Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Durian dalam Sangkar
Keesokan harinya!
Penunjukan Xu Hao, atau Haosu, sebagai murid luar Sekte Gunung Jati berlangsung dengan sederhana dan tanpa upacara. Di hadapan segelintir murid dan tetua yang berkumpul di halaman pelatihan, Tetua Cheng dengan suara datar mengumumkan bahwa
Haosu, seorang tunawisma dengan bakat sedang, diterima sebagai murid pengabdian luar, atas rekomendasi dan jasa membantu mengantarkan kiriman penting. Tidak ada tepuk tangan, hanya tatapan penasaran dan beberapa yang sinis. Murid luar adalah strata terendah di sekte, sering dianggap sebagai tenaga kerja murah untuk tugas-tugas kasar.
Penampilan Xu Hao yang sengaja dibuat sederhana dan aura yang ia kendalikan ketat di level Foundation Establishment puncak tidak menarik banyak perhatian. Hanya beberapa murid yang lebih berpengalaman, yang telah mencapai Core Formation, memandangnya dengan sedikit evaluasi sebelum mengabaikannya. Di dunia kultivasi, kekuatan adalah segalanya. Seorang Foundation Establishment hanyalah semut.
Setelah upacara singkat, Tetua Cheng membawanya ke sebuah gubuk kecil di pinggiran kompleks sekte, di dekat kebun obat. Gubuk itu sederhana, terbuat dari kayu dan batu, dengan satu ruangan berisi tempat tidur papan, meja, dan kursi. Jendelanya kecil, menghadap ke dinding batu tebing.
"Ini tempat tinggalmu," kata Tetua Cheng, suaranya tidak ramah tapi juga tidak kasar. "Sebagai murid luar, tugas utamamu adalah merawat sepetak kebun obat di belakang gubuk ini. Pelajari dasar-dasar farmakologi dari naskah yang akan kuberikan. Selain itu, kau diwajibkan menghadiri pembelajaran umum dua kali seminggu di Aula Bimbingan, dan berlatih dasar di Lapangan Batu setiap pagi. Makanan akan disediakan di balai makan murid luar. Gaji bulanan satu Kristal Hukum rendah."
Xu Hao mengangguk, menerima semuanya tanpa protes. "Baik, Tetua Cheng."
Tetua Cheng mengamatinya dengan mata tajam. "Tetua Hong memberitahuku bahwa kau istimewa, tetapi aku tidak melihatnya. Aku hanya melihat seorang tunawisma biasa. Namun, karena itu perintah Tetua Hong, aku akan memberimu kesempatan. Jangan membuat masalah. Jangan mendekati area terlarang. Dan yang paling penting," ia menurunkan suaranya, "jangan pernah berinteraksi dengan murid-murid inti atau tetua lain tanpa izin. Apakah jelas?"
"Sangat jelas."
"Bagus." Tetua Cheng melemparkan sebuah naskah kulit tipis ke atas meja. "Dasar-dasar Farmakologi Gunung Jati. Pelajari. Besok pagi, aku akan memeriksa kebunmu."
Ia pergi, meninggalkan Xu Hao sendirian di gubuk yang sunyi. Xu Hao melihat sekeliling. Ini adalah sangkar. Tapi sangkar yang ia butuhkan untuk sementara. Ia berjalan ke belakang gubuk. Kebun obat seluas sekitar dua puluh meter persegi, ditanami berbagai tanaman spiritual berdaun keperakan dan kebiruan yang ia tidak kenali. Tanahnya subur, dipenuhi energi bumi. Sebuah tugas yang sempurna untuk menyembunyikan diri.
Ia kembali ke dalam, duduk di atas tempat tidur yang keras. Hari ini, ia resmi menjadi Haosu, murid luar Sekte Gunung Jati. Langkah pertama telah diambil. Sekarang, ia perlu memahami secara mendalam lingkungan barunya.
Ia mengambil naskah kulit itu dan membukanya. Isinya adalah pengenalan dasar tentang seratus tanaman obat umum di wilayah ini, sifat energinya, cara panen, dan pengolahan sederhana. Xu Hao memahaminya dalam satu jam, mengingat setiap detail. Pengetahuannya tentang ramuan dari dunia luar memberi dasar yang baik.
Sore hari, ia memutuskan untuk menjelajahi sekte. Dengan pakaian murid luar berwarna abu-abu kusam, ia berjalan pelan menyusuri jalan setapak batu. Kompleks Sekte Gunung Jati tidak terlalu besar. Terdiri dari satu paviliun utama tempat tinggal tetua dan murid inti, beberapa aula latihan dan pengajaran, perpustakaan kecil, balai pengolahan obat, area perkebunan, dan tentu saja, area pemukiman murid luar yang terletak di pinggiran.
Suasana sekte muram. Murid-murid yang ia temui berjalan dengan kepala tertunduk, wajah-wajah mereka menunjukkan kelelahan dan kekhawatiran. Percakapan yang ia dengar samar-samar penuh dengan ketakutan akan serangan berikutnya atau ultimatum dari Kota Besar Angin.
Di dekat Lapangan Batu, tempat murid-murid berlatih teknik dasar, ia berhenti sebentar untuk mengamati. Sekitar dua puluh murid, kebanyakan Foundation Establishment dan beberapa Core Formation awal, sedang berlatih jurus pedang sederhana di bawah bimbingan seorang kakak senior. Gerakan mereka kaku, energinya tidak stabil. Tidak ada semangat. Mereka seperti orang yang menunggu vonis.
"Kau! Murid luar! Apa yang kau lakukan di sini?"
Suara kasar menyentak perhatian Xu Hao. Seorang pria muda berjubah hijau (warna murid inti), dengan wajah congkak dan aura Core Formation tahap awal, mendatanginya dengan langkah agresif. Di belakangnya, dua murid lain dengan ekspresi serupa.
"Aku hanya lewat, Kakak Senior. Aku baru saja ditugaskan di kebun obat," jawab Xu Hao dengan sikap rendah hati, membungkuk sedikit.
"Kebun obat? Oh, jadi kau itu tukang kebun baru," celetuk pria itu, mencecar. "Dengar, aturan di sini jelas. Murid luar tidak boleh berkeliaran di area latihan inti. Kau mengganggu konsentrasi kami. Hukumannya, serahkan Kristal Hukum rendahmu bulan ini."
Ini adalah pemerasan terbuka. Xu Hao bisa melihat di mata pria itu dan teman-temannya, ini adalah hal biasa. Di tengah ketegangan dengan Klan Xu, mereka yang lebih kuat melampiaskan frustrasi pada yang lebih lemah.
"Maaf, Kakak Senior. Aku belum menerima gajiku. Aku baru tadi pagi bergabung," ucap Xu Hao, tetap tenang.
"Belum terima? Baiklah. Maka sebagai gantinya, kau akan membersihkan sepatu-sepatu kami dengan lidahmu. Agar kau ingat aturan," kata pria itu dengan senyum kejam. Teman-temannya tertawa terkekeh.
Xu Hao memandang mereka. Di dalam, amarah yang dingin menggelegak. Tapi akalnya yang dingin menahan. Bereaksi sekarang, menunjukkan kemampuan tersembunyi, akan merusak semua rencananya. Tapi membiarkan diri diinjak-injak juga akan membuatnya menjadi target empuk bagi yang lain.
Ia mengambil langkah mundur, masih dengan sikap rendah hati. "Maafkan ketidaktahuanku, Kakak Senior. Aku akan pergi sekarang. Lain kali, aku akan membawa persembahan."
Pria itu tampak kecewa karena tidak bisa menghinanya lebih lanjut, tapi anggukan tunduk Xu Hao sedikit memuaskan egonya.
"Baik. Ingat itu. Sekarang, lenyap dari pandanganku."
Xu Hao membungkuk lagi, lalu berbalik dan pergi dengan langkah cepat. Di belakangnya, ia mendengar ejekan dan tawa. Tangannya mengepal di dalam saku jubahnya, kukunya menancap di telapak tangan. Ini adalah pelecehan kecil, tapi mengingatkannya pada hukum besi dunia kultivasi: yang kuat memangsa yang lemah. Dan untuk saat ini, ia harus memainkan peran yang lemah.
Malam harinya, setelah makan malam sederhana di balai makan murid luar (semangkuk bubur dan sayuran rebus), Xu Hao kembali ke gubuknya. Ia duduk bersila di tempat tidur, memulai meditasinya. Namun, bukan untuk menyerap energi. Di Dataran Tengah, energi spiritual begitu melimpah sehingga menyerapnya tanpa kendali bisa membuatnya "mabuk energi" dan menarik perhatian. Ia berfokus pada memurnikan dan mengompresi energi yang sudah ia serap secara pasif sepanjang hari, serta mempelajari selubung penyamaran di darahnya. Ia merasa selubung itu masih utuh, tapi ada retakan-retakan halus yang mulai terbentuk sejak pertemuannya dengan Tetua Hong. Sepertinya, pengaruh psikis dan emosi yang kuat juga bisa mempengaruhinya.
Keesokan paginya, ia mulai bekerja di kebun obat. Ia dengan teliti mempelajari setiap tanaman, mencocokkannya dengan naskah, membersihkan gulma, dan memberi air yang telah diresapi sedikit energi kayu. Pekerjaan ini monoton, tapi memberinya waktu untuk berpikir dan mengamati.
Selama beberapa hari berikutnya, pola hidupnya terbentuk. Pagi, merawat kebun. Siang, menghadiri kuliah umum tentang dasar-dasar kultivasi yang diajarkan oleh tetua rendah atau kakak senior. Sore, membaca di perpustakaan terbatas yang boleh diakses murid luar. Malam, bermeditasi dengan hati-hati.
Di perpustakaan, ia menemukan banyak naskah dasar tentang Dataran Tengah: geografi kasar, sistem tingkat kultivasi yang benar (mengonfirmasi apa yang dikatakan Xiou Jianxin), pengenalan sekte-sekte dan klan-klan besar, serta dasar-dasar formasi, alkimia, dan senjata. Informasi ini tak ternilai harganya baginya. Ia melahap semuanya dengan haus.
Ia juga mulai mendengar lebih banyak tentang situasi Sekte Gunung Jati dari obrolan murid-murid lain.
"...ultimatumnya habis waktu tiga hari lagi. Jika kita tidak menyerahkan hak pengelolaan Tambang Nadi Hijau, mereka akan menyerang langsung..."
"...Tetua Hong masih berunding dengan tetua-tetua lain.Tapi apa pilihannya? Melawan berarti musnah..."
"...beberapa murid inti sudah mulai pergi diam-diam. Melarikan diri sebelum kapal tenggelam..."
"...aku dengar Klan Xu tidak hanya mau tambang. Mereka mau seluruh wilayah kita, termasuk sumber air spiritual di gua belakang..."
Keputusasaan terasa di udara. Sekte ini benar-benar di ambang kehancuran.
Pada hari keenam setelah kedatangannya, sesuatu terjadi. Saat Xu Hao sedang merawat sepetak tanaman "Bunga Embun Perak", sekelompok orang memasuki area kebun obat. Bukan murid, tapi beberapa tetua, termasuk Tetua Hong dan Tetua Cheng. Di antara mereka, ada seorang pria asing, mengenakan jubah merah-hitam dengan lambang naga menyemburkan api di dada. Aura pria itu kuat, Soul Transformation tahap awal, dan penuh dengan kesombongan yang tak tersembunyi. Wajahnya tajam, mata kecil, dan senyumannya sinis.
Para tetua Sekte Gunung Jati terlihat tegang, wajah mereka pucat. Tetua Hong sendiri terlihat sepuluh tahun lebih tua.
"Jadi, ini adalah kebun obat kalian?" kata pria berjubah merah-hitam itu, suaranya melengking. "Lumayan. Beberapa tanaman ini bisa menjadi pelengkap koleksi Tuan Xu Zhan."
"Utusan Feng, kita sudah membicarakan segalanya di paviliun," kata Tetua Hong dengan suara datar, namun Xu Hao bisa mendengar getaran kemarahan yang tertahan di dalamnya.
"Ah, tentu, Tetua Hong. Aku hanya... menikmati pemandangan," kata Utusan Feng, berjalan mendekati deretan bunga yang sedang dirawat Xu Hao. "Bunga Embun Perak. Bagus. Aku akan mengambil beberapa sampel untuk Tuan Xu Zhan." Ia mengulurkan tangannya untuk memetik.
Tanpa berpikir, tangan Xu Hao yang memegang alat perawatan bergerak, dengan halangan menempatkan diri di antara tangan Utusan Feng dan bunga itu. "Maaf, Tuan. Bunga ini belum matang sempurna. Memetiknya sekarang akan merusak khasiatnya."
Semua orang terkejut. Utusan Feng membeku, lalu matanya yang kecil menyipit, memandang Xu Hao yang masih membungkuk di tanah. "Siapa ini? Seorang budak kebun berani menghalangiku?"
"Ini murid luar baru, tidak tahu aturan," kata Tetua Cheng cepat, wajahnya berubah hijau. "Haosu! Mundur dan minta maaf!"
Tetapi Xu Hao tidak mundur. Ia tetap berada di posisinya, kepala masih tertunduk. "Tuan, bunga ini butuh tiga hari lagi. Jika Tuan mau, tiga hari lagi aku akan memetik dan mengantarkannya sendiri ke tempat Tuan."
Utusan Feng tertawa, tapi tawanya dingin. "Menarik. Seorang budak yang berani. Tetua Hong, sektemu memang penuh dengan orang aneh."
Lalu Utusan Feng memandang Xu Hao. "Kau bilang kau akan mengantarkannya? Baik. Aku akan menunggumu di Pos Depan kami di kaki gunung, tiga hari dari sekarang. Jika bunganya tidak datang, atau kualitasnya buruk, aku akan kembali, dan kali ini, aku tidak hanya akan mengambil bunga."
Ia kemudian berbalik, memberi isyarat pada para tetua. "Diskusi kita selesai. Tuan Xu Zhan mengharapkan jawaban kalian dalam tiga hari. Serahkan tambang, atau hadapi konsekuensinya. Jalan tengah sudah tidak ada."
Dengan langkah angkuh, Utusan Feng pergi, diiringi oleh ketegangan yang hampir meledak dari para tetua.
Begitu mereka pergi, Tetua Cheng langsung menghampiri Xu Hao, wajahnya merah karena marah dan ketakutan.
"Bodoh! Apa yang kau pikirkan?! Kau hampir saja membuat kita diserang hari ini juga!"
Tetua Hong mengangkat tangannya, menghentikan kemarahan Tetua Cheng. Ia memandang Xu Hao dengan tatapan dalam.
"Kenapa kau lakukan itu, Nak?"
Xu Hao berdiri, menyeka tanah dari tangannya. "Dia akan terus menghina dan menekan selama kita menunjukkan ketakutan. Dengan memberinya janji kecil yang membuatnya merasa berkuasa, kita membeli waktu. Tiga hari. Dan aku punya alasan untuk pergi ke Pos Depan mereka."
"Untuk apa?" tanya Tetua Cheng, masih geram.
"Untuk melihat, dan untuk mendengar," jawab Xu Hao. "Kita butuh informasi tentang kekuatan mereka, tentang Xu Zhan, tentang apa yang sebenarnya mereka inginkan selain tambang. Seorang utusan yang sombong mungkin akan berbicara lebih banyak di hadapan seorang budak kebun yang dianggapnya tidak berarti."
Tetua Hong terdiam, mempertimbangkan. "Berbahaya. Jika mereka mencurigaimu..."
"Aku hanya seorang murid luar Foundation Establishment yang panik karena ingin menyelamatkan kulitnya dengan memberikan bunga," ucap Xu Hao. "Apa yang bisa mereka curigai?"
"Kau mengambil risiko besar untuk sekte yang baru kau masuki," kata Tetua Hong.
"Bukan untuk sekte," balas Xu Hao, suaranya rendah. "Tapi untuk janji Tuan pada pamanku. Dan karena, musuh Tuan adalah musuh Klan Xu. Itu cukup bagiku untuk saat ini."
Tetua Hong mengamatinya lama, lalu mengangguk pelan. "Baik. Kau punya tiga hari. Siapkan bunga itu dengan baik. Dan... berhati-hatilah. Utusan Feng itu kejam dan licik. Jangan meremehkannya."
Xu Hao mengangguk pelan, kemudian mereka pergi.
Malam itu, di gubuknya, Xu Hao tidak langsung mempersiapkan bunga. Ia duduk di kegelapan, merencanakan. Perjalanan ke Pos Depan Klan Xu adalah langkah nekat, tapi juga kesempatan emas. Ia perlu mengetahui kekuatan musuh dari dekat. Dan mungkin, jika ada kesempatan, menanamkan benih keraguan atau konflik di dalamnya.
Esok paginya, selain merawat kebun, ia mulai mempelajari dengan cermat karakteristik Bunga Embun Perak. Dari perpustakaan, ia menemukan bahwa bunga ini tidak hanya untuk ramuan penenang, tapi juga sensitif terhadap energi kekerasan dan racun. Jika terkena aura pembunuhan atau kegelapan yang kuat, warnanya akan berubah menjadi keunguan.
Sebuah ide mulai terbentuk.
Di hari kedua, ia secara tidak sengaja mengobrol dengan seorang pelayan tua yang bekerja di dapur, yang dikenal banyak bicara. Dari pelayan itu, ia mendapatkan informasi bahwa Utusan Feng memiliki kebiasaan minum anggur spesial setiap malam, dan bahwa ia sangat bangga dengan posisinya sebagai tangan kanan Xu Zhan.
Di hari ketiga, pagi-pagi, Xu Hao memetik bunga itu dengan hati-hati. Ia menyimpannya dalam kotak kayu beralas lumut khusus. Tapi sebelum menutup kotak, dengan gerakan sangat cepat dan tersembunyi, ia mengeluarkan secuil sangat kecil dari inti kegelapan Xue Mo yang ia bawa dalam dirinya, menyelubunginya dengan energi netral, dan meletakkannya di dasar kotak, di bawah lumut. Itu bukan racun, bukan pelacak. Hanya... sebuah wewangian kegelapan yang sangat halus, tak terdeteksi kecuali oleh yang sangat sensitif, dan akan mempengaruhi bunga di dekatnya selama perjalanan.
Jika Xu Zhan atau ahli ramuannya memeriksa bunga ini, mereka mungkin akan merasakan sesuatu yang aneh, sebuah ketidakmurnian yang samar, yang bisa mereka kaitkan dengan ketidakmampuan Sekte Gunung Jati atau, jika mereka paranoid, dengan pengkhianatan dari dalam. Itu hanya benih keraguan kecil. Tapi di tengah ketegangan, benih kecil bisa tumbuh.
Saat matahari mulai condong ke barat, Xu Hao berjalan menyusuri jalan setapak menuruni gunung, menuju Pos Depan Klan Xu. Di pinggangnya, hanya pedang sederhana dan kotak kayu. Di dalam hatinya, sebuah tekad membara dan kewaspadaan setajam silet.
Perjalanan ke kaki gunung memakan waktu dua jam. Pos Depan Klan Xu ternyata bukan sekedar pos. Itu adalah sebuah benteng kecil yang dibangun dengan cepat, terbuat dari batu dan kayu gelondongan, dikelilingi oleh pagar tinggi dengan paku-paku energi. Beberapa penjaga dengan jubah merah-hitam berpatroli. Aura mereka kuat, minimal Core Formation, dan ada beberapa aura Nascent Soul yang terasa di dalam.
Xu Hao mendekati gerbang dengan langkah pelan, mengangkat kotak kayunya. "Aku membawa Bunga Embun Perak untuk Utusan Feng, seperti yang dijanjikan," ucapnya pada penjaga gerbang.
Penjaga itu memandangnya dengan hina, lalu membuka gerbang kecil. "Masuk. Tunggu di halaman."
Xu Hao masuk. Halaman dalam dipenuhi dengan kegiatan. Prajurit berlatih, pelayan mengangkut barang, bahkan ada beberapa tawanan yang kurus dan terluka dirantai di sudut. Suasana disiplin namun brutal. Ini adalah kemah militer yang siap perang.
Setelah menunggu cukup lama, Utusan Feng muncul dari sebuah tenda besar. Ia tersenyum melihat Xu Hao.
"Ah, si budak pemberani. Kau datang. Apakah kau membawanya?"
Xu Hao membuka kotak, menunjukkan bunga berwarna perak yang masih segar. "Seperti yang dijanjikan, Tuan."
Utusan Feng mengambil bunga itu, memeriksanya dengan mata ahli. Ia mengangguk, puas. "Bagus. Kualitasnya baik. Kau ternyata cukup kompeten." Matanya lalu berbinar licik. "Katakan padaku, budak. Bagaimana suasana di atas? Apakah Tetua Hong sudah mengambil keputusan? Apakah mereka akan menyerah dengan baik, atau memaksa kami untuk menghancurkan mereka?"
Xu Hao membuat wajahnya terlihat takut dan bingung. "Aku... aku hanya murid luar, Tuan. Aku tidak tahu hal-hal besar seperti itu. Aku hanya dengar bisikan-bisikan... bahwa beberapa tetua ingin melawan, tapi yang lain takut. Dan... ada yang bilang, Tetua Hong sedang mencari bantuan dari luar."
"Bantuan dari luar?" Utusan Feng tertawa terbahak-bahak. "Siapa yang berani menolong mereka melawan Klan Xu? Sekte Cahaya Bulan Sabit? Mereka tikus pengecut. Tidak, tidak ada bantuan. Mereka sendirian."
Ia mendekat, menatap Xu Hao. "Tapi kau, kau tampak cerdas untuk seorang budak kebun. Bagaimana jika kau bekerja untuk kami? Jadi mata-mata kami di atas. Lapor pada kami tentang pergerakan mereka, rencana mereka. Bayarannya akan jauh lebih baik daripada jadi murid luar."
Ini adalah ujian, atau tawaran sungguhan? Xu Hao berpikir cepat. Ia harus menolak, tapi tidak dengan cara yang membuatnya mencurigakan.
"Aku... aku takut, Tuan. Jika ketahuan, aku akan mati. Dan... aku masih baru di sini. Aku tidak tahu apa-apa yang berharga."
Utusan Feng mengamatinya, lalu mengangguk. "Bijaksana. Tapi pikirlah. Jika Sekte Gunung Jati jatuh, kau akan ikut jatuh. Bergabung dengan kami lebih dulu akan menyelamatkan hidupmu. Kembalilah. Dan jika kau mendengar sesuatu yang menarik, datanglah kepadaku. Ada hadiah untuk informasi yang berguna."
Ia memberi isyarat pada penjaga. "Bawa dia keluar."
Xu Hao dibawa keluar dari benteng. Saat berjalan kembali ke gunung, dadanya berdebar. Ia telah melihat kekuatan Klan Xu dari dekat. Minimal ada tiga aura Soul Transformation di sana, termasuk Utusan Feng. Dan pasti ada lebih banyak lagi di Kota Besar Angin. Sedangkan di Sekte Gunung Jati, hanya Tetua Hong yang Void Fusion, dan beberapa tetua Soul Transformation. Kekuatan mereka tidak seimbang.
Tapi dari percakapan tadi, ada satu hal yang ia tangkap: kesombongan. Klan Xu begitu yakin akan kemenangan sehingga mereka tidak merasa perlu menyembunyikan niat atau kekuatan mereka. Itu adalah kelemahan. Kesombongan sering kali mendahului kejatuhan.
Dan benih keraguan yang ia tanam di dalam bunga itu... semoga berhasil.
Saat ia tiba kembali di gubuknya, malam telah tiba. Tetua Cheng sudah menunggu di depan pintu, wajahnya cemas.
"Bagaimana? Apa yang terjadi?"
Xu Hao melaporkan apa yang ia lihat dan dengar, kecuali bagian tentang bunga khusus. Ia menyimpulkan: "Mereka kuat, percaya diri, dan mencoba merekrut mata-mata dari dalam. Kita punya tiga hari sebelum ultimatum berakhir."
Tetua Cheng menghela napas putus asa. "Lalu apa yang bisa kita lakukan? Kita kalah dalam segalanya."
"Tidak semuanya," gumam Xu Hao, memandang ke arah paviliun utama, di mana cahaya lampu masih menyala. "Kita masih punya satu hal: keputusasaan. Dan kadang, keputusasaan adalah senjata yang paling tajam."
Ia masuk ke dalam gubuk, meninggalkan Tetua Cheng yang bingung di luar.
up up up