Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Araluna terbangun saat sinar matahari sore mulai memudar, menyisakan rona jingga yang masuk melalui celah gorden kamarnya. Matanya menyipit, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih berceceran. Hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat di lengan kirinya. Saat menoleh, jantungnya hampir saja melompat keluar dari dada.
Arsen Sergio, kakak tirinya yang kaku itu, tertidur di sampingnya.
Araluna terdiam, menahan napas agar tidak merusak momen langka ini. Ia perlahan mengubah posisinya menjadi miring, menopang dagu dengan tangan kanannya. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa dengan bebas memetakan setiap inci wajah Arsen. Ternyata, saat tidur, raut wajah Arsen yang biasanya dingin dan tegas berubah menjadi sangat tenang. Bulu matanya yang lentik, hidung mancungnya yang sempurna, hingga deru napasnya yang teratur—semuanya tampak begitu mempesona di mata Luna.
"Ganteng banget sih kalau lagi pingsan begini," bisik Luna sangat pelan, nyaris seperti embusan angin.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik. Tiba-tiba, kelopak mata Arsen bergerak. Sebelum Luna sempat menjauh, mata tajam itu sudah terbuka lebar, langsung mengunci pandangan Luna yang tertangkap basah sedang mengaguminya.
"Ngapain lo? Mesum ya?" suara Arsen terdengar serak khas orang bangun tidur, namun tetap terasa dingin dan mengintimidasi.
Araluna tersentak, wajahnya memerah padam sampai ke telinga. Ia langsung duduk tegak dan menjauh dengan gerakan kikuk. "Ihh! Apa sih! Ge-er banget! Orang gue tadi ngelihat ada nyamuk lewat di dahi lo, hampir aja gue tabok biar nggak bentol!"
Arsen bangun dengan santai, mengucek matanya sambil mendengus remeh. "Nyamuk atau mau nyolong kiss? Ngaku aja lo, Bocil."
"Nggak ya! Lagian nyamuknya tadi gede banget, kayaknya dia naksir sama lo karena darah lo pait!" balas Luna dengan nada tinggi untuk menutupi kegugupannya.
Baru saja Luna ingin melanjutkan omelannya, suara pintu depan terbuka dan langkah kaki yang akrab terdengar dari lantai bawah.
"Luna? Arsen? Kalian di mana, Sayang?" suara Bunda memanggil, disusul suara Papa yang menanyakan apakah mereka sudah makan.
Arsen dan Araluna seketika mematung. Mereka saling tatap dengan mata membelalak. Posisinya sekarang sangat tidak menguntungkan: mereka berdua berada di atas ranjang yang sama di dalam kamar Luna yang tertutup.
"Mampus... kalau Papa liat lo di sini, bisa habis lo, Kak," bisik Luna panik.
Arsen yang biasanya kaku kini tampak sedikit gelisah, namun ia tetap mencoba tenang.
"Lo sih, pake narik-narik gue tidur di sini segala!"
"Lah, kok gue? Kan lo yang ketiduran!"
Suara langkah kaki Bunda terdengar semakin dekat ke arah kamar. Dengan gerakan secepat kilat, Arsen melompat turun dari ranjang tepat saat pintu kamar terbuka. Ia berdiri mematung di samping meja belajar, berpura-pura sedang memeriksa tumpukan buku, sementara Luna buru-buru menarik selimut sampai ke leher.
"Eh, Bunda..." Luna menyapa dengan senyum kaku yang sangat dipaksakan.
Bunda menatap mereka bergantian dengan kening berkerut. "Lho, Arsen di sini? Luna katanya sakit perut, sekarang gimana kondisinya?"
"Udah... udah mendingan, Bun. Tadi Kak Arsen bantuin... eh, nyariin buku referensi buat tugas Luna," dusta Luna sambil melirik Arsen yang hanya diam membatu seperti patung Liberty.
Papa muncul di belakang Bunda, menatap Arsen dengan pandangan menyelidiki. Arga, papa mereka, memang dikenal sebagai sosok yang kaku dan tegas. "Buku referensi di atas tempat tidur?"
Arsen berdehem, mencoba menetralkan suaranya. "Iya, Pa. Tadi Luna nggak kuat bangun, jadi saya bawain ke sini. Sekarang sudah selesai. Saya keluar dulu."
Arsen melenggang pergi dengan langkah cepat tanpa menoleh lagi, meninggalkan Luna yang harus berjuang memberikan seribu alasan pada Bunda dan Papa.
Malam harinya, keluarga mereka berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Suasana awalnya tampak normal seperti biasa. Papa Arga yang kaku duduk di kepala meja, sementara Bunda sibuk membagikan nasi goreng buatan rumah.
Luna duduk berseberangan dengan Arsen. Ia masih merasa kesal karena kejadian di kamar tadi, ditambah lagi perutnya masih terasa sedikit sensitif. Namun, sifat "cegil"-nya tetap tidak hilang. Ia sengaja menendang kaki Arsen di bawah meja untuk mencari perhatian.
Arsen hanya meliriknya tajam, lalu kembali fokus pada piringnya. Tak lama kemudian, Bunda bangkit dari meja untuk mengambil kerupuk di dapur. Papa juga sedang asyik membalas pesan di ponselnya.
Melihat ada kesempatan, Arsen menunjukkan sisi jahilnya. Dengan gerakan tangan yang sangat cepat dan halus—hasil latihan bertahun-tahun menjahili Luna—ia menyambar botol sambal ulek yang sangat pedas di tengah meja. Tanpa Luna sadari, Arsen menuangkan dua sendok besar sambal itu tepat di bawah tumpukan telur dadar di piring Luna.
"Makan yang banyak, Cil. Biar cepet gede, nggak cebol terus," ucap Arsen dengan nada bicara yang dibuat-buat perhatian.
Luna menyipitkan mata, curiga. "Tumben lo perhatian? Pasti ada maunya ya?"
"Nggak usah suuzan. Gue cuma kasihan liat lo pucet dari tadi," sahut Arsen datar sambil kembali menyuap nasinya sendiri.
Luna yang merasa menang karena diperhatikan, langsung menyendok nasi dan telur dadar itu dengan suapan besar. Namun, begitu makanan itu masuk ke mulutnya...
"HUAAAHHH! PEDESSS! KAK ARSENNN!"
Luna langsung tersedak, wajahnya berubah merah padam dalam hitungan detik. Ia segera meraih gelas air putih milik Papa dan meminumnya sampai habis. Air matanya mulai meleleh bukan karena sedih, tapi karena rasa panas yang membakar lidahnya.
"Astagfirullah, Luna! Kenapa?" Bunda berlari kembali ke meja makan dengan panik.
"Kak... Kak Arsen, Bun! Dia masukin ranjau ke piring aku!" teriak Luna sambil megap-megap kehausan.
Arsen hanya mengangkat bahu dengan wajah tanpa dosa. "Lho, tadi katanya pengen makan yang seger-seger biar nggak lemes. Gue bantuin kasih sambal biar keringetnya keluar."
Papa Arga menatap Arsen dengan tatapan memperingatkan, tapi di sudut bibirnya ada sedikit tarikan senyum melihat interaksi anak-anaknya. "Arsen, jangan dijahili terus adeknya. Dia lagi sakit."
Luna cemberut, menjulurkan lidahnya ke arah Arsen yang kini tertawa puas dalam diam. Meskipun lidahnya terbakar, dalam hati Luna tetap merasa senang. Baginya, kejailan Arsen adalah bentuk perhatian yang paling tulus, meski caranya selalu membuat Luna ingin "cegil" seketika.
Duh, Arsen bener-bener ya kalau sudah mode jahil nggak ada obatnya!