yang masih buka. Lampu minyak di dalem. Ada pria tua duduk sambil ngopi sendirian.

"Permisi Pak," Arjuna masuk. "Kami nyari seseorang. Wanita paruh baya, pake kacamata, mungkin tinggal sendirian."

Pria tua itu natap mereka curiga. "Ngapain cari dia?"

"Dia teman keluarga kami," bohong Sari dengan lancar. "Sudah lama gak ketemu. Dengar dia tinggal di sini."

"Ibu Ratna maksud kalian?" pria itu akhirnya bilang. "Wanita yang sering beli ikan di pasar?"

Jantung Arjuna berdetak lebih cepat. "Iya. Apa Bapak tau dimana rumahnya?"

Pria itu natap mereka lama. Terlalu lama. Lalu dia nunjuk ke arah pantai, "Jalan terus sampai ujung. Rumah terakhir dengan atap biru. Tapi kalian datang jam segini? Dia sudah tidur pasti."

"Gak apa-apa," kata Pixel. "Urusan penting."

Mereka keluar. Jalan ngikutin arah yang pria itu kash tau. Pantai di kanan mereka dengan ombak yang bergemuruh pelan. Angin laut yang dingin dan bau garam.

Rumah terakhir dengan atap biru.

Kecil. Sangat kecil. Kayu yang udah lapuk. Jendela dengan kain sarung sebagai tirai. Tapi ada lampu minyak yang nyala di dalem.

"Dia masih bangun," bisik Sari.

Arjuna naik tangga kayu yang berderit. Ketuk pintu tiga kali. Pelan.

Gak ada jawaban.

Ketuk lagi. Lebih keras.

"Siapa?" suara wanita dari dalem. Waspada.

"Kami... kami dikirim Bu Lastri," kata Arjuna. Gak tau harus bilang apa lagi. "Kami butuh bantuan."

Hening. Lalu suara kunci dibuka. Pintu terbuka sedikit. Mata yang tajam ngintip dari celah.

"Bu Lastri? Lastri siapa?"

"Lastri yang dulu jadi murid Ibu," jawab Sari. "Di Universitas Indonesia. Kelas kriptografi tahun 2001."

Mata itu melebar. Pintu terbuka lebih lebar.

Wanita di dalem persis kayak di foto. Tapi lebih tua. Lebih kurus. Rambut lebih putih. Tapi matanya sama. Mata yang cerdas. Yang udah lihat terlalu banyak.

"Masuk," katanya. "Cepat sebelum ada yang lihat."

Mereka masuk. Rumah dalamnya lebih kecil lagi dari yang keliatan. Satu ruangan yang jadi ruang tamu, dapur, kamar tidur semuanya. Kasur lipat di pojok. Kompor minyak kecil. Meja dengan buku-buku yang udah kuning.

Profesor Ratna tutup pintu. Kunci dua kali. Lalu dia berbalik natap mereka.

"Kalian diburu," katanya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.

"Iya," jawab Arjuna.

"Oleh Adrian Mahendra."

"Iya."

Ratna mengangguk pelan. Lalu dia duduk di kursi kayu yang retak. "Aku sudah tau ini akan terjadi suatu hari. Sudah tau anak-anak muda akan datang, membawa mimpi untuk jatuhkan dia, dan berakhir mati."

"Kami gak akan mati," kata Arjuna keras.

"Semua bilang begitu," Ratna tersenyum sedih. "Dan semua akhirnya mati. Adrian bukan manusia biasa. Dia monster yang belajar jadi manusia. Dan monster selalu menang melawan manusia."

"Tapi Ibu masih hidup," kata Sari. "Ibu kabur dari dia. Ibu bertahan."

"Bertahan bukan menang, anak muda," koreksi Ratna. "Bertahan cuma... cuma menunda kekalahan. Aku hidup di rumah bobrok ini. Tanpa keluarga. Tanpa teman. Tanpa masa depan. Apa ini kalian sebut hidup?"

"Tapi Ibu bebas," kata Pixel.

"Bebas," Ratna ketawa. Ketawa yang terdengar pahit. "Aku gak bebas. Aku penjara di rumahku sendiri. Gak berani keluar terlalu lama. Gak berani punya hubungan dengan siapapun. Karena semua yang dekat denganku akan jadi target Adrian."

"Tapi Ibu tau cara jatuhkan dia," kata Arjuna. "Ibu tau kelemahannya. Itu kenapa dia takut sama Ibu."

Ratna natap Arjuna lama. "Siapa yang bilang dia takut sama aku?"

"Data yang kami dapat," Sari buka laptop Pixel yang baterainya tinggal sepuluh persen. Tunjukin file tentang Ratna. "Dia kategoriin Ibu sebagai ancaman ekstrim. Dia udah cari Ibu sepuluh tahun."

Ratna membaca file itu dengan mata yang makin melebar. "Ancaman ekstrim," bisiknya. "Dia masih anggap aku ancaman setelah semua tahun ini."

"Karena Ibu kenal dia sebelum dia jadi monster," kata Sari. "Ibu tau siapa dia sebenarnya."

Ratna diam lama. Lalu dia berdiri. Jalan ke jendela. Natap laut yang gelap.

"Adrian dulu bukan monster," katanya pelan. "Dulu dia anak muda yang idealis. Yang mau ubah dunia jadi lebih baik. Yang cinta ibunya lebih dari apapun."

"Ibunya?" Arjuna mendekat.

"Ibu Adrian adalah wanita yang baik," lanjut Ratna. Suaranya bergetar sekarang. "Dia pekerja sosial. Bantu orang miskin. Bantu korban perdagangan manusia. Dan karena itulah... karena itulah dia dibunuh."

Hening.

"Dibunuh oleh siapa?" tanya Sari pelan.

"Oleh mafia yang dia ekspos," jawab Ratna. "Mafia perdagangan manusia yang sekarang jadi bagian dari kerajaan Adrian. Mereka bunuh ibunya di depan matanya. Adrian umur tujuh belas tahun waktu itu. Masih sekolah. Masih polos. Dan dia lihat ibunya diperkosa. Disiksa. Dibunuh perlahan."

"Ya Tuhan..." bisik Pixel.

"Dia berubah setelah itu," Ratna berbalik. Matanya basah sekarang. "Jadi dingin. Jadi kejam. Dia bilang ke aku waktu itu, 'Ibu ku mati karena dia terlalu baik. Karena dia percaya dunia bisa diselamatkan. Aku gak akan buat kesalahan yang sama. Aku akan jadi yang paling kejam supaya gak ada yang bisa sakitin aku lagi'."

"Dan Ibu gak hentikan dia," kata Arjuna.

"Aku coba!" Ratna hampir berteriak. "Aku coba hentikan dia! Aku laporkan skema bisnis pertamanya yang ilegal. Aku kasih tau polisi. Tapi polisi udah di kantongnya. Dan dia... dia datang ke rumahku. Gak untuk bunuh aku. Tapi untuk bilang..."

Suaranya patah. Dia duduk lagi, kepala di tangan.

"Untuk bilang apa?" tanya Sari lembut.

"Untuk bilang 'Aku cinta Ibu, Bu Ratna. Tapi kalau Ibu terus ganggu aku, aku akan bunuh semua yang Ibu sayangi. Satu per satu. Sampai Ibu gak punya siapa-siapa lagi'," Ratna menangis sekarang. "Dan dia beneran lakuin. Dia bunuh suamiku. Bikin kayak kecelakaan mobil. Dia bunuh adikku. Bikin kayak bunuh diri. Sampai aku kabur. Sampai aku tinggalin semuanya dan sembunyi di sini."

Arjuna duduk di lantai di depan Ratna. "Aku tau gimana rasanya kehilangan orang yang disayangi. Ayahku baru aja... baru aja mungkin mati untuk selamatkan kami. Dan rasanya kayak ada lubang di dada yang gak akan pernah tertutup."

"Lubang itu gak akan pernah tertutup," bisik Ratna. "Tapi kau bisa isi dengan sesuatu yang lain. Dengan tujuan. Dengan balas dendam. Dengan... dengan cinta untuk orang yang masih hidup."

Dia natap Sari dan Arjuna yang duduk berdampingan. "Kalian berdua cinta satu sama lain."

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Sari dan Arjuna saling menatap. Lalu ngangguk.

"Bagus," kata Ratna. "Jaga itu. Jaga cinta kalian. Karena di dunia yang penuh kebencian ini, cinta adalah satu-satunya yang bikin kita tetap manusia."

"Ibu," kata Pixel. "Kami punya data terenkripsi. Data yang mungkin bisa jatuhkan Adrian. Tapi kami cuma bisa salah satu kali lagi sebelum data terhapus permanen. Kami butuh... kami butuh bantuan Ibu."

Ratna natap laptop yang Pixel taro di meja. "Enkripsi macam apa?"

"Enkripsi yang kami gak bisa crack," jawab Pixel sambil buka laptop. Layarnya retak tapi masih nyala. "Enkripsi yang kayaknya dibuat oleh seseorang yang tau Ibu. Seseorang yang... yang mungkin dulu belajar dari Ibu."

"Hendrawan," bisik Ratna. "Hendrawan Surya."

"Ibu kenal ayahku?" Arjuna berdiri cepat.

"Kenal," jawab Ratna. "Dia datang ke sini lima tahun lalu. Minta aku ajarin dia bikin enkripsi yang gak bisa dibuka siapapun kecuali orang yang tau kunci spesifik. Enkripsi yang bahkan Adrian dengan semua hackernya gak bisa crack."

"Dan Ibu ajarin dia."

"Iya. Karena dia bilang dia punya data penting. Data yang harus dilindungi sampai waktu yang tepat. Sampai ada orang yang tepat untuk buka."

"Orang yang tepat?" Sari mendekat. "Siapa?"

Ratna natap dia. Natap lama. Lalu dia tersenyum. "Kau."

"Aku?" Sari mundur. "Tapi aku... aku gak tau apa-apa tentang kriptografi. Aku cuma... cuma hacker pemula."

"Bukan karena skill mu," kata Ratna. "Tapi karena siapa kau. Hendrawan bilang waktu itu, 'Kalau anak perempuan Adrian yang buka data ini, itu artinya dia udah siap. Siap untuk tau kebenaran. Siap untuk jatuhkan ayahnya sendiri'."

Hening total.

"Anak perempuan Adrian," ulang Pixel. "Berarti password nya..."

"Tanggal lahir Sari," kata Ratna. "15 Agustus 2003. Atau dalam format angka: 15082003."

Pixel langsung ngetik. Tangan gemetar.

1-5-0-8-2-0-0-3

Dia natap Sari sebelum tekan enter. "Kau yakin?"

Sari ngangguk. Mata udah berkaca-kaca.

Pixel tekan enter.

Layar berkedip. Loading. Loading. Loading.

Lalu muncul tulisan: "ENKRIPSI TERBUKA. SELAMAT DATANG, SARI."

"Berhasil," bisik Pixel. "Kita... kita berhasil."

File-file mulai muncul. Ratusan. Ribuan. Video. Audio. Dokumen. Foto. Semua tentang Adrian. Semua rahasia tergelapnya.

Tapi ada satu file yang paling besar. File video dengan judul: "UNTUK SARI, DARI HENDRAWAN SURYA."

"Buka," kata Sari. Suaranya nyaris gak kedengaran.

Pixel double klik.

Video terbuka. Layarnya nunjukin Hendrawan. Duduk di kursi kayu di Desa Lembah Kabut. Rambutnya lebih putih dari terakhir kali Arjuna lihat. Wajahnya lebih kurus. Tapi matanya masih sama. Mata yang lembut.

"Sari," suara Hendrawan dari speaker laptop. "Kalau kau nonton ini, berarti aku sudah mati. Atau setidaknya sudah tidak bisa ada di sampingmu lagi."

Sari menutup mulutnya. Nangis.

"Aku minta maaf," lanjut Hendrawan. Dia tersenyum sedih. "Maaf karena aku tidak sempat jadi ayah yang benar untukmu. Maaf karena aku tidak bisa selamatkan ibumu dulu. Maaf karena aku terlalu pengecut untuk hadapi Adrian lebih awal."

Video terpotong sebentar. Lalu lanjut.

"Tapi ada satu hal yang tidak pernah aku sesali. Dan itu adalah mengajarmu. Melihatmu tumbuh. Melihatmu jadi wanita kuat yang bisa berdiri sendiri meski dunia mencoba hancurkan kamu."

Hendrawan ngelap matanya yang mulai basah.

"Di data ini ada semua yang kau butuhkan untuk jatuhkan Adrian. Semua bukti. Semua nama. Semua rekaman. Tapi ingat satu hal, Sari. Jatuhkan dia bukan untuk balas dendam. Tapi untuk selamatkan orang lain. Untuk kasih mereka kesempatan hidup yang ibumu tidak punya. Yang ribuan korban Adrian tidak punya."

Dia tersenyum lagi. Kali ini senyum yang lebih tulus.

"Arjuna," dia bilang. Arjuna tersentak. "Aku tau kau ada di sana. Aku tau kau jaga Sari. Terima kasih, anakku. Terima kasih sudah jadi lebih berani dari ayahmu. Lebih baik dari ayahmu."

"Ayah..." bisik Arjuna sambil nangis juga sekarang.

"Kalian berdua," Hendrawan natap kamera. "Kalian sudah jadi keluarga. Sudah jadi satu. Jaga satu sama lain. Cintai satu sama lain. Dan hidup. Hidup untuk semua yang tidak bisa hidup lagi."

Video berakhir.

Layar jadi hitam.

Hening di rumah kecil itu. Cuma suara ombak di luar dan tangisan mereka bertiga.

Ratna berdiri. Jalan ke dapur kecilnya. Balik dengan tiga gelas air. "Minum. Kalian butuh ini."

Mereka minum dalam diam. Air yang dingin dan sedikit asin. Tapi terasa paling enak di dunia sekarang.

"Jadi sekarang kalian punya data," kata Ratna. "Sekarang apa yang akan kalian lakukan?"

"Kami akan upload," jawab Arjuna. "Upload semua ke internet. Biar dunia tau siapa Adrian sebenarnya."

"Dan The Protocol?" tanya Ratna. "Sistem AI yang akan lumpuhkan negara ini kalau Adrian terancam?"

"Ibu tau soal itu?" Pixel menatapnya kaget.

"Aku yang bantu Adrian desain prototipe awalnya," jawab Ratna. "Sebelum aku tau dia akan pakai untuk hal jahat. Dan percaya padaku, sistem itu nyata. Sistem itu berbahaya. Kalau kalian jatuhkan Adrian tanpa matikan The Protocol dulu, jutaan orang akan mati."

"Lalu kami harus gimana?" tanya Sari.

Ratna diam lama. Mikir. Lalu dia bilang sesuatu yang bikin mereka semua natap dengan gak percaya.

"Kalian harus infiltrasi server pusat Adrian. Harus hack The Protocol dari dalam. Matikan sistem sebelum kalian ekspos dia. Dan untuk itu..." dia natap mereka satu per satu. "Untuk itu kalian butuh aku."

"Ibu mau bantu kami?" Arjuna gak percaya.

"Aku sudah sembunyi sepuluh tahun," jawab Ratna. "Sepuluh tahun jadi pengecut. Sekarang waktunya untuk tebus semua kesalahan ku. Waktunya untuk akhirnya hentikan monster yang aku bantu ciptakan."

Dia hulurkan tangan. "Jadi? Kalian mau ajak aku atau tidak?"

Sari pegang tangannya duluan. "Kami mau. Kami sangat mau."

Pixel ikutan pegang. "Dengan Ibu, kesempatan kami menang naik dari nol koma satu persen jadi... mungkin lima persen."

"Optimis sekali kau," kata Ratna sambil senyum.

"Aku realis," koreksi Pixel.

Arjuna pegang tangan mereka semua. "Lima persen lebih baik dari nol. Ayo kita bikin lima persen itu jadi seratus."

Mereka berdiri dalam lingkaran. Empat orang yang gak seharusnya bersama. Bocah desa. Anak yang dibuang. Hacker jalanan. Dan profesor tua yang sembunyi dari masa lalu.

Tapi sekarang mereka satu.

Satu keluarga.

Satu tim.

Satu harapan terakhir untuk jatuhkan monster bernama Adrian Mahendra.

"Besok kita rencanakan," kata Ratna. "Sekarang tidur. Kalian semua kelihatan mau pingsan."

Mereka tidur di lantai rumah kecil itu. Dengan selimut tipis. Dengan bantal dari baju yang dilipat.

Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu lama, mereka tidur dengan tenang.

Karena sekarang mereka punya sesuatu yang belum pernah mereka punya sebelumnya.

Mereka punya rencana.

Dan mungkin, hanya mungkin, mereka punya kesempatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!