"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: KEJATUHAN PARA DEWA
Selasa, 27 Januari 2026. Di malam penobatan Hana Sato sebagai Ratu Matsuda, sebuah operasi bayangan yang disebut "Damnatio Memoriae"—penghapusan ingatan—sedang berlangsung. Hana tidak hanya ingin Miyu, Shizuka, dan Renzo mati; ia ingin mereka diingat sebagai sampah sejarah yang mengkhianati bangsa.
Hana duduk di ruang kendali satelit, menyesap teh melati sementara layar di depannya menampilkan kampanye media sosial masif. Foto-foto rekayasa yang memperlihatkan Miyu sedang berpesta dengan sindikat narkoba, Shizuka yang melakukan pencucian uang panti asuhan, dan Renzo yang dituduh melakukan pelecehan, mulai menyebar seperti api liar.
"Dunia tidak akan pernah meratapi kepergian mereka," bisik Hana. "Mereka akan mati sebagai monster dalam ingatan publik."
Kenzo berdiri di belakangnya, menatap layar dengan dingin. "Mereka bukan lagi keluarga, Hana. Mereka adalah variabel pengganggu yang harus dinolkan."
Kematian pertama terjadi di sebuah gang sempit di Shinjuku. Shizuka Matsuda, wanita yang dulunya mandi di air mawar, kini ditemukan tewas mengenaskan di samping tumpukan sampah.
Bukan karena dibunuh secara langsung, tapi karena "keputusasaan". Agen-agen Hana telah menyebarkan rumor ke seluruh pelosok jalanan bahwa siapa pun yang menyentuh Shizuka akan kehilangan nyawa. Selama tiga hari, Shizuka memohon seteguk air, namun orang-orang justru meludahinya karena berita palsu yang menyebutnya sebagai "pembunuh bayi yatim piatu".
Saat ia menghembuskan napas terakhir karena gagal jantung dan kelaparan, sebuah tim pembersih dari Sato Foundation segera datang. Mereka menyuntikkan zat yang membuat kematiannya terlihat seperti overdosis narkoba kelas rendah. Esok harinya, surat kabar menulis: “Mantan Istri Kenzo Matsuda Tewas Overdosis di Gang Kumuh Setelah Menjual Harta Terakhirnya Demi Narkotika.” Publik menghujatnya; tidak ada air mata, hanya cemoohan.
Di pelabuhan ilegal Yokohama, Renzo sedang bekerja di bawah tekanan berat. Ia baru saja mendengar kematian ibunya dari radio tua. Hancur dan putus asa, ia mencoba melarikan diri dari kontrak kerjanya.
Namun, Hana telah merancang akhir yang lebih puitis. Istri paksaan Renzo, yang ternyata adalah agen setia Hana, memberikan Renzo segelas air yang telah dicampur dengan racun pelumpuh otot. Saat Renzo terjatuh tak berdaya ke dalam air laut yang dingin, istrinya hanya menatapnya dengan senyum dingin.
"Hana menitipkan salam," bisiknya sebelum mendorong tubuh Renzo ke kedalaman dermaga.
Mayat Renzo ditemukan beberapa jam kemudian. Media menyebarkan narasi bahwa ia tewas saat mencoba menyelundupkan barang haram ke luar negeri. Nama Renzo Matsuda kini resmi dicap sebagai pengkhianat korporat dan penjahat rendahan.
Di rumah sakit jiwa, Miyu Matsuda adalah satu-satunya yang tersisa. Namun, penderitaannya adalah yang paling lambat dan paling menyakitkan. Hana mengunjungi Miyu secara pribadi untuk memberikan "hadiah" perpisahan.
Miyu yang kini hanya bisa bergumam tidak jelas, melihat Hana masuk dengan gaun merah darahnya. Hana membungkuk, membisikkan sesuatu ke telinga Miyu.
"Ibumu mati sebagai pecandu di selokan. Adikmu mati sebagai penyelundup pengecut. Dan kau... kau akan mati sebagai orang gila yang membakar dirinya sendiri karena rasa bersalah."
Hana meninggalkan sebuah pemantik api di samping tempat tidur Miyu. Malam itu, korsleting listrik "secara ajaib" terjadi di bangsal Miyu. Api melalap ruangan itu dalam sekejap. Miyu tidak bisa melarikan diri karena otot-ototnya telah disuntik pelumpuh oleh perawat yang dibayar Hana.
Keesokan harinya, seluruh dunia membaca: “Putri Gila Matsuda Membakar Bangsal Rumah Sakit, Mengakhiri Hidupnya yang Penuh Skandal.”
Kembali di menara Matsuda-Sato, Kenzo dan Hana berdiri di balkon eksekutif. Ketiga ancaman itu telah musnah, dan yang lebih penting, reputasi mereka telah hancur total sehingga tidak akan ada aktivis atau penegak hukum yang berani mengungkit kematian mereka.
"Mereka sekarang hanyalah rumor yang dibenci, Kenzo," kata Hana, berbalik menghadap suaminya.
Kenzo menarik Hana ke dalam pelukannya. Rasa kuasa yang absolut ini membuatnya merasa seperti dewa di atas manusia. Ia tidak merasakan duka untuk ibu, adik, atau putrinya. Ia hanya merasakan gairah pada wanita yang berhasil membersihkan dunianya dari segala "cacat".
"Kau telah memberikan keadilan yang sempurna, Hana," bisik Kenzo. Ia mulai menciumi leher Hana, tangannya meraba lekuk tubuh sang Ratu yang kini memegang kendali penuh atas hidup dan matinya.
Di bawah rembulan merah, mereka bersatu dalam kemesraan yang intens di atas meja kerja Kenzo—meja yang sama di mana surat kematian Miyu baru saja ditandatangani. Penyatuan mereka adalah perayaan atas jatuhnya "para dewa lama" dan lahirnya tatanan baru yang dibangun di atas abu kehinaan musuh-musuh mereka.
Fajar menyingsing di Tokyo. Hana berdiri di jendela, menggendong Renji yang tenang. Di bawah sana, orang-orang sedang membicarakan betapa menjijikkannya keluarga Miyu yang baru saja tewas. Tidak ada yang tahu kebenaran di balik tirai marmer Matsuda.
"Dunia ini milikmu, sayangku," bisik Hana pada bayinya. "Ibu telah membunuh masa lalu agar kau tidak perlu melihatnya. Tidak ada lagi yang bisa menyentuhmu."
Rena Sato masuk ke ruangan, membawa tablet yang menampilkan harga saham Matsuda Corp yang melonjak tajam setelah berita kematian "para pengkhianat" tersebut.
"Pembersihan selesai, Hana," kata Rena dengan senyum predatornya. "Sekarang, kita adalah satu-satunya dewa yang tersisa di Tokyo."
Bab berakhir dengan Hana yang menatap lurus ke arah pembaca—seolah menantang siapa pun yang berani mempertanyakan keadilannya. "Kejatuhan Para Dewa" bukan hanya tentang kematian fisik, tapi tentang bagaimana Hana Sato menulis ulang sejarah sesuai kehendaknya.
BERSAMBUNG...