NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05. Arkan, Kau Gila?!

Ruang tamu luas yang minim perabotan itu terasa bergetar oleh suara tangisan Leon yang memecah kesunyian malam. Di tengah ruangan, seorang pria muda dengan kemeja yang sudah berantakan, Yudha, adik Arkan yang bekerja sebagai seorang Jaksa tampak panik. Ia terus menggoyangkan tubuhnya, mencoba menenangkan bayi dalam gendongannya yang tak kunjung berhenti menjerit.

Di ambang pintu, Maya terpaku. Suara tangisan itu seolah memiliki frekuensi yang sama dengan detak jantungnya yang hancur. Tanpa aba-aba dari Arkan, tanpa memperdulikan rasa perih yang menyayat jahitan di perutnya, kedua kaki Maya melangkah cepat. Rasa sakit fisiknya seolah menguap, digantikan oleh naluri primitif seorang ibu.

Tanpa meminta izin, Maya meraih Leon dari pelukan Yudha. Gerakannya begitu luwes namun tegas. Ia membawa bayi itu duduk di sofa panjang berwarna abu-abu tua. Di sana, di depan tiga pria dewasa yang mematung, Maya melepaskan kancing bajunya yang sudah basah, mengabaikan rasa malu, dan membiarkan bibir mungil Leon menemukan sumber kehidupannya.

Seketika, ruangan itu menjadi sunyi. Tangisan melengking Leon berhenti, berganti dengan suara isapan yang rakus dan napas bayi yang mulai teratur.

"Si-siapa bocah ingusan yang lantang itu? Dan... Oh my God. Gadis itu...dia menyusui Leon ?" ucap Yudha histeris dengan suara tertahan. Ia segera menghampiri Arkan, menyenggol lengan Abangnya dengan wajah syok. "Bang, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ada anak di bawah umur di rumahmu?"

Arkan tidak menjawab. Matanya tidak beralih sedikit pun dari sosok Maya. Dari posisinya, ia bisa melihat rambut Maya yang berantakan tertiup angin malam, menutupi sebagai wajah pucatnya. Arkan perlahan mengangkat jarinya, menghapus setetes air mata yang tanpa sadar menggantung di ujung ekor matanya. Ia merasakan kelegaan yang luar biasa, seolah beban berat yang menghimpit pundaknya selama berbulan-bulan terangkat seketika.

Gavin dan Yudha saling berpandangan dengan ngeri. Mereka melihat bagaimana Arkan menatap Maya, bukan hanya dengan tatapan syukur seorang ayah, melainkan tatapan posesif yang sangat dalam. Arkan seolah sedang menandai wilayahnya, memastikan bahwa gadis itu tidak akan pernah keluar dari pintu rumah ini lagi.

"Arkan, kau gila," bisik Gavin, bulu kuduknya merinding. "Kau tidak hanya membawa ibu susu. Kau baru saja membawa 'nyawa' baru ke rumah ini, dan aku tahu kau tidak akan pernah melepaskannya."

Arkan tidak memberikan penjelasan apa pun. Ia hanya tersenyum, sebuah senyuman tipis yang mendalam, seolah ia baru saja memenangkan sebuah pertaruhan besar melawan takdir. Sambil melangkah santai menuju Maya, kedua tangannya dengan ringan memukul kepala Gavin dan Yudha secara bergantian, seperti sedang mendisplinkan dua anak kecil.

"Sepertinya pikiran kalian berdua harus segera aku terapi," ucap Arkan pendek dengan nada bicara yang tenang namun tak bisa dibantah.

Gavin dan Yudha saling mengaduh kecil, lalu mereka berdiri berdekatan, menepi dari jalur jalan Arkan. Yudha menatap punggung abangnya dengan ekspresi yang masih dipenuhi keterkejutan.

"Bang Gavin," bisik Yudha sambil menarik lengan jaket Gavin. "Di sela-sela sudut jalan malam mana, Abangku mendapatkan pendonor ASI untuk Leon? Dan... kenapa gadis sekecil itu bisa memproduksi ASI? Mataku yang salah, atau pola pikir Abangku yang memang sudah melenceng?"

Gavin, yang jauh lebih memahami Arkan, hanya tersenyum getir. Ia merangkul bahu Yudha dan memutar tubuh adik sahabatnya itu agar membelakangi Maya, memberikan privasi bagi gadis itu yang masih berjuang menyusui Leon.

"Sepertinya kita punya tugas baru, Yudha," gumam Gavin sambil menatap lurus ke arah pintu keluar. "Kalau gadis itu suatu saat ingin membalas dendam atas kehancurannya, mungkin kita berdua bisa membantunya."

Yudha mengernyitkan dahi, wajahnya semakin tampak bingung. "Apa...apa maksudnya semua ini? Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kalian!" bisiknya setengah frustasi.

Gavin terkekeh pelan, lalu memukul bahu Yudha dengan akrab. "Halah, nanti kau juga bakal tahu sendiri."

Yudha akhirnya terdiam, namun rasa penasarannya tak terbendung. Ia memutar sedikit kepalanya, melirik ke arah sofa. Di sana, ia melihat pemandangan yang sangat kontras dengan aura dingin abangnya. Arkan, dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh perhatian, membentangkan selimut putih tambahan di atas bahu Maya untuk menutupi tubuhnya yang sedang menyusui Leon.

Arkan tidak menyentuh Maya, namun ia berdiri sangat dekat, seolah menjadi pagar pelindung bagi gadis itu dari pandangan siapa pun. Sebagai seorang Jaksa, insting Yudha mencium sesuatu yang tidak beres namun sekaligus sangat terstruktur.

"Apa yang sedang direncanakan Abang sebenarnya?" gumam Yudha dalam hati. Ia tahu Arkan tidak pernah melakukan sesuatu secara kebetulan.

Sementara itu, untuk pertama kalinya setelah hari-hari yang penuh neraka, Maya merasa kehangatan yang tulus. Meski tangannya masih gemetar mendekap Leon, ia merasa aman di bawah bayang-bayang pria bernama Arkan ini.

Di tengah hiruk-pikuk Yudha dan Gavin yang masih berdiri di sudut ruangan, suasana di sekitar sofa justru terasa seperti dunia yang berbeda. Maya, yang sejak di rumah sakit hanya menatap kosong penuh keputusasaan, kini perlahan menunduk. Sebuah garis senyum tipis, sangat tipis dan rapuh muncul di bibirnya yang pucat saat ia menatap wajah bayi dalam dekapannya.

"Andai saja aku tidak ceroboh, mungkin dua minggu lagi aku akan memberikan ASI ini kepada anakku sendiri. Seperti aku memberikan napas pada anak orang lain saat ini," batin Maya pedih.

Setetes air mata jatuh, membasahi kain bedong bayi yang halus. Arkan, yang berdiri tepat di belakangnya, sempat tersentak kecil melihat bahu Maya yang bergetar. Ia ingin merengkuhnya, namun ia menahan diri, membiarkan gadis itu melepaskan emosi yang selama ini terkunci rapat.

Maya merasakan isapan Leon yang sangat kuat, seolah bayi itu sedang berjuang mempertahankan hidupnya.

"Bayi ini, dia begitu kurus dan rakus. Sudah berapa lama nyawa mungil ini menahan lapar?" pikir Maya. "Ternyata aku bukan satu-satunya makhluk paling malang di dunia ini. Aku memang hancur karena kehilangan bayiku, tapi bayi ini jauh lebih pedih, ia dipaksa menghadapi dunia yang keras tanpa pelukan ibunya sejak hembusan napas pertamanya. Jika aku menolaknya tadi, mungkin aku bukan hanya kehilangan anakku, tapi aku juga akan menjadi pembunuh bagi bayi orang lain."

Setelah beberapa saat, isapan Leon perlahan melemah hingga akhirnya terlepas. Bayi itu tampak tertidur pulas dengan wajah yang jauh lebih tenang. Maya dengan cekatan mengancing kembali daster yang ia kenakan. Ia menatap bibir bayi yang masih bergerak-gerak kecil, sisa-sisa menikmati asupannya.

"Benar-benar bayi yang tampan," puji Maya dalam hati. Tanpa sadar, jemari mungilnya yang masih dingin bergerak pelan, mengelus pipi Leon yang kini terasa lebih hangat.

"Maya, terima kasih," suara berat Arkan memecah keheningan, tepat di belakang telinganya.

Maya tersentak. Ia segera menarik tangannya dari pipi Leon, seolah tertangkap basah melakukan sesuatu yang dilarang. Ia menoleh sedikit, mendapati wajah dr. Arkan yang menatapnya dengan binar mata yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, sebuah tatapan yang penuh rasa syukur namun juga penuh dengan obsesi tersembunyi.

"Aku, aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, Dok," jawab Maya pelan, kembali menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai merona karena kedekatan mereka.

Arkan tidak bergeming. Ia justru membungkuk sedikit, membuat jarak di antara mereka semakin menipis. "Kamu bukan hanya membantunya, Maya. kamu baru saja memberikan alasan bagi jantung rumah ini untuk tetap berdetak."

Maya perlahan berdiri dari sofa, gerakannya masih sangat berhati-hati karena bekas operasi di perutnya. Dengan kedua tangannya yang kecil, ia menyerahkan Leon kembali kepada ayahnya. Tubuh mungil Leon kini berpindah, seolah tenggelam dalam satu genggam besar dan kokoh milik Arkan.

"Apa kamu tidak ingin mengantar bayi ini ke dalam kamarnya?" tawar Arkan dengan suara rendah yang mengayomi, bibirnya membentuk senyum tipis yang sangat hangat.

Namun, pemandangan itu justru memberikan dampak yang berbeda bagi dua pria di sudut ruangan. Yudha dan Gavin kompak menjauh selangkah,punggung mereka hampir menempel pada dinding. Mereka saling menyenggol lengan, mata mereka membulat sempurna menyaksikan transformasi dr. Arkan.

"Kau lihat itu? Lihat!" bisik Yudha dengan suara bergetar, wajahnya pucat. "Seumur hidupku menjadi adiknya, aku tidak pernah melihatnya tersenyum selembut itu pada orang lain. Itu bukan senyum manusia, Bang."

Gavin mengangguk cepat, bulu kuduknya berdiri tegak. "Benar-benar seperti serigala yang sedang menjerat mangsanya. Dia tidak sedang menawarkan bantuan, dia sedang memancing gadis itu untuk masuk lebih dalam ke wilayahnya. Arkan, dia benar-benar monster yang tertutup jas putih."

...❌ Bersambung ❌...

1
~~N..M~~~
Benar, cuci aja pakai pemutih😂😂🤣🤣
~~N..M~~~
enggak, sudah bener itu🤣
~~N..M~~~
Pingin ku tampar itu mulut si Shiti
~~N..M~~~
Bagus. walaupun berat, kau harus menentukan masa depanmu sendiri, Ar
~~N..M~~~
Bener-bener merinding plus campur haru. Akhirnya alm. Lily membuka jalan baru untuk arkan
~~N..M~~~
Iih, merinding aku bacanya.
Manyo
memang bia*dab ibu tirinya. dan yang lebih bi*adab para pria, tapi bukan aku.
Manyo
sih paling fiktor 🤣
Manyo
Miris kali kurasa masa lalunya
Lisa
Arkan udh lega nih karena alm.Lily udh memberi restu supaya dia membuka hati utk wanita lain
Chici👑👑
Vote melayang untuk mu kak
sari. trg: terima kasih kak/Smile/
total 1 replies
~~N..M~~~
Bibinya kayak makcomblang
~~N..M~~~
Jadi gak sabar gebrakan apa yang akan dibut arkan
Lisa
Bersyukur ibu & baby nya selamat..dokter Arkan benar2 dokter yg handal 👍
~~N..M~~~: Bener, kak. Serumit apa pun masalahnya, dia tetap profesinya.
total 1 replies
Sunaryati
Kejam amat Arkan
~~N..M~~~
Zavier lembutnya hanya pada Maya, dan korban lainnya.
~~N..M~~~
Waktu tidak sadar kau bilang tangguh. Enggak teciummu lagi laki laki yang gak mandi berhari-hari itu
Manyo
Hahahaha, belum gosok gigi kali
Manyo
tegas👍
Manyo
banyak bacot mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!