NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.

Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.

Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.

Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.

"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nadira Mulai Berubah

Perjalanan pulang ke vila terasa seperti mimpi buruk yang tidak berakhir.

Aku duduk diam di kursi penumpang sambil menatap kosong ke jendela. Tidak menangis lagi. Tidak bicara. Hanya... ada.

Leonardo beberapa kali melirik ke arahku dengan tatapan yang aneh. Antara khawatir dan bingung.

"Nadira," panggilnya pelan. "Kau baik-baik saja?"

Aku tidak menjawab. Tidak tahu harus jawab apa.

Baik-baik saja? Setelah melihat puluhan orang mati? Setelah melihat kepala seseorang dipenggal di depan mataku? Setelah hampir mati berkali-kali dalam satu malam?

Tidak. Aku tidak baik-baik saja.

Tapi aku juga tidak buruk.

Aku hanya... tidak merasakan apa-apa lagi.

Seperti sesuatu di dalamku mati. Sesuatu yang dulu membuat aku Nadira. Sekarang sudah tidak ada.

Kami sampai di vila sekitar pukul tujuh pagi.

Matahari sudah terbit. Cahaya keemasan menyinari danau di kejauhan. Burung-burung berkicau. Pemandangan yang sangat indah.

Tapi bagiku terasa hampa.

Leonardo turun dan membukakan pintu untukku. Mengulurkan tangannya.

Aku menatap tangannya. Tangan yang sudah membunuh entah berapa orang malam ini. Tangan yang berlumuran darah walau sudah dibersihkan di perjalanan.

Tapi aku meraihnya.

Karena aku tidak punya pilihan lain.

Dia membantuku turun. Tangannya melingkar di pinggangku saat aku hampir jatuh karena kaki lemas.

"Pelan-pelan," bisiknya. "Kau masih shock. Wajar."

Wajar.

Tidak ada yang wajar dari situasi ini.

Dia membawaku masuk. Vila sudah dibersihkan dari bekas pertempuran. Tidak ada pecahan kaca lagi. Tidak ada darah. Tidak ada mayat.

Seolah semua yang terjadi kemarin hanya mimpi buruk.

Tapi aku tahu itu nyata. Terlalu nyata.

Leonardo membawaku langsung ke kamar. Kamar kami. Bukan kamarku lagi.

Dia membaringkanku di tempat tidur dengan lembut. Melepas sepatuku. Menyelimutiku.

"Istirahatlah," ucapnya sambil mengusap rambutku. "Aku akan panggil Sofia untuk periksa kau."

Aku hanya menatap langit-langit tanpa ekspresi.

Leonardo mengerutkan kening. Dia melambai tangannya di depan wajahku.

"Nadira? Kau dengar aku?"

Aku mendengar. Tapi aku tidak peduli.

Dia keluar dengan langkah terburu. Aku bisa dengar dia menelepon seseorang dengan nada khawatir.

Dua puluh menit kemudian, Sofia datang dengan tas dokternya.

Dia duduk di tepi tempat tidur. Menatapku dengan tatapan khawatir.

"Nyonya," panggilnya lembut. "Bisa kau lihat aku?"

Aku memutar kepala sedikit. Menatapnya tanpa ekspresi.

Sofia mengeluarkan senter kecil. Menyinari mataku. Memeriksa pupil.

Lalu dia mengambil tensimeter. Mengukur tekanan darahku.

Setelah beberapa pemeriksaan, dia berdiri dan keluar kamar.

Aku bisa dengar dia bicara dengan Leonardo di luar.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Leonardo dengan nada yang tidak biasa. Ada kekhawatiran nyata di sana.

"Secara fisik dia baik-baik saja," jawab Sofia. "Tidak ada luka serius. Tapi secara mental..."

Hening sejenak.

"Dia mengalami trauma psikologis yang sangat berat," lanjut Sofia dengan nada serius. "PTSD akut. Shock emosional. Dia sudah terlalu banyak lihat kekerasan dalam waktu singkat. Otaknya... otaknya mematikan emosi sebagai mekanisme pertahanan."

"Apa... apa dia akan sembuh?" tanya Leonardo. Suaranya terdengar... rapuh?

"Tergantung," jawab Sofia. "Kalau dia dapat terapi yang tepat dan lingkungan yang aman, mungkin. Tapi kalau dia terus terpapar kekerasan..."

"Tidak akan ada lagi kekerasan," potong Leonardo dengan tegas. "Aku pastikan itu. Semua musuh sudah mati. Vila akan dijaga lebih ketat. Dia tidak akan lihat apapun yang bisa bikin dia lebih parah."

"Don," ucap Sofia dengan hati-hati. "Dengan segala hormat, masalahnya bukan hanya kekerasan dari luar. Tapi juga dari anda."

Hening.

"Apa maksudmu?" tanya Leonardo dengan nada berbahaya.

"Nyonya Nadira mengasosiasikan anda dengan kekerasan," jelas Sofia dengan suara gemetar. "Setiap kali dia lihat anda, dia ingat semua pembunuhan yang anda lakukan. Semua darah yang dia lihat. Jadi kalau anda mau dia sembuh... mungkin anda harus beri jarak."

BRAKK!

Suara pukulan ke dinding terdengar.

"JARAK?!" teriak Leonardo. "KAU MAU AKU TINGGALKAN DIA?! DIA BUTUH AKU! DIA BUTUH PERLINDUNGANKU!"

"Atau mungkin yang dia butuh adalah kebebasan dari anda," balas Sofia dengan berani. "Mungkin dia akan sembuh lebih cepat kalau..."

"KELUAR!" bentak Leonardo. "Keluar sekarang sebelum aku lakukan sesuatu yang kusesali!"

Aku dengar langkah kaki Sofia yang terburu. Pintu terbuka dan tertutup.

Lalu hening.

Hening yang lama.

Sampai pintu kamar terbuka lagi. Leonardo masuk dengan wajah lelah. Mata merah. Seperti dia sudah menangis atau menahan tangis.

Dia berjalan ke tempat tidur. Duduk di tepi sambil menatapku.

"Nadira," bisiknya. "Aku tahu kau mendengar semua itu. Aku tahu kau pikir aku monster. Dan mungkin kau benar."

Tangannya meraih tanganku. Menggenggam dengan lembut.

"Tapi aku tidak bisa jauh darimu," lanjutnya. Suaranya pecah. "Aku sudah kehilangan seseorang yang penting dulu. Dan aku bersumpah tidak akan kehilangan lagi. Bahkan kalau itu artinya aku harus jadi monster di matamu."

Dia berbaring di sampingku. Memelukku dari belakang.

"Aku akan jaga kau," bisiknya di telingaku. "Aku tidak akan biarkan mimpi buruk ganggu tidurmu. Aku akan ada di sini. Setiap malam. Sampai kau sembuh. Sampai kau bisa lihat aku lagi tanpa takut."

Pelukannya hangat.

Tapi aku tidak merasakan apa-apa.

Malam itu, aku tidur. Tapi tidur yang penuh mimpi buruk.

Aku melihat kepala-kepala terpenggal. Darah yang mengalir seperti sungai. Teriakan-teriakan orang yang mati.

Dan di tengah semua itu, Leonardo berdiri sambil tersenyum. Berlumuran darah. Mengulurkan tangannya padaku.

"Kemarilah," ucapnya. "Kau aman bersamaku."

Tapi aku tidak mau mendekat. Aku lari. Lari sejauh mungkin.

Tapi kemanapun aku lari, dia selalu ada. Selalu mengikuti. Selalu tersenyum dengan senyum yang mengerikan.

Aku terbangun dengan teriak.

Tubuh basah keringat. Napas tersengal.

Dan Leonardo sudah ada di sampingku. Memelukku. Mengusap rambutku.

"Ssshhh," bisiknya. "Cuma mimpi. Cuma mimpi buruk. Kau aman. Aku di sini."

Aku menangis. Menangis sejadi-jadinya sambil mencengkeram bajunya.

"Semua... semua itu nyata..." isakku. "Semua kematian itu... nyata..."

"Aku tahu," bisiknya. "Aku tahu dan aku minta maaf kau harus lihat itu. Tapi aku lakukan itu untuk lindungi kau. Untuk pastikan tidak ada lagi yang bisa sentuh kau."

Dia mencium kepalaku.

"Sekarang tidur lagi," ucapnya. "Aku akan jaga kau. Tidak akan ada mimpi buruk lagi. Aku janji."

Dan entah kenapa, pelukannya terasa... menenangkan.

Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini, aku merasa sedikit aman.

Walau aku tahu itu salah.

Walau aku tahu dia yang jadi penyebab semua trauma ini.

Tapi otak ku yang sudah rusak mulai mencari kenyamanan di tempat yang paling tidak masuk akal.

Di pelukan monster yang menghancurkanku.

Hari-hari berikutnya lewat dengan kabur.

Aku tidak banyak keluar dari kamar. Hanya berbaring di tempat tidur sambil menatap kosong.

Leonardo selalu ada. Dia tidak pergi kemana-mana. Membatalkan semua pertemuannya. Hanya duduk di samping tempat tidur sambil bekerja dengan laptop.

Sesekali dia bicara padaku. Cerita tentang hal-hal random. Tentang masa kecilnya. Tentang tempat-tempat yang pernah dia kunjungi. Tentang rencana masa depan.

Aku tidak pernah jawab. Tapi aku dengarkan.

Karena suaranya mengalihkan pikiranku dari mimpi buruk yang terus berputar di kepala.

Malam-malam aku selalu terbangun dengan mimpi buruk. Dan setiap kali, Leonardo ada di sana. Memelukku. Menenangkanku. Berbisik kata-kata yang anehnya... membantu.

Perlahan, sangat perlahan, aku mulai bergantung pada kehadirannya.

Mulai mencari tangannya saat aku takut.

Mulai tidur lebih nyenyak saat dia memelukku.

Mulai merasa gelisah saat dia harus keluar kamar walau cuma sebentar.

Dan yang paling menakutkan...

Aku mulai lupa kenapa aku harus takut padanya.

Minggu ketiga setelah kejadian itu, aku akhirnya bicara lagi.

Leonardo sedang duduk di sofa dekat jendela sambil membaca laporan di tabletnya.

"Leonardo," panggilku dengan suara serak karena jarang dipakai.

Dia langsung menoleh. Mata nya melebar kaget tapi senang.

"Ya, sayang?" jawabnya sambil langsung berdiri dan mendekat.

"Aku... aku haus..."

Hal yang sangat sederhana. Tapi buat dia seperti keajaiban.

Dia tersenyum lebar. Senyum yang pertama kali kulihat sejak kejadian itu. Senyum yang genuine.

"Tentu," ucapnya sambil langsung keluar dan kembali dengan segelas air.

Dia membantuku duduk. Memegang gelas sambil aku minum.

Airnya dingin. Menyegarkan. Membuat tenggorokan yang kering terasa lebih baik.

"Terima kasih," bisikku setelah selesai.

Leonardo menatapku dengan tatapan yang aneh. Mata nya berkaca-kaca.

"Sama-sama," balasnya dengan suara bergetar. "Terima kasih sudah bicara lagi. Aku... aku kangen suaramu."

Dia duduk di tepi tempat tidur. Tangannya meraih tanganku.

"Apa... apa kau mulai merasa lebih baik?" tanyanya dengan hati-hati.

Aku tidak tahu harus jawab apa.

Apa aku merasa lebih baik? Atau aku cuma kebas sampai tidak merasakan apa-apa lagi?

"Aku tidak tahu," jawabku jujur. "Aku cuma... aku cuma lelah merasa takut terus."

Leonardo mengangkat tanganku. Menciumnya dengan lembut.

"Kau tidak perlu takut lagi," bisiknya. "Semua sudah aman. Tidak ada yang akan ganggu kita. Aku pastikan itu."

Matanya menatapku dengan intensitas yang membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan.

"Aku akan jaga kau," lanjutnya. "Selamanya. Aku tidak akan biarkan apapun sakiti kau lagi. Bahkan kalau itu artinya aku harus bunuh seluruh dunia."

Kata-kata yang seharusnya menakutkan.

Tapi entah kenapa... entah kenapa aku merasa... aman.

Aman dengan orang yang seharusnya paling kutakuti.

Dan saat itu aku sadar.

Aku sudah berubah.

Bukan jadi lebih baik.

Tapi jadi lebih rusak.

Rusak sampai aku mencari kenyamanan di pelukan monster.

Rusak sampai aku bergantung pada orang yang menghancurkanku.

Rusak sampai aku mulai lupa siapa Nadira yang dulu.

Dan yang paling menakutkan...

Aku tidak yakin aku mau kembali jadi Nadira yang dulu.

Karena Nadira yang dulu lemah. Mudah hancur. Mudah sakit hati.

Tapi Nadira yang sekarang... Nadira yang mati rasa... mungkin lebih kuat.

Atau mungkin aku cuma bilang begitu untuk membenarkan perubahan yang terjadi.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku yang memeluk Leonardo saat tidur.

Bukan dia yang peluk aku.

Aku yang mencari kehangatan pelukannya.

Aku yang menanam wajah di dadanya.

Aku yang merasa aman di sana.

Dan Leonardo... Leonardo tersenyum dalam tidurnya.

Senyum kemenangan.

Karena dia tahu.

Dia akhirnya mendapatkan apa yang dia mau sejak awal.

Bukan hanya tubuhku.

Tapi juga jiwaku.

Yang sekarang sudah terlalu rusak untuk melawan.

Terlalu lelah untuk kabur.

Terlalu bergantung untuk pergi.

Sindrom Stockholm dalam bentuk paling sempurna.

Dan aku... aku bahkan tidak peduli lagi.

Karena di dunia yang sudah hancur ini...

Monster yang memelukku terasa seperti satu-satunya yang aman.

Walau dia yang bikin duniaku hancur sejak awal.

1
Abel Incess
tp sebenarnya ada baik"nya juga sih karna nadira tdk pernah di lecehkan
checangel_
Iya sih, taat pada suami harus, tapi jika aturan yang kau buat penuh tekanan untuk Nadira, apakah itu baik, Leon?🤧
checangel_
Luka bukan air mata 🤧
checangel_: Tapi lebih baik nggak dua²nya deh Kak /Facepalm/, karena terlalu riuh, kasian pikirannya 🤭
total 2 replies
checangel_
No! Penghulunya mana? Asal bilang sudah jadi milikmu 🤧
checangel_
Lima tahun itu berapa lama? 365×5= bersamanya yang penuh aturan dalam mengartikan cinta? 🤧/Facepalm/
checangel_
Seberat itu memang utang dalam realita 🤧, 50 Meter (Milyar) itu sebanyak apa /Sob/
checangel_
Meet with Rain again 🎶🤭
Leoruna: tetap mengalir🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!