Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Peta yang Menyesatkan
Arlan memacu sepeda motor kurirnya dengan sisa tenaga yang terasa seperti sedang memeras tetes terakhir dari keberaniannya. Di spion, Sektor Tujuh bukan lagi rumah. Bangunan yang menampung memori masa kecilnya itu kini hanya berupa bayangan kelabu tanpa dimensi, seolah seseorang telah menghapus tekstur betonnya dan menyisakan sketsa yang gagal diselesaikan. Ia terus teringat wajah ibunya di jendela tadi—sebuah senyum yang terasa nyata di tengah dunia yang mulai mencair.
Udara di sekelilingnya mendadak berubah. Aroma ozon yang tajam dari unit apartemennya berganti dengan bau plastik terbakar yang menyesakkan paru-paru. Arlan mencoba mengatur napasnya, mencoba mengikuti protokol napas manual agar frekuensi batinnya tidak tersedot oleh distorsi yang kian masif.
"Dante! Kau mendengarku? GPS-ku mati total!" teriak Arlan ke arah alat komunikasinya yang terpasang di kerah jaket.
Hanya ada suara statis yang berderak. "Arlan... jangan... percaya... pandangan... mata..." Suara Dante timbul tenggelam, tercekik oleh gangguan elektromagnetik yang sangat kuat.
"Aku tidak bisa melihat jalan keluar! Setiap kali aku berbelok ke Jalan Merdeka, aku kembali ke perempatan yang sama!"
"Cari... jangkar... alam... Arlan..."
Suara Dante menghilang sepenuhnya. Arlan mengerem motornya secara mendadak hingga bannya mencicit di atas aspal yang terasa terlalu halus—terlalu licin untuk ukuran jalanan kota yang biasanya berlubang. Ia menoleh ke arah papan penunjuk jalan di sisi kiri. Tulisan yang tadinya jelas menunjukkan arah pusat kota mendadak buram, lalu berubah menjadi deretan angka biner yang bergerak cepat sebelum akhirnya menjadi kosong sama sekali.
"Ini tidak mungkin. Aku sudah melewati gedung ini empat kali," gumam Arlan. Ia merasakan keringat dingin mengucur di balik helmnya.
Suhu udara merosot drastis. Ia bisa melihat uap napasnya sendiri yang keluar dengan jeda yang tidak wajar, sementara dunia di sekitarnya seolah membeku dalam keheningan yang menyakitkan. Tidak ada suara burung, tidak ada desir angin, bahkan suara mesin motornya sendiri terdengar tumpul, seakan-akan ia sedang berada di dalam ruang kedap suara yang sangat luas.
"Hei! Apa ada orang di sana?" teriak Arlan pada sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Tidak ada jawaban. Arlan turun dari motor dan mendekati mobil itu. Saat ia mengetuk kacanya, ia menyadari sesuatu yang membuatnya merinding: tidak ada pantulan dirinya di kaca mobil itu. Kaca itu hanya menampilkan jalanan kosong di belakangnya, tanpa sosok Arlan yang berdiri tepat di depannya.
"Lag frekuensi," bisik Arlan. "Penyalinan dunia ini bahkan tidak sempat merender bayanganku sendiri."
Ia merogoh saku tasnya, mencari Koin Perak yang ia ambil dari lobi apartemen sebelumnya. Logam itu bergetar hebat di telapak tangannya, mengeluarkan suhu dingin yang kontras dengan telapak tangannya yang hangat karena darah asli.
"Kau ingin aku ke mana?" tanya Arlan pada koin itu, seolah benda mati itu adalah nakhodanya.
Tiba-tiba, sebuah suara klakson yang sangat keras terdengar dari arah depan, namun tidak ada kendaraan yang terlihat. Suara itu terasa berputar di sekelilingnya, menekan gendang telinganya hingga ia terjatuh berlutut.
"Berhenti!" teriak Arlan sambil menutup telinganya.
"Kau tersesat, Kurir," sebuah suara asing terdengar di belakangnya.
Arlan berbalik dengan cepat, tangannya secara insting mencari botol asam cuka di saku jaketnya. Di sana berdiri seorang pria dengan seragam petugas kebersihan, namun wajahnya tampak seperti topeng karet yang ditarik terlalu kencang. Matanya tidak berkedip, dan dadanya tetap diam tanpa gerakan napas sedikit pun.
"Siapa kau? Dimana jalan keluar ke zona netral?" tanya Arlan dengan nada menantang, meski jantungnya berdegup kencang.
"Jalan keluar tidak ada bagi mereka yang membawa beban yang bukan miliknya. Berikan koin itu, dan jalanan ini akan kembali lurus bagimu," ucap si petugas kebersihan dengan suara yang terdengar seperti rekaman kaset yang diputar ulang.
"Kau salah orang. Aku seorang kurir, dan aku tidak pernah gagal mengantar barang sampai ke tujuannya," jawab Arlan sambil mundur perlahan menuju motornya.
"Tujuanmu sudah dihapus, Arlan. Lihatlah ke depan. Apa kau masih melihat kota yang kau cintai?"
Arlan menoleh ke depan. Jalanan lurus di hadapannya mendadak melengkung ke atas, menyambung dengan langit kelabu yang retak, menciptakan sebuah loop geometris yang tidak masuk akal secara fisik. Ia merasa mual. Ruang di sekitarnya seolah-olah sedang dilipat oleh tangan raksasa yang tidak terlihat.
"Apa yang kalian lakukan pada tempat ini?" tanya Arlan, suaranya parau karena rasa takut yang mulai merayap.
"Kami hanya merapikan kekacauan. Manusia terlalu tidak teratur. Kami memberikan simetri. Berikan koinnya, Arlan."
"Martabatku tidak bisa dibeli dengan jalanan yang lurus," geram Arlan. Ia melihat ke arah langit, mencari sesuatu yang tidak bisa dimanipulasi oleh mesin penyalin mereka.
"Kau bicara tentang martabat di tengah dunia yang sudah menjadi sketsa? Lucu sekali."
Arlan mengabaikan ejekan itu. Ia teringat kenangan tahun dua ribu dua belas, saat ayahnya mengajarinya membaca rasi bintang di atap gedung yang kini sudah hangus itu. Ayahnya selalu bilang bahwa lampu kota bisa menipu, tapi bintang-bintang memiliki orbitnya sendiri yang jujur.
"Kenapa kau melihat ke atas? Tidak ada yang bisa menolongmu di sana," ucap si petugas, mulai melangkah mendekat dengan gerakan simetris yang mengerikan.
"Bintang tidak membutuhkan koordinat digital untuk tetap di tempatnya," bisik Arlan pada dirinya sendiri.
Ia mematikan lampu motornya. Di tengah kegelapan total dan hampa akustik yang kian pekat, ia memfokuskan matanya pada celah di langit kelabu yang retak. Di sana, tersembunyi di balik awan perak buatan, rasi bintang Orion tampak bersinar sangat redup.
"Dante, jika kau bisa mendengarku, aku akan mengikuti rasi bintang. Persetan dengan peta kalian!" seru Arlan.
"Kau akan mati di ruang hampa, Arlan! Jangan melompat!" teriak si petugas kebersihan, suaranya kini berubah menjadi lengkingan statis yang menyakitkan.
"Lebih baik mati di ruang hampa sebagai manusia, daripada hidup di jalanan palsu sebagai salinan!"
Arlan menghidupkan mesin motornya kembali. Ia tidak lagi melihat ke arah aspal. Ia mengunci pandangannya pada rasi bintang Orion. Ia memacu gas sekencang mungkin, mengabaikan papan jalan yang kini berteriak-teriak mengeluarkan peringatan bahaya dalam suara ribuan orang yang pernah dikenalnya.
"Arlan! Kembali! Makan malam sudah siap!" suara ibunya tiba-tiba terdengar dari arah gang sempit di sisi kanan.
"Itu bukan ibu," gumam Arlan, air mata mengalir di pipinya namun ia tidak menoleh. "Ibu yang asli menyuruhku lari."
"Arlan, bantu Ayah... apinya panas sekali..." suara ayahnya merintih dari arah kiri.
"Kalian tidak punya hak menggunakan suara mereka!" Arlan berteriak, suaranya memecah keheningan hampa akustik.
Ia merasa motornya melayang sejenak. Gravitasi seolah hilang. Ia memejamkan mata, hanya memegang stang motor dengan erat sambil tetap menjaga posisi kepala menghadap ke rasi bintang di atas sana. Angin dingin menusuk kulitnya, namun di dalam sakunya, Koin Perak itu mendadak menjadi sangat hangat, memancarkan energi yang menenangkan batinnya.
"Tetap di orbit, Arlan. Tetap di sana," bisiknya meyakinkan diri.
Saat ia membuka mata, ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di perempatan yang berulang. Ia berada di sebuah jembatan layang yang panjang dan kosong. Di belakangnya, Sektor Tujuh tampak seperti gumpalan cahaya hijau-kebiruan yang sedang berputar-putar seperti pusaran air.
"Aku berhasil keluar?" tanya Arlan pada kesunyian.
Ia menghentikan motornya di tengah jembatan. Ia merogoh ponselnya. Layar ponsel itu retak, menunjukkan peta yang masih menampilkan dirinya berada di tengah samudera luas, padahal ia tahu ia masih berada di daratan kota Lentera Hitam.
"Peta ini sampah," ucap Arlan sambil melempar ponselnya ke bawah jembatan.
Ia melihat ke pergelangan tangannya. Jam analog yang ia kenakan—sebuah peninggalan dari ayahnya sebelum insiden kebakaran—masih berdetak dengan suara detik yang jujur. Namun, saat ia melihat ke arah jam digital besar di menara pusat kota yang terlihat dari kejauhan, angka-angkanya berhenti bergerak.
"Waktunya tidak bergerak di sana," gumam Arlan. "Tapi jamku masih berdetak."
Arlan menarik napas dalam-dalam. Ia merasa kelelahan yang luar biasa, namun ia tahu ia belum aman. Ia melihat ke arah ujung jembatan yang diselimuti kabut tebal berwarna kelabu.
"Apa kau masih di sana, Dante?"
Terdengar desis kecil dari alat komunikasinya. "Arlan... kau... di mana? Kami kehilangan... sinyal biometrikmu..."
"Aku di jembatan layang utara. Aku mengikuti bintang. Tapi ada yang aneh, Dante. Jam di kota berhenti."
"Jangan... lihat... jam itu... itu adalah... zona statis... segera menjauh..."
"Aku tidak bisa melihat ujung jembatan ini, Dante. Kabutnya terlalu tebal. Dan suhunya... suhunya sangat dingin di sini."
"Itu karena... kau berada di antara... dua frekuensi... Arlan... dengarkan detak jantungmu sendiri... jangan dengarkan... suara kabut..."
Arlan turun dari motornya dan mulai menuntun kendaraannya masuk ke dalam kabut. Ia merasa setiap langkah yang ia ambil terasa lebih berat, seolah-olah udara di sekelilingnya menjadi padat seperti air. Ia mulai mendengar suara bisikan-bisikan yang tak jelas asalnya.
"Apa kau yakin ini jalan yang benar, Nak?" tanya sebuah suara yang sangat mirip dengan suara penjaga tiket di stasiun kereta.
"Aku yakin karena aku tidak mengikuti petunjuk kalian," jawab Arlan tanpa menoleh.
"Tapi bagaimana jika bintang yang kau lihat itu juga hasil salinan kami? Bagaimana jika kami sudah mengganti seluruh langit?"
Arlan terdiam sejenak. Keraguan mulai merayap di hatinya. Bagaimana jika memang benar? Bagaimana jika seluruh usahanya hanya bagian dari simulasi yang lebih besar?
"Jika bintang itu palsu, maka setidaknya aku memilih kepalsuan yang indah daripada kenyataan pahit yang kalian tawarkan," ucap Arlan dengan ketegasan yang baru ia temukan.
"Pilihan yang sangat manusiawi. Dan sangat tidak logis."
Kabut di depannya mulai menipis, namun apa yang ia lihat di ujung jembatan bukanlah pemandangan kota yang ia kenal. Ia melihat sebuah blok apartemen yang tampak membeku. Orang-orang berdiri mematung di trotoar, tangan mereka terangkat seperti sedang menyapa, namun mata mereka kosong dan tidak ada uap napas yang keluar dari mulut mereka meskipun udara sangat dingin.
"Dante, aku sampai di sebuah pemukiman. Tapi semua orang membeku," lapor Arlan dengan suara bergetar.
"Arlan... kau masuk ke... zona pembekuan temporal... jangan menyentuh... siapa pun... di sana..."
"Kenapa mereka membeku?"
"Sistem tidak bisa... memproses memori mereka... secara bersamaan... mereka dalam status... standby..."
Arlan berjalan perlahan melewati orang-orang yang mematung itu. Ia melihat seorang anak kecil yang sedang mengejar bola, namun bola itu berhenti di udara, tidak jatuh ke tanah. Arlan merasa dunianya benar-benar telah menjadi sebuah panggung sandiwara yang rusak parah.
"Ini gila," bisik Arlan. "Semua ini tidak masuk akal."
Ia berhenti di depan sebuah toko jam. Di sana, ratusan jam dinding dipajang di jendela kaca, dan semuanya menunjukkan waktu yang berbeda-beda, namun tidak satu pun jarum jamnya yang bergerak.
"Arlan, apa kau merasa... ada yang mengikutimu?" tanya Dante lewat radio.
Arlan menoleh ke belakang. Di tengah kabut yang baru saja ia lalui, ia melihat siluet sosok tinggi tanpa wajah yang berjalan dengan langkah yang sangat lambat namun pasti. Setiap kali sosok itu melangkah, kabut di sekelilingnya seolah-olah tersedot masuk ke dalam tubuhnya.
"Ada sesuatu di belakangku, Dante. Sosok tinggi. Dia tidak punya wajah."
"Lari, Arlan! Itu adalah... Eraser Unit Prime... jangan biarkan dia... menyentuh bayanganmu!"
Arlan segera melompat ke atas motornya dan mencoba menyalakan mesin. Namun, kunci motornya tidak mau berputar. Ia mencoba lagi dengan panik, sementara sosok itu semakin dekat.
"Sial! Kenapa tidak mau menyala?" teriak Arlan.
"Karena di zona ini, mesin pembakaran tidak berfungsi, Nak," suara si petugas kebersihan tadi terdengar lagi, kali ini berasal dari mulut salah satu warga yang membeku di dekatnya.
"Gunakan koinnya, Arlan! Berikan panasmu pada mesin itu!" teriak Dante.
Arlan segera menempelkan Koin Perak yang hangat itu ke lubang kunci motornya. Ia memejamkan mata dan membayangkan memori saat ayahnya mengajarinya menghidupkan mesin tua yang mogok. Ia menyalurkan seluruh emosinya, seluruh kemarahannya, dan seluruh kerinduannya ke dalam koin itu.
Klik.
Kunci itu berputar. Mesin motornya menggeram keras, memecah keheningan zona statis tersebut. Arlan memacu motornya tepat saat tangan sosok tanpa wajah itu hampir menyentuh bahunya.
"Kau tidak akan mendapatkan aku hari ini!" teriak Arlan sambil melesat pergi.
Ia memacu motornya menyusuri jalanan yang dipenuhi manusia patung. Ia merasa seperti sedang berlari di dalam sebuah museum horor. Setiap kali ia melewati seseorang, ia bisa merasakan tatapan mata mereka yang tidak bergerak namun seolah-olah mengikuti keberadaannya.
"Dante, aku terus bergerak! Ke mana arah selanjutnya?"
"Cari... gedung dengan... lampu merah yang berkedip... itu adalah... pintu keluar manual..."
"Aku melihatnya! Di ujung jalan ini!"
Arlan melihat sebuah gedung tua dengan papan neon bertuliskan 'Hotel Memoria' yang lampunya berkedip-kedip tidak teratur. Itu adalah satu-satunya benda yang tampak "hidup" di tengah kota yang membeku itu.
"Aku akan masuk ke sana, Dante."
"Hati-hati, Arlan... pintu keluar manual... selalu memiliki... penjaga frekuensi..."
Arlan mengerem motornya tepat di depan pintu masuk hotel tersebut. Ia turun dan menatap pintu kaca yang buram. Di dalam sana, ia bisa melihat bayangan seseorang yang sedang berdiri menunggu.
"Tunggu konfirmasi," gumam Arlan pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar.
Ia menggenggam Koin Perak di sakunya erat-erat, merasakan tekstur logamnya yang kini terasa kasar, seolah-olah koin itu sedang mencoba memberitahunya sesuatu tentang apa yang ada di balik pintu tersebut.
Arlan mendorong pintu kaca Hotel Memoria yang terasa seberat daun pintu bank yang terbuat dari baja. Begitu ia melangkah masuk, keheningan dari zona statis di luar mendadak digantikan oleh suara detak ribuan jam mekanik yang berdetak tidak sinkron. Ruangan lobi itu remang-remang, dipenuhi kabut tipis berbau tembakau lama dan debu arsip yang menyesakkan.
"Kau terlambat, Kurir. Kami hampir saja menghapus jadwalmu," sebuah suara berat bergema dari balik meja resepsionis.
Arlan menyipitkan mata, mencoba menembus kabut. Di sana duduk seorang pria tua dengan seragam petugas hotel yang usang. Pria itu sedang sibuk menulis di sebuah buku besar dengan pena bulu ayam, namun Arlan menyadari bahwa pena itu tidak meninggalkan noda tinta apa pun di atas kertas yang tetap kosong.
"Aku tidak mengikuti jadwal kalian. Aku mengikuti bintang," jawab Arlan sambil tetap menjaga jarak aman. Tangannya masih menggenggam erat koin perak di balik saku jaketnya.
Pria itu mendongak. Wajahnya dipenuhi keriput yang tampak sangat simetris, seolah-olah setiap garis di kulitnya telah diukur menggunakan penggaris. "Bintang? Di kota ini, bintang hanyalah piksel yang gagal kami bersihkan. Tapi keberanianmu untuk melihat ke atas... itu adalah anomali yang menarik."
"Di mana pintu keluar manual yang dikatakan Dante?" tanya Arlan tanpa basa-basi. Ia merasakan suhu di lobi ini mulai menurun, tanda bahwa entitas di depannya sedang menyerap energi termal ruangan.
"Dante selalu bicara tentang pintu keluar. Dia tidak pernah memberitahu bahwa setiap pintu keluar menuntut harga yang setara dengan ingatan yang kau bawa," pria itu berdiri, menunjukkan postur tubuh yang kaku, seolah tulang-tulangnya terbuat dari kayu kering.
"Aku sudah membayar cukup banyak hari ini. Aku kehilangan rumahku. Aku kehilangan suara ibuku," Arlan melangkah maju, martabatnya terusik oleh nada merendahkan pria itu.
"Suara itu bukan hilang, Arlan. Suara itu hanya dikembalikan ke perpustakaan frekuensi. Kau seharusnya berterima kasih karena kami telah meringankan beban emosionalmu."
"Meringankan? Kalian merampok identitas kami dan menyebutnya sebagai bantuan? Kalian para Peniru tidak akan pernah mengerti arti kehilangan karena kalian tidak pernah memiliki apa pun untuk dimulai!" teriak Arlan, suaranya menggelegar di lobi yang penuh jam tersebut.
"Kami memiliki keteraturan. Kami memiliki keabadian. Sedangkan kau? Kau hanya gumpalan daging yang akan segera membusuk di dalam sejarah yang terlupakan."
Arlan merasakan koin di sakunya berdenyut panas, kontras dengan udara dingin yang mulai membekukan ujung-ujung jarinya. Ia menyadari bahwa perdebatan ini adalah jebakan untuk mengulur waktu agar Eraser Unit Prime di luar sana bisa menemukannya.
"Aku tidak punya waktu untuk kuliah filosofi kosongmu. Berikan jalannya, atau aku akan menggunakan frekuensi rekaman ini lagi," ancam Arlan sambil mengangkat alat perekam digitalnya.
Resepsionis itu tertawa, sebuah suara kering yang terdengar seperti kertas yang diremas. "Coba saja. Di hotel ini, suara tidak memiliki getaran. Kami berada di titik nol akustik."
Arlan mencoba menekan tombol putar, namun benar saja, tidak ada suara yang keluar. Alat itu menyala, indikator volumenya bergerak maksimal, namun ruangan itu tetap sunyi senyap. Hampa akustik di sini berada di level yang jauh lebih ekstrem daripada di jalanan tadi.
"Sekarang, berikan koin itu, Nak. Jadilah salinan yang patuh, dan aku akan memberikanmu memori di mana ayahmu tidak pernah mati dalam api itu," rayu si pria tua, langkahnya mulai mendekati Arlan dengan irama yang membekukan darah.
"Pilihan yang sangat menggiurkan," bisik Arlan. Ia menunduk, menatap bayangan kakinya yang samar di lantai marmer yang mengilap. "Tapi jika ayahku tidak mati, aku tidak akan pernah menjadi pria yang berdiri di sini sekarang. Luka itu adalah bagian dari sidik jariku."
"Luka adalah cacat produksi. Kami bisa memperbaikinya."
"Cacat itulah yang membuatku nyata!" Arlan tiba-tiba merogoh tasnya dan mengeluarkan botol cairan kimia pembersih lensa yang selalu ia bawa sebagai kurir. "Kau bilang di sini tidak ada getaran suara? Tapi gravitasi dan reaksi kimia masih berlaku, bukan?"
"Apa yang kau lakukan?" Pria itu berhenti, tampak ragu melihat botol di tangan Arlan.
"Strategi ketiga," gumam Arlan. Ia tidak menyiramkan cairan itu ke arah si pria, melainkan ke arah tumpukan jam dinding mekanik yang ada di rak belakang resepsionis.
Cairan pembersih lensa itu mengandung alkohol murni yang sangat reaktif terhadap debu logam di ruangan yang bermuatan statis tinggi ini. Arlan menyalakan pemantik api kecil miliknya dan melemparkannya ke arah tumpukan jam tersebut.
Wush!
Api biru meledak kecil, namun dampaknya luar biasa. Karena suhu ruangan yang sangat dingin, perbedaan panas yang mendadak menciptakan gelombang kejut termal yang meretakkan kaca-kaca jam dinding. Suara denting kaca yang pecah secara bersamaan menciptakan distraksi frekuensi yang mengacaukan kestabilan wujud si resepsionis.
"Argh! Simetrinya... simetrinya hancur!" teriak si pria tua. Tubuhnya mulai terlihat bergoyang, seperti sinyal televisi yang mengalami gangguan cuaca.
"Saatnya pergi," ucap Arlan. Ia melihat sebuah pintu kayu besar di belakang meja resepsionis yang kini terbuka sedikit karena getaran ledakan termal tadi.
Ia berlari melewati si resepsionis yang kini sedang berusaha memunguti pecahan kaca dengan tangan yang gemetar hebat. Arlan menendang pintu kayu itu dan menemukan sebuah tangga darurat yang menuju ke bawah tanah—jalur yang berlawanan dengan apa yang biasanya diharapkan orang saat mencari pintu keluar.
"Dante! Aku masuk ke jalur bawah tanah Hotel Memoria!" teriak Arlan, kali ini suaranya kembali terdengar di komunikator karena ia telah keluar dari titik nol akustik.
"Bagus, Arlan... itu adalah... terowongan pemeliharaan realitas... teruslah berlari... jangan menoleh ke belakang..."
Arlan menuruni tangga dengan kecepatan penuh. Cahaya di terowongan itu bukan lagi hijau-kebiruan, melainkan kuning redup yang terasa lebih manusiawi. Bau tanah basah mulai tercium, sebuah aroma yang sudah lama tidak ia rasakan di permukaan kota yang steril.
"Kenapa baunya seperti tanah asli, Dante?"
"Karena di bawah sini... adalah sisa-sisa... kota lama tahun dua ribu dua belas... yang belum sempat... mereka lapisi dengan perak..."
Arlan terus berlari hingga ia mencapai sebuah pintu besi yang berkarat. Di pintu itu tertempel sebuah stiker kecil bergambar logo faksi Archivist—sebuah buku terbuka yang dililit rantai. Ia mendorong pintu itu dan mendapati dirinya berada di sebuah terowongan kereta bawah tanah yang sudah tidak terpakai.
"Aku di stasiun bawah tanah. Kosong, tapi terasa... hangat," ucap Arlan, napasnya tersengal-sengal.
"Kau aman untuk sementara, Kurir. Berjalanlah menyusuri rel ke arah timur. Kami akan menjemputmu di sana."
Arlan menyandarkan punggungnya ke dinding terowongan yang kasar. Ia meraba wajahnya, merasakan keringat dan air mata yang mengering. Ia mengeluarkan Koin Perak dari sakunya. Koin itu kini kembali dingin, namun ada satu goresan baru di permukaannya, seolah-olah perjalanan tadi telah meninggalkan jejak fisik pada memori kolektif tersebut.
"Ibu, Ayah... aku masih di sini," bisik Arlan ke dalam kegelapan terowongan.
Ia mulai melangkah menyusuri rel kereta yang berkarat. Setiap langkahnya kini terdengar nyata, tanpa lag, tanpa tunda. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa peta dunia yang sesungguhnya baru saja terbuka, dan jalan pulang ke rumah yang ia kenal sudah tertutup selamanya.
Ia melihat ke atas, ke arah langit-langit terowongan yang retak. Di balik celah beton itu, ia tidak bisa lagi melihat rasi bintang Orion, namun ia tahu bintang itu masih di sana, memandu setiap manusia yang menolak untuk disalin menjadi ketiadaan yang sempurna.
"Satu koin lagi," gumam Arlan saat melihat seberkas cahaya lampu senter dari kejauhan, menandakan kedatangan tim penjemput Dante. "Satu langkah lagi menuju kebenaran."
Dunia di atas sana mungkin sudah menjadi peta yang menyesatkan, namun di bawah tanah ini, Arlan baru saja menemukan koordinat pertama dari martabatnya yang hilang. Ia mempercepat langkahnya, menyambut cahaya yang mendekat, siap untuk menjadi lebih dari sekadar kurir barang hilang.