NovelToon NovelToon
Aku Menyerah!

Aku Menyerah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / CEO / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:83.2k
Nilai: 5
Nama Author: Brilliante Brillia

Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.

Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.

Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan Herman

Ayra sudah keluar dari rumah sakit. Tapi dia lebih memilih pulang ke rumah peninggalan orang tuanya. Meski kedua orang tua Rayyan mempertanyakan alasannya, tapi Ayra hanya mengatakan ingin merehatkan tubuh dan pikirannya dulu.

​"Halahhh, memangnya anakku itu monster yang sangat berbahaya sampai kamu tak ingin tinggal serumah dengannya?" ketus Elly sambil mencibir sinis.

​"Bu, Ayra tidak bilang dia tak ingin serumah dengan Rayyan, tapi dia ingin memulihkan dirinya juga hati dan pikirannya dulu. Beri Ayra kesempatan dan kita harus hormati keputusannya."

​"Tapi sebagai istri dia harus mengurus suaminya. Rasakan saja nanti kalau Rayyan benar-benar diurus oleh perempuan lain." Perkataan Elly semakin tajam dan provokatif. Andai saja Ayra masih punya tenaga, ingin sekali dia berteriak dan mengatakan kalau putra kebanggaan merekalah yang sudah membuat semuanya hancur. Dia sudah tak peduli lagi dengan rumah tangganya. Bahkan terang-terangan lebih memilih kekasih masa lalunya itu.

​Ayra memilih diam, mendengar perdebatan antara kedua mertuanya itu. Dia sudah terlalu lelah untuk menanggapi, apalagi membela diri. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tapi ucapan Elly terasa jauh lebih menyakitkan daripada rasa perih di tubuhnya.

​Dia berdiri dan pamit tanpa banyak bicara. Tak ada lagi yang menahannya.

***

​Di rumah peninggalan orang tuanya, suasana masih sama seperti terakhir kali ia tinggali. Penuh kenangan dan terasa lebih nyaman. Meski sunyi, berdebu tipis, dan terlalu luas untuk seorang diri.

​Ayra meletakkan tasnya di sofa. Meskipun tubuhnya belum fit seratus persen, tapi ia tidak mungkin meninggali rumah yang berdebu dan sedikit bau lembap. Mau tak mau ia pun langsung mengambil penyedot debu dan mulai membersihkan rumahnya.

​Dari ruang tamu, kamar dirinya semasa gadis, kamar orang tuanya, kamar tamu, dan tempat-tempat lainnya. Semua ia bersihkan tanpa satu pun yang terlewat. Mengesampingkan tubuhnya yang masih lemah karena baru saja keluar dari rumah sakit.

​AKhirnya hal yang melelahkan itu pun selesai sudah. Ayra duduk di sofa dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Kepalanya mulai terasa berat, tapi pikirannya justru kosong.

​Saat itulah terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya. Saat dilihat, itu bukan panggilan ataupun pesan, tapi notifikasi dari media sosialnya.

​Ayra pun membukanya dan mendapati unggahannya tadi pagi yang berisi kata-kata penyemangat hidupnya, sudah mendapatkan ribuan like. Selain itu ada juga DM yang masuk dari akun @z_zvn. Ayra mengernyitkan keningnya.

​"Siapa ini?" gumamnya penasaran. Lalu membukanya.

​"Ayra, kamu baik-baik saja kan? Saya khawatir tapi tak punya nomor teleponmu. Akhirnya saya mencari akun media sosialmu. Untungnya saat itu kamu menyebut nama lengkapmu. Dan syukurlah saya menemukan akun ini. Masih ingat saya kan, Zavian Zovano?"

​Ayra termenung. "Laki-laki ini bukan siapa-siapa. Dia hanya orang yang menolongku saat di supermarket. Tapi kenapa malah dia yang memberikan perhatian padaku, bukan suamiku?" bisik Ayra dengan hati yang terasa tersayat. Air matanya meleleh tanpa diminta. Tapi cepat-cepat ia hapus dengan gerakan kasar. Dia tak ingin lagi menangisi laki-laki yang jelas-jelas sudah berkhianat, menginjak-injak harga dirinya dan membuat lubang yang sangat dalam di hatinya.

​Ayra berpikir, mencari kalimat yang tepat untuk membalas DM tersebut. Kemudian mulai mengetik setelah beberapa saat.

​"Pak Zavian, Alhamdulillah sampai saat ini saya masih bisa bernapas (emoticon senyum). Bagaimana dengan Anda dan Kenzie? Titip salam untuknya dan terima kasih untuk semuanya." Setelah itu Ayra menekan send.

​Sambil melepas lelahnya, Ayra masih asyik me-scroll media sosialnya, hingga matanya terasa berat dan ketiduran di sofa.

***

​Tiba di rumah Rayyan, Herman langsung menelepon putranya. Raut wajah lelaki paruh baya itu merah padam dengan rahang mengeras menahan amarah.

​"Rayyan, pulang sekarang! Bapak dan Ibu tunggu di rumahmu. Tidak ada alasan apapun!" tegas Herman begitu telepon diangkat. Dan langsung mematikan sambungan telepon, bahkan sebelum Rayyan sempat menjawab.

​"Bapak kenapa kasar begitu? Dia itu anakmu, bukan bawahan yang bisa disuruh-suruh!" Elly langsung menyalak tidak terima. Matanya yang kecil melotot pada Herman.

​"Justru karena dia anakku! Laki-laki yang tidak punya rasa tanggung jawab terhadap istrinya memang sudah sepantasnya dihajar kalau sudah tidak mempan dinasihati. Apa Ibu mau kalau Sherly dan Anika diperlakukan seperti itu juga kelak oleh suami-suami mereka?"

​Jawaban Herman yang telak membuat Elly bungkam. Herman menatap istrinya dengan sorot kecewa karena Elly selalu saja memanjakan dan membela kesalahan putra pertama mereka.

​Elly tidak menjawab lagi, meski dalam hatinya ia masih terus ngedumel

"Awas kalau nanti bapak menasehati anak itu, Ibu masih membelanya." Ancam Heeman sebelum pergi le kamar tamu.

Elly mendelik, menatap lesal punggung suaminya.

"Kamu enak saja memarahi putra yang kukandung dengan susah payah dan kulahirkan dengan bertaruh nyawa." Sungutnya, sambil meninju-ninju bantal kursi dengan hati kesal.

***

Rayyan keluar dari ruangan manajer setelah menerima telepon dari ayahnya. Wajah lelaki itu terlihat cemas sekaligus menahan amarah.

"Ini pasti ulah Ayra yang mengadu pada Bapak. Awas kamu, Ayra!" Umpatnya dalam hati, sambil terus melangkah menuju ruangan staf marketing, dimana kekasihnya Liztha berada.

Dari luar ruangan yang semua dindingnya terbuat dari kaca, ia berdiri. Tatapannya mengarah ke dalam, pada sosok Liztha yang tengah tertunduk menekuni pekerjaannya. Tapi teman Liztha yang duduk di sisinya dan kebetulan menengok ke luar ruangan, langsung menyenggol lengan Liztha dan menunjuk pada Rayyan dengan dagunya.

"Sebentar." Kata Liztha pada Rayyan, tanpa suara. Cepat-cepat ia menyelesaikan laporannya yang tinggal beberapa kalimat. Lalu beranjak dari kursinya dan menghampiri Rayyan.

"Ada apa? Kenapa kamu seperti panik gitu?" Tanyanya memperhatikan wajah kekasih gelapnya.

"Barusan Bapak meneleponku. Dia minta aku pulang sekarang juga. Ini pasti ada hubungannya dengan Ayra. Aku yakin dia sudah mengadu pada Bapak."

Liztha mendesis geram, wajahnya seketika mengeras.

"Brengsek juga si Ayra! Dia yang sudah merebut kamu dari aku, sekarang dia juga yang merasa jadi korban. Dasar wanita munafik!"

Rayyan hanya diam, napasnya memburu selaras dengan makian Liztha yang terasa membenarkan posisinya.

"Bapak terdengar sangat marah. Aku tidak tahu apa saja yang sudah dia bicarakan. Mungkin sebagian dia mengarang bebas, membuat cerita yang memojokkan aku, sampai suara bapak terdengar berapi-api." Ucap Rayyan, tidak menyadari kesalahan fatalnya. Di otaknya, hanya Ayra lah yang bersalah.

"Ya sudah, temui saja dulu. Selesaikan secepatnya," sahut Liztha sambil melipat tangan di dada dengan angkuh.

"Tapi jangan sampai kamu kalah oleh drama air mata si Ayra. Kamu harus ingat siapa yang sebenarnya lebih dulu memilikimu sebelum dia datang menghancurkan semuanya."

Rayyan mengangguk singkat, merasa mendapatkan dukungan yang ia butuhkan untuk menghadapi ayahnya. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera berbalik dan berjalan cepat menuju parkiran. Sepanjang jalan, tangannya mengepal kuat pada kemudi mobil. Di kepalanya kini hanya ada kebencian yang mendalam pada Ayra, sosok yang ia anggap telah mengusik kehidupannya dan kini mulai berani mengadu pada Bapaknya.

"Awas kau Ayra, aku tak akan menunda lagi untuk menceraikanmu!"

1
Dini Yulianti
sia ayra jgn bertindak sendiri, harus izin ke zavian supaya ga ada salah paham
Diana
selamat buat Arya yang telah memenangkan keadilanmu dan terbebas dari keluarga toxic!
Diana
hajar terus ayra mereka yang coba memprovokasimu.
Diana
mama dan anak sama saja kelakuannya!
Diana
kalau hati yang licik tetap licik, takdir tidak akan mempermudah litzha mendapatkan keinginannya yang licik.
Diana
bersiaplah untuk kehancuranmu Rayyan, istri yang dengan tulus mencintaimu kau sia-siakan!
Dini Yulianti
semoga ayra baik baik saja
echa purin
👍🏻
Dini Yulianti
masih kurang hukuman si marisa, jadikan dia manekin hidup, tangan, kaki, lidah di potong dan mata di bikin buta itulah cacat permanen
Daulat Pasaribu
cocok hukuman untuk marissa
smoga aja bu egeuin selamat
Daulat Pasaribu
kasih hukuman yg berat zavian untuk marissa,jgn kasih hati sudah banyak korban marissa
Dini Yulianti
jadikan si marisa manekin hidup thor, tanpa tangan dan kaki dan tanpa lidah serta tanpa mata juga
Anonymous
Thor berikan hal eksekusi Marisa pada saya
Icha Arlita: ikutan aku jg greget banget 🤣🤣
total 3 replies
Dini Yulianti
di penjaranya di isolasi, tangan kakinya di buntungin lidahnya di potong aja tu si marisa
Daulat Pasaribu
double dong thor up nya.nanggung banget.bikin penasaran
Daulat Pasaribu
cocoknya kau mati marisa gk pantas hidup iblis macam kau
Anonymous: BETUL... MARISA HARUS DIBUNUH .. DIBUNUH DENGAN PERLAHAN .. DIA HARUS MEMAKAN BAGIAN TUBUH NYA SENDIRI... TATAKAE.. MARISA HARUS DIMUSNAHKAN DARI DUNIA INI SAMPAI TAK TERSISA.. DIA ITU MUSUH.. DAN MUSUH HARUS DIMUSNAHKAN TANPA TERSISA TERMASUK KEDUA ORANG TUA NYA JUGA YANG MENYEBABKAN IBLIS BERNAMA MARISA INI LAHIR HARUS DIMUSNAHKAN JUGA
total 1 replies
Daulat Pasaribu
cocoknya Marissa itu mati thor,karena gak guna hidup,uda banyak korban si marissa.hukuman yg pantas untuk dia ya mati
Ermi Yenti
lanjut,,, untk marissa..
Ma Em
Thor jgn sampai Marissa mengganggu ketentraman rumah tangga Zavian dgn Ayra yg baru saja dimulai , jauhkan godaan atau kejahatan orang2 yg iri pada kebahagiaan Ayra .
Dini Yulianti
ooo ternyata hanya anak pungut to
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!