NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Gerobak Soto

Cinta Di Balik Gerobak Soto

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Berondong
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
​Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suasana mencekam di gudang tua itu seketika berubah menjadi kepanikan baru saat tubuh Luna tiba-tiba lemas dan merosot dalam dekapan Pratama.

Trauma hebat dan efek obat bius yang belum sepenuhnya hilang membuat pertahanan fisiknya runtuh.

"Luna! Dik! Bangun!" teriak Pratama panik. Tanpa membuang waktu, ia membopong tubuh istrinya menuju mobil, mengabaikan rasa perih di hatinya demi keselamatan wanita itu.

Sesampainya di rumah sakit, Luna segera dilarikan ke ruang perawatan.

Dokter dengan sigap memasang selang infus untuk menstabilkan kondisinya yang drop akibat syok berat.

Pratama duduk di samping ranjang, menatap wajah pucat Luna yang kini tampak begitu asing baginya.

Wajah yang selama ini ia kira milik seorang guru TK sederhana, ternyata adalah wajah penguasa bisnis yang sangat disegani.

Beberapa jam kemudian, jemari Luna bergerak. Ia membuka matanya perlahan, mengernyit menahan pening, hingga matanya menangkap sosok Pratama yang duduk mematung di sampingnya.

"M-mas..." suara Luna parau, nyaris tak terdengar.

Pratama tidak bergeming. Ia tidak menyambut tangan Luna seperti biasanya.

Tatapannya dingin, menembus jauh ke dalam manik mata Luna.

"Lucu ya, Dik," ucap Pratama dengan nada suara yang sangat datar, namun sarat akan luka.

"Orang yang paling aku percayai, orang yang paling aku cintai, ternyata adalah orang yang paling hebat membohongiku."

Air mata seketika menggenang di pelupuk mata Luna. Ia berusaha duduk meski tubuhnya masih sangat lemah.

"Mas, maaf. Aku tidak berniat membohongi kamu sejauh ini. Aku hanya ingin..."

"Aku apa, Dik?" potong Pratama cepat. "Ingin melihatku seperti orang bodoh? Selama ini aku bekerja banting tulang agar kamu bisa makan enak, sementara kamu mungkin sedang tertawa di balik meja kantormu yang mewah melihat usahaku yang tidak seberapa itu?"

"Tidak, Mas! Demi Allah, tidak begitu!" Luna terisak, mencoba meraih lengan Pratama.

"Aku mencintaimu apa adanya. Aku takut jika kamu tahu siapa aku, kamu akan menjauh. Aku hanya ingin hidup sederhana bersamamu."

"Tapi nyatanya kamu sudah membohongi aku, Luna," suara Pratama mulai bergetar karena emosi yang ia tahan sejak di mobil tadi.

"Semua yang kita miliki, ruko itu, pengobatan rumah sakitku, semuanya palsu. Semuanya rekayasa kamu. Kamu membuatku merasa seperti pengemis yang sedang dikasihani oleh istrinya sendiri."

"Maaf, Mas. Aku tidak mau hubungan kita seperti ini. Aku benar-benar mencintaimu," tangis Luna semakin pecah.

Pratama berdiri dari kursinya. Ia menatap Luna untuk terakhir kalinya sebelum berbalik arah.

"Bukankah Mas pernah bilang, Dik? Mas pernah dikhianati dan dihina karena miskin. Mas paling tidak suka dengan kebohongan, apa pun alasannya. Dan kamu melakukannya dengan sangat sempurna."

"Mas! Mas Pratama, tunggu!" seru Luna sambil mencoba melepas selang infusnya.

Namun Pratama tidak menoleh. Ia melangkah keluar dari ruang perawatan, meninggalkan aroma antiseptik yang menyesakkan dan bayang-bayang kebohongan yang menghancurkan hatinya.

Ia terus berjalan meninggalkan rumah sakit, membiarkan angin malam menyapu luka di dadanya.

Di dalam kamar, Luna hanya bisa meringkuk, menangis sesenggukan hingga dadanya sesak.

Ia telah mendapatkan kembali nyawanya dari tangan penculik, namun di saat yang sama, ia merasa baru saja kehilangan separuh jiwanya.

Langkah kaki Pratama terasa sangat berat, seolah setiap inci jalanan menuju kontrakannya sengaja menahannya agar tidak kembali ke sana.

Di bawah temaram lampu jalan yang redup, bahunya berguncang hebat.

Air mata yang sejak tadi ia tahan di depan Luna kini tumpah tanpa kendali.

Ia menangis sesenggukan, menutup wajahnya dengan sebelah tangan.

Rasa sakit di tubuhnya akibat pengeroyokan tempo hari belum seberapa dibandingkan rasa hancur di dadanya.

Ia merasa harga dirinya sebagai seorang suami telah diinjak-injak, bukan oleh musuh, melainkan oleh kasih sayang yang dibalut kebohongan.

“Untuk apa semua perjuanganku selama ini, Luna?” batinnya perih.

Sesampainya di depan pintu kontrakan yang kayu-kayunya sudah mulai lapuk, Pratama tertegun.

Ia memutar kunci dengan tangan gemetar. Saat pintu terbuka, suasana sunyi menyambutnya, namun matanya justru menangkap bayang-bayang masa lalu yang begitu nyata.

Ia melihat ke arah dapur kecil yang sempit. Di sana, ia seolah melihat bayangan Luna sedang berdiri dengan daster sederhananya, sibuk memotong seledri dan menyiapkan mangkuk-mangkuk soto untuknya.

“Mas, kuahnya sudah mendidih, aromanya segar sekali. Pasti pelanggan Mas suka,” suara lembut Luna seolah terngiang di telinganya.

Pratama berjalan mendekat ke arah meja kayu tempat mereka biasa makan bersama.

Ia melihat bayangan Luna yang tersenyum tulus, mengelap keringat di dahi Pratama setelah seharian berjualan.

Bayangan itu tampak begitu polos, begitu mencintainya tanpa syarat.

Namun, seketika bayangan itu berubah. Sosok Luna yang sederhana itu perlahan berganti menjadi wanita anggun dengan setelan jas mahal, berdiri di lobi rumah sakit sambil memberi perintah tegas kepada tim keamanan.

"Semuanya palsu..." bisik Pratama serak.

Ia menyentuh kursi kayu yang biasa diduduki istrinya.

Di rumah ini, mereka pernah tertawa meski hanya makan dengan lauk seadanya.

Di rumah ini, Pratama merasa menjadi pria paling berdaya karena bisa melindungi "istri kecilnya".

Sekarang, rumah itu terasa begitu luas dan asing. Setiap sudutnya seolah menertawakan ketidaktahuannya.

Pratama terduduk di lantai dapur yang dingin. Ia memeluk lututnya, menatap gerobak soto yang terparkir di pojok ruangan.

Gerobak yang ia kira adalah sumber nafkahnya, ternyata hanyalah bagian dari dekorasi "drama" kehidupan seorang CEO kaya raya.

"Kenapa harus dengan cara seperti ini, Dik?"

Suara tangis Pratama kembali pecah di tengah kesunyian rumah kontrakan itu.

Ia mencintai Luna, sangat mencintainya, tapi ia tidak tahu apakah ia bisa mencintai

"Nyonya Luna Jati" yang memiliki dunia yang begitu jauh dari jangkauannya.

Di kamar VVIP yang luas dan mewah itu, Luna masih meringkuk di atas ranjang.

Suara tangisnya yang sesenggukan memecah kesunyian malam, terdengar begitu pilu dan penuh penyesalan.

Kamar yang seharusnya menjadi tempat pemulihan itu kini terasa seperti penjara yang dingin baginya.

Ia menatap tangannya yang masih terbalas selang infus.

Tangan yang tadi sempat ingin meraih Pratama, namun ditolak mentah-mentah.

"Mas, maafkan aku," bisiknya di sela isak tangis yang membuat dadanya terasa sesak.

Setiap sudut kamar ini sekarang mengingatkannya pada murka Pratama.

Ia teringat tatapan mata suaminya yang biasanya teduh dan penuh kasih, berubah menjadi tatapan asing yang sarat akan luka dan kehancuran harga diri.

Keinginan Luna untuk melindungi Pratama dengan kekuasaannya ternyata justru menjadi senjata yang menikam suaminya paling dalam.

Arini masuk ke dalam ruangan dengan langkah pelan, wajahnya tampak sangat sedih melihat kondisi pimpinannya yang hancur berkeping-keping.

"Nyonya, makanlah sedikit. Anda harus minum obat agar kondisinya tidak semakin menurun," ucap Arini lembut sambil meletakkan nampan makanan.

Luna menggeleng lemah, air matanya terus mengalir membasahi bantal hospital itu.

"Dia pergi, Arini. Mas Pratama pergi dengan luka yang aku buat sendiri. Dia benar, aku sudah menganggapnya bodoh dengan semua sandiwara ini."

"Nyonya hanya ingin melindunginya..."

"Tapi caranya salah!" potong Luna dengan suara bergetar.

"Aku terlalu takut kehilangan dia sampai aku lupa kalau dia adalah pria yang punya harga diri. Sekarang, setelah dia tahu siapa aku, dia tidak melihatku sebagai istrinya lagi. Dia melihatku sebagai orang asing yang menipunya."

Luna memejamkan mata erat-erat, membayangkan Pratama sendirian di kontrakan mereka yang sederhana.

Ia tahu pasti suaminya sedang menatap gerobak soto itu dengan rasa pahit.

Hati Luna sakit membayangkan pria tulus itu harus menanggung malu karena "kebaikan" yang ia paksakan.

Isak tangisnya kembali mengeras. Di tengah kemewahan fasilitas rumah sakit terbaik ini, Luna merasa menjadi wanita paling miskin di dunia karena telah kehilangan kepercayaan dari satu-satunya pria yang mencintainya tanpa melihat harta.

1
tiara
itu pingsan kaget apa karena hamil ya🤭🤭🤭
awesome moment
pratama tu org dgn banyak potensi tp tersembunyi dalam kekisminan
Nabila Nabil
itu pingsan karna papa jati mau dipanggil opa dan arini dipanggil oma.... 🤣🤣
awesome moment
kpm tertangkap tu mokondo 2 ekor
awesome moment
lambe turah g punya obyek julid lg n
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
semoga Dirga dan Noah lekas tertangkap ya,agar papa Jati cepat menikah
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
pa Wandi ga bisa lagi gangguin Pratama tuh, hilang juga pemasukan ya kasian deh tukang nyinyir
my name is pho: 🤭🤭 hehe
total 1 replies
awesome moment
smg luna g kaget klo arini dan papa jati jujur.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Setiawan
kog aneh yah ?? bukannya td pratama lg di jln pulang br bs nolongin luna ?? itu kesian amat mtr bebek tua nya di tggl di jln 🤭🤭🤭
awesome moment
whoah...sama2 virgin ternyata
awesome moment
smg pratam slain kejujuran punya kecerdasan bisnis yg keyen. biar g njomplang bgts sm luna
awesome moment
udh terhura dluan
awesome moment
dih...juwita tu perempuan model p c
awesome moment
👍👍👍luna panggil arini, mama dunk😄😄😄
tiara
wah ternyata Arini menjalin hubungan dengan papa Jati toh, seru nih nantinya
Nabila Nabil
ini nanti ceritanya Luna yg gantian manggil bu ke arini🤣🤣🤣🤣🤣 kocak sih... 🤣🤣🤣
deepey
saling support ya kk. 💪💪
deepey
paginya gulingnya sdh pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!