NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:30k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Penumpang Gelap

Jay selesai mencuci mobil sport Rendy tepat saat Angeline keluar dari pintu depan. Istrinya itu membawa tas kerja kulit dan sebuah amplop putih.

"Jay, ini," Angeline menyodorkan amplop itu. "Mama tadi berlebihan soal piring itu. Ini uang untuk ganti rugi ke Mama, sisanya kau pakai untuk bensin dan makan siang saat narik nanti."

Jay menatap amplop itu, lalu menatap mata istrinya. Angeline selalu berusaha menutupi kekejaman keluarganya dengan kebaikannya sendiri. Itulah yang membuat Jay bertahan.

"Simpan saja, Angel. Aku punya tabungan dari hasil narik taksi online minggu lalu," tolak Jay halus. "Lagipula, mobil tuaku bensinnya irit."

"Ambil," paksa Angeline, menyelipkan amplop itu ke saku kemeja flanel lusuh yang dipakai Jay. "Jangan sampai kelaparan di jalan. Hati-hati. Jangan ngebut."

Angeline masuk ke mobil sedannya sendiri dan melaju menuju kantor pusat Severe Group.

Jay menatap mobil istrinya menjauh hingga hilang di tikungan gerbang kompleks elit itu. Senyum lembut di wajahnya perlahan memudar, digantikan tatapan tajam setajam mata elang yang mengincar mangsa.

Ia berjalan menuju mobilnya sendiri sebuah sedan hitam keluaran sepuluh tahun lalu yang catnya sudah mulai kusam. Orang lain melihatnya sebagai rongsokan, tapi di balik kap mesinnya, Jay telah memodifikasinya menjadi monster jalanan.

Ia masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin. Suaranya halus, nyaris tak terdengar.

Jay mengetuk dasbor mobilnya dengan pola tertentu. Tap. Tap-tap. Tap.

Layar navigasi GPS yang tadinya menampilkan peta kota biasa berkedip, berubah menjadi layar taktis berwarna hijau neon. Sebuah titik merah terlihat bergerak di peta itu mobil Angeline. Namun, ada dua titik kuning yang mengikutinya dengan jarak rapat.

"Dua mobil pengikut. Van hitam dan sedan abu-abu. Pelat nomor palsu," gumam Jay. Ia memasang earpiece kecil di telinga kanannya. "Code Red. Target VIP sedang dibuntuti. Aku ambil alih."

Tanpa menunggu balasan, Jay menginjak pedal gas. Sedan tua itu melesat keluar gerbang, bukan seperti mobil tua yang kelelahan, tapi seperti peluru yang lepas dari larasnya.

Jalanan Kota Langit Biru cukup padat di jam sibuk pagi hari.

Di jalan layang menuju distrik bisnis, mobil Angeline terjebak di jalur tengah. Tanpa ia sadari, sebuah Van hitam perlahan memepetnya dari sisi kiri, sementara sedan abu-abu menutup celah di belakang.

Di dalam Van hitam, tiga pria bertato dengan masker wajah sudah bersiap. Salah satunya memegang alat pemecah kaca.

"Tunggu dia masuk terowongan depan. Di sana tidak ada CCTV," perintah pria di kursi depan lewat radio. "Ingat, Bos mau nona itu hidup-hidup. Suaminya yang sopir itu abaikan saja, dia tidak penting."

"Siap, Bos."

Mobil Angeline mulai memasuki terowongan yang agak gelap. Van hitam itu mulai menyalip agresif, bersiap memotong jalur Angeline untuk memaksanya berhenti.

BRAAAAK!

Tiba-tiba, sebuah sedan tua melesat dari bahu jalan dengan kecepatan gila, menghantam sisi kanan Van hitam itu dengan keras.

Bantingan itu begitu kuat hingga Van hitam oleng dan menabrak dinding terowongan, memercikkan bunga api.

Angeline yang berada di depan kaget mendengar suara benturan di belakangnya. Ia melihat dari kaca spion, sebuah kecelakaan baru saja terjadi.

"Astaga... untung aku tidak kena," gumam Angeline ngeri, lalu ia terus melaju karena tidak ingin terlambat rapat. Dia sama sekali tidak sadar bahwa kecelakaan itu disengaja untuk melindunginya.

Sementara itu, di dalam terowongan.

Sedan tua Jay berhenti melintang, memblokir jalan bagi sedan abu-abu (musuh kedua) yang ada di belakang.

Pintu sedan abu-abu terbuka. Empat orang pria berbadan besar keluar sambil membawa tongkat besi dan pisau lipat. Mereka marah karena operasi mereka gagal.

"Heh! Keluar kau bajingan! Kau tahu mobil siapa yang kau tabrak?!" teriak salah satu preman.

Pintu sedan tua Jay terbuka. Jay Ares melangkah keluar dengan santai. Ia merenggangkan lehernya hingga berbunyi krek. Wajahnya datar, seolah ia hanya sedang menghadapi penumpang yang rewel, bukan empat pembunuh bayaran.

"Kalian menghalangi jalanku narik penumpang," kata Jay tenang. "Minggir, atau aku buat kalian tidak bisa menyetir seumur hidup."

"Sopir gila! Habisi dia!"

Keempat preman itu maju serentak.

Preman pertama mengayunkan tongkat besi ke arah kepala Jay. Jay tidak mundur. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit gerakan minimalis yang presisi. Tongkat itu memukul angin.

Dengan satu langkah maju, Jay menghantamkan telapak tangannya ke dada preman itu. BUGH! Terdengar suara tulang rusuk patah. Pria besar itu terlempar tiga meter ke belakang, muntah darah, dan pingsan seketika.

Tiga temannya terbelalak.

"Si-siapa kau sebenarnya?"

Jay menatap mereka. Aura membunuh yang selama tiga tahun ini ia tekan, kini bocor sedikit keluar. Suhu di dalam terowongan terasa turun drastis.

"Kalian tidak perlu tahu nama orang yang akan mengirim kalian ke neraka," bisik Jay.

Dalam lima detik berikutnya, yang terdengar hanyalah suara tulang patah dan erangan tertahan.

Saat semuanya berakhir, Jay berdiri tegak di tengah tumpukan tubuh yang mengerang kesakitan. Ia mengeluarkan sapu tangan, membersihkan sedikit debu di lengan kemejanya.

Ponselnya berbunyi. Notifikasi aplikasi taksi online.

TING!

Orderan Masuk: Jemput di Mall Grand Arvanta. Tujuan: Bandara.

Jay menghela napas panjang. Wajah membunuhnya hilang seketika, kembali menjadi wajah sopir yang ramah dan sedikit lelah.

"Ah, uang tidak boleh ditolak," gumamnya.

Ia melangkah kembali ke mobilnya, meninggalkan para anggota organisasi Black Sun yang lumpuh total di aspal dingin terowongan.

1
Hendra Yana
lanjut
Mamat Stone
/Bomb//Bomb/💥
Mamat Stone
tok tik tok 👊💥👊
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙄👀🙄Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!