NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Matabatin / Misteri / Tumbal / Hantu / Kumpulan Cerita Horror
Popularitas:48.8k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.

Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.

.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.


[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 005 : Ritual Darah Di Bawah Langit Fuji~ Aokigahara

Pagi itu, Berlin seolah sedang mencoba memberikan kesan terakhir yang paling manis bagi rombongan Keluarga Gautama sebelum mereka meninggalkan benua Eropa.

Langit biru bersih tanpa awan, dan sinar matahari pucat memantul dengan anggun di atas kristal-kristal salju yang masih menyelimuti trotoar jalanan Unter den Linden.

Rachel melangkah turun dari van hitam mewahnya dengan gerakan anggun. Ia mengenakan mantel panjang kasmir hitam yang elegan, kontras dengan kulitnya yang pucat. Di belakangnya, Melissa dan Peterson berjalan bersisian, menikmati hembusan angin dingin yang menyegarkan paru-paru.

Sesuai dengan janji yang ia ucapkan pada Adio semalam lewat sambungan telepon internasional, Rachel ingin mencari sebuah buah tangan yang sangat spesial.

Ia tahu Adio bukanlah pria yang bisa disogok dengan jam tangan bermerek atau cokelat mahal.

"Kamu yakin mau menghabiskan pagi terakhir kita di sini hanya untuk mencari buku, Rachel? Padahal kita bisa ke butik atau mencari kerajinan perak di sekitar sini," tanya Peterson sambil membukakan pintu kayu jati raksasa milik perpustakaan kuno yang mereka tuju.

Suara derit pintu itu bergema di lobi gedung bergaya Baroque tersebut.

Rachel tersenyum tipis, jenis senyum yang jarang ia tunjukkan.

"Adio lebih suka menyelami pikiran orang mati lewat tulisan daripada mengoleksi barang mewah, Peterson. Baginya, pengetahuan tentang sejarah kegelapan adalah harta karun yang tak ternilai. Dan aku ingin membawakannya sesuatu yang tidak bisa ia temukan di rak buku mana pun di Jakarta."

Melissa terkekeh pelan, merapatkan syalnya.

"Setuju. Rachel juga sama anehnya. Dia bisa betah berjam-jam di tempat berdebu seperti ini hanya untuk mencium bau kertas tua."

Mereka pun melangkah masuk. Bau khas kertas tua, kayu ek yang dipoles, dan sedikit aroma debu sejarah langsung menyambut indra penciuman mereka.

Perpustakaan ini memiliki rak-rak kayu yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit yang dihiasi lukisan mural kuno.

Di tengah keheningan itu, Barend, hantu cilik Belanda yang setia mengikuti Rachel, tiba-tiba muncul.

Wujudnya tampak lebih "bersih" di tempat ini, seolah atmosfer Eropa membuatnya merasa pulang ke rumah.

Langkah kaki Rachel bergema pelan di atas lantai marmer saat ia menyusuri lorong demi lorong. Ia membiarkan jemarinya menyentuh punggung buku satu per satu, menunggu getaran energi yang biasanya menuntunnya.

Hingga akhirnya, ia tiba di sebuah sudut paling belakang yang remang-remang. Cahaya matahari dari jendela tinggi hanya mampu menyentuh ujung rak tersebut.

Di sana, sebuah buku dengan sampul kulit berwarna hijau gelap menyita perhatiannya. Rachel menariknya keluar dari jepitan buku-buku tebal lainnya. Debu tipis terbang di udara.

Bukan ilustrasi sampulnya yang membuat jantung Rachel berdegup sedikit lebih kencang, melainkan judul yang tertera di sana dalam tinta emas yang sudah agak memudar.

Judul itu tertulis dalam huruf kanji yang tegas, disertai terjemahan bahasa Inggris di bawahnya: AOKIGAHARA.

Sebuah literatur yang membahas tentang sosiologi dan legenda supranatural dari hutan bunuh diri di Jepang.

Begitu jemari Rachel menyentuh sampul kulit itu, sebuah denyutan dingin yang sangat asing menjalar melalui ujung jarinya, naik ke lengan, dan berhenti tepat di ulu hatinya. Itu adalah sebuah "kontak".

"Horor Jepang," gumam Rachel pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara rak-rak tinggi.

"Aku akan membawakan ini untuk Adio. Dia selalu penasaran bagaimana bangsa Timur mengemas dan menyimpan kisah ghaib mereka di bawah kaki Gunung Fuji."

Ia tidak tahu, bahwa buku itu bukan sekadar oleh-oleh, melainkan sebuah undangan tak terlihat yang sudah dipersiapkan oleh takdir.

12 Jam Kemudian: Prefektur Yamanashi, Jepang. Dunia seolah berputar dengan sangat cepat. Rencana kepulangan mereka ke Jakarta dibatalkan secara mendadak melalui perintah langsung dari firma pusat di Jakarta atas permintaan khusus dari Kepolisian Tokyo.

Tim Gautama kini berada di sebuah ruangan privat yang terletak di sebuah penginapan tradisional dekat kaki Gunung Fuji.

Di depan mereka, Tanaka, perwakilan resmi dari pemerintah, dan Inspektur Akio, seorang polisi senior, duduk dengan wajah yang sangat tegang.

"Tuan Sato, seorang pejabat tinggi yang sangat berpengaruh dalam pemerintahan kami, menghilang lima hari yang lalu," ujar Tanaka dengan suara yang bergetar.

Ia membentangkan beberapa foto di atas meja kayu. Foto-foto itu menunjukkan sebuah sedan hitam mewah yang terparkir rapi di gerbang masuk hutan Aokigahara.

"Mobilnya terkunci rapat. Tidak ada tanda-tanda pencurian. Kunci kontaknya bahkan ditinggalkan begitu saja di kursi pengemudi. Beliau berjalan masuk ke dalam Jukai—Lautan Pohon—tanpa membawa perbekalan apa pun."

Inspektur Akio mengambil alih penjelasan, wajahnya tampak kusam, menunjukkan ia kurang tidur selama berhari-hari.

"Nona Gautama, kami telah mengirimkan tim unit K-9 terbaik kami. Namun, anjing-anjing pelacak itu melolong ketakutan dan menolak masuk lebih dari lima ratus meter ke dalam hutan. Mereka seperti melihat sesuatu yang sangat mengerikan yang tidak bisa dilihat mata manusia."

Ia menggeser sebuah foto yang lebih mendetail. Foto itu diambil di atas tanah vulkanik yang tertutup lumut tebal.

"Kami menemukan jejak kaki Tuan Sato. Langkahnya terlihat sangat tenang dan teratur. Namun, lihatlah ini."

Akio menunjuk ke samping jejak sepatu tersebut.

"Di samping jejak kaki Tuan Sato, ada jejak kaki anak kecil yang telanjang. Jejak kaki itu tidak berjalan lurus. Ia melompat, berputar, dan tampak seolah sedang menari-nari mengelilingi Tuan Sato di sepanjang jalan menuju jantung hutan."

Rachel memperhatikan foto itu dengan mata yang menyipit.

"Itu bukan anak kecil biasa. Itu adalah manifestasi dari energi Ubasute—praktik kuno membuang orang tua dan anak-anak ke hutan ini di masa kelaparan. Hutan ini telah memiliki kesadarannya sendiri. Ia lapar akan sukma yang memiliki beban batin yang berat."

Akio menghela napas panjang.

"Tim SAR kami yang mencoba masuk lebih dalam mengalami gangguan mental yang hebat. Alat komunikasi kami berubah menjadi suara tangisan wanita yang memilukan, dan kompas magnetik berputar gila karena kandungan besi vulkanik di tanah tersebut. Namun secara spiritual, kami tahu ada sesuatu yang sengaja mengacaukan arah kami. Itulah sebabnya kami meminta bantuan Keluarga Gautama."

Sebelum mereka diizinkan memasuki area hutan, Tanaka bersikeras agar rombongan melakukan ritual pembersihan di sebuah kuil tua yang sangat sunyi.

Kuil itu tersembunyi di balik barisan pohon cedar raksasa. Begitu rombongan menginjakkan kaki di halaman kuil, suasana mendadak berubah menjadi sangat mencekam.

Barend dan Albert, dua hantu cilik Belanda yang biasanya hanya diam, kini menampakkan diri dengan wujud yang sangat mengerikan.

Barend muncul dengan bagian bawah wajah yang hancur, kulitnya tampak hangus—sebuah manifestasi dari traumanya saat mati menginjak ranjau darat yang dipasang tentara Nippon.

Di sampingnya, Albert berdiri dengan aura kebencian yang sangat pekat. Ia terus memegangi lehernya yang memiliki bekas luka melingkar yang dalam; sisa-sisa memori saat pedang katana seorang perwira Nippon memenggal lehernya tanpa ampun di masa lalu.

"Nippon... anjing-anjing Nippon!" desis Barend dengan suara yang bergetar karena amarah dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.

Bagi mereka, kembali ke tanah Jepang adalah penghinaan luar biasa atas nyawa mereka yang dirampas paksa secara keji.

Di dalam ruangan kuil yang beralaskan tatami, seorang asisten kuil menyuguhkan sake hangat dalam cawan-cawan porselen kecil.

Marsya, yang duduk di barisan belakang bersama Pram dan Teguh, mencoba mencairkan suasana yang kaku. Ia menyenggol lengan Pram dan berbisik pelan.

"Pram, Teguh... lihat ini. Sepertinya kita disuruh mabora sebelum panen!" bisik Marsya dengan wajah polos namun nakal.

Rara yang berada di dekat mereka tak tahan untuk tidak tertawa kecil, meskipun ia berusaha menahannya demi kesopanan.

Tak lama kemudian, pintu geser kayu di sudut ruangan terbuka perlahan. Sesosok nenek tua dengan punggung yang sudah sangat membungkuk muncul dari balik kegelapan.

Ia mengenakan kimono motif kuno yang kusam dan membawa nampan besar berisi tumpukan sushi segar.

"Uwahhhh... OBAKE!" teriak Marsya spontan sambil melompat mundur dari duduknya.

Ia benar-benar terkejut karena kemunculan nenek itu sangat tiba-tiba dan tanpa suara.

Puk!

Bella yang berada di sampingnya langsung menoyor kepala Marsya dengan gemas.

"Bukan! Tidak sopan tahu! Beliau ini manusia hidup, Marsya! Jangan sembarangan teriak hantu di rumah orang!" tutur Bella dengan wajah memerah karena malu atas tingkah saudaranya.

"Habisnya nenek itu munculnya kayak di film-film horor yang sering kita tonton, Bel! Jalannya halus banget nggak ada suaranya!" gerutu Marsya sambil mengusap kepalanya yang berdenyut.

"Itu namanya etika jalan di atas tatami! Sudah, diam dan makan!" balas Bella sambil melirik sushi di depan mereka.

"Tapi... ikannya kelihatan segar banget ya?"

Marsya melirik potongan maguro yang mengkilap itu.

"Bel, kalau kita makan sekarang, nggak dianggap nggak sopan kan? Aku takut kalau sudah di dalam hutan nanti, nasi sushinya malah berubah jadi belatung gara-gara energi ghaib di sana." Akhirnya, di tengah ketegangan penjelasan misi, kedua gadis itu dengan gerakan sangat pelan mencuri-curi kesempatan untuk menyuapkan sushi ke mulut mereka, berusaha mengunyah sehalus mungkin agar tidak mengganggu Rachel yang sedang berdiskusi serius dengan Akio.

Rara hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat dinamika unik kedua sahabatnya itu yang selalu berhasil menemukan celah untuk bertengkar di situasi apa pun.

Setelah ritual selesai dan perut Marsya sudah sedikit terisi, rombongan akhirnya bergerak menuju gerbang masuk Jukai.

Begitu mereka melewati papan peringatan terakhir yang berisi pesan agar orang-orang menghargai nyawa mereka, kegelapan total seolah-olah tumpah dan menyelimuti mereka semua.

Langit di atas tertutup rapat oleh kanopi pohon cemara yang sangat padat, membuat cahaya matahari yang seharusnya masih ada menjadi hilang sama sekali.

Oksigen di tempat ini terasa sangat tipis dan berat, membawa aroma tanah basah, lumut, dan sesuatu yang manis namun memuakkan—bau pembusukan yang samar.

"Semuanya, aktifkan tali penanda sekarang," perintah Rachel.

"Jangan pernah mengandalkan kompas digital atau GPS. Di sini, mata kalian akan menipu kalian sendiri."

Tiba-tiba, kesunyian yang menulikan itu pecah oleh suara tawa anak-anak yang halus, sangat tipis seperti suara angin yang melewati celah gua. Kemudian, sebuah nyanyian melengking dalam bahasa Jepang kuno mulai terdengar dari segala arah:

"Hitotsu Toya, hitoyo akereba nigiyaka de..."

Di balik kabut yang mulai merayap naik dari celah-celah lava yang membeku, Rachel melihat bayangan-bayangan kecil merangkak di batang-batang pohon dengan posisi yang sangat tidak wajar.

Mereka tidak berjalan di atas tanah, melainkan merayap seperti serangga di batang pohon cemara yang miring, dengan kepala yang sesekali berputar seratus delapan puluh derajat hanya untuk menatap rombongan dengan mata yang kosong.

Rambut hitam mereka yang lurus dan panjang menyapu dedaunan kering di bawahnya—srek... srek... srek...—menciptakan irama perkusi yang mengerikan mengikuti lagu tersebut.

Sosok-sosok anak perempuan itu mengenakan kimono merah yang warnanya sudah luntur dan dipenuhi bercak-bercak hitam menyerupai darah kering yang sudah menahun.

Setiap kali satu baris lirik selesai dinyanyikan, mereka akan menghilang dalam sekejap dan muncul kembali di titik yang lebih dekat dengan rombongan, seolah-olah sedang melakukan permainan petak umpet yang mematikan di tengah hutan yang menyesatkan ini.

"Rachel... mereka sedang menari di sekeliling kita," bisik Rara dengan wajah yang sudah seputih kapas.

Ia melihat salah satu sosok anak itu sedang bergelantungan terbalik tepat di dahan di atas kepala Peterson, lidahnya yang hitam menjulur panjang hampir menyentuh ujung topi pria itu.

Melissa menggenggam lengan Peterson erat-erat. Ia bisa mendengar frekuensi astral yang sama, nyanyian yang terdengar begitu harmonis namun penuh dengan getaran penderitaan yang luar biasa, seolah-olah suara itu berasal dari pita suara yang sudah hancur.

"Nigiyaka de... nigiyaka de..."

(Begitu meriah... begitu meriah...)

Barend dan Albert berdiri di sisi Rachel dengan posisi siaga penuh. Albert memegangi lehernya yang terluka, menatap sinis ke arah kegelapan yang seolah-olah menertawakan penderitaan masa lalu mereka.

"Jangan ada yang membalas nyanyian itu," perintah Rachel dengan suara dingin yang membelah keheningan.

"Jangan menatap mata mereka jika mereka menyingkap rambutnya. Mereka sedang mencari pengganti untuk lingkaran tarian mereka. Fokus pada jalan di depan."

Tepat di depan langkah mereka, pada sebuah dahan pohon yang patah dan tampak membusuk, tergantung sebuah pita kuning panjang yang sudah kusam.

Di ujung pita itu, sebuah arloji perak kuno bergoyang-goyang pelan tanpa adanya hembusan angin sedikit pun.

Tik... tok... tik... tok...

Detakan jam itu terdengar sangat nyaring, berdentang tepat mengikuti tempo nyanyian maut anak-anak tersebut, seolah-olah seluruh hutan ini memiliki denyut jantung ghaibnya sendiri.

"Permainan dimulai," ujar Rachel pelan namun penuh otoritas.

"Jangan lepaskan pegangan pada tali penanda. Siapa pun yang terpisah dari garis ini, akan menjadi bagian dari nyanyian ini selamanya."

Mereka pun melangkah lebih dalam, menembus kabut tebal Jukai yang mulai menelan raga mereka satu per satu, meninggalkan dunia manusia menuju inti dari Lautan Pohon yang haus akan sukma

1
Chimpanzini Gagal Hiatus
serem banget. saking banyaknya mayat bisa jadi tanah pijakan.
Chimpanzini Gagal Hiatus
samudra mematuhi kehendakku
Chimpanzini Gagal Hiatus
wihh ilusinya sama kuatnya kek karakter Huli Jing di novelku/Proud//Proud/
Chimpanzini Gagal Hiatus
langsung refleks megang perut 😭😭
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
wah gagal teguh mau hibernasi ehh ada tugas mendadak 🤭🤭
duh gemesin si arka tau2an Rachel ada didepan
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
ngeri woii kalo jadi aelke jelas aja dia ketakutan.
untung yg hampir nabrak Aldo jadi seenggaknya kamu sedikit aman sekarang
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
wkwkwk Adio ihh nyuri kesempatan lagi yaa 🤣🤣
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
pas baca judulnya udh penasaran siapa lagi arwah nya , oh Bagus lah kalo ternyata orang tuamu tami
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
yeee akhirnya cak Dika melakukan niatnya buat ngelamar rara🤭🤭
wah kemana pak dokter sama pasiennya 😄
etdah Tami kamu yaa blak2an banget
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
aihh habis adegan tegang menegangkan plus serem dikasih yang manis2 gini meleleh lahh
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
sumpah menegangkan banget, untung mas suhu sama bela bisa cepat bawa Tami .
semoga nanti Tami bisa ketemu orang tua nya berkat bantuan Rachel ya
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
ini yakin kan Tami bakal selamat enggak bakal denger suara aneh2 lagi
merinding bayangin kematian toby 🥺
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
isss tamii ini gegara kecerobohan mu juga , untung Rachel bangun dan segera datang menolong mu
CACASTAR
yakin banget deh di lokasi angkernya setengah ampun
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
keren lahh Tami punya kekuatan juga ternyata, wah Bella siap2 kamu beranak banyak sama mas suhu🤣🤣
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
Wah ada 3 pasangan nih yg mau meresmikan status mereka
jadi kalau Rahel nikah dy harus melepaskan kekuatan nya
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
cie cie cie Dio
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
hahahah barend ngapain kamu mau belajar dewasa pake cerutu gitu nya 🤣🤣
Tami kan bener dia random banget
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
ngeri ngeri
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
ternyata di ambil dr kisah nyata
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!