Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Semua kejanggalan itu membuat Jatisangkar cemas. Ia tak mengerti mengapa keadaan terasa serba terbalik dan tak masuk akal.
“Ayah… apa yang sebenarnya terjadi pada kami? Mengapa raga kami mengalami gejala aneh seperti ini? Apakah laku ini justru merusak tubuh kami? Atau… jangan-jangan sebentar lagi kami menjadi tak waras?” tanya Jatisangkar dengan nada sungguh-sungguh.
Ki Baraya tergelak panjang.
“Behahaha… Jati, anakku. Kau terlalu jauh berprasangka buruk.”
Tawanya mereda, digantikan sorot mata penuh kebanggaan. Lalu ki baraya melesat ringan ke bawah.
“Yang terjadi justru sebaliknya. Kalian telah berhasil membangkitkan energi murni dalam diri masing-masing. Meski wujudnya berbeda-beda, itu tanda keberhasilan. Dan Ayah berbangga… karena setiap kalian memiliki unsur yang unik.”
Ia menghela napas perlahan, lalu melanjutkan dengan suara lebih dalam.
“Jati. Angin sekencang apa pun tak mampu menggoyahkanmu. Kakimu bagai tertanam dalam bumi. Tanpa kau sadari, kau telah menyatu dengan tanah tempat kau berpijak. Energi yang bangkit dalam dirimu adalah unsur tanah. Bila terus kau latih, ia akan memadat… menjadi unsur besi. Unsurmu sama dengan unsur dalam diriku, Nak.”
Jatisangkar terdiam. Dadanya bergetar halus.
Ki Baraya lalu menoleh pada Laras.
“Laras. Saat matahari membakar, kau tak merasakan panas seperti yang lain. Seolah ada embun yang menaungi tubuhmu. Itu karena unsur air telah bangkit dalam jiwamu. Air yang tenang, dalam, dan lembut. Jika kau tekuni, ia akan berkembang menjadi unsur es… dingin, tajam, dan mematikan.”
Laras menelan ludah, masih merasakan sisa hawa sejuk yang aneh dalam tubuhnya.
Terakhir, Ki Baraya memandang Braja dengan sorot lebih tajam.
“Braja. Api dalam dirimu telah menyala. Bara itu kuat dan stabil. Namun Ayah melihat sesuatu yang lain… sesuatu yang belum sepenuhnya kau sadari.”
Braja mengangkat wajahnya perlahan.
“Di balik apimu… tersembunyi satu unsur lagi. Jika kelak kau mampu mengungkapkannya, kedua unsur itu akan menyatu. Dan energi yang lahir dari perpaduannya… akan sangat berbahaya.”
Angin sore berembus pelan.
Ketiganya kini tak lagi cemas.
Mereka tak rusak.
Mereka sedang ditempa.
Dan untuk pertama kalinya, mereka memahami… bahwa takdir masing-masing mulai memperlihatkan wujudnya.
Namun jauh di dalam hatinya, Jatisangkar masih merasa tak puas.
Tanah.
Baginya, tanah adalah sesuatu yang diinjak-injak. Sesuatu yang kotor di kaki para pendekar. Ia melirik Braja yang memancarkan hawa panas, lalu teringat Laras dengan dingin embunnya.
Api bisa membakar dan menghanguskan.
Air bisa membekukan dan menenggelamkan.
Tapi tanah?
“Ajian Lempung Semesta? Ajian Bajak Sawah? Atau Ajian Batu Bata? Horeee…” gerutunya dalam hati dengan wajah masam.
Ia mendesah keras.
“Ayah, apakah kita sudah selesai? Kalau sudah, bukalah totokan ini. Aku sudah bosan tak bisa bergerak.”
Ki Baraya tersenyum tipis.
“Untuk apa terburu-buru, Jati? Kita belum sampai tahap pembuktian.”
Sorot matanya berubah tajam.
“Malam ini kalian akan menginap untuk yang terakhir kalinya di tempat ini. Akan ada satu ujian lagi. Ujian itu bukan dari Ayah… bukan dari alam… melainkan dari diri kalian sendiri. Jika kalian lolos, maka kalian sah menyandang gelar pendekar.”
Jatisangkar mengerutkan kening.
“Ujian apalagi, Yah? Ayah belum puas menyiksa kami?”
Ki Baraya tertawa kecil.
“Kira-kira begitulah, Jatisangkar… anakku yang paling barokokok.”
“Barokokok?” Jatisangkar mendengus. “Ayah mengejekku?”
“Bukan mengejek,” jawab Ki Baraya santai. “Tanah memang tampak hina karena diinjak. Tapi justru karena itulah ia paling sabar. Ia menahan segalanya. Air meresap ke dalamnya. Api padam di atasnya. Angin tak mampu membawanya pergi.”
Ia melangkah mendekat, suaranya merendah.
“Tanah yang kau remehkan itu… bila murka, menjadi gempa. Menjadi longsor. Menjadi gunung yang meletus dan menelan segalanya.”
Jatisangkar terdiam.
Ki Baraya menatapnya lurus.
“Unsur tanah bukan untuk pamer. Ia bukan untuk memamerkan kilat atau bara. Ia untuk bertahan… sampai lawan lelah dan runtuh sendiri.”
Sunyi sejenak menyelimuti mereka.
“Huh…” Jatisangkar mendengus, tapi kali ini tanpa bantahan.
Di dalam dadanya, sesuatu terasa lebih berat.
Lebih padat.
Dan entah mengapa… lebih kokoh.
Malam terakhir akan segera tiba.
Dan ujian yang menanti… bukan sekadar menahan panas, dingin, atau angin.
Melainkan menaklukkan diri mereka sendiri.
“Ingat baik-baik kata Ayah ini,” ujar Ki Baraya dengan suara dalam dan mantap. “Musuh yang paling berat bukanlah lawan di medan laga… melainkan diri kita sendiri. Jika kalian mampu menaklukkannya dan malam ini tidak tertidur, maka kalian telah lolos.”
Laras dan Braja saling berpandangan. Mereka mengerti arah perkataan itu.
Namun Jatisangkar masih mengernyit.
“Apa maksud Ayah? Bagaimana caranya melawan diri sendiri? Apa kita harus mencakar tubuh kita? Atau menerjunkan diri ke jurang untuk membuktikan keberanian?” sahutnya polos.
Laras mendesah kecil.
“Kadang kau pintar, kadang benar-benar bloon, Kakang. Maksud Ayah itu… nafsu kita. Amarah, iri, sombong. Kita harus melawan sifat buruk dalam diri sendiri.”
“Sok tua kau, Laras!” balas Jatisangkar tersinggung. “Ayah, hukumlah dia! Ia telah menghinaku!”
“Baiklah,” ucap Ki Baraya tenang.
Ia berkelebat mendekat, lalu tiba-tiba menggelitiki pinggang Laras.
“Eh—eh—Ayah! Geli! Hihihi… berhenti…!” Laras meringis sambil tertawa tak tertahan.
Jatisangkar melongo, lalu wajahnya berubah kesal.
“Hukuman macam apa itu, Yah? Masa cuma dikelitiki? Tak sekalian saja diberi makan ayam!” ketusnya.
Ki Baraya menghentikan usilnya dan menatap Jatisangkar dengan senyum samar.
“Laras tidak pantas dihukum. Ia benar. Ayah hanya memberinya peringatan kecil karena telah meledekmu.”
Ia lalu berdiri tegak, suaranya kembali serius.
“Resapi kata-kata adikmu itu, Jati. Setiap manusia memiliki sifat buruk. Iri hati. Kemarahan. Kesombongan. Ketakutan. Jika seseorang mampu menundukkan semua itu… maka ia telah menjadi manusia yang sesungguhnya.”
Angin malam mulai berembus pelan.
“Unsur tanah dalam dirimu akan kuat jika kau mampu meredam gejolak hatimu. Tanah tak pernah iri pada api yang menyala. Ia tak cemburu pada air yang mengalir. Ia diam… tapi menopang semuanya.”
Jatisangkar terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tak membalas.
Di dalam dadanya, ada sesuatu yang terasa lebih berat dari biasanya.