menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 3
Sasha Arka melangkah lebar meninggalkan kantin dengan rahang yang mengeras. Nafsu makannya telah lenyap, berganti dengan rasa panas yang membakar di dadanya.
Ia tidak mempedulikan nampan yang berserakan atau anak kelas satu yang masih gemetar di lantai. Baginya, sekolah ini hanyalah kotak sesak yang penuh dengan aturan tidak berguna dan orang-orang yang lemah.
Sasha Arka adalah rangkaian catatan hitam yang membuat bulu kuduk siapa pun merinding. Dia bukan berandalan yang lahir kemarin sore.
Reputasinya sudah terbangun sejak ia masih duduk di bangku SMP. Sasha tidak pernah mengikuti latihan bela diri formal seperti karate atau silat; dia tidak butuh teknik indah. Gaya berkelahinya kasar, mengandalkan insting binatang dan tenaga yang luar biasa besar di balik tubuhnya yang tampak kurus. Dia hanya meninju, menendang, dan menghantam apa saja yang ada di depannya dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang.
Ada sebuah legenda urban yang nyata di kota ini tentangnya. Saat masih SMP, Sasha pernah dihadang oleh 30 siswa SMA dari sekolah lawan yang mencoba memalaknya. Bukannya lari, Sasha justru memungut dua bongkah batu bata dari pinggir jalan.
Dengan mata merah padam, dia menerjang kerumunan itu seperti badai. Hasilnya? Ketiga puluh siswa SMA itu berakhir di ruang unit gawat darurat rumah sakit dengan luka robek dan patah tulang, sementara Sasha hanya menyeka darah dari pipinya dan berjalan pulang seolah baru saja menyelesaikan tugas belanja.
Tak hanya sesama pelajar, preman-preman pasar pun pernah merasakan keganasannya. Sepuluh orang dewasa yang terbiasa hidup di jalanan mencoba mengeroyoknya karena Sasha menolak memberikan jalan.
Tanpa sepatah kata pun, Sasha menghajar mereka satu per satu dengan brutal hingga kesepuluh orang itu pingsan tergeletak di aspal dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Memasuki masa SMA, kebengalannya semakin menjadi-jadi. Banyak geng sekolah lain yang merasa harga dirinya terinjak karena dikalahkan oleh seorang perempuan.
Mereka sering datang bergerombol untuk menantangnya, namun satu per satu SMA berandalan itu tumbang di tangan Sasha. Kadang dia bertarung sendirian, kadang ada beberapa siswa laki-laki dari sekolahnya yang cukup "gila" untuk ikut bertarung di belakangnya sebagai pengikut tak resmi.
Namun, rekam jejaknya tidak berhenti pada perkelahian jalanan. Sasha pernah ditangkap polisi karena terlibat dalam aksi balap liar yang berujung pada perusakan fasilitas umum.
Dia menabrak barikade polisi dan melawan saat akan diamankan. Meski sempat ditahan, dia dibebaskan karena kurangnya bukti kuat bahwa dialah otak di balik kegiatan tersebut.
Tindakannya yang paling nekat adalah ketika dia tertangkap basah mencuri di sebuah supermarket besar.
Bukan karena dia tidak punya uang, tapi lebih karena dia ingin menantang adrenalin dan otoritas. Dia tertangkap saat mencoba keluar dengan tas penuh barang tanpa membayar. Karena usianya yang masih di bawah umur saat itu, dia hanya dijatuhkan hukuman penjara selama satu minggu sebagai pembinaan. Namun, jeruji besi sama sekali tidak mengubahnya.
Kini, di kelas tiga, tingkah laku Sasha semakin liar di luar kendali sekolah. Dia lebih sering terlihat di area-area gelap kota, terlibat dalam urusan-urusan yang tidak seharusnya disentuh oleh seorang pelajar.
Ketidakhadirannya selama berbulan-bulan bukan karena sakit, melainkan karena dia merasa dunia di luar sana jauh lebih menarik daripada duduk diam mendengarkan rumus matematika yang membosankan.
Sasha menyusuri koridor menuju gerbang belakang sekolah, melompati pagar dengan gerakan tangkas yang menunjukkan betapa seringnya dia melakukan hal itu.
Baginya, SMA Garuda Bangsa hanyalah tempat persinggahan sementara sebelum dia kembali ke "habitatnya" yang keras di jalanan. Di saat Aria Putri sibuk menjaga keteraturan, Sasha Arka adalah perwujudan dari kekacauan yang tak bisa dijinakkan.
----
Bunyi bel masuk jam pelajaran terakhir bergema di seluruh penjuru SMA Garuda Bangsa. Pak Jaka, guru Fisika yang dikenal sangat disiplin terhadap waktu, masuk ke kelas 3-1 dengan tumpukan buku di lengannya. Suasana kelas kembali menegang saat absen mulai dibacakan.
"Sasha Arka?" panggil Pak Jaka.
Hening.
Kursi di pojok belakang yang tadi sempat diduduki Sasha kini kembali kosong melompong.
Pak Jaka mendongak, menatap kursi itu dengan dahi berkerut. "Tadi dia masuk pelajaran Matematika, kan? Ke mana dia sekarang?"
Semua murid hanya diam, saling pandang tanpa jawaban. Aria Putri, yang duduk di barisan depan, merasa jantungnya berdegup kencang karena amarah yang tertahan. "Dia benar-benar cabut?" batin Aria tidak percaya.
Sebagai Ketua OSIS, ia merasa harga dirinya diinjak-injak. Bagaimana bisa seorang siswi perempuan begitu berani melompati pagar sekolah di siang bolong? Benar-benar gila dan tidak punya rasa takut.
---
Sore harinya, matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna jingga di langit kota. Karena tidak ada agenda rapat OSIS, Aria memutuskan untuk pulang lebih awal.
Ia berjalan menyusuri trotoar dengan seragam yang masih sangat rapi, tas sekolah tersampir sempurna di bahunya.
Namun, langkah Aria terhenti saat ia melewati sebuah gang di samping supermarket besar. Di sana, di antara deru mesin kendaraan, ia melihat segerombolan remaja laki-laki dari SMA lain yang dikenal sebagai sekolah berandalan.
Mereka sedang nongkrong, duduk di atas motor-motor yang dimodifikasi bising. Di tengah-tengah kerumunan itu, Aria menangkap sosok yang sangat ia kenali.
Itu Sasha.
Sasha sedang duduk santai di atas beton pembatas jalan, masih mengenakan *hoodie* putihnya.
Yang membuat Aria lebih terkejut lagi adalah melihat Sasha yang dengan santainya menyelipkan sebatang rokok di antara jemarinya, mengembuskan asap tipis ke udara sambil tertawa kecil mendengar lelucon salah satu remaja laki-laki di sana.
Tanpa rasa takut, Aria melangkah mendekat, membelah kerumunan remaja laki-laki yang menatapnya dengan pandangan heran sekaligus menggoda.
"Sasha Arka!" suara Aria memecah kebisingan nongkrong mereka.
Semua mata tertuju pada Aria. Salah satu siswa dari SMA lain, seorang cowok berambut gondrong dengan jaket denim, bertanya sambil menoleh ke arah Sasha, "Oi, Sha. Ada yang kenal dengan cewek rapi ini? Siapa dia? Pacarmu?"
Sasha menghela napas panjang, wajahnya yang tadi tampak santai mendadak berubah menjadi sangat letih dan kesal.
Ia membuang puntung rokoknya ke aspal lalu menginjaknya dengan kasar. "Merepotkan saja," gumamnya. Ia menatap Aria dengan mata sayu yang penuh kebencian. "Apa maumu, Ketua OSIS? Kau mengikutiku sampai ke sini?"
Aria berdiri tegak, tidak mempedulikan tatapan mengancam dari teman-teman Sasha. "Kau bolos pelajaran Fisika tadi, dan sekarang kau berada di sini, merokok dengan siswa sekolah lain? Ini sudah keterlaluan. Kau akan dikenakan sanksi yang sangat tegas, Sasha. Kali ini aku tidak akan hanya memberimu poin."
Aria mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Aku akan meminta orang tuamu untuk datang ke sekolah besok pagi. Kita selesaikan ini dengan wali kelas dan kepala sekolah."
Mendengar kata "orang tua", raut wajah Sasha berubah drastis. Senyum remehnya hilang, digantikan oleh aura dingin yang membuat teman-teman di sekelilingnya pun terdiam.
"Lebih baik kau pulang sekarang, Aria," kata Sasha dengan nada yang sangat rendah dan berbahaya. "Aku sedang *bad mood*. Dan satu hal lagi... jangan pernah sebut-sebut nama orang tuaku."
Aria justru merasa di atas angin karena merasa telah menemukan titik lemah Sasha. "Kenapa? Apa kau malu? Seharusnya kau memang malu. Orang tuamu sudah bersusah payah menyekolahkanmu di sekolah bergengsi seperti Garuda Bangsa, tapi kau malah menjadi sampah jalanan seperti ini. Kau tidak kasihan pada mereka?"
Sasha tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak, lalu perlahan ia menoleh ke belakang, menatap Aria dengan tatapan mata yang begitu tajam dan menusuk—sebuah tatapan yang menyiratkan luka yang sangat dalam sekaligus kemarahan yang bisa meledak kapan saja.
"Ketua OSIS," desis Sasha dingin. "Kau punya telinga, kan? Kubilang jangan sebut orang tuaku."
Bersambung...