Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Gus Azkar yang sedang melonggarkan kancing atas baju kokonya terhenti. Ia menatap Rina dengan tatapan yang sangat dalam, lalu sebuah senyum simpul muncul di bibirnya.
"Emm... mandi berdua mau enggak?" tanya Gus Azkar dengan nada suara yang rendah dan penuh godaan.
Rina sontak mematung. Matanya membelalak menatap suaminya. "M-mandi berdua? Ih, Mas! Malu tahu!"
Gus Azkar terkekeh, ia mendekat dan berlutut di depan Rina, memegang kedua tangan istrinya. "Malu kenapa? Kan sudah sah. Lagipula, kaki kamu masih sedikit bengkak, Rina. Mas khawatir kalau kamu mandi sendiri nanti terpeleset. Kalau mandi berdua, Mas bisa bantu pegangi... atau bantu gosok punggungmu mungkin?"
Rina menggigit bibir bawahnya—gerakan yang menurut Gus Azkar adalah serangan jantung paling berbahaya. "T-tapi aku... aku belum pernah mandi bareng orang lain," cicit Rina pelan.
"Mas bukan orang lain, Rina. Mas suamimu," bisik Gus Azkar. Ia kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya, mengajak Rina untuk bangkit. "Di dalam ada bathtub besar yang sudah Mas siapkan dengan air hangat dan aroma terapi. Pasti enak buat merilekskan tubuh kamu yang seharian ini tegang."
Rina menatap tangan besar suaminya, lalu beralih menatap mata Gus Azkar yang penuh kasih sayang. Akhirnya, dengan sangat pelan, Rina meletakkan tangannya di atas telapak tangan Gus Azkar.
"T-tapi Mas janji ya, jangan lama-lama lihatin aku pas di dalem..."
Gus Azkar tertawa rendah sambil menuntun istrinya menuju kamar mandi mewah di pojok kamar. "Mas tidak janji, Sayang. Karena melewatkan pemandangan seindah kamu adalah kerugian besar bagi Mas."
Lampu kamar mandi dinyalakan, menampakkan ruangan yang dipenuhi uap air hangat yang harum. Di bawah cahaya lampu yang temaram, Gus Azkar perlahan mulai membantu Rina membuka kancing gamis marunnya, membuat jantung Rina berdegup begitu kencang hingga terasa sampai ke tenggorokan.
Rina langsung memegang tangan Gus Azkar yang sedang berusaha membuka kancing gamisnya. Wajahnya sudah benar-benar panas, bahkan lebih merah dari warna baju yang ia kenakan.
"Ih Mas... malu! Mas keluar aja, please," rengek Rina dengan nada memohon yang menggemaskan. Tubuhnya sedikit menyusut karena merasa benar-benar tak berdaya di bawah tatapan intens suaminya.
Gus Azkar berhenti sejenak, ia menatap mata istrinya yang berkaca-kaca karena malu. "Ngapain malu, Sayang? Kan kita sudah malam pertama. Mas sudah tahu semuanya, luar dan dalam," bisik Gus Azkar dengan nada yang sengaja dibuat serak untuk menggoda.
Rina menggeleng kuat-kuat. "Tetap aja malu, Mas! Waktu itu kan... itu kan gelap, eh maksudnya... ah pokoknya Mas keluar dulu! Aku mau mandi tenang."
Gus Azkar menarik napas panjang, ia melepaskan tangannya dari kancing gamis Rina. Ia sadar, memaksa Rina saat ini hanya akan membuat istrinya itu semakin tertekan. Namun, sebagai seorang laki-laki yang baru saja melihat "koleksi pribadi" istrinya di galeri ponsel, ia tidak mau melepaskan kesempatan begitu saja.
"Oke, oke. Mas keluar," ujar Gus Azkar sambil mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.
Rina baru saja hendak mengembuskan napas lega, namun Gus Azkar belum selesai bicara. Ia melangkah mendekat kembali, menumpukan tangannya di dinding belakang Rina, mengurung istrinya dalam jarak yang sangat dekat.
"Mas keluar sekarang, tapi ada syaratnya," ucap Gus Azkar dengan senyum penuh kemenangan.
"Syarat apa lagi, Mas?"
"Nanti... setelah selesai salat Magrib, kamu harus goyang kayak yang ada di galeri ponsel kamu itu. Pakai lagu DJ yang lincah itu, dan dandan yang cantik," bisik Gus Azkar. Matanya melirik nakal ke arah bibir Rina. "Gimana? Setuju, atau Mas tetap di sini buat bantuin kamu mandi?"
Rina melongo. Ia tidak menyangka suaminya akan benar-benar menagih janji secepat ini. Bayangan dirinya bergoyang di depan Gus Azkar yang duduk menonton dengan tatapan serius itu membuat Rina ingin menghilang saja. Tapi, pilihan kedua—mandi bersama—rasanya jauh lebih mendebarkan untuk saat ini.
"I-iya! Iya! Aku setuju! Udah sana Mas keluar!" usir Rina sambil mendorong pelan dada bidang Gus Azkar.
"Janji ya? Tidak ada alasan kaki sakit lagi?" goda Gus Azkar sebelum melangkah menuju pintu.
"Iya, janji! Kaki aku udah mendingan kok!" teriak Rina dari dalam kamar mandi yang mulai tertutup pintunya.