NovelToon NovelToon
SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Romansa
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Hayra Masandra

Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.

"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira

"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara

"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjara di Balik Pintu

Dunia Aira kini hanya seluas empat tembok kamar kos kecil di dekat rumah sakit yang ia sewa dengan sisa tabungannya. Tirai jendela ia tutup rapat, membiarkan ruangan itu tenggelam dalam remang-remang yang menyesakkan. Ia menolak kembali ke panti, menolak bicara pada Genta, bahkan menolak saat Kakek Kara mengetuk pintunya berkali-kali.

Di sudut kamar, Aira duduk memeluk lutut. Pikirannya berputar pada satu titik: Penyakit Degeneratif.

Bagi orang lain, itu adalah istilah medis. Namun bagi Aira, itu adalah bukti otentik dari kekuatannya yang menghancurkan. Saraf Kara tidak hanya rusak; saraf itu meluruh. Matahari itu tidak hanya redup; matahari itu sedang dicabik-cabik oleh gravitasi hitam yang ia bawa.

"Ain..." bisik Aira, suaranya parau karena berhari-hari tidak digunakan. "Ibu benar. Aku ini pembawa maut."

Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Kara di hutan pinus—merangkak di lumpur, mencari jalannya dalam gelap. Rasa bersalah itu menjelma menjadi fisik; dadanya terasa sesak seolah ada batu besar yang menghimpitnya. Ia merasa setiap detak jantung Kara yang melemah adalah karena ia masih berada di kota yang sama dengan laki-laki itu.

Tiga hari berlalu tanpa makanan yang berarti. Tubuh Aira mulai melemas, namun pikirannya justru semakin liar. Ia mulai membenci dirinya sendiri lebih dari warga desa membencinya. Ia merasa tidak layak melihat cahaya matahari, karena ia telah mencuri cahaya itu dari pemiliknya yang paling berhak.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan itu kembali terdengar. Aira mengabaikannya, mengira itu adalah pemilik kos atau Kakek Kara lagi. Namun, sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar dari balik pintu kayu itu.

"Ra... ini gue, Genta."

Aira tetap diam, menyembunyikan wajahnya di antara lutut.

"Ra, gue tahu lu di dalem. Gue nggak bakal pergi sampai lu buka pintu ini. Gue bawa makanan, dan... gue mau ngomong sesuatu yang penting," suara Genta terdengar letih namun penuh penekanan.

Karena tidak ada jawaban, Genta duduk bersandar di pintu kamar Aira dari luar. "Ra, dengerin gue. Lu nggak bisa terus-terusan nyalahin diri lu kayak gini. Penyakit Kara itu medis. Lu denger sendiri kan kata dokter? Sarafnya emang bermasalah dari awal."

"Nggak, Gen..." suara Aira akhirnya keluar, meski sangat tipis. "Lu nggak ngerti. 'Ain' itu nyata. Dan gue adalah sumbernya."

Genta menghela napas panjang di balik pintu. "Oke, kalau lu emang mau bahas soal 'Ain' atau kutukan atau apa pun itu, jangan bahas sama gue. Bahas sama ahlinya."

Genta menjeda sejenak, teringat pembicaraan dengan ibunya tadi malam. "Nyokap gue cerita, di Panti Kasih Abadi tempat lu kerja kemarin, ada satu sosok Kiai yang sering dateng buat ngisi pengajian para lansia. Namanya Kiai Mansur. Nyokap bilang, beliau itu orang alim yang sangat paham soal hal-hal spiritual yang nggak masuk akal kayak gini. Beliau terkenal bijak."

Aira perlahan mengangkat kepalanya. Nama panti itu disebut lagi.

"Beliau ada di sana sore ini," lanjut Genta. "Nyokap gue mau ke sana lagi buat anter donasi. Kalau lu emang ngerasa diri lu 'beracun', tanya sama beliau. Jangan mutusin sendiri kalau lu itu monster sementara lu nggak tahu apa-apa soal takdir Tuhan."

Genta berdiri, mengetuk pintu sekali lagi dengan lembut. "Gue taruh makanannya di depan pintu. Sejam lagi gue jemput. Kalau lu emang sayang sama Kara, lu harus cari tahu kebenarannya, bukan malah ngurung diri sementara Kara lagi berjuang buat sekadar bangun dari tempat tidur."

Suara langkah kaki Genta menjauh.

Aira menatap pintu kamarnya. Kata-kata Genta menghujam egonya. Selama ini ia merasa paling tahu tentang "kutukannya". Tapi, bagaimana jika selama ini ia hanya sedang berprasangka buruk pada Penciptanya?

Dengan tangan gemetar, Aira bangkit. Ia melihat pantulan dirinya di cermin—wajahnya pucat, matanya sembab. Ia mengenakan kerudung hitamnya. Ia harus tahu. Jika ia memang pembawa maut, ia ingin mendengarnya dari orang yang benar-benar paham tentang rahasia langit, bukan hanya dari bisikan ketakutannya sendiri.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!