NovelToon NovelToon
The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠)

SINOPSIS


Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
​Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Tarian Mawar Hitam di Kota Cahaya Bulan

​Udara di alun-alun Kota Cahaya Bulan seakan membeku saat empat pengawal klan Yan merangsek maju. Suara denting senjata yang ditarik dari sarungnya menciptakan harmoni kematian yang mengerikan bagi telinga orang awam. Penduduk kota yang menonton segera mundur, menciptakan lingkaran kosong di tengah pasar yang riuh, menyisakan Lin Xiao yang berdiri sendirian di hadapan ancaman tersebut.

​Lin Xiao tetap berdiri tegak, tak bergeming sedikit pun. Tudung jubahnya yang tertiup angin memperlihatkan sebagian tato mawar hitam di pipinya yang tampak seolah hidup di bawah sinar matahari. Di dalam pembuluh darahnya, Energi Nirwana Hitam mulai bergejolak, mendidih seperti lava yang siap meledak dari kawahnya.

​"Tangkap jalang itu! Jangan biarkan dia mati terlalu cepat, aku ingin dia memohon di bawah kakiku malam ini!" seru Yan Lu dengan tawa yang menghina.

​Empat pengawal itu adalah praktisi bela diri yang sudah berpengalaman dalam menindas orang lemah. Dengan koordinasi yang rapi, dua di antaranya menyerang dari depan dengan tebasan pedang menyilang, sementara dua lainnya mencoba memutar untuk mengunci pergerakan Lin Xiao dari samping.

​Di mata orang biasa, serangan itu sangat cepat. Namun, bagi Lin Xiao yang jiwanya telah ditempa dalam ribuan medan perang sebagai permaisuri perang, gerakan mereka tampak canggung dan penuh celah. Ia bisa melihat setiap tarikan napas mereka, setiap tumpuan kaki yang tidak stabil, dan setiap keraguan dalam ayunan pedang mereka.

​"Terlalu lambat," bisik Lin Xiao.

​Saat pedang pertama hampir menyentuh ujung jubahnya, Lin Xiao bergeser hanya beberapa inci ke samping. Gerakannya begitu halus, seolah-olah ia adalah helai bulu yang tertiup angin. Sret! Pedang itu hanya membelah udara kosong.

​Tanpa membuang waktu, Lin Xiao melayangkan pukulan telapak tangan ke arah dada pengawal terdekat. Ia tidak menggunakan kekuatan otot murni, melainkan menyalurkan sedikit getaran Energi Nirwana Hitam melalui ujung jarinya.

​DUAK!

​Suara benturan itu tidak nyaring, namun efeknya menghancurkan. Pengawal itu terlempar ke belakang, menabrak lapak pedagang buah hingga hancur berkeping-keping. Ia langsung pingsan dengan mulut mengeluarkan darah hitam; energi Lin Xiao telah mengacaukan sirkulasi internalnya hanya dalam satu sentuhan.

​Tiga pengawal lainnya tertegun sejenak. Rekan mereka yang berada di tahap Pembersihan Sumsum tingkat kedua dikalahkan hanya dengan satu gerakan?

​"Jangan takut! Dia hanya menggunakan trik sihir! Serang bersamaan!" teriak salah satu pengawal yang lebih senior.

​Ketiganya menerjang kembali dengan amarah yang memuncak. Kali ini mereka tidak menahan diri, pedang mereka berpendar dengan cahaya biru kusam—tanda bahwa mereka mengerahkan energi spiritual mereka sepenuhnya.

​Lin Xiao menyilangkan tangannya di depan dada. Energi ungu gelap mulai merembes keluar dari pori-porinya, membentuk sebuah perisai tipis namun padat di sekitar tubuhnya. Saat ketiga pedang itu menghantam perisainya, suara denting logam yang keras bergema di seluruh alun-alun.

​KLANG!

​Bukannya menembus, ketiga pedang itu justru terpental balik seolah-olah menghantam dinding baja yang tidak terlihat. Tangan para pengawal itu gemetar hebat, telapak tangan mereka robek akibat serangan balik dari energi Lin Xiao.

​"Sekarang giliranku," ucap Lin Xiao dengan nada yang begitu dingin hingga membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

​Ia melesat maju. Kecepatannya kini meningkat berkali-kali lipat. Ia bergerak di antara para pengawal layaknya seekor phoenix hitam yang menari di tengah badai. Setiap gerakannya diakhiri dengan serangan yang presisi—sebuah tendangan ke arah ulu hati, serangan siku ke arah leher, dan tamparan punggung tangan yang mengandung tekanan berat.

​Dalam waktu kurang dari sepuluh hitungan, keempat pengawal klan Yan sudah tergeletak di tanah berlumpur, mengerang kesakitan dengan tulang-tulang yang patah. Mereka bahkan tidak sempat menyentuh sehelai rambut Lin Xiao.

​Suasana alun-alun menjadi sunyi senyap. Orang-orang menatap Lin Xiao dengan pandangan ngeri dan takjub. Gadis muda dengan jubah abu-abu ini baru saja menghancurkan pengawal elit klan Yan tanpa mengeluarkan setetes keringat pun.

​Yan Lu, yang tadinya tertawa sombong, kini berdiri mematung. Wajahnya yang tampan berubah pucat pasi seputih kertas. Tangannya yang masih mencengkeram lengan gadis kecil berbakat Tubuh Roh Murni itu mulai gemetar hebat.

​"Kau... kau... siapa kau sebenarnya?!" teriak Yan Lu dengan suara yang pecah karena ketakutan. "Kau berani melawan Klan Yan di Kota Cahaya Bulan? Ayahku akan mencincangmu menjadi makanan anjing!"

​Lin Xiao melangkah maju perlahan, setiap dentuman langkah kakinya terdengar seperti lonceng kematian di telinga Yan Lu. Gadis kecil itu menatap Lin Xiao dengan mata bulat yang penuh harapan dan rasa takut.

​"Aku sudah memberimu satu kesempatan untuk melepaskannya," kata Lin Xiao sambil mengulurkan tangannya. "Sekarang, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua."

​"Jangan mendekat! Mundur, atau aku akan membunuh gadis ini sekarang juga!" Yan Lu yang terdesak menarik belati kecil dari pinggangnya dan mengarahkannya ke leher gadis kecil itu.

​Melihat tindakan pengecut tersebut, mata Lin Xiao berkilat dengan amarah yang murni. Pengkhianatan Long Tian di masa lalu telah membuatnya sangat benci pada pria yang menggunakan nyawa orang lemah sebagai tameng.

​Wush!

​Sebelum Yan Lu sempat menggerakkan jarinya, Lin Xiao sudah berada tepat di depannya. Kecepatannya melampaui batas penglihatan manusia biasa. Dengan satu gerakan cepat, Lin Xiao mencengkeram pergelangan tangan Yan Lu dan memutarnya dengan sudut yang tidak alami.

​KREKK!

​"AAAGGGHHHH!"

​Jeritan memilukan Yan Lu membelah langit kota. Belati itu jatuh ke tanah, dan Lin Xiao dengan cepat menarik gadis kecil itu ke dalam pelukannya, melindunginya dari pemandangan berdarah di depannya.

​Lin Xiao tidak berhenti di situ. Ia memberikan satu tendangan keras ke arah lutut Yan Lu, membuatnya berlutut secara paksa di hadapannya.

​"Berlututlah pada orang yang kau tindas," bisik Lin Xiao tepat di telinga Yan Lu. "Dan sampaikan pada ayahmu, klan Yan bukan lagi penguasa tunggal di kota ini. Selama aku ada di sini, hukum kalian tidak berlaku."

​Lin Xiao kemudian berbalik, mengabaikan Yan Lu yang melolong kesakitan. Ia menatap gadis kecil di pelukannya yang kini sudah berhenti menangis dan menatapnya dengan kekaguman yang mendalam.

​"Siapa namamu, kecil?" tanya Lin Xiao, suaranya melembut hanya untuk gadis ini.

​"Namaku... Yun'er," jawab gadis itu dengan suara bergetar.

​"Yun'er, maukah kau mengikutiku? Aku tidak bisa menjanjikanmu kehidupan yang mewah, tapi aku bisa menjanjikan bahwa tidak akan ada lagi pria pengecut yang bisa menyentuhmu," ucap Lin Xiao.

​Gadis kecil itu tidak ragu sedikit pun. Ia langsung memeluk pinggang Lin Xiao dengan erat. "Aku mau ikut dengan Kakak! Aku ingin menjadi kuat seperti Kakak agar bisa melindungi diri sendiri!"

​Lin Xiao tersenyum tipis. Sebuah benih kesetiaan telah ditanam hari ini. Namun, ia tahu bahwa tindakannya ini telah menyulut api peperangan dengan klan terkuat di kota ini. Ia harus segera mencapai Paviliun Obat Seribu Tahun untuk mencari jawaban atas rahasia tubuhnya sebelum klan Yan mengirim pasukan yang lebih besar.

​Dengan tangan yang menggandeng Yun'er, Lin Xiao berjalan meninggalkan alun-alun, menghilang di balik kerumunan orang yang masih terpaku melihat kehancuran putra klan Yan. Di balik bayang-bayang gedung, seorang pria tua dengan jubah putih panjang mengamati seluruh kejadian itu dengan mata yang berbinar penuh minat.

​"Energi Nirwana Hitam... mungkinkah keturunan itu telah kembali?" gumam pria tua itu sebelum menghilang ditelan kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!