Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Teman Masa Kecil
Hari kedua Raya di sekolah dimulai dengan suasana yang cukup ramai.
Gadis itu sudah mulai dikenal oleh banyak siswa karena keramahannya yang natural.
Asha datang ke kelas lebih pagi dari biasanya. Ia ingin menghindari keramaian dan juga... Menghindari bertemu dengan Arsa di koridor.
Saat ia berjalan menuju kelasnya, dari kejauhan ia melihat Raya sudah duduk di kursinya sembari membaca buku.
"Pagi, Raya" sapa Asha dengan senyuman tipis.
Raya mendongak dan tersenyum lebar. "Hmm, pagi Asha! Kamu pagi banget."
"Iya nih, kebetulan bangun pagi" jawab Asha sembari duduk di kursinya.
Tidak lama kemudian, Arsa datang dengan langkah yang agak terburu-buru. Ia hampir terlambat seperti biasa.
Saat Arsa melewati bangku Asha, mata mereka bertemu sekilas. Tapi keduanya cepat-cepat mengalihkan pandangan.
Arsa berjalan menuju kursinya dan duduk. Ia mengeluarkan buku dari tasnya dengan wajah yang terlihat lelah.
"Hmm, Arsa?" panggil Raya tiba-tiba dengan nada yang hati-hati.
Arsa menoleh ke arah Raya dengan tatapan bingung. "Ya? Ada apa?"
Raya tersenyum tipis. "Hmm... Kamu... Kamu masih inget aku gak?"
Arsa mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat. Ia menatap wajah Raya dengan seksama.
Dan tiba-tiba...
"Lea?" ucap Arsa dengan mata yang membulat.
Raya langsung tersenyum lebar mendengar panggilan itu. "Hmm! Iya! Kamu masih inget!"
Arsa berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat ke arah Raya dengan wajah yang tidak percaya.
"Lea! Alea Raya! Teman masa kecilku waktu SD!" ucap Arsa dengan nada yang begitu excited.
Raya mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. "Hmm, iya! Aku Raya! Aku gak nyangka kita bisa ketemu lagi!"
Asha yang melihat pemandangan itu langsung merasakan dadanya sesak.
Ia melihat Arsa yang begitu antusias, sesuatu yang jarang ia lihat akhir-akhir ini.
"Gila! Udah berapa lama ya kita gak ketemu? Lima tahun?" tanya Arsa sembari duduk di kursi kosong yang ada di depan Raya.
"Hmm, iya! Lima tahun! Waktu itu aku pindah gara-gara papa dipindah tugas" jelas Raya dengan senyuman yang tidak bisa disembunyikan.
Arsa tertawa kecil. "Aku kangen banget tau gak. Dulu kita kan sering main bareng."
"Hmm, aku juga kangen! Kamu masih inget gak waktu kita sering main basket di taman kompleks?" tanya Raya dengan mata yang berbinar.
Arsa mengangguk dengan antusias. "Inget dong! Kamu dulu sering kalah terus dari aku. Terus kamu ngambek gak mau main lagi."
Raya tertawa sembari memukul lengan Arsa dengan pelan. "Hmm, iya! Kamu kan suka curang!"
"Enggak kok! Aku kan emang jago" bela Arsa dengan senyuman lebar.
Asha yang mendengar percakapan mereka hanya bisa terdiam di kursinya. Tangannya mengepal di atas meja.
'Arsa... Arsa bisa tertawa kayak gitu...' batin Asha dengan perasaan yang campur aduk.
Cinta yang baru datang langsung menyadari perubahan suasana.
Ia melihat Arsa dan Raya yang mengobrol dengan begitu akrab, sementara Asha hanya terdiam dengan wajah yang murung.
Cinta duduk di samping Asha dan berbisik pelan. "Sha, lo gapapa?"
Asha mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Arsa dan Raya.
"Hmm, Arsa! Kamu masih inget gak waktu kamu nolongin aku dari yang nge-bully aku?" tanya Raya dengan nada yang sedikit malu.
Arsa tersenyum hangat. "Inget dong. Kamu dulu sering nangis kalau di-bully. Terus aku yang belain kamu."
"Hmm, iya. Makanya dari dulu aku selalu berterima kasih sama kamu. Kamu itu kayak pahlawan buat aku" ucap Raya dengan pipi yang sedikit merona.
Arsa tertawa kecil. "Lebay deh. Aku cuma nolongin teman aja kok."
"Hmm, tapi buat aku itu berarti banget loh" kata Raya dengan tatapan yang begitu tulus.
Asha merasakan dadanya semakin sesak. Ia tidak sanggup lagi melihat.
"Cin, gw ke toilet dulu" ucap Asha tiba-tiba sembari berdiri dari kursinya.
"Sha, tunggu—" Cinta mencoba menghentikan, tapi Asha sudah berjalan cepat keluar dari kelas.
🌷🌷🌷🌷
Di toilet, Asha berdiri di depan wastafel sembari menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin.
Wajahnya terlihat pucat. Matanya sembab. Ia terlihat begitu rapuh.
"Kenapa... Kenapa Arsa bisa ingat Raya dengan sempurna?" gumam Asha dengan suara yang bergetar.
"Mereka bisa tertawa bersama, ngobrol dengan nyaman... Padahal sama gw, dia selalu canggung..."
Air mata Asha mulai jatuh. Ia cepat-cepat membuka keran dan membasuh wajahnya.
"Gw gak boleh lemah. Gw gak boleh nangis gara-gara ini" ucap Asha kepada dirinya sendiri di cermin.
Tapi semakin ia mencoba menguatkan diri, air matanya semakin deras mengalir.
"Tapi sakit... Sakit banget..." isak Asha akhirnya.
🌷🌷🌷🌷
Kembali ke kelas, Arsa dan Raya masih terus mengobrol dengan akrab.
Mereka berbagi cerita tentang masa kecil mereka, tentang kenangan-kenangan yang mereka lalui bersama.
"Hmm, Arsa. Aku denger kamu kecelakaan ya?" tanya Raya dengan nada khawatir.
Senyuman di wajah Arsa langsung memudar. Ia mengangguk pelan. "Iya. Aku kehilangan sebagian ingatan."
"Hmm, pasti susah ya?" tanya Raya dengan tatapan simpati.
"Susah banget. Aku kehilangan ingatan beberapa bulan terakhir. Banyak hal yang aku gak inget" jelas Arsa dengan nada yang sedikit sedih.
Raya menatap Arsa dengan tatapan yang penuh perhatian. "Hmm, tapi syukurlah kamu masih inget aku ya."
Arsa tersenyum tipis. "Iya. Kata dokter, ingatan masa kecilku masih utuh. Cuma beberapa bulan terakhir aja yang hilang."
"Hmm, berarti kamu masih inget semua kenangan kita dong?" tanya Raya dengan mata yang berbinar.
Arsa mengangguk. "Inget. Semua inget."
Raya tersenyum lebar. Hatinya dipenuhi rasa bahagia yang luar biasa.
'Dia inget aku... Dia masih inget semua tentang aku...' batin Raya dengan perasaan yang begitu senang.
Saat itulah Asha kembali dari toilet. Ia melihat Arsa dan Raya yang masih mengobrol dengan akrab.
Asha berjalan menuju kursinya dengan langkah yang berat. Ia duduk sembari berusaha tidak melirik ke arah mereka berdua.
Tapi telinganya tidak bisa tidak mendengar percakapan mereka.
"Hmm, Arsa. Nanti pulang sekolah kamu ada acara gak?" tanya Raya dengan nada yang hati-hati.
Arsa menggeleng. "Gak ada. Kenapa memangnya?"
"Hmm, aku mau minta tolong. Bisa gak kamu bantuin aku cari toko buku di sekitar sini? Aku belum hapal jalan soalnya" pinta Raya dengan senyuman.
Arsa terdiam sejenak. "Boleh sih. Jam berapa?"
"Hmm, setelah pulang sekolah aja. Gak akan lama kok" ucap Raya dengan mata yang berbinar.
Arsa mengangguk. "Oke. Nanti kita pulang bareng aja."
Raya tersenyum lebar. "Hmm, makasih ya Arsa! Kamu baik banget deh."
Asha yang mendengar percakapan itu merasakan sesuatu yang tidak enak di dadanya. Bukan sakit seperti kemarin, tapi... Cemburu?
'Mereka... Mereka mau pulang bareng?' batin Asha dengan perasaan yang mulai tidak nyaman.
Cinta yang duduk di sampingnya menyadari perubahan ekspresi Asha. "Sha, kamu yakin gapapa?"
Asha mengangguk pelan meskipun wajahnya terlihat tidak baik-baik saja. "Iya, gapapa kok."
Tapi di dalam hatinya, Asha tau bahwa ia tidak baik-baik saja.
Ia tau bahwa perlahan-lahan, Arsa dan Raya sedang membangun kedekatan yang bahkan ia tidak bisa bangun dengan Arsa.
Dan itu... Itu membuatnya cemburu.
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
Ternyata Raya adalah teman masa kecil Arsa! Dan yang lebih bikin sakit hati, Arsa INGAT sama semua kenangan mereka 😭
Asha mulai merasakan kecemburuan melihat kedekatan Arsa dan Raya. Apalagi mereka mau pulang bareng!
Kira-kira gimana ya perasaan Asha selanjutnya? Apa dia bakal makin cemburu?
Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
Follow ig author ya!
@Jaaparr.
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku