NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANGAN USIK CUCU SAYA

Siang itu, matahari Bandung sedang terik-teriknya saat mobil yang dikendarai Bagas perlahan memasuki gerbang sekolah. Sesuai janji, Bagas menjemput Mbak Maya karena tadi pagi motornya ditinggal di rumah akibat drama "perpisahan" Kanaya yang tidak mau lepas dari pelukan ibunya.

Bagas memarkirkan mobil di bawah pohon rindang dekat kantor guru. Begitu ia turun dan berjalan menuju ruang guru, suasananya ternyata jauh dari kata formal. Guru-guru di sana tampak sudah sangat akrab dengan kehadirannya, bahkan menyambutnya dengan ramah.

"Eh, Mas Bagas sudah sampai! Jemput 'Ibu Guru Besar' sama 'Ibu Guru Kecil' ya?" sapa Bu Ratna sambil tertawa renyah. Ternyata selama Mbak Maya mengajar di kelas, ia sudah banyak bercerita tentang adiknya itu, ditambah lagi keramahan Bagas saat beberapa kali mengantar jemput Mbak Maya sebelumnya membuat para guru di sana merasa dekat.

"Iya, Bu. Mari, Bu," jawab Bagas dengan senyum sopannya yang khas.

Di dalam ruangan yang sejuk itu, Kanaya sedang duduk tegak di atas kursi putar milik salah seorang guru, sementara tangannya sibuk memegang penggaris panjang seolah sedang memberikan instruksi. Begitu melihat sosok ayahnya di ambang pintu, Kanaya langsung melompat turun dengan riang.

"Ayah! Mas Bagas Ayah datang!" seru Kanaya sambil berlari menghambur ke pelukan Bagas.

Mbak Maya yang sedang membereskan buku-buku di mejanya menoleh. Ia melihat bagaimana rekan-rekan gurunya begitu santai menyapa adiknya. "Mas Bagas, itu Kanaya tadi pintar sekali, sudah cocok jadi asisten kepala sekolah di sini," goda Bu Ida yang disambut tawa oleh guru-guru lain.

"Alhamdulillah kalau nggak merepotkan, Bu," jawab Bagas sambil menggendong Kanaya. "Gimana kontrol Bapak sama Ibu, Gas?" tanya Maya sambil menyampirkan tasnya di bahu.

"Lancar, Mbak. Bapak cuma perlu rutin minum obat saja. Ini langsung ke sini biar Mbak sama Naya nggak kemalaman sampai rumah," jelas Bagas.

Saat mereka berjalan menuju mobil, beberapa rekan guru Maya ikut mengantar sampai ke parkiran. Mereka terus memuji betapa sopannya Mas Bagas dan pintarnya Kanaya. Maya yang biasanya tampak kaku dan menjaga jarak di depan rekan kerjanya, kini tampak lebih "manusiawi" dan hangat karena ada Bagas dan Kanaya di sisinya.

Bagas membukakan pintu mobil untuk kakaknya. "Ayo masuk, Mbak. Naya juga, ayo duduk yang pinter di dalam."

Di dalam mobil yang sejuk, Kanaya langsung bersandar di pelukan Mbak Maya. Rasa lelah setelah seharian menjadi "idola" di ruang guru mulai terasa. Bagas mulai menjalankan mobil dengan perlahan, meninggalkan gerbang sekolah yang kini punya kenangan manis bagi mereka.

Begitu mobil berhenti di depan pagar rumah, Kanaya yang tadinya sudah hampir terlelap di pelukan Mbak Maya langsung menegakkan duduknya. Matanya yang bulat berbinar melihat Mbah Akung dan Mbah Uti sudah duduk di teras rumah dengan sebuah kotak putih di atas meja.

"Mbah Akung! Mbah Uti!" seru Kanaya riang sambil turun dari mobil dengan bantuan Bagas.

Mbah Akung yang terlihat lebih segar sehabis dari rumah sakit langsung merentangkan tangannya menyambut cucu kesayangannya itu. "Wah, Ibu Guru Kecil sudah pulang! Gimana di sekolah tadi? Galak nggak kayak Ibu Maya?" godanya sambil tertawa renyah.

Mbah Uti kemudian mengangkat kotak putih itu dengan wajah penuh rahasia. "Lihat, Mbah bawa apa dari kantin rumah sakit tadi? Katanya ada yang pinter jagain Ibu di sekolah, jadi Mbah belikan donat cokelat pakai meses warna-warni kesukaan Naya."

Kanaya bersorak kegirangan. "Donat! Makasii Mbah!"

Mereka semua akhirnya berkumpul di teras. Bagas menarik kursi untuk Mbak Maya yang tampak lelah namun wajahnya memancarkan ketenangan. Sambil menikmati donat, Mbah Akung mulai bertanya dengan antusias tentang petualangan Kanaya di sekolah.

"Tadi Naya beneran diam di kelas, May?" tanya Mbah Akung pada putri sulungnya.

Maya tersenyum sambil menyesap teh hangat yang disiapkan Mbok Darmi. "Awalnya nempel terus kayak perangko ke kaki aku, Pak. Tapi setelah sejam, dia malah asyik sendiri di ruang guru. Malah pas aku selesai mengajar, dia lagi sibuk ceramah di depan teman-teman guruku pakai penggaris. Namanya sudah terkenal seantero sekolah, Bapak sama Ibu tanya saja sama Mas Bagas tadi gimana ramainya di sana."

Bagas mengangguk sambil tertawa kecil, mulutnya masih penuh dengan donat. "Iya, Yah. Tadi pas aku jemput, semua guru panggil-panggil 'Mas Bagas' sambil puji-puji Naya. Rasanya saya kayak bawa artis pulang sekolah."

Mbah Uti mengusap sisa meses di sudut bibir Kanaya dengan penuh kasih. "Ibu senang dengarnya. Tadinya Ibu khawatir kamu bakal kerepotan, May. Tapi ternyata Kanaya memang bawa rezeki dan suasana baru buat kalian ya."

Sore itu, di teras rumah sederhana mereka, kehangatan mengalir begitu nyata. Tidak ada lagi sisa amarah dari kejadian kemarin. Kotak donat yang dibawa dari rumah sakit itu menjadi pelengkap kebahagiaan sebuah keluarga yang utuh—di mana ada Ayah Bagas yang gigih, Ibu Maya yang tangguh, serta kakek dan nenek yang selalu menjadi tempat pulang paling nyaman bagi Kanaya.

Pagi itu suasana rumah sebenarnya sangat tenang. Mbak Maya sudah berangkat mengajar sejak fajar, sementara Bagas juga sudah mulai bekerja di pabrik. Di teras depan, Mbah Akung duduk sambil membaca koran, sedangkan Mbok Darmi sibuk mengepel lantai teras hingga mengkilap. Kanaya asyik sendiri bermain masak-masakan dengan alat plastik warna-warninya di dekat pagar, tempat ia biasa menyapa anak-anak tetangga yang lewat. Namun, ketenangan itu pecah saat tiba-tiba Kanaya berlari masuk ke arah ruang tengah dengan langkah gontai dan isak tangis yang tertahan—sesuatu yang sangat jarang ia lakukan karena biasanya ia adalah gadis kecil yang tegar.

"Loh, loh... kenapa nak? Naya sayang, kenapa menangis?" ucap Mbah Uti yang langsung meletakkan kain lapnya dan menghampiri cucunya dengan wajah penuh kekhawatiran. Ia segera berlutut dan merengkuh bahu kecil Kanaya yang bergetar.

Mbah Akung yang mendengar suara tangis itu pun langsung melipat korannya dan masuk ke dalam. "Ada apa ini? Kok cucu Mbah yang paling pinter tiba-tiba sedih begini? Jatuh ya? Mana yang sakit, Nak?" tanya Mbah Akung lembut sambil mengusap air mata yang mulai membasahi pipi gembul Kanaya.

Kanaya sesenggukan, ia mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal sebelum akhirnya suara cadelnya keluar dengan nada yang sangat menyayat hati. "Mbah... katanya... katanya Naya bukan anak Ibu. Katanya Ibu Maya bukan Ibu Naya yang beneran," ucapnya sambil menunduk dalam, meremas ujung bajunya.

Mbah Akung dan Mbah Uti seketika saling pandang, wajah mereka berubah tegang. Hati mereka seperti tertusuk mendengar kenyataan pahit itu harus sampai ke telinga bocah sekecil Kanaya. "Siapa yang bilang begitu ke Naya?" tanya Mbah Akung dengan nada suara yang meski terdengar tenang, namun menyimpan ketegasan yang tak bisa disembunyikan. "Siapa yang tega bicara begitu sama anak kecil?"

Kanaya mengusap matanya dengan punggung tangan, lalu menunjuk ke arah rumah di sebelah. "Bi Nina... tadi Bi Nina bilang sama temen-temennya di depan pagar. Katanya Naya cuma anak pungut, Ibu Maya kasihan aja sama Naya. Naya beneran anak Ibu Maya kan, Mbah?"

Mbah Uti langsung memeluk Kanaya sangat erat, matanya sendiri mulai berkaca-kaca menahan geram sekaligus sedih. "Jangan didengar ya, Sayang. Bi Nina itu nggak tahu apa-apa. Naya itu anak Ibu Maya, anak Ayah Bagas, dan cucu kesayangan Mbah. Ibu Maya sayang banget sama Naya, kan Naya sudah lihat sendiri kemarin di sekolah?"

Mbah Akung menghela napas panjang, ia berdiri dan menatap ke arah luar pagar dengan tatapan dingin. Ia tahu Bi Nina adalah tetangga yang memang gemar bergosip, namun kali ini ucapannya sudah melewati batas karena melukai perasaan seorang anak yatim piatu yang sedang berusaha menata dunianya. "Sudah, Naya jangan sedih lagi. Nanti kalau Ayah sama Ibu pulang, kita makan donat lagi ya? Mbah Akung yang akan bicara sama orang-orang itu supaya nggak ganggu Naya lagi."

Mbah Akung yang biasanya dikenal sebagai sosok kakek yang sabar dan murah senyum, kali ini benar-benar kehilangan kesabarannya. Melihat cucu kesayangannya gemetar karena luka di hatinya, darah Mbah Akung seolah mendidih. Tanpa menunggu sedetik pun, ia melangkah lebar keluar pagar menuju rumah Bi Nina yang hanya berjarak beberapa meter.

"Nina! Keluar kamu, Nina!" seru Mbah Akung dengan suara baritonnya yang menggelegar di depan pagar rumah tetangganya itu.

Bi Nina yang sedang asyik mencuci motor di halaman tersentak kaget. Ia melihat wajah Mbah Akung yang merah padam dengan urat leher yang menegang, sesuatu yang belum pernah ia lihat selama bertahun-tahun bertetangga. Beberapa tetangga lain mulai melongokkan kepala dari balik jendela karena mendengar teriakan tersebut.

"Eh, ada apa Mbah Akung? Kok teriak-teriak siang bolong begini?" tanya Bi Nina dengan nada mencoba tenang, meski matanya menyiratkan ketakutan.

"Kamu jangan pura-pura tidak tahu!" bentak Mbah Akung tepat di depan wajahnya. "Apa hak kamu bicara begitu ke cucu saya? Apa maksud kamu bilang ke anak sekecil itu kalau dia anak pungut dan Maya bukan ibunya? Kamu punya hati nggak, hah?!"

Bi Nina tergagap, wajahnya mulai pucat. "Anu, Mbah... tadi saya cuma bercanda sama ibu-ibu lain, nggak tahu kalau didengar Kanaya..."

"Bercanda kamu bilang?!" potong Mbah Akung semakin murka. "Anak itu baru tiga tahun! Dia tidak tahu apa-apa soal kerumitan dunia orang dewasa, tapi dia tahu rasa sakit hati! Kamu tahu tidak, Maya itu berkorban segalanya untuk membesarkan Kanaya? Dia sudah menganggap Kanaya darah dagingnya sendiri! Dan kamu dengan entengnya merusak pikiran anak itu hanya untuk jadi bahan gosip?!"

Beberapa warga mulai mendekat untuk melerai, namun Mbah Akung belum selesai. "Dengar ya Nina, sekali lagi saya dengar kamu atau siapa pun di lingkungan ini mengusik status Kanaya, saya tidak akan tinggal diam. Saya yang menjamin anak itu, saya yang membesarkannya! Jangan pernah jadikan luka keluarga kami sebagai tontonan dan bahan gunjingan kalian. Kalau kamu tidak bisa bicara baik, lebih baik mulutmu itu diam saja!"

Setelah memberikan teguran keras yang membuat Bi Nina tertunduk malu tak berani menatap mata siapapun, Mbah Akung berbalik pergi dengan napas yang masih memburu. Ia kembali ke rumahnya, mendapati Kanaya masih sesenggukan di pelukan Mbah Uti.

Mbah Akung segera berlutut di depan Kanaya, merapikan rambut cucunya, dan mencium keningnya dengan penuh kasih. "Jangan takut lagi ya, Sayang. Mbah sudah 'marahin' orang nakalnya. Naya anak Ibu Maya, titik. Nggak ada yang boleh bilang selain itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!