NovelToon NovelToon
Kultivasi : Menilai Kecantikan, Meningkatkan Kekuatan

Kultivasi : Menilai Kecantikan, Meningkatkan Kekuatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Timur / Action / Fantasi Isekai / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)

Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.

Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.

Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.

Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29 : Lembah yang Terlalu Aman untuk Disebut Nyata.

[PoV Shen Yu]

Tiga hari.

Tiga hari berlalu sejak pertemuan dengan pemburu dan penampakan naga perak.

Tiga hari. Waktu yang cukup lama untuk menyadari dua hal. Pertama, pegunungan ini jelas tidak dirancang untuk bayi. Kedua, semesta punya selera humor yang konsisten buruk.

Kami sekarang berjalan di jalur pegunungan yang semakin tinggi dan terjal. Jalurnya sempit, penuh batu, dan kemiringannya seperti sengaja dirancang untuk menguji niat hidup seseorang. Angin dingin bertiup tanpa henti, seolah gunung ini tersinggung karena kami berani melewatinya.

Udara di sini tipis dan dingin, tapi memancarkan Qi yang murni dan segar, Qi gunung yang kuat dan stabil. Qi yang rasanya seperti berkata. Tenang saja, aku murni. Kamu yang lemah.

Setiap tarikan napas membuat paru-paru bayi ini bekerja keras, sementara kesadaranku yang dewasa hanya bisa mengomentari keadaan tanpa hak protes.

Lin Jie, meski masih lemah dari pertempuran, terus memimpin dengan pasti. Langkahnya mantap, sikapnya tenang, seperti orang yang sama sekali tidak nyaris mati beberapa hari lalu. Bahunya yang terluka kini hanya meninggalkan bekas luka perak samar.

“Tanda warisan, bukan cedera.”

Begitu katanya. Dan, dari caranya mengatakannya, jelas ia berharap semua orang langsung mengangguk kagum. Aku mengangguk juga, secara mental. Secara fisik, aku hanya bayi yang digendong.

“Tidak jauh lagi,” kata Lin Jie pagi ini, menunjuk ke celah sempit di antara dua tebing batu raksasa.

Dua dinding batu itu berdiri rapat, menjulang, menyisakan celah yang tampak lebih cocok untuk bayangan daripada manusia. Gelap, sempit, dan jelas tidak terlihat seperti jalan menurut definisi umum.

Yu Yan, yang kini tampak lebih kuat setelah beberapa hari perjalanan, mengerutkan kening. Reaksinya wajar. Rasional. Sehat secara mental.

“Tapi itu hanya celah batu. Tidak ada jalan.”

“Justru itulah yang membuatnya sempurna.”

Lin Jie tersenyum kecil.

Tentu saja. Perlindungan terbaik adalah yang membuat orang lain merasa bodoh karena mempertanyakan logika.

Lin Jie mendekati tebing dan meletakkan tangan di batu yang tampak sepenuhnya biasa. Tidak ada tanda ukiran. Tidak ada simbol dramatis. Hanya batu.

Lalu ia mulai menyanyikan sesuatu.

Bukan kata-kata. Bukan mantra yang bisa dicatat. Nada-nada aneh mengalir rendah, seperti seseorang yang lupa lirik tapi tetap percaya diri. Anehnya, batu itu mendengarkan.

Dan sesuatu yang ajaib terjadi.

Batu mulai bergetar. Halus. Terkendali. Retakan muncul, bukan retakan sembarangan, melainkan pola geometris yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Pintu batu terbentuk.

Baiklah. Aku akui. Ini cukup mengesankan.

“Masuk, cepat,” bisik Lin Jie.

Kami masuk satu per satu. Aku, masih digendong Ibu, menoleh ke belakang saat terakhir. Bukan karena firasat, hanya kebiasaan lama dari hidup sebelumnya: selalu cek pintu keluar.

Pintu batu itu menutup di belakang kami, menyatu kembali tanpa jejak.

Dan yang terbentang di depan ...

“Indah,” bisik Yu Yan.

Ia tidak berlebihan.

Lembah kecil terbuka di hadapan kami, mungkin hanya beberapa ratus meter lebarnya, tapi terasa lengkap dengan cara yang menjengkelkan seperti tempat persembunyian ideal yang jelas-jelas sudah dipersiapkan jauh sebelum kami lahir.

Di tengahnya, mata air jernih memancarkan cahaya biru lembut. Airnya tenang, Qi berputar perlahan di dalamnya, seolah tahu tidak perlu terburu-buru untuk siapa pun.

Rerumputan hijau tumbuh subur di sekelilingnya. Pohon-pohon buah berdiri sarat hasil, seakan dunia luar dengan segala kekacauannya tidak pernah ada.

Di ujung lembah, sebuah rumah kayu sederhana berdiri. Tidak besar. Tidak megah. Tapi asap yang mengepul dari cerobongnya memberi tahu satu hal penting: tempat ini berfungsi.

Namun melalui mata spiritualku, bagian terbaiknya terlihat.

Seluruh lembah ini dibungkus oleh selubung energi, Qi bumi, air, kayu, dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak berisik, tidak pamer, tapi jelas sangat tua.

“Formasi alam,” kata Ibu, suaranya penuh kekaguman. “Lembah ini dilindungi oleh formasi yang terbentuk secara alami, diperkuat oleh leluhur kita.”

Lin Jie mengangguk.

“Kakek menemukan tempat ini lima puluh tahun lalu. Menghabiskan sepuluh tahun memperkuat formasi perlindungannya. Di sini, aura kita tersembunyi. Bahkan penginderaan Qi tingkat tinggi tidak akan menemukan kita.”

Sepuluh tahun. Untuk satu tempat.

Efisien? Tidak.

Efektif? Jelas iya.

Kami berjalan menuju rumah kayu. Bagian dalamnya sederhana: dua kamar, dapur kecil, ruang utama dengan perapian. Tidak ada kemewahan, tidak ada simbol berlebihan, hanya tempat tinggal yang jujur.

Lin Jie meletakkan tasnya.

“Kita aman di sini,” katanya. “Untuk sementara.”

Aku membiarkan kelopak mata bayi ini turun sedikit.

Aman.

Kata yang menarik. Biasanya berarti, belum sekarang.

Namun, kini aku benci berada di tubuh bayi ini karena ketidakberdayaan yang menyebalkan membuatku menjadi orang yang hanya bisa menyaksikan.

Andai ini Beijing.

Aku biasa menghadapi para pembully.

1
^_^
tampar balik aja wajahnya (๑˃ᴗ˂)ﻭ
Aku Suka Plagi, Kamu Diam
aku nunggu adegan insectnya kk
Auzora Taraka Vesta
yang komentar Ironside semua /Sweat//Sweat//Sweat/
Auzora Taraka Vesta: Tapi bagus tuh...bang yoga jadi ada reader setia /Proud//Smile/
total 5 replies
Ironside
/Doge/
Ironside
owalah, kukira timeskip
Ironside
Gak sadar, udah lima tahun aja 🗿
Lin Mei: kecepatan kalo timeskip lima tahun, Pace slow-burn ini bg Leo 🗿
total 1 replies
Ironside
Tidak bisa dipungkiri, memakai antithesis itu enak /Chuckle/
Ironside: bentuk keren dari penolakan
total 2 replies
Ironside
👀
Ironside
Dongjua /Tongue/
Lin Mei: ahh iya typo njrr
total 1 replies
Ironside
Pengungkapannya kurang bagus menurutku, sebenarnya bisa tunjukkan lewat deduksi Malingseng aja 👀
Lin Mei: iyasih seharusnya MC yg ambil kesimpulan soal mata saktinya, tapi yg tahu soal seluk beluk dunia itu cmn si ibu 😭
total 1 replies
Ironside
Mana mesumnya? 🥀💔
Lin Mei: belum 🗿
total 1 replies
Ironside
Mirip-mirip nih novel Fantim Ucok, gak pakai dinkus.
Lin Mei: fantim emang aku ambil referensi dari Ucok, termasuk pecah bab juga
total 1 replies
Ironside
kyknya ini lupa tanda petik
Lin Mei: jirr iyaa 🗿
total 1 replies
Ironside
Chapter ini mengingatkanku dengan satu karakter wanita berambut pink itu /Chuckle/
Lin Mei: hentikaaaan bg Leo /Curse/
total 1 replies
Ironside
Kebiasaan malingseng dengan elipsisnya
Lin Mei: aowkaowkaok hampir setiap dialog, bahkan narasi pun /Facepalm/
total 1 replies
Ironside
Yey ... susu itu kembali
@Xiao Han (GG) ୧⍤⃝🍌 : SUSU!!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!