NovelToon NovelToon
Bayangan Di Ujung Takdir

Bayangan Di Ujung Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: dyrrohanifah

Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.

Di sanalah Qing Lin tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28 - Eksperimen gelap

Matahari pagi menyinari arena latihan Sekte Batu Awan. Udara segar dan dingin membawa aroma tanah basah dari hujan semalam. Murid-murid tingkat tinggi berkumpul, wajah mereka serius, menyadari hari ini akan berbeda.

Qing Lin berdiri di pinggir arena. Tubuhnya tegap, wajahnya tetap dingin, mata menatap lurus ke depan. Sutra Darah Sunyi berdenyut di dadanya, lebih jelas dari sebelumnya. Dorongan gelap yang ia rasakan kemarin tidak lagi samar—ia muncul lebih kuat, memanggil sesuatu yang tersembunyi di dalam dirinya.

“Aku harus mengendalikan ini… atau biarkan menguat,” gumamnya pelan, napasnya teratur. “Tapi… hanya untuk tujuan yang benar.”

Hari itu, ujian ditugaskan berbeda dari sebelumnya. Setiap murid tingkat tinggi harus menghadapi satu lawan yang sama levelnya, tapi dengan kondisi bebas: arena penuh rintangan, jebakan, dan makhluk latihan yang telah dimodifikasi untuk menantang kekuatan mereka. Qing Lin menyadari ini bukan sekadar ujian kemampuan fisik, tapi juga kontrol mental dan kemampuan menghadapi dorongan gelap.

Lawan pertamanya adalah Lan Wei, murid terkenal karena kecepatan dan teknik pedang qi yang mematikan. Lan Wei tersenyum sombong melihat Qing Lin. “Jangan bilang kau akan mengandalkan tubuh lemahmu untuk melawan aku,” ujarnya, pedang bergetar di tangan.

Qing Lin hanya menatap. Tidak ada kata, tidak ada rasa takut, hanya ketenangan yang dingin. Ia melangkah maju, Sutra Darah Sunyi berdenyut, aliran qi terasa lebih berat, gelap, tapi stabil.

“Ini… pertama kali aku merasakan dorongan gelap secara nyata,” bisiknya. “Jika aku menyerah, aku bisa kalah… atau lebih buruk.”

Pertarungan dimulai. Lan Wei menyerang dengan serangan cepat, hampir tanpa jeda. Qing Lin menggeser kapak kayunya, menghindar, menahan serangan. Namun kali ini, ia tidak hanya menahan; ia bereksperimen. Sutra Darah Sunyi mendorong energi gelapnya ke setiap gerakan, mempercepat refleks, meningkatkan kekuatan pukulan.

Rasa dingin yang kini menguasai hatinya memungkinkan ia membaca gerakan Lan Wei lebih cepat. Setiap serangan diarahkan kembali dengan presisi. Beberapa pukulan hanya menyentuh lengan dan bahu, cukup untuk membuat lawan kehilangan keseimbangan, tapi tidak melukai secara fatal.

Lan Wei terkejut. “Apa… apa ini? Dia… lebih cepat… lebih kuat… tapi tetap… terkendali?”

Qing Lin tidak menjawab. Dorongan gelap di dalam dirinya berbisik untuk menancapkan kapak lebih dalam, menahan lawan hingga jatuh tak berdaya. Namun ia menekan bisikan itu. Ia ingin menguasai kekuatan itu tanpa kehilangan kendali atas sisi dirinya yang polos.

Setelah beberapa menit pertarungan, Qing Lin menemukan celah. Dengan satu gerakan cepat, ia menahan pedang Lan Wei, memutar tubuhnya, dan menjatuhkan lawan ke tanah. Tidak ada darah, tidak ada kemarahan, hanya kemenangan yang tenang dan dingin.

Murid-murid lain terpaku. Mereka belum pernah melihat seseorang tanpa akar spiritual mampu bertahan menghadapi murid tingkat tinggi dengan teknik sempurna dan kontrol total. Bahkan para mentor tercengang, menyadari bahwa Qing Lin telah melampaui batas yang terlihat sebelumnya.

Pertarungan kedua lebih sulit. Kali ini Qing Lin menghadapi dua lawan sekaligus, murid tingkat tinggi yang telah dikenal karena kekuatan fisik dan teknik kombinasi qi. Arena kali ini dipenuhi jebakan dan makhluk latihan yang dikendalikan qi oleh mentor.

Qing Lin melangkah masuk dengan tenang. Sutra Darah Sunyi berdenyut di dadanya, lebih gelap, lebih kuat, mendorong dorongan untuk menguasai lawan secepat mungkin. Namun ia menahan setiap impuls. Setiap gerakan dihitung, setiap pukulan diarahkan dengan presisi, setiap langkah menjaga jarak aman.

Dorongan gelap semakin kuat, tapi Qing Lin tidak kehilangan fokus. Ia mulai memahami satu hal: kekuatan ini bukan untuk dihancurkan, tapi untuk dikendalikan.

Dalam arena, ia memutar kapak, menahan serangan pertama, mengalihkan serangan kedua, dan menahan makhluk latihan yang mencoba menyerangnya dari belakang. Gerakan Qing Lin kini sempurna, dingin, dan mematikan dalam ketenangan. Ia menyadari, semakin ia menekan dorongan gelap, semakin kuat Sutra Darah Sunyi merespons, membuat refleks dan kekuatannya meningkat drastis.

Akhirnya, dengan kombinasi gerakan defensif dan ofensif minimalis, Qing Lin berhasil menjatuhkan kedua lawan sekaligus. Tidak ada luka serius, tidak ada kemarahan yang tersisa, hanya ketenangan dingin yang mengelilinginya.

Para mentor menatapnya, terdiam. Beberapa murid bahkan mundur untuk memberi jarak, takut berada terlalu dekat dengan energi yang tidak sepenuhnya mereka mengerti.

“Qing Lin… dia… berbeda,” bisik seorang murid tingkat menengah. “Tidak ada emosi… tapi kekuatannya nyata.”

Malam tiba. Qing Lin kembali ke gubuknya. Bibinya menatapnya dengan rasa khawatir, melihat wajahnya yang dingin dan ekspresi jauh dari hangat.

“Lin… kau tampak… terlalu dingin… apakah kau masih… Lin yang dulu?” tanya bibinya lirih.

Qing Lin duduk, menatap tangan yang masih terasa hangat oleh energi Sutra Darah Sunyi. Ia tersenyum tipis, dingin tapi bukan kosong. “Aku masih Lin… tapi aku belajar mengendalikan diriku… dan kekuatan ini,” jawabnya datar.

Mentor Bayangan muncul dari bayangan pintu. “Qing Lin, kau telah bereksperimen dengan kekuatan gelapmu… dan tetap terkendali. Itu luar biasa. Tapi ingat, dorongan gelap ini bisa menyesatkan jika kau kehilangan fokus. Tetap jaga keseimbangan antara kekuatan dan hati.”

“Aku mengerti,” gumam Qing Lin, matanya menatap langit malam. Sutra Darah Sunyi berdenyut di dadanya, dorongan gelap tetap ada, tapi ia telah belajar menahannya. “Dunia keras… tapi aku akan tetap dingin… dan tetap manusiawi di dalam.”

1
asri_hamdani
jauh sekali lompat ceritanya 🙏
Rohanifah: biar cepet end ga sih,
total 1 replies
asri_hamdani
Hmmm🤔 awal yang menarik
asri_hamdani
Awal mula yang menarik 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!