NovelToon NovelToon
Trapped In My Lover’S Embrace

Trapped In My Lover’S Embrace

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / TKP / Horror Thriller-Horror / Cintamanis / Kekasih misterius
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Achromicsea

Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"

Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa?

"Iya?" jawabku ragu. "Maaf kita kenal?"

Ia tertawa kecil, tapi bukan tertawa mengejek. Lebih seperti tertawa lega.

"Kamu masih aja gitu," katanya. "Aku Maya. SMA dulu. Kita sekelas sebelum kamu pindah ke Jakarta."

Dadaku mengencang.

Potongan-potongan samar muncul di kepalaku, seragam putih abu-abu, bangku kelas, suara tawa di lorong sekolah tapi semuanya buram, seperti foto lama yang warnanya pudar.

"Oh..." gumamku. "Maya..."

"Iya," katanya cepat, matanya menyapu wajahku seperti sedang memastikan sesuatu. Lalu ekspresinya berubah, alisnya sedikit berkerut. "Kamu tiba-tiba nggak ada kabar setahun lalu. Aku kira kamu kenapa-kenapa."

Nada khawatirnya terdengar tulus.

Aku menarik napas pelan. "Aku...memang kenapa-kenapa."

Ia langsung fokus penuh padaku.

"Aku kecelakaan," lanjutku, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Setelah itu aku kehilangan ingatan."

Maya terdiam. Tangannya refleks naik menutup mulutnya.

"Ya ampun, " katanya lirih. "Ren."

Aku mengangkat bahu kecil, mencoba tersenyum. "Sekarang udah mendingan. Tapi masih banyak yang kosong."

Ia mendekat sedikit. "Terus kamu sekarang tinggal di mana?"

"Di apartemen," jawabku. "Sama pacarku."

Maya langsung menyeringai. "Ih. Tipikal orang jatuh cinta. Ke mana-mana nempel."

Aku tertawa kecil, merasa sedikit lebih ringan.

"Terus," katanya sambil menyandarkan siku di rak, "gimana kabar Bima?"

Senyumku membeku.

"Siapa?" tanyaku.

Ia mengerjap, lalu tertawa kecil, mengira aku bercanda. "Bima lah. Pacar kamu."

Aku menggeleng pelan. "Pacarku namanya Arven."

Kening Maya berkerut. "Hah? Tapi dulu kamu bilang pacarmu Bima. Udah lama sih, empat tahun lalu. Kupikir masih sama."

Empat tahun. Kata itu bergema di kepalaku.

"Oh," kataku akhirnya, meski dadaku terasa kosong. "Sekarang udah beda."

Maya mengangguk pelan. "Oh… yaudah. Yang penting kamu baik-baik aja sekarang."

Aku menceritakan sedikit tentang Arven. Tentang bagaimana dia merawatku, menemani selama pemulihan. Maya mendengarkan dengan wajah lega.

"Syukurlah," katanya. "Aku senang kamu nggak sendirian."

Entah kenapa, meski wajah Maya terasa agak asing, ada dorongan aneh di dadaku untuk tetap berdiri di dekatnya. Aku ingin lebih lama di sini. Ingin mendengar lebih banyak.

"Kamu sendiri gimana?" tanyaku. "Akhir-akhir ini?"

Wajah Maya langsung berbinar.

"Aku bahagia," katanya tanpa ragu. "Beneran. Aku ketemu orang yang aku cintai."

Ia tertawa kecil, nyaris terharu.

"Aku bulan depan mau nikah, Ren. Nanti aku undang kamu ya? Sumpah, aku senang banget sampai sekarang tuh aku nggak pengen mati. Sekarang malah aku pengen hidup lama Ren! "

Kalimat terakhirnya terdengar aneh, terlalu ekstrem, tapi caranya mengatakannya penuh cahaya. Aku hanya tersenyum, menganggapnya luapan kebahagiaan.

"Eh," lanjutnya cepat, "ayo kita kontekan lagi. Nomor kamu-"

"Ren."

Suara itu datang dari belakang.

Suaranya Arven

Aku mnoleh.

Arven berdiri beberapa langkah di belakangku. Wajahnya tampak terkejut, matanya menatapku seolah sedang memastikan aku nyata.

"Kamu keluar?" katanya. "Kok nggak bilang?"

Aku panik sesaat, lalu cepat-cepat mencari alasan.

"Uh tadi aku lagi masak, minyaknya habis. Jadi aku ke Indomaret bentar."

Aku berbalik sedikit. "Oh, Arven, kenalin. Ini Maya. Katanya dia teman baik aku dulu." berharap aku bisa mengalihkan topik.

Arven melangkah mendekat dan merangkul bahuku. Pelukannya terlihat biasa, tapi aku bisa merasakan lengannya mengeras perlahan.

Aku menyadarinya.

Tapi aku tidak menegurnya.

Maya tersenyum ramah. "Hai. Kamu Arven ya?"

"Iya," jawab Arven singkat, senyumnya tipis.

Maya menunjuk pria di sampingnya. "Ini tunanganku."

Aku berdiri di antara mereka, merasakan udara di sekelilingku berubah pelan-pelan.

Hangat.

Arven menatap Maya dengan sopan. Senyum tipis, rahang sedikit mengeras.

"Oh, teman SMA ya," katanya. Nadanya ramah, tapi datar. "Pantesan."

"Iya," jawab Maya ceria. "Kami dulu sering bareng. Aku sampai kaget lihat Seren hari ini."

Arven mengangguk kecil. Tangannya masih melingkar di bahuku, jarinya menekan pelan cukup kuat untuk kuperhatikan, tidak cukup kuat untuk orang lain sadar.

"Seren emang masih adaptasi," katanya. "Di belum pulih sepenuhnya."

Maya menoleh ke arahku, wajahnya kembali khawatir. "Kamu keliatan baik-baik aja sih. Tapi ya, pasti capek."

Aku hendak menjawab ketika Maya tersenyum lagi, seolah teringat sesuatu.

"Eh, Ren," katanya, "nomor kamu sekarang-"

"Seren."

Arven memotongnya dengan cepat. Suaranya tetap lembut. Ia sedikit menarikku lebih dekat ke sisinya.

"Kamu belum pulih," lanjutnya sambil menatapku, bukan Maya. "Ayo kita kembali ya. Udah kelamaan di luar."

Aku menelan ludah. Ada bagian kecil di dalam diriku yang ingin bilang sebentar lagi, atau nggak apa-apa, tapi tatapannya menahanku di tempat.

Aku mengangguk.

"Iya," kataku pelan.

Aku menoleh ke Maya. "Maaf ya. Kita lanjut lain kali."

Maya terlihat ingin berkata sesuatu, tapi akhirnya hanya tersenyum. "Jaga diri, Ren. Jangan hilang lagi."

Aku mengangguk, lalu membiarkan Arven menuntunku pergi.

Langkahnya cepat. Tangannya berpindah dari bahuku ke pergelangan tanganku, menggenggam dengan pasti. Kami menyeberang parkiran tanpa banyak bicara. Pintu mobil dibuka, ia membukakan untukku, lalu menutupnya dengan bunyi yang terdengar lebih keras dari yang seharusnya.

Di dalam mobil.

Mesin menyala. Kami melaju, lampu jalan memantul di kaca, garis-garis cahaya yang lewat terlalu cepat. Aku menatap jendela, mencoba menyusun perasaanku sendiri. Ada sisa senang yang belum sempat padam, bercampur dengan rasa bersalah yang entah datang dari mana.

Arven tidak menoleh.

Tangannya mencengkeram setir, aku melihag rahangnya mengeras. Nafasnya teratur, tapi seperti dia menahannha.

Aku ingin membuka mulut, aku ingin menjelaskan, ingin bercanda, ingin meringankan tapi kata-kata seperti menempel di tenggorokan.

Apartemen menyambut kami dengan sunyi yang sama seperti tadi pagi. Pintu tertutup, sepatu dilepas, jaket digantung. Semua dilakukan tanpa suara dan terasa sangat canggung.

Kami berdiri di ruang tengah.

Terdiam.

Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku sebelum ia bicara.

"Kamu," suaranya rendah, tidak marah dan tidak keras juga jstru terlalu tenang. "Enggak dengerin kata aku."

Aku berbalik pelan. Jantungku berdetak lebih cepat.

"Aku cuma ke minimarket," kataku. "Aku-"

"Aku bilang kamu belum pulih," potongnya, kali ini suaranya naik sedikit. "Aku bilang kan, bilang dulu kalau mau keluar."

Aku membuka mulut lagi, lalu menutupnya. Ada rasa defensif yang ingin keluar, tapi juga ada rasa kecil yang tiba-tiba merasa bersalah, seperti anak yang ketahuan melakukan sesuatu tanpa izin.

"Aku pikir cuma sebentar," kataku akhirnya. "Aku juga enggak nyangka bisa ketemu teman lama."

Tatapannya berubah. Ada sesuatu yang bergerak di balik matanya bukan marah, lebih seperti rasa cemas yang mrnajdi tajam.

"Kamu tahu nggak kenapa aku khawatir?" tanyanya. Ia melangkah mendekat, jarak kami menyempit. "Kamu nggak ingat banyak hal. Kamu gampang capek, kamu-"

"Aku baik-baik aja," sela aku, suaraku kecil tapi tegas. "Aku cuma pengen keluar sebentar. Aku pengen ngerasa normal."

Ia terdiam.

Tangannya terangkat, lalu jatuh lagi ke sisinya. Nafasnya tertahan sejenak sebelum akhirnya dihembuskan.

"Aku cuma pengen kamu aman," katanya pelan. Terlalu pelan. "Aku takut sesuatu terjadi."

Aku menatapnya. Wajah yang sama, lembut, perhatian.

Keheningan menggantung di antara kami, berat dan rapuh. Dan untuk pertama kalinya sejak aku bangun dari koma, aku merasa benar-benar merasa bahwa ada dua hal yang saling bertabrakan di dadaku.

Keinginan untuk dilindungi.

Dan kebutuhan untuk bernapas sendiri.

Aku menatap lantai. Ujung kakiku terasa dingin menyentuh keramik. Ada banyak hal yang ingin kukatakan bahwa aku hanya keluar sebentar, bahwa aku baik-baik saja, bahwa aku butuh udara tapi semuanya terasa salah urut. Seperti apa pun yang kuucapkan akan terdengar egois setelah kalimat itu.

Aku takut sesuatu terjadi.

Tanganku mengepal pelan. Rasa bersalah merayap naik, menekan dadaku. Aku yang keluar tanpa bilang. Aku yang melanggar permintaannya. Aku yang membuatnya khawatir.

Aku tidak membalas.

Keheningan di ruang tengah memanjang. Arven berdiri di depanku, dia tidak mendekat padaku ataupun menjauh. Seolah memberi ruang.

Akhirnya ia menghela napas. Panjang, lalu kulihat bahunya turun sedikit.

"Kamu capek," katanya lebih lembut. "Kita istirahat dulu, ya."

Aku mengangguk.

Ia berjalan melewatiku, lalu berhenti sebentar. Tangannya menyentuh punggungku, ringan, menuntunku ke arah kamar. Sentuhan yang sama seperti biasanya yang perhatian.

Aku mengikutinya.

Di kamar, lampu dinyalakan redup. Arven merapikan bantal, memastikan selimut terlipat rapi, seolah setiap langkah sudah dihafalnya jauh sebelum aku ada di sini.

"Kamu makan es krim kebanyakan?" tanyanya sambil tersenyum kecil.

Aku menggeleng.

"Aku enggak makan es krim kok. "

"Minum air," katanya sambil menyodorkan gelas. Aku menurut.

Ia duduk di tepi ranjang saat aku berbaring. Tangannya mengusap rambutku pelan, ritme yang menenangkan. Aku menutup mata, bukan karena mengantuk lebih karena tidak tahu harus menatap apa.

"Maaf kalau aku kedengaran keras tadi," katanya lirih. "Aku cuma kebawa takut."

Aku hanya mengangguk lagi.

Tangannya berhenti di rambutku, lalu beralih ke pipiku. Jempolnya mengusap perlahan, penuh kehati-hatian.

"Kamu nggak salah," katanya. "Aku cuma minta satu hal dengerin aku."

Aku mengangguk sekali lagi.

"Iya."

Ia tersenyum, senyum yang hangat membuat suasana kembali stabil, seolah retakan kecil barusan tidak pernah ada.

Arven berdiri, mematikan lampu utama, menyisakan cahaya kecil dari lampu tidur.

"Tidur ya," katanya. "Aku di ruang tengah."

Aku berbaring miring, memeluk bantal. Saat pintu ditutup pelan, dadaku terasa sesak oleh perasaan yang belum sempat kuberi nama.

Bersalah, iya.

Tapi di baliknya, ada sesuatu yang lain kecil, samar yang tidak ikut padam bersama lampu dan entah kenapa, itu membuatku takut.

1
SarSari_
Semoga Arven jadi alasan kamu sembuh, bukan cuma ingatan yang kembali tapi juga bahagianya.💪
Kim Umai
sebenarnya dia perhatian kali sih, tapi kek penasaran woy kejadian selama setahun lalu itu
❀ ⃟⃟ˢᵏkasychan
kebanyakan nanya🤭
Ria Irawati
Mulai mencurigakan nihh
Ria Irawati
waduhh kenapa di batasi?? gk bisa toktokan dong🤣
Ria Irawati
perhatian sekali🤭
Tulisan_nic
Jangan² dia punya 1000 lot di Astra🤣🤣🤣
Tulisan_nic
Apa di kamar ini, semuanya akan terungkap?
j_ryuka
nanya mulu bisa diem dulu gak sih 🤣
ininellya
nah kan bau" mencurigakan nih arven
Panda%Sya🐼
Mau curiga sama Arven. Tapi dia terlalu baik juga, jadi confuse
Suo: Hayolohhh
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Uhh apakah dulu Seren kabur kerana stress sama sikap Arven? Jangan-jangan mereka ini udah pisah cuma Arven belum rela /Yawn/
Suo: Liat aja nanti kelanjutannya kak/Chuckle/
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Kerana itu kasih tau semuanya aja. Masa harus kurung Seren di rumah terus. Kasian diaa 🤧
Panda%Sya🐼
Positive thinking aja. Mungkin Arven sebenarnya baik. 😌
only siskaa
ortunya kemanaa sii😤
Suo: Nanti dijelasin kok/Chuckle/
total 1 replies
Blueberry Solenne
Kok bisa kenapa tu?
Blueberry Solenne
Ada yang kelaparan malam-malam ceritanya?
Suo: btul bgt/Proud/
total 1 replies
Suo
dia di temenin kok nantinya 😌
❀ ⃟⃟ˢᵏkasychan
pasti bosen banget dikurung
Suo: Betul bangett😭
total 1 replies
Hafidz Nellvers
masuk kulkas?
Suo: Gak gitu😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!