NovelToon NovelToon
Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romansa Fantasi / Cinta Terlarang / Obsesi / Perperangan / Dark Romance
Popularitas:833
Nilai: 5
Nama Author: HOPEN

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makhluk Yang tidak Takut Padaku

Sebagai putra yang tumbuh di bawah didikan keras atmosfer neraka, aku sudah lama melupakan konsep kelemahan. Bagiku, hidup adalah tentang kendali. Aku mengendalikan api yang mengalir di nadiku, aku mendikte bayangan yang menari di bawah kakiku, dan aku telah menyempurnakan wujud hellhound-ku hingga menjadi predator paling ditakuti di wilayah ini.

Namun malam ini, semua kendali itu terasa menguap saat aku menatap gundukan kecil yang gemetar di lantai obsidian kamarku.

Cloudet. Makhluk campuran yang lahir dari persilangan. Ia meringkuk begitu rapat hingga tulang rusuknya yang halus terlihat naik-turun dengan cepat. Punggungnya melengkung, telinga kecilnya terkulai pasrah, seolah-olah lantai batuku yang dingin adalah satu-satunya pelukan yang ia miliki setelah dilepaskan dari dekapan ayah.

"Hah..." Aku terkekeh, suara yang biasanya terdengar mengancam kini aku buat seringan mungkin.

“Tenang, bocah. Aku tidak akan memakanmu. Kau terlalu kecil untuk jadi camilan."

Dia tidak menggubris. Tidak ada kontak mata, tidak ada rasa hormat—hanya ketakutan purba yang mendalam. Ringkihan pelannya mulai membuat naluri hellhound-ku bereaksi; ekorku bergerak resah dalam kegelapan. Aku terbiasa melihat musuh gemetar karena takut akan kematian, tapi melihat makhluk sekecil ini gemetar karena kehadiranku? Itu terasa... mengganggu.

"Mungkin kau takut pada wujud manusia," gumamku pada diri sendiri.

Aku membiarkan instingku mengambil alih. Dalam sekejap, struktur tulangku bergeser, otot-ototku memuai dan dilapisi bulu hitam sepekat jelaga. Aku berubah menjadi hellhound dewasa; besar, megah, dan mematikan. Aku berharap wujud ini akan membuatnya merasa memiliki sekutu, seekor alfa yang bisa ia ikuti.

Namun yang kudapat justru bencana kecil.

"Whi—!"

Jeritan itu pecah. Cloudet tersentak hebat, tubuhnya bergetar di ambang kolaps antara wujud manusia dan hewan. Ia tampak seperti akan meledak karena serangan panik.

"Sial," desisku di dalam hati. "Bukan itu."

Aku kembali berpikir cepat. Harga diriku sebagai pangeran neraka berteriak saat sebuah ide gila muncul di kepalaku. Ide yang sangat tidak bermartabat. Aku memejamkan mata, memusatkan energi untuk menekan kekuatanku hingga ke titik terendah yang pernah kulakukan.

Tubuhku menyusut. Taringku memendek. Kekuatan destruktifku kupaksa masuk kembali ke dalam pori-pori hingga aku berdiri di depannya dengan ukuran yang sama persis dengannya. Seekor anak anjing hitam kecil, tanpa aura intimidasi, hanya seekor makhluk mungil yang terlihat tidak berbahaya.

Dan keajaiban terjadi.

Cloudet berhenti bergetar. Satu mata kuningnya terbuka, menatapku dengan rasa ingin tahu yang murni. Pelan tapi pasti, wujudnya stabil. Bulu hitamnya menghilang, berganti menjadi kulit pucat dan rambut hitam lembut yang jatuh berantakan di wajahnya. Dia kembali menjadi anak manusia yang cantik. Terlalu cantik untuk tempat yang penuh bau belerang ini. Matanya bulat, jernih, dan menatapku seolah-olah aku adalah misteri terbesar di dunia.

"Apa kau memang seajaib itu?" tanyaku dalam hati.

Lalu, tanpa ragu, dia mulai merangkak.

Langkah-langkah kecil tangannya menyentuh lantai, mendekat ke arahku. Aku membeku. Aku yang pernah menghadapi pasukan bayangan tanpa berkedip, kini merasa ngeri hanya karena didatangi seorang bayi.

"Whikk—"

"Ah—! Sakit, bodoh!" aku meringkih refleks.

Dia menarik telingaku! Keras sekali!

Cengkeraman tangannya yang mungil ternyata memiliki kekuatan yang tidak masuk akal. Aku mendesis kesakitan, berusaha menarik kepalaku, tapi dia justru tertawa.

Itu bukan tawa licik makhluk neraka. Itu tawa yang jernih, ringan, dan entah bagaimana…hangat.

Belum sempat aku memprotes, tangan kecilnya yang kini aku curigai sebagai senjata mulai menghentak-hentak perut empukku dalam wujud anjing kecil ini.

"Hei! Jangan seenaknya—!"

Dia tertawa lagi. Di ruangan yang biasanya hanya diisi oleh suara latihan pedang atau deru api, tawa Cloudet terdengar sangat asing, namun entah kenapa... pas.

Gencatan Senjata

Aku kembali ke wujud manusia. Aku menjulang kembali, bayanganku menelan ruangan, berusaha mengembalikan martabatku yang baru saja diinjak-injak oleh makhluk yang bahkan belum bisa bicara. Aku menatapnya jengkel, merapikan pakaianku yang sedikit berantakan karena "serangannya" barusan.

"Heh. Jangan pikir aku tidak berani membalasmu, dasar anak kecil," ancamku dengan senyum menyeramkan yang dibuat-buat.

Tetapi Cloudet tetaplah Cloudet. Dia tidak mengerti ancaman. Dia hanya menatapku, lalu merangkak lagi. Berhenti tepat di kakiku, dia menatap ke atas dengan wajah datar yang mencurigakan.

Lalu tiba-tiba—SRET!

"Hei!!" teriakku saat dia menarik celana di pinggangku dengan tenaga kuda. Aku hampir tersandung karena tarikannya yang mendadak. Dia tertawa puas, menepuk-nepuk tangannya sendiri seolah baru saja meruntuhkan benteng pertahanan musuh.

"Kau... benar-benar tidak sopan," gumamku sambil mendengus. Namun, aku tak bisa menahan sudut bibirku yang terangkat sedikit.

Aku berlutut di depannya, menatap mata kuning yang terlalu jernih itu.

“Dengarkan aku, bocah. Dunia ini tidak akan sebaik aku. Di luar sana, mereka akan menggigitmu jika kau terlalu lemah."

Dia hanya berkedip, lalu tanpa peringatan, dia menjatuhkan kepalanya ke lututku. Bersandar. Mencari kehangatan.

Tubuhnya hangat. Begitu hangat di tengah dinginnya istana obsidian ini.

Tanganku terangkat, ragu sejenak di udara sebelum akhirnya mendarat di kepalanya, mengusap rambut lembutnya dengan gerakan yang kaku. Aku tidak pernah dilatih untuk melindungi. Aku dilatih untuk menghancurkan. Tapi malam ini, aku belajar peran baru.

Aku menggendongnya, menariknya ke dalam pelukanku, lalu duduk bersandar pada dinding yang keras. Cloudet terdiam di pangkuanku, napasnya mulai teratur, tampaknya mulai merasa aman di bawah perlindungan "monster" yang baru saja ditarik telinganya.

"Kau ternyata cukup menyebalkan," ucapku pelan dengan senyum miring yang kini terasa tulus.

“Tapi kurasa, aku tidak keberatan menjagamu... sebentar saja."

Bersambung

1
Im_Uras
🤭🤭
Im_Uras
😍
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
lucu itu.. namanya juga masih masa pertumbuhan🤭🙏
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
wah.. pasti cakep banget
j_ryuka
namanya juga anak-anak
Tulisan_nic
ikut aku aja cloudet
Tulisan_nic
unyu banget,🫣
chrisytells
Kalau nggak keras, bukan kepala namanya 🤭😄
chrisytells
Udah otot kawat, tulang besi dari sononya nih si Cloudet
chrisytells
Gimana rasanya tuh, ditempelin? 🤣
Panda%Sya🐼
Benar kamu harus tumbuh jadi kuat
Diem Lu Move On Ege!
Cloudet masih masa pertumbuhan dan bimbingan orang dewasa, dan seusia dia lagi Lucu-lucunya
Vanillastrawberry
kasian nggak tau wajah ibunya 😥
Mentariz
siapp ntar kamu akan jatuh hati padanya😁
Mentariz
Kekuatannya emang gak main-main yaa 😂
Mentariz
Wuuiihh pasti cantik banget nih cloudet😄
j_ryuka
nyebelin tapi lucu
chrisytells
Iseng banget sih🤣
chrisytells
Udah nakutin, body shaming lagi😄
chrisytells
Nggak kebayang gimana karakternya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!