"Besok kamu harus menikah dengan putra dari keluarga He! Pokoknya Papa tidak mau tahu, setuju atau tidak kamu tetap harus menikah dengannya." Zhu Guan
"Tidak! Lian tidak mau Pa. Sampai kapanpun Lian tidak mau menikah dengan lelaki lumpuh itu. Lebih baik Yiyue saja yang Papa nikahkan dengan lelaki itu, jangan aku Pa!" Zhu Lian
"Kenapa harus aku? Bukankah kakak yang harus menikah, tapi kenapa semua orang menumbalkanku untuk menggantikannya?" Zhu Yiyue
Seorang pengusaha yang sedang terlilit hutang, tak ada opsi lain selain menuruti keinginan keluarga He yang merupakan keluarga konglomerat. Dengan teganya dia menumbalkan salah satu putrinya sebagai penebus hutangnya. Tanpa memikirkan perasaan putrinya, dia justru mendorong putrinya ke sebuah jurang keputusasaan.
Mampukah Yiyue menerima takdirnya sebagai alat penebus hutang? Menikah dengan seorang lelaki yang tak dia kenal, terlebih lelaki itu adalah Tuan Muda lumpuh yang terkenal sangat dingin seperti kulkas tujuh pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMDTML 7
PRANK!
Lelaki tampan itu melempar nampan yang berisi makanan dan juga segelas susu ke atas lantai.
"Jangan paksa aku! Aku bilang tidak mau ya tidak mau. Apa kau tuli, hah?" pekik Qiaoyan.
"Keluar ...." Usirnya sambil menunjuk pintu dengan jari telunjuknya.
Tampak wajah Qiaoyan yang mengeras dan memerah, bahkan otot-otot pada lehernya terlihat menonjol. Kedua tangannya pun mengepal erat seakan menahan emosi yang membuncah di dalam dada. Sorot mata
Qiaoyan begitu tajam menatap pada Yiyue yang saat ini juga menatapnya.
Sempat Yiyue tersentak kaget mendengar suara bariton itu, namun secepat mungkin dia menetralkan perasaannya. Terlihat jelas wajah tenang Yiyue, sedikitpun tak ada gurat kesedihan di raut wajahnya. Seperti apa yang dia bilang, bahwa dirinya sudah menerima fakta yang ada dalam hidupnya.
Lagi dan lagi Yiyue menghela napas beratnya, sebelum kemudian dia kembali bersua. "Jika ingin sembuh, setidaknya makanlah sedikit saja. Tapi jika tak ingin sembuh, jangan makan sekalian!" celetuk Yiyue yang langsung melenggang pergi meninggalkan ruangan mewah itu.
Sementara Qiaoyan hanya terdiam membeku, manik matanya menatap punggung Yiyue yang menghilang dibalik pintu. Qiaoyan tak menyangka jika baru satu hari gadis itu bersamanya, tapi sukses membuat dirinya kacau. Lelaki itu tidak suka jika gadis itu membantah dan berani padanya. Sungguh dia tidak terima dengan ucapan istri kecilnya itu, rasanya ingin sekali dia memberikan hukuman pada sang istri.
🥕🥕🥕
Di luar kamar, tampak Yiyue berjalan dengan langkah lebar sambil mulutnya yang tak berhenti komat-kamit seperti dukun yang membaca mantra. Tak lupa dia membawa nampan kosong, dimana makanan dan segelas susu pun sudah tak berbentuk lagi. Tentu saja hal itu menarik perhatian para maid di villa mewah itu, namun mereka hanya diam sambil memperhatikannya saja. Mereka tak ingin ikut campur atas masalah rumah tangga majikannya itu, mengingat dirinya hanyalah sebatas asisten rumah tangga yang dibayar untuk bekerja bukan mengurusi masalah pribadi sang majikan. Mereka bisa menebak pasti semua itu ulah dari Tuan Mudanya.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Bi An yang memberanikan diri bertanya pada Yiyue. Wanita paruh baya itu takut jika terjadi sesuatu pada Nona Mudanya, mengingat selama ini Tuan Mudanya selalu bersikap dingin dan tak pandang bulu saat dia marah.
"Saya baik-baik saja Bi. Hanya saja saya kesal sama dia," jawab Yiyue yang masih kesal dengan suami kulkasnya itu.
Yiyue tak menyangka jika dirinya dipertemukan dengan seorang lelaki yang sekeras batu. Terlebih lelaki itu suaminya sendiri, jadi sudah pasti dia harus lebih ekstra sabar dalam menghadapi sikap keras kepala suaminya.
"Tuan Muda maksud Nona?" tebak Bi An.
"Iyalah Bi. Siapa lagi kalau bukan dia." Sahutnya sambil memutar malas bola matanya. Tangannya terulur kembali mengambil piring lalu mengisinya dengan makanan.
"Bibi tahu, dia menolak ku memberinya makan."
"Bukankah saya sudah mengatakan pada Nona, jika Tuan Muda tidak akan mau makan. Sedari dulu, Tuan Muda selalu melewatkan sarapannya. Makan siang dan malam pun juga sedikit, sepertinya Tuan Muda kehilangan selera makannya semenjak nasib buruk menimpanya. Selain itu, Tuan Muda juga tak pernah keluar dari villa. Dia hanya berdiam diri di dalam kamar, jika ada hal penting mengenai perusahaan pun pasti asisten Fan Zhi yang datang ke kamar Tuan Muda. Selama ini yang mengurus perusahaan pun hanya asisten Fan Zhi yang memang diberi kewenangan oleh Tuan Muda untuk menghandle perusahaan selama kondisinya tidak memungkinkan. Sementara Tuan Muda hanya memantau dan menandatangani berkas yang perlu ditinjau ulang." Bi An menjelaskan panjang lebar tentang Tuan Muda Qiaoyan agar Nona Mudanya itu tidak salah paham atas sikap dingin suaminya.
Yiyue mencerna dengan baik ucapan Bi An barusan. Ada rasa empati pada suami kulkasnya itu, yang memang sebelumnya dia belum mengetahui fakta sebenarnya. Tapi, tetap saja Yiyue tidak akan membiarkan kebiasaan buruk suaminya itu yang berpengaruh pada proses kesembuhan suami kulkasnya.
"Saya tahu Bi. Tapi, tetap saja dia harus makan dan tidak boleh melewatkan sarapan. Pokoknya selama saya berada disini, saya pastikan kalau dia tetap makan teratur juga setiap pagi dia harus sarapan. Biar nanti saya sendiri yang masak untuknya" kekeh Yiyue. Keputusannya sudah bulat, Yiyue akan merubah kebiasaan buruk suaminya itu. Apapun akan Yiyue lakukan demi kesembuhan sang suami.
"Tapi, Nona ...."
Bi An menggeleng pelan, baru kali ini dia melihat ada orang yang berani mengomeli Tuan Mudanya. Selama ini, semua pelayan tunduk dan takut kepada Tuan Mudanya itu meskipun kondisinya lumpuh. Dan siapa saja yang memaksanya pasti akan dapat amukan dari lelaki yang duduk di kursi roda itu.
Kini, Yiyue berjalan masuk ke dalam kamar suaminya sambil membawa nampan yang berisi makanan dan juga susu untuk kesehatan tulangnya.
Sementara di dalam kamar, tampak Qiaoyan sibuk dengan benda pipih di tangannya. Entah hal apa yang membuatnya fokus pada layar tersebut. Sebelum akhirnya, dia terkejut melihat kedatangan Yiyue ke kamarnya dengan kembali membawa nampan. Sementara di lantai, makanan juga bekas piring dan gelas pecah masih berserakan. Seingat Qiaoyan, dia telah mengusir gadis cantik itu dan sukses membuatnya kesal. Qiaoyan pikir bahwa sang istri akan marah dan tidak akan kembali ke kamar untuk memaksanya lagi. Tapi faktanya, semua itu tak sesuai dengan ekspektasinya.
"Kenapa kau datang kemari?" tanya Qiaoyan menatap tak suka pada Yiyue yang seenaknya masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu dulu.
"Kau tahu bukan kalau dikamar ini ada peraturan? Dilarang masuk tanpa mengetuk. Apa kau mengerti, hah?" Lanjutnya mengingatkan.
Yiyue memutar malas bola matanya. "Sudahlah Tuan, jangan marah terus. Apa kau tidak bosan, awas tuh muka jadi keriput kebanyakan marah-marah. Lebih baik kau cepat makan, jangan banyak protes. Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus habiskan makanan ini!" tegas Yiyue tanpa ingin dibantah. Segera mungkin gadis cantik itu meletakkan nampan di atas nakas, kemudian mengambil paksa ponsel milik suami kulkasnya.
Qiaoyan membelalakkan matanya saat ponselnya telah berpindah tempat di tangan sang istri. Lelaki itu begitu geram dengan sikap istrinya yang terlalu pemaksa, karena Qiaoyan sendiri tipe lelaki yang tidak suka dipaksa.
"Kau ... beraninya kau mengambil ponselku, hah? Cepat kembalikan atau ...."
"Atau apa Tuan? Kalau kau ingin ponselmu ini, coba saja ambil kemari," tantang Yiyue yang kemudian melangkah mundur sambil menggoyangkan ponsel suami kulkasnya itu ke atas bak seperti mainan.
"Ayo, ambil Tuan! Kenapa? Tidak bisa, hm?" Yiyue memiringkan kepalanya menatap wajah suaminya yang sudah memerah.
Tampak rahang Qiaoyan sudah mengeras, otot-otot lehernya pun terlihat menonjol menahan sebuah amarah yang membuncah di dalam dada, juga kedua tangannya mengepal kuat seolah ingin meluapkannya detik itu juga.
"Dasar payah! Ambil barang seperti ini saja tidak bisa, gimana nanti mau melindungi istri saat diambil orang," ejek Yiyue yang kemudian mendekat ke arah nakas. Menyimpan ponsel suaminya di dalam saku roknya.
"Kau ...." Baru saja suaminya ingin protes, tapi kalah cepat dengan Yiyue yang telah memasukkan makanan ke dalam mulut Qiaoyan hingga membuat lelaki itu terdiam.
"Makanya makan yang banyak Tuan. Kau tahu, tubuhmu itu butuh energi. Kau tahu juga bukan kalau makan itu adalah bagian terpenting dari hidup kita. Jadi, makanlah sebanyak mungkin agar tubuhmu kembali sehat seperti sedia kala," celetuk Yiyue sambil menaik turunkan alisnya menggoda sang suami.
"Kau ...," tunjuk Qiaoyan pada istrinya dengan perasaan kesal yang menyeruak dalam tubuhnya. Namun, Yiyue kembali menyuapi Qiaoyan tanpa memberi kesempatan untuk suaminya protes.
"Nikmati saja makanannya Tuan. Jangan bicara sambil makan, nanti kau tersedak."
"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...."
.
.
.
🥕Bersambung🥕