NovelToon NovelToon
Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Konflik etika / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: asep sigma

Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PAGI SEBELUM PUTUSAN

Jumat pagi, Rajendra bangun jam lima dengan keringat dingin.

Mimpi buruk lagi. Kali ini tentang sidang dimana hakim memutuskan dia kalah, lalu tiba-tiba semua orang di ruang sidang berubah jadi bayangan hitam yang tertawa mengejek.

Mimpi konyol. Tapi cukup untuk bikin dia terbangun dengan jantung berdebar.

Dia duduk di tepi kasur, menarik napas dalam beberapa kali, mencoba tenangkan diri.

Besok sidang. Besok jam sepuluh pagi, semua akan berakhir.

Tapi hari ini, Jumat, dia harus jalani dengan normal. Harus kerja seperti biasa. Harus pretend semuanya oke di depan tim.

Dia mandi, ganti baju, sarapan roti tawar yang tersisa, lalu berangkat ke kantor jam tujuh pagi.

Sampai di kantor, masih sepi. Dia duduk di mejanya, membuka laptop, tapi tidak benar-benar kerja.

Hanya menatap layar kosong sambil pikiran melayang kemana-mana.

Jam delapan, Dina datang dengan dua gelas kopi di tangan.

"Pagi, bos. Gue beliin kopi. Lu keliatan butuh caffeine."

Rajendra tersenyum tipis, menerima gelas kopi.

"Thanks. Lu datang pagi banget."

"Gue gak bisa tidur. Mikirin besok."

"Lu mikirin sidang gue?"

"Iya. Gue nervous meski yang jalani bukan gue."

Rajendra menyeruput kopinya. Hangat. Sedikit pahit tapi enak.

"Lu gak perlu nervous. Pak Hartono bilang bukti kita kuat."

"Tapi tetep aja. Pengadilan itu unpredictable. Apapun bisa terjadi."

Rajendra menatap Dina. Matanya yang biasanya ceria sekarang terlihat khawatir.

"Din, gue appreciate lu care. Tapi ini masalah gue. Lu gak perlu burden diri lu dengan ini."

"Bos, kita tim. Masalah lu adalah masalah kita juga. Lu ngaruh ke LokalMart, LokalMart ngaruh ke kita semua."

"Tetep—"

"Gak ada tetap. Lu udah kasih kita kesempatan kerja yang meaningful. Lu treat kita dengan respect. Lu kasih kita equity. Lu gak kayak bos-bos lain yang cuma mikirin profit. Jadi ya, kita care. Deal with it."

Rajendra terdiam, lalu tersenyum.

"Oke. Gue deal with it."

Jam sembilan, Arief dan Rian datang.

Mereka semua kerja seperti biasa—monitor order, handle customer service, koordinasi dengan seller.

Order hari ini sudah dua puluh sejak pagi. Traffic masih tinggi sejak artikel Jakarta Biz publish kemarin.

Tapi Rajendra tidak bisa fokus penuh. Pikirannya terus ke besok.

Jam sebelas, ponselnya berdering. Panggilan dari Hartono.

Rajendra angkat, berjalan keluar kantor ke koridor supaya lebih private.

"Pak Hartono."

"Rajendra, besok jam sepuluh sidang. Kamu datang jam sembilan ya, kita review bukti terakhir kali."

"Siap."

"Kamu sudah prepare mentally?"

"Sudah. Atau setidaknya saya coba."

Hartono tertawa kecil.

"Wajar nervous. Tapi ingat, kita punya bukti kuat. Dr. Sutanto, ahli grafologi, dokumen resmi dari bank, semua mendukung kita. Daniel pasti akan coba attack dari sisi lain, tapi kita siap."

"Bapak yakin kita menang?"

Hartono diam sebentar.

"Dalam hukum, tidak ada yang seratus persen. Tapi secara objektif, peluang kita besar. Delapan puluh persen."

Delapan puluh persen.

Itu angka yang bagus. Tapi tetap ada dua puluh persen kemungkinan kalah.

"Oke. Terima kasih, Pak."

"Sama-sama. Istirahat yang cukup malam ini. Jangan begadang. Besok kamu harus fresh."

"Siap."

Sambungan terputus.

Rajendra kembali ke kantor, duduk di mejanya, mencoba fokus kerja lagi.

Jam dua belas, mereka semua break untuk makan siang.

Pesan nasi padang dari warung langganan, makan bersama sambil ngobrol ringan.

Arief cerita tentang game baru yang dia main semalam. Rian cerita tentang kucing barunya yang suka makan sandal. Dina cerita tentang ibunya yang mulai nanya kapan dia nikah.

Normal conversation. Seperti tidak ada yang aneh.

Tapi Rajendra tahu mereka semua coba distract him from thinking about besok.

Dan dia appreciate itu.

Jam tiga sore, mereka selesai kerja lebih awal dari biasanya.

"Bos, pulang aja. Istirahat. Besok hari penting," kata Dina sambil packing laptopnya.

"Kalian juga pulang?"

"Iya. Kita semua butuh rest."

Mereka keluar kantor bersama. Arief dan Rian naik motor, Dina naik bus, Rajendra juga naik bus.

Tapi sebelum naik, Dina memanggil Rajendra.

"Bos, tunggu sebentar."

Rajendra berhenti, Dina berjalan mendekat.

"Gue cuma mau bilang, apapun yang terjadi besok, lu udah prove banyak hal. Lu udah build LokalMart dari nol. Lu udah dapet funding. Lu udah punya tim yang solid. Lu udah show bahwa lu bisa tanpa privilege keluarga. Jadi kalau besok hasilnya gak sesuai harapan, jangan merasa lu gagal. Because you didn't."

Rajendra merasakan sesuatu hangat di dadanya.

"Thanks, Din. Serius."

"Aman aja. Sekarang pulang, tidur, bangun besok fresh dan kick their asses."

Rajendra tertawa kecil.

"Gue akan coba."

Dina tersenyum, lalu berjalan ke halte bus seberang.

Rajendra naik bus yang datang beberapa menit kemudian, duduk di pojok, menatap keluar jendela.

Jakarta sore seperti biasa. Macet, panas, bising.

Tapi entah kenapa, hari ini terasa berbeda.

Lebih tenang. Lebih clear.

Mungkin karena dia sudah accept apapun yang akan terjadi besok.

Menang atau kalah, hidupnya akan terus jalan.

LokalMart akan terus jalan.

Dan dia akan tetap jadi orang yang dia pilih untuk jadi—bukan orang yang keluarganya mau dia jadi.

Sampai kamar kos jam lima sore, Rajendra langsung tidur.

Tidak makan malam. Tidak buka laptop. Tidak cek ponsel.

Cuma tidur.

Dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, dia tidur nyenyak tanpa mimpi buruk.

*****

Sementara itu, di rumah keluarga Baskara, suasana berbeda.

Julian duduk di ruang makan dengan piring penuh makanan yang tidak tersentuh. Ririn duduk di seberangnya, juga tidak makan, hanya menatap piring dengan mata kosong.

Dera tidak ada. Dia bilang ada urusan malam ini, tidak ikut makan malam.

Hening total selama lima belas menit.

Sampai akhirnya Ririn bicara dengan suara pelan.

"Besok sidang."

Julian mengangguk.

"Aku tahu."

"Kamu yakin kita akan menang?"

Julian tidak langsung menjawab. Dia menatap piringnya, lalu menatap Ririn.

"Aku tidak tahu. Daniel bilang hakim bisa condong ke arah manapun. Tapi dia akan coba yang terbaik."

"Dan kalau kita kalah?"

"Kalau kita kalah, Rajendra akan kontrol perusahaan. Dia bisa pecat aku. Dia bisa ganti semua manajemen. Kita akan jadi outsider di perusahaan yang aku bangun."

Ririn menatang suaminya dengan mata berkaca-kaca.

"Apa yang salah dengan kita, Julian? Kenapa sampai seperti ini?"

Julian tidak menjawab. Hanya duduk diam dengan wajah lelah.

"Aku rindu Rajendra," bisik Ririn. "Aku rindu anak kita. Anak yang dulu selalu senyum, selalu cerita tentang sekolahnya, selalu manja sama aku."

"Anak itu sudah tidak ada lagi. Sekarang dia orang lain. Orang yang membenci kita."

"Karena kita yang buat dia jadi seperti itu."

Julian menatap Ririn dengan tatapan tajam.

"Jangan salahkan aku. Aku cuma ingin yang terbaik untuk dia. Menikah dengan Jessica, join perusahaan, punya masa depan yang jelas. Itu yang terbaik."

"Terbaik menurut kamu. Bukan menurut dia."

Hening lagi.

Ririn berdiri, meninggalkan meja makan tanpa makan apapun.

Julian duduk sendirian, menatap makanan yang dingin di piringnya.

Besok adalah hari yang akan tentukan segalanya.

Dan dia tidak tahu apakah dia siap untuk hasilnya.

*****

Di apartemen mewah di Kuningan, Dera duduk di sofa dengan ponsel di tangan.

Dia menelepon seseorang, nada sambung berbunyi tiga kali, lalu suara pria kasar menjawab.

"Halo?"

"Besok jam dua siang. Setelah sidang selesai. Target akan keluar dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kamu tahu apa yang harus dilakukan?"

"Tahu. Tapi gue mau konfirmasi lagi, lu yakin mau lakuin ini? Ini bukan main-main."

"Aku yakin. Berapa yang kamu mau?"

"Sepuluh juta. Cash. Sebelum job."

"Deal. Besok pagi jam delapan kita ketemu. Aku kasih uangnya."

"Oke. Tapi inget, kalau ini backfire, gue gak kenal lu."

"Understood."

Sambungan terputus.

Dera menatap ponselnya dengan ekspresi dingin.

Besok, kalau Rajendra menang di sidang, dia tidak akan bisa enjoy kemenangan itu.

Karena besok siang, hidupnya akan berubah.

Secara permanen.

Jessica keluar dari kamar dengan wajah pucat, mendengar sebagian conversation tadi.

"Dera, apa yang baru lu lakuin?"

Dera menatapnya dengan tatapan datar.

"Apa yang harus dilakukan."

"Lu hire someone? Untuk apa?"

"Kamu gak perlu tahu."

"Dera, please. Jangan lakuin sesuatu yang bodoh. Kita masih bisa—"

"Kita gak bisa apa-apa lagi, Jess! Semua rencana kita gagal! Dokumen palsu gagal! Cyber attack gagal! Sekarang tinggal satu cara terakhir!"

Jessica menggeleng cepat, air mata turun di pipinya.

"Kalau lu lakuin sesuatu ke Rajendra secara fisik, itu criminal! Kita bisa masuk penjara selamanya!"

"Gak akan ada yang trace ke kita. Gue hire orang yang profesional. Gak ada jejak."

"Tapi—"

"Cukup, Jess! Aku sudah decide! Besok akan berakhir dengan cara aku!"

Dera berjalan ke kamarnya, membanting pintu.

Jessica duduk di sofa, menangis sendirian.

Dia tahu dia seharusnya stop ini. Seharusnya telepon polisi. Seharusnya warn Rajendra.

Tapi dia terlalu takut. Terlalu dalam terlibat.

Dan sekarang, sepertinya sudah terlambat untuk mundur.

[ END OF BAB 33 ]

1
mini
aduh akubkurang srek thor gda chemistry sama dina😁✌️
aidios: hahaha iya kak maaf ya, memang jalan ceritanya ini lebih fokus ke balas dendamnya si rajendra 🤣
total 1 replies
aidios
ror
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!