Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.
Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.
Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.
Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.
Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Setiap pulang sekolah, Alice selalu menyempatkan diri mengunjungi anak-anak jalanan yang menjadi teman dekatnya. Itu sudah menjadi rutinitasnya—membantu mereka sebisa mungkin.
Hari ini, ia membawa dua kotak berisi buku pelajaran, permintaan yang sudah ia sampaikan pada papahnya pagi tadi. Alice ingin anak-anak itu merasakan sedikit dari kesempatan yang ia miliki: belajar, meski tanpa bangku sekolah.
“Al, ada apa dengan tanganmu?” tanya Rania. Sedari tadi matanya tertuju pada telapak tangan Alice.
Alice, yang sedang merapikan buku, spontan menghentikan gerakannya. Ia buru-buru menyembunyikan tangan itu.
“Tidak apa-apa,” jawabnya singkat.
Saat ini hanya ada Rania dan Alice. Anak-anak lain sudah pergi melanjutkan kegiatan mereka setelah belajar.
Rania, tak puas dengan jawaban itu, meraih tangan Alice.
“Oh, astaga…” matanya membelalak melihat luka bakar di telapak tangan sahabatnya itu.
“Siapa yang melakukan ini padamu, Al? Ini pasti sakit sekali.” Rania segera mengambil kotak P3K dan mulai mengobati lukanya.
“Tidak ada yang melakukannya. Aku hanya ceroboh… terjatuh,” elak Alice.
“Oh, ayolah. Aku tahu kau berbohong.” Rania mengerutkan dahi. “Katakan, siapa yang melakukannya?”
Alice menghela napas. “Rey dan yang lainnya.”
Sesuai dugaan Rania, rahangnya mengeras. “Mereka lagi. Mereka sudah keterlaluan!”
Alice diam saja, memperhatikan Rania membalut lukanya dengan perban.
“Danzel tahu soal ini?” tanya Rania.
Alice menggeleng.
“Kenapa kau tidak memberitahunya?”
“Aku tidak ingin memperkeruh suasana. Kalau Danzel tahu, dia bisa bertengkar dengan mereka… gara-gara aku.”
“Tapi Al, mereka sudah tidak hanya menyakiti mentalmu, tapi juga fisikmu. Setidaknya laporkan ke kepala sekolah. Atau… ke ayahmu.”
“Tidak perlu,” potong Alice.
“Tapi—”
“Sudahlah, percayalah aku baik-baik saja. Dan terima kasih atas kekhawatiranmu.” Alice menatap Rania dengan senyum kecil.
Rania menghela napas. “Hm, baiklah. Kalau itu maumu.”
“Oh ya, terima kasih juga sudah mengobati lukaku,” sambung Alice.
Rania tersenyum tipis. “Sama-sama.”
Ia lalu mengubah topik. “Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Danzel?”
Alice terkekeh. “Kau bertanya seolah kami punya hubungan spesial.”
“Maksudku, bagaimana perasaanmu padanya? Masih sama?”
Alice menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Perasaanku tidak pernah berubah.”
“Tidak sakit berpura-pura jadi teman, padahal kau mencintainya lebih dari sekadar teman?”
Alice tersenyum lembut. “Kalau aku berani menaruh rasa padanya, aku juga harus berani menerima rasa sakitnya.”
“Kenapa tidak kau ungkapkan saja? Memang jarang perempuan yang memulai, tapi di zaman sekarang banyak yang berani.”
Alice terdiam. “Aku takut, Rania. Takut kehilangan dia sebagai teman. Lagipula… mungkin dia tidak punya perasaan yang sama.”
Rania mengangguk. “Baiklah, apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu.”
Alice tersenyum hangat.
**
Malam hari
Tok… tok… tok.
Suara ketukan pintu terdengar dari kamar Alice.
“Masuk saja, tidak dikunci,” sahut Alice, yang sedang membaca novel di atas ranjang.
Pintu terbuka. Papahnya masuk dengan langkah tenang.
“Putri papah belum tidur rupanya?” tanyanya sambil tersenyum.
“Sebentar lagi, Pah. Belum mengantuk.”
“Papah cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja. Bagaimana harimu?”
“Sama seperti biasa. Aman, terkendali,” jawab Alice, menyembunyikan cerita perundungan yang dialaminya.
“Baiklah. Kalau begitu, segera tidur.” Papahnya mencium kening Alice, lalu menarik selimut untuk menyelimutinya.
Namun, pandangannya berhenti pada perban di tangan Alice.
“Ale… ada apa dengan tanganmu? Kamu terluka?” tanyanya khawatir, jemarinya menyentuh lembut balutan itu.
“I-iya, Pah. Aku terjatuh tadi,” bohong Alice.
“Benarkah? Papah yakin kamu tidak sedang berbohong?”
“Iya, Pah. Papah tidak percaya padaku?” Alice mencoba tersenyum.
“Bukan begitu. Papah hanya merasa… kamu sering menyembunyikan sesuatu dari papah.”
Deg!
“A-apa maksud Papah?” Alice gugup.
Erlangga menghela napas. “Papah takut kamu jadi korban perundungan."
Alice tersenyum lembut. “Pah…jangan khawatir, aku baik baik saja. percayalah”
Alice berusaha menyakinkan papahnya, ia masih ingin menyembunyikan hal menyakitikan yang selama ini di alaminya. Alice bisa saja mengadu ke papahnya tetapi ia tidak ingin melakukannya.
Erlangga memandang putrinya lama, lalu mengusap rambutnya lembut. “Baiklah, Tapi ingat, papah selalu ada untukmu. Jangan ragu untuk bercerita kalau ada yang mengganggu.”
“Terima kasih, Pah,” jawab Alice pelan, merasa sedikit lega meski hatinya masih menyimpan luka.