Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: SIASAT TERAKHIR DAN RETAKAN DI BALAI DESA
Angin tenggara yang membawa hawa kering dari Benua Australia mulai bertiup lebih kencang, menggulung debu-debu Oetimu menjadi pusaran kecil yang menari di antara rumah-rumah warga. Namun, udara di desa itu kini tidak hanya membawa debu, tapi juga membawa aroma kecurigaan yang asing. Sesuatu yang lebih berbahaya daripada kekeringan mulai merayap masuk ke celah-celah pintu rumah warga—sebuah siasat yang tidak membutuhkan bor raksasa atau polisi, melainkan hanya membutuhkan bisikan dan lidah yang bercabang.
Jonatan merasakan perubahan itu saat ia berjalan menuju pasar desa pagi ini. Biasanya, ia akan disambut dengan sapaan hangat "Insinyur Air" atau tawaran kopi dari setiap teras yang ia lewati. Namun hari ini, beberapa warga memalingkan muka. Ada bisik-bisik yang mendadak berhenti saat ia melintas. Di dinding balai desa, sebuah selebaran kusam tertempel, isinya bukan soal teknis pompa, melainkan sebuah narasi yang memuakkan: “Siapa sebenarnya di balik Jonatan? Apakah air ini gratis, atau ada harga iman yang sedang ditukarkan?”
Tuan Markus, setelah kalah dalam perang fisik dan hukum, rupanya telah beralih ke senjata paling purba: adu domba. Ia mulai menyebarkan selentingan bahwa yayasan Jonatan didanai oleh pihak asing yang memiliki agenda tersembunyi untuk mengubah adat dan keyakinan leluhur Oetimu. Di tanah di mana agama dan tradisi adalah akar dari segala napas, serangan ini jauh lebih mematikan daripada semen yang menyumbat pipa.
“Jon, jangan lewat jalan bawah,” Matheus mencegatnya di dekat pohon asam, wajahnya tampak tegang. “Orang-orang di dusun seberang mulai terpengaruh. Mereka bilang, mesin buatanmu itu pakai tumbal tanah ulayat, dan dana dari Surabaya itu sebenarnya uang haram yang tujuannya mau bikin kita lupa pada gereja dan adat.”
Jonatan berhenti, botol air di tangannya terasa berat. “Siapa yang bilang begitu, Theus?”
“Siapa lagi kalau bukan antek-antek Markus? Mereka bagi-bagi sembako di dusun sana, tapi sambil bawa cerita kalau kau itu kaki tangan orang kota yang mau jual tanah kita lewat jalur air. Katanya, sebentar lagi koperasi kita akan minta sertifikat tanah warga sebagai jaminan utang air.”
Jonatan menarik napas panjang. Ia sudah terbiasa dengan ancaman fisik dan tekanan hukum, tapi difitnah di hadapan bangsanya sendiri adalah luka jenis baru yang sangat pedih. Ia melihat Pak Berto sedang duduk di balai-balai, dikelilingi oleh beberapa tetua desa yang wajahnya tampak ragu. Ketakutan akan kehilangan identitas seringkali lebih kuat daripada rasa haus.
“Bapa,” Jonatan mendekat, mencoba tetap tenang.
Salah satu tetua, Ambu Lolo, menatap Jonatan dengan mata yang keruh. “Jon, kami dengar kau bawa orang-orang dari kota untuk survei tanah di Nekmese kemarin. Benarkah mereka itu orang yang mau bangun rumah ibadah baru yang asing di atas mata air kita? Kami tidak ingin air ini dibayar dengan iman kami.”
“Ambu,” Jonatan berjongkok di depan orang tua itu. “Mereka itu teknisi, Ambu. Mereka datang untuk memastikan pipa kita tidak bocor. Tidak ada urusan dengan agama atau jual beli tanah. Air ini milik kita bersama, milik semua yang haus, tanpa tanya mereka sembahyang di mana.”
“Tapi uangnya, Jon? Uang dari Surabaya itu... kami dengar itu uang dari orang yang tidak suka pada cara hidup kami di sini,” sela warga lain, suaranya mengandung getaran ketidakpercayaan yang ditanam oleh Tuan Markus.
Retakan itu nyata. Tuan Markus sangat paham bahwa di NTT, ikatan batin yang paling kuat adalah adat dan keyakinan. Dengan menggoyang dua pilar itu, ia tidak perlu merusak pompa Jonatan; ia cukup membuat warga sendiri yang menghancurkannya.
Puncaknya terjadi malam itu. Di bawah sinar bulan yang tertutup awan tipis, sekelompok massa dari dusun seberang yang sudah terhasut mendatangi bengkel "Oetimu Mandiri". Mereka membawa obor dan teriakan-teriakan yang penuh ketakutan yang dibungkus amarah. Suasana yang tadinya harmonis kini terbelah. Di satu sisi, warga pendukung koperasi bersiap melindungi aset mereka, di sisi lain, saudara mereka sendiri datang dengan prasangka yang membakar.
“Bakar mesin pemecah belah! Kita kembali ke cara lama daripada tanah kita dikutuk!” teriak seorang pria yang wajahnya asing bagi Jonatan—mungkin orang bayaran dari kota yang menyamar menjadi warga lokal.
Matheus dan beberapa pemuda sudah bersiap dengan parang di depan bengkel. Satu percikan saja, maka Oetimu akan mandi darah saudaranya sendiri. Konteks "Perang Air" ini bisa divisualisasikan melalui sistem irigasi sederhana yang kini terancam oleh konflik sosial.
“Berhenti!”
Suara itu bukan datang dari Jonatan. Melainkan dari Bu Maria. Wanita tua itu keluar dari rumah dengan langkah yang gemetar, namun tangannya memegang sebuah wadah air dari tanah liat yang sudah retak.
“Kalian mau bakar apa?” Bu Maria berdiri di antara massa dan bengkel. “Kalian mau bakar alat yang sudah kasih kalian minum saat tenggorokan kalian kering sampai berdarah? Kalian bilang anak saya bawa kutuk? Kutuk apa yang membawa air jernih ke rumah janda-janda tua?”
Bu Maria menyiramkan air dari wadah itu ke tanah di depan massa. “Air ini tidak punya agama. Air ini tidak punya suku. Saat kalian haus, air tidak tanya kalian sembahyang di mana atau nenek moyang kalian siapa. Anak saya hampir mati di dalam sumur karena mau pastikan kalian tidak jadi peminta-mintai di tanah sendiri!”
Jonatan maju, berdiri di samping ibunya. Ia tidak membawa dokumen, tidak membawa kalkulator. Ia hanya membawa kejujuran yang telanjang.
“Tuan Markus ingin kita berkelahi,” suara Jonatan berat dan bergetar. “Dia ingin kita saling curiga supaya saat kita lemah, dia bisa datang lagi sebagai pahlawan dengan tangki-tangki airnya yang mahal. Jika kalian percaya air ini haram, silakan hancurkan mesin ini sekarang juga. Tapi besok pagi, saat anak-anak kalian menangis karena haus, jangan panggil nama saya. Panggillah Tuan Markus, dan siapkan tanah kalian untuk dia ambil sebagai bayarannya.”
Suasana mendadak sunyi. Obor-obor yang tadi diacungkan mulai diturunkan. Kebenaran yang keluar dari mulut seorang ibu yang tulus selalu punya cara untuk meruntuhkan tembok fitnah yang paling tebal sekalipun. Cahaya obor memantul di mata para warga yang mulai menyadari kebodohan mereka.
Satu per satu warga dari dusun seberang tertunduk. Pria asing yang tadi memprovokasi mencoba kabur, namun Matheus dengan sigap menangkapnya. Dari saku pria itu, jatuhlah amplop cokelat berisi uang dan selebaran fitnah yang sama dengan yang tertempel di balai desa.
“Ini bayaranmu untuk merusak desa kami?” Matheus mencengkeram kerah baju pria itu.
Massa yang tadi marah kini berubah menjadi malu. Mereka menyadari bahwa mereka nyaris saja membakar masa depan mereka sendiri demi uang receh dan cerita bohong. Ambu Lolo melangkah maju, memeluk Jonatan sambil menangis minta maaf. "Maafkan kami, Jon. Mata kami sempat tertutup debu."
Malam itu berakhir dengan haru. Warga yang sempat terpecah kembali duduk melingkar di depan bengkel. Mereka tidak lagi bicara soal agama atau suku, tapi bicara soal bagaimana menjaga sumur agar tidak ada lagi "ular" yang masuk dan menebar racun. Mereka menyadari bahwa air adalah pemersatu yang paling suci.
Jonatan duduk di sudut bengkel, menatap ibunya yang kini beristirahat di kursi bambu. Ia menyadari bahwa pertempuran terakhir Tuan Markus bukanlah serangan terhadap teknologi, melainkan serangan terhadap jiwa manusia. Dan ia hampir saja kalah jika bukan karena akar budaya dan cinta seorang ibu yang menjaganya.
“Sar,” Jonatan mengirim pesan pada Sarah yang sedang berjuang di jalur hukum di kota. “Siasat mereka gagal. Mereka coba adu domba kita dengan isu SARA, tapi warga kita lebih kuat dari yang mereka kira. Tapi kita harus waspada, ini adalah tanda bahwa mereka sudah sangat putus asa.”
Sarah membalas singkat: “Tetap tegak, Jon. Aku baru saja mendapatkan bukti transfer dari rekening Tuan Markus ke akun-akun provokator itu. Besok, aku akan bawa ini ke polisi. Kita tidak cuma akan memenangkan air, kita akan membersihkan Oetimu dari parasit itu selamanya.”
Bab 30 ditutup dengan Jonatan yang membasuh wajahnya dengan air dingin dari pompanya. Air itu terasa sangat segar, seolah-olah baru saja menyucikan desa dari fitnah yang kotor. Ia melihat ke arah rumah Tuan Markus di puncak bukit yang kini gelap gulita. Kekuasaan yang dibangun di atas perpecahan tidak akan pernah bisa bertahan lama.
“Fajar sebentar lagi tiba, Bapa,” bisik Jonatan pada Pak Berto yang berdiri di sampingnya.
“Iya, Jon. Dan kali ini, fajarnya tidak lagi membawa debu,” jawab Pak Berto sambil menatap tunas-tunas hijau yang tumbuh subur di ladang mereka.
Oetimu kini benar-benar mandiri. Bukan hanya mandiri air, tapi mandiri secara jiwa. Mereka telah melewati ujian terberat: ujian persaudaraan. Dan di tanah Timor yang keras ini, persaudaraan adalah mata air yang paling abadi.
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian