Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Aroma yang Tertinggal
Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi dunia Maya untuk kembali jungkir balik.
Para pekerja bangunan sudah mulai sibuk di area samping, suara palu yang menghantam beton menciptakan irama yang memekakkan telinga. Maya berdiri di sudut ruang tengah, masih terbungkus jaket windbreaker milik Arlan. Ia mencoba fokus pada catatan di ponselnya, tapi pikirannya masih tertinggal di pelukan Arlan tadi.
Pelukan yang terasa seperti pulang, sekaligus seperti jatuh ke jurang.
Bruk!
Pintu depan terbuka dengan kasar. Suara sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai kayu terdengar seperti dentang lonceng kematian.
"Lan? Kamu di dalam?"
Itu suara Sandra.
Maya membeku. Ia ingin melepas jaket itu, tapi sudah terlambat. Sandra sudah muncul di ambang pintu dengan setelan formal berwarna merah menyala yang tampak sangat kontras dengan debu di ruangan ini. Di belakangnya, Arlan berjalan dengan wajah yang sudah kembali "disemen"—datar, dingin, dan tak terbaca.
Pandangan Sandra langsung jatuh pada Maya. Lebih tepatnya, pada jaket kebesaran yang dipakai Maya.
"Oh... ada Maya juga di sini?" Sandra tersenyum, tapi matanya menyipit, menatap logo di dada jaket itu. "Lan, bukannya itu jaket yang aku kasih waktu ulang tahunmu tahun lalu? Kok bisa ada di dia?"
Suasana mendadak menjadi sangat tipis. Maya bisa merasakan perutnya mulas. Ia menoleh pada Arlan, berharap pria itu akan membantunya.
Arlan tidak berkedip. Dia justru menyesap kopinya dengan tenang sebelum menjawab. "Dia basah kuyup karena jendela tadi terbuka. Saya nggak mau jadwal proyek berantakan cuma karena desainer-nya masuk angin. Itu aset perusahaan, Sandra. Bukan masalah personal."
Jawaban yang sangat logis. Sangat profesional. Dan sangat menyakitkan bagi Maya.
Sandra tertawa kecil, meskipun tawanya terdengar kering. Ia berjalan mendekati Maya, lalu tanpa permisi, ia menyentuh kerah jaket yang dipakai Maya. "Hati-hati ya, Maya. Arlan itu orangnya sangat menghargai barang miliknya. Dia nggak suka kalau barangnya dipakai orang lain terlalu lama. Ya kan, Sayang?"
Sandra menoleh pada Arlan dengan tatapan manja. Maya merasa ingin muntah mendengar panggilan 'Sayang' itu.
"Balikin aja kalau sudah kering, May," lanjut Sandra sambil menepuk bahu Maya—sebuah tepukan yang lebih terasa seperti peringatan. "Lan, aku ke sini mau ajak kamu makan siang bareng klien di pusat kota. Kamu belum lupa, kan?"
"Saya ingat," sahut Arlan singkat. Dia melirik Maya sekilas. "Maya, pastikan area dapur sudah bersih dari puing sebelum jam dua. Saya akan periksa nanti sore."
Tanpa menunggu jawaban Maya, Arlan berbalik. Sandra segera menyambar lengan Arlan, menggandengnya dengan erat seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya. Mereka berjalan keluar, meninggalkan aroma parfum mahal Sandra yang menusuk hidung, menimpa aroma kayu cendana milik Arlan yang tadi sempat membuat Maya tenang.
Maya menyandarkan punggungnya ke dinding pilar. Ia melepas jaket itu dengan tangan gemetar. Ia membencinya. Ia membenci betapa mudahnya Arlan membuangnya kembali ke kotak "profesionalisme" setelah apa yang terjadi di bawah hujan tadi.
"Aset perusahaan, ya?" bisik Maya sinis pada dirinya sendiri.
Ia melempar jaket itu ke atas kursi tua. Namun, saat jaket itu mendarat, sebuah benda kecil terjatuh dari sakunya.
Maya membungkuk dan memungutnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Itu adalah sebuah foto lama yang sudah sangat lecek di bagian pinggirnya. Foto photobox yang diambil di sebuah mall tua di Bandung. Di sana, Maya sedang tertawa lebar dengan hidung yang dicolek es krim oleh Arlan. Di belakang foto itu ada tulisan tangan yang mulai pudar:
"Jangan pernah jadi asing, ya? - A"
Air mata Maya hampir jatuh lagi. Arlan menyimpan foto ini di saku jaket yang selalu dia bawa? Jaket yang katanya pemberian Sandra?
"Kamu pembohong besar, Arlan Dirgantara," ucap Maya pelan.
Tiba-tiba, ponsel Maya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal.
“Jangan terlalu percaya pada apa yang kamu lihat tadi. Arlan hanya sedang berusaha melindungi dirinya sendiri dari kamu. Tapi ingat, Maya, aku tahu kenapa kamu pergi lima tahun lalu. Dan kalau kamu nggak menjauh dari Arlan sekarang, aku pastikan dia juga akan tahu.”
Darah Maya mendadak terasa dingin. Siapa yang mengirim ini? Sandra? Atau seseorang dari masa lalu yang mengetahui rahasia gelap yang selama ini ia simpan rapat-rapat?
Maya melihat ke arah pintu yang terbuka. Di luar, langit kembali mendung. Ia menyadari bahwa proyek renovasi rumah ini bukan hanya tentang memperbaiki bangunan yang rusak, tapi tentang membongkar rahasia yang mungkin seharusnya tetap terkubur di bawah lantai kayu yang rapuh ini.