NovelToon NovelToon
Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Langit

"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta Di Atas Tebing Kehancuran

Suasana ballroom hotel bintang lima itu sangat kontras dengan ketegangan yang merayap di bawah kulit Alana. Malam ini adalah perayaan ulang tahun ke-80 Kakek Arkan, sebuah perhelatan yang bukan sekadar pesta, melainkan ajang unjuk kekuatan bagi klan Arkananta. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit membiaskan cahaya ke segala arah, memantul di atas gaun-gaun sutra dan gelas-gelas sampanye mahal.

Alana melirik pantulan dirinya di dinding cermin. Ia mengenakan gaun off-shoulder berwarna perak yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan dingin sekaligus elegan. Namun, di balik riasan wajahnya yang flawless, Alana merasa seperti seorang narapidana yang sedang berjalan menuju panggung eksekusi. Di pergelangan tangannya, gelang pelacak pemberian Arkan terasa lebih berat dari biasanya.

"Jangan melamun, Alana. Kamu adalah pusat perhatian malam ini," bisik Arkan sambil merangkul pinggangnya dengan posesif.

Arkan tampak sangat tenang, seolah insiden Marco dan keberadaan Elena yang disembunyikan di paviliun tidak pernah terjadi. Pria itu adalah aktor terbaik yang pernah Alana temui. Ia bisa tersenyum tipis pada para kolega, menjabat tangan para menteri, dan di saat yang sama, memberikan tekanan pada pinggang Alana sebagai peringatan agar ia tetap waspada.

"Aku melihat Kevin," bisik Alana pelan, hampir tidak menggerakkan bibirnya.

Di seberang ruangan, Kevin berdiri bersama Bibi Sofia. Pria itu tidak lagi menatap Alana dengan kemarahan, melainkan dengan senyum kemenangan yang membuat bulu kuduk Alana meremang. Kevin sedang memegang sebuah map tipis sambil sesekali melirik ke arah Kakek Arkan yang duduk di kursi kebesarannya di panggung utama.

"Biarkan dia bermain dengan kartunya," jawab Arkan dingin. "Aku sudah menyiapkan jebakan untuk setiap langkah yang dia ambil."

Tiba-tiba, musik pengiring berhenti. Sang Kakek berdiri, memberikan isyarat agar semua tamu memperhatikannya. "Malam ini, selain merayakan bertambahnya usiaku, aku ingin mengumumkan sesuatu yang penting bagi masa depan Arkananta Group."

Langkah kaki Kevin terdengar mendekati panggung. "Kakek, sebelum Kakek membuat pengumuman, bolehkah aku memberikan kado istimewa? Sebuah kado kejujuran yang selama ini disembunyikan oleh cucu kesayanganmu, Arkan."

Seluruh ruangan seketika sunyi. Arkan melepaskan rangkulannya pada Alana, namun ia tetap berdiri tegak di sampingnya, memberikan perlindungan tanpa suara.

"Apa maksudmu, Kevin?" tanya Sang Kakek, matanya menyipit penuh selidik.

Kevin membuka map yang dipegangnya. "Kita semua tahu Arkan baru saja menikah dengan seorang wanita yang dia klaim sebagai putri bangsawan bernama Alana. Tapi, bagaimana jika aku katakan bahwa wanita di sampingnya ini hanyalah seorang penipu? Seorang sekretaris miskin yang menyamar menjadi kakaknya sendiri untuk merampok harta keluarga kita?"

Gumamman kaget pecah di antara para tamu. Bibi Sofia tersenyum licik di belakang Kevin.

"Aku punya bukti transaksi ilegal yang dilakukan oleh 'Elena'—identitas asli wanita ini—dan rekaman percakapan tentang penyamarannya," Kevin mengangkat beberapa lembar kertas tinggi-tinggi. "Arkan telah menipu kita semua hanya untuk mempertahankan posisinya sebagai pewaris!"

Alana merasa dunianya berhenti berputar. Oksigen seolah menghilang dari ruangan itu. Ia menatap Arkan, berharap melihat setitik keraguan, namun wajah pria itu tetap datar seperti batu karang.

"Kevin," suara Arkan terdengar, tenang namun mematikan. "Kamu selalu ceroboh dalam melakukan riset. Dokumen yang kamu pegang itu... apakah kamu sudah memastikan keasliannya?"

Kevin tertawa meremehkan. "Tentu saja! Aku mendapatkannya langsung dari mantan kekasih kakak istrimu, Marco."

"Ah, Marco," Arkan melangkah maju satu langkah, menutupi tubuh Alana dengan bahunya yang lebar. "Pria yang sekarang sedang berada di kantor polisi karena tuduhan pemerasan dan pemalsuan dokumen? Apakah kamu benar-benar ingin mempertaruhkan reputasimu pada seorang kriminal?"

Arkan memberi isyarat pada Dimas yang berdiri di sudut ruangan. Detik berikutnya, layar proyektor besar di belakang panggung menyala. Bukan menampilkan foto-foto masa kecil Arkan, melainkan bukti transfer rahasia dari rekening Kevin kepada Marco.

"Itu adalah bukti bahwa kamu menyuap Marco untuk menciptakan bukti palsu guna menjatuhkan istriku," ucap Arkan, suaranya menggema di seluruh ballroom. "Alana memang memiliki saudara kembar bernama Elena yang bermasalah, dan Alana justru sedang berusaha menutupi kesalahan kakaknya. Tapi menyebutnya sebagai penipu identitas? Itu adalah fitnah yang sangat mahal harganya, Kevin."

Wajah Kevin seketika pucat pasi. Ia menatap kertas di tangannya, lalu menatap layar proyektor. "Ini... ini tidak mungkin! Marco bilang—"

"Marco bilang apa yang ingin kamu dengar setelah aku membayarnya lebih tinggi untuk menjebakmu," potong Arkan dengan seringai kejam.

Sang Kakek berdiri dari kursinya, wajahnya memerah karena amarah. "Kevin! Kamu berani mengacaukan pestaku dengan intrik murahan seperti ini? Dan kau menggunakan uang perusahaan untuk menyuap kriminal?!"

"Kakek, aku bisa jelaskan—"

"Cukup! Keluar dari sini sekarang juga! Mulai besok, seluruh jabatanmu di Arkananta Group dicopot!" bentak Sang Kakek.

Para penjaga segera menyeret Kevin keluar dari ruangan. Bibi Sofia hanya bisa menunduk malu, tidak berani membela putranya sendiri. Suasana kembali tenang, meski ketegangan masih tersisa di udara.

Arkan berbalik ke arah Alana, tangannya kembali melingkar di pinggangnya. "Maafkan gangguan kecil ini," ucapnya pada para tamu dengan nada yang sangat sopan.

Namun, saat pesta berlanjut dan mereka kembali ke sudut yang lebih sepi, Alana menarik napas panjang. "Kamu menjebaknya? Kamu tahu dia akan melakukan ini?"

Arkan menyesap sampanyenya. "Aku yang mengirim Marco untuk menemui Kevin. Aku harus memastikan Kevin mengeluarkan semua senjatanya malam ini agar aku bisa menghancurkannya sekaligus di depan kakek."

Alana menatap suaminya dengan rasa takut yang baru. Arkan sangat licik. Ia menggunakan Marco, ia menggunakan Kevin, dan secara tidak langsung, ia juga menggunakan ketakutan Alana sebagai bagian dari skenarionya.

"Lalu bagaimana dengan Elena? Jika kakek menyelidiki lebih lanjut, dia akan tahu bahwa Elena benar-benar ada di rumah kita," bisik Alana.

"Kakek tidak akan menyelidiki pemenang, Alana. Dia hanya akan menghukum pecundang," Arkan menatap mata Alana, jemarinya mengusap pipi gadis itu dengan lembut namun posesif. "Malam ini, posisi kita semakin kuat. Tapi ini baru permulaan. Kevin tidak akan diam saja setelah dipermalukan seperti ini."

Sisa malam itu dilalui Alana dengan perasaan campur aduk. Ia memang selamat dari serangan Kevin, namun ia menyadari bahwa ia kini berada di tengah-tengah peperangan yang sesungguhnya. Ia bukan lagi sekadar penonton; ia adalah senjata utama Arkan.

Saat pesta berakhir dan mereka masuk ke dalam mobil, Arkan tidak langsung meminta sopir untuk jalan. Ia menatap Alana yang tampak kelelahan.

"Kamu melakukannya dengan baik malam ini," ucap Arkan pelan. "Sebagai hadiah, besok aku akan membawamu menjenguk ibumu. Kondisinya sudah sangat stabil."

Mata Alana berbinar mendengar hal itu. "Benarkah?"

"Iya. Tapi dengan satu syarat," Arkan mendekatkan wajahnya, membuat Alana terpojok di sudut kursi mobil yang mewah. "Berhenti menatapku dengan tatapan takut itu. Aku suamimu, Alana. Aku adalah satu-satunya orang yang bisa menjagamu di dunia yang penuh dengan ular ini."

Arkan mencium bibir Alana, sebuah ciuman yang terasa seperti sebuah janji sekaligus penguasaan. Alana tidak menolak. Di tengah badai intrik keluarga ini, pelukan sang Iblis adalah satu-satunya tempat yang ia miliki.

Namun, di kegelapan malam, saat mobil mereka melaju meninggalkan hotel, sebuah mobil lain mengikuti dari kejauhan. Di dalamnya, Kevin sedang menelepon seseorang dengan mata yang merah karena dendam.

"Aku gagal malam ini, tapi aku punya rencana lain. Cari tahu siapa wanita yang disembunyikan Arkan di paviliunnya. Aku yakin itu adalah kunci untuk menghancurkan pernikahan suci mereka," ucap Kevin dengan nada penuh kebencian.

Perang keluarga Arkananta baru saja memasuki babak baru yang lebih gelap, dan Alana, tanpa ia sadari, sedang berjalan menuju rahasia masa lalu Arkan yang akan mengguncang pondasi cinta mereka yang baru saja tumbuh.

1
Sweet Girl
Nikmati aja dulu kemewahan yang diberikan Arkan, toh kamu sendiri belum punya pacarkan...
Sweet Girl
Nah... ini gak enaknya...
Sweet Girl
Kok seperti nya Arkan sudah mengenal Alana ya Tor...
Sweet Girl
Dirantai kamu Alana...
Sweet Girl
Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???
Sweet Girl
Bwahahaha bener tau dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!