Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
Kabar itu datang seperti angin dingin yang menyelinap di balik pintu.
Tidak berisik. Tidak diumumkan.
Namun cukup untuk membuat seluruh kastil Ravens berdenyut dengan kegembiraan yang ditahan-tahan.
"Yang Mulia Duke telah kembali ke kediaman."
Kalimat itu saja sudah cukup membuat para pelayan berbisik di setiap sudut kastil.
Namun bisikan itu berubah nada ketika kabar berikutnya menyusul, lebih pelan, lebih menggoda.
"Dan malam ini Duke akan mengunjungi kamar Nyonya Duchess."
"Benarkah!"
"Ini kabar menggembirakan. Akhirnya Duke akan menghabiskan malam dengan Duchess juga."
Liora mendengarnya bukan dari satu orang, tapi banyak. Bahkan tanpa berkata sekali pun, gestur mereka sudah mengatakan betapa antusiasnya mereka tentang malam ini.
Liora mendengar kabar itu bahkan dari cara para pelayan berjalan lebih cepat.
Dari senyum yang terlalu cerah saat menyuguhkan teh untuk Liora.
Dari tatapan penuh makna yang buru-buru dialihkan ketika mata mereka bertemu dengannya.
Seolah-olah sebuah kisah romansa akan dipentaskan malam ini, dan mereka semua adalah penonton yang tak sabar.
Lucu.
Sangat lucu.
Tapi tidak lucu untuk Liora.
Karena bagi Liora, kabar itu terasa seperti petir yang menyambar tepat di atas kepalanya, tanpa peringatan, tanpa waktu untuk berlindung.
"Haah!"
Liora menjatuhkan tubuhnya ke kursi goyang di dekat jendela, tangan menepuk dada sendiri.
"Kenapa sekarang?! Padahal aku sudah menikmati hari tenang tanpa dia." Suara Liora tidak keras, tapi cukup penuh emosi.
Satu minggu.
Selama satu minggu penuh, ia hidup dengan tenang.
Tanpa hinaan. Tanpa tatapan jijik. Tanpa desas-desus yang dibisikkan tepat di belakang punggungnya.
Liora sudah hampir lupa bagaimana rasanya ... menunggu penghinaan datang. Karena di kediaman Duke semua orang tidak ada yang berani menghina Liora walau sepatah kata saja.
Dan sekarang ...
Tiba-tiba setelah mengabaikan Liora di hari pernikahan dan setelahnya, kini Duke Alaric Ravens akan datang ke kamarnya malam ini.
Jangan bercanda!
Semua orang tahu apa artinya.
Bahkan Liora yang jika dia bodoh sekalipun tidak bisa berpura-pura tidak mengerti.
Duke datang ke kamar Duchess di malam hari tentu saja Itu karena kewajiban suami istri yang harus dilaksanakan.
"Tidak. Tidak. Tidak," gumam Liora sambil mengacak rambut sendiri. "Ini tidak masuk akal."
Kenapa tiba-tiba?
Kenapa sekarang?
Bukankah Duke itu yang meninggalkan Liora di hari pernikahan?
Bukankah dia yang mengabaikan malam pertama mereka?
Bukankah dunia sudah sepakat bahwa Duke Ravens tidak menginginkan Liora di perempuan gendut?
Liora menatap pantulan dirinya di kaca jendela.
Tubuh berisi. Pipi bulat. Lengan yang tidak ramping.
Sosok yang selama bertahun-tahun dijadikan bahan ejekan bahkan oleh keluarganya sendiri.
"Tidak mungkin," kata Liora pelan tapi tegas. "Tidak mungkin dia datang karena menginginkanku."
Pintu kamar diketuk pelan.
"Masuk," ucap Liora yang langsung mengentikan ocehannya.
Seorang gadis muda masuk dengan langkah ringan, membawa baki teh hangat dan senyum yang terlalu cerah untuk hari yang terlalu menegangkan.
"Sore, Nyonya Duchess," sapanya riang. 'Teh chamomile kesukaan Anda."
"Sasa," desah Liora. "Kau kelihatan terlalu bahagia."
Sasa terkikik kecil. Rambut cokelatnya yang dikepang bergoyang ringan.
"Apa saya tidak boleh bahagia, Nyonya?" mata Sasa yang jelas sedang menggoda Nyonya-nya ini.
"Kau tahu kabarnya," Liora menatapnya datar.
"Tentu!" Sasa meletakkan baki dan bertepuk tangan kecil. "Seluruh kastil tahu! Rasanya seperti menonton kisah cinta secara langsung!"
Liora memijat pelipisnya. "Ah, Tuhan. Ini benar-benar seperti vonis mati rasanya. Ini bukan kisah cinta. Dengar itu, Sasa."
"Belum," sanggah Sasa cepat. "Tapi bisa jadi."
Liora menatapnya tajam, bukan dengan niat mengancam, tapi cukup untuk membuat Sasa terdiam sejenak.
"Tidak mungkin sekali," ujar Liora. "Duke tidak tertarik pada perempuan sepertiku."
Sasa memiringkan kepala. "Perempuan seperti apa, Nyonya?"
"Gendut," jawab Liora tanpa ragu. "Sepertiku."
Sasa terdiam satu detik. Lalu, ia tersenyum lebar.
"Memangnya kenapa kalau tubuh Nyonya berisi?" tanya Sasa.
Liora menghela napas. "Kau masih muda, Sasa. Dunia tidak sebaik itu."
Sasa justru mendekat dan duduk di bangku kecil di depan Liora, matanya berbinar penuh semangat.
"Ibuku dari dulu juga gadis gemuk, Nyonya," katanya ceria. "Ayahku cinta mati padanya."
Liora tertegun. "Benarkah?"
"Iya!" Sasa mengangguk cepat. "Ayah bilang, ibuku cantik dan paling nyaman dipeluk. Sampai sekarang pun begitu."
Ada sesuatu yang menghangat di dada Liora mendengar celotehan pelayan pribadinya ini.
Liora tertawa kecil, jujur, tanpa beban.
"Kau ini benar-benar tahu bagaimana membuat orang lain tenang," kata Liora.
Sasa ikut tertawa. "Lihat? Tidak ada yang aneh dengan tubuh Nyonya. Ayah bilang semua perempuan itu cantik."
Tawa itu perlahan mereda.
Namun pikiran Liora kembali tertarik pada satu hal yang terus menghantui.
Malam ini.
Ketika Sasa bangkit untuk merapikan tirai, Liora bersandar kembali ke kursi goyang. Gerakannya pelan, ritmis, seperti mencoba menenangkan jantungnya sendiri.
"Apa yang harus kulakukan," gumam Liora. Ia tidak takut pada Duke sebagai pria.
Yang ia takutkan adalah pengulangan luka lama. Penghinaan yang Liora benci.
Tatapan jijik. Keheningan yang menghina.
Atau lebih buruk, kewajiban yang dilakukan tanpa keinginan seperti nanti malam.
Tidak.
Ia tidak ingin itu.
Mata Liora menyipit perlahan.
Sebuah ide muncul.
Bukan ide yang cemerlang.
Namun cukup masuk akal untuk membuat Duke tidak datang malam ini.
Ia menegakkan tubuh.
"Sasa?" panggil Liora.
"Ya, Nyonya?"
"Bagaimana jika seorang Duchess tidak enak badan?" tanya Liora penuh senyum.
Sasa berkedip. "Maksud Nyonya?"
"Pusing berat. Mual. Lemas," Liora menghitung dengan jari. "Dokter dipanggil. Istirahat total."
Sasa menutup mulutnya, menahan tawa. "Nyonya ingin berpura-pura sakit?"
"Bukan berpura-pura," bantah Liora. "Aku bisa membuatnya terlihat nyata."
Sasa tertawa kecil. "Itu bisa berhasil ... mungkin."
Liora mengalihkan pandangan ke jendela, menatap langit senja yang mulai gelap.
"Kalau tidak berhasil," kata Liora pelan, "aku akan mengunci pintu. Atau berpura-pura tertidur lebih awal. Atau-"
"Atau mengajak Tuan Rowan tidur di kamar Nyonya?" potong Sasa polos.
Liora membeku. "... itu ide yang buruk. Orang tua Rowan tentu tidak mengizinkan."
"Tapi efektif," Sasa mengangkat bahu. "Tidak ada Duke yang akan masuk ke kamar istrinya kalau ada anak kecil di dalam."
Liora terdiam lama.
Ide itu terlalu masuk akal.
Liora menghela napas panjang.
"Baik," kata Liora akhirnya. "Kita siapkan semuanya. Kalau Duke benar-benar datang aku tidak akan menghadapinya malam ini."
Sasa mengangguk, setengah bersemangat, setengah cemas.
"Kalau begitu semoga rencana Nyonya berhasil," kata Sasa.
Liora menatap ke luar jendela sekali lagi.
Ia tidak tahu.
Entah kenapa, ada firasat halus yang menggelitik dadanya.
Bahwa malam ini ... tidak akan berjalan sesuai rencana siapa pun.
btw kak ini pokoknya Alaric sama Liora harus punya Rowan versi sachet yaa, kalo engga aku marahh 😡😡
besok tunjukkan kecantikan dan kuasa mu Liora